
Dimas telah pulang dari kantor nya,ia mendapati rumah sudah sepi karena kedua Art nya sudah pulang.ia memanggil manggil Fani namun tak ada jawaban.
"apa dia sedang tidur.." gumam Dimas,ia pun menaiki anak tangga menuju kamar nya.
Namun saat sampai di kamar,Dimas tidak melihat Fani di sana.
"kemana dia???"
Pandangan nya teralihkan ke dalam kamar mandi,terdengar suara air mengucur namun tidak ada tanda tanda Fani sedang mandi.
ia pun memeriksa nya.
"ya ampun..!! Fani.. kamu kenapa??!!"
Dimas terkejut bukan main saat melihat Fani tak sadarkan diri dengan botol karbol di tangan nya.
Dimas segera mengangkat tubuh Fani dan akan membawa nya ke rumah sakit. wajah nya panik serta pikiran nya sudah melayang ke hal yang bukan bukan.
"kenapa kau melakukan ini Fani.."
rintih Dimas sambil berlari menuruni anak tangga.
...*******...
Di rumah sakit..
Saat tengah di periksa oleh dokter,Fani membuka mata nya dan ia terkejut saat mengetahui sedang di rumah sakit.
"Mas..." panggil Fani lirih.
Dimas pun langsung bangkit dari kursi nya dengan mata sembab dan wajah panik karena menangis dari tadi.
"Fani...kamu udah sadar??"
"hei.. kenapa kamu melakukan tindakan bodoh hah??! bukan nya Mas udah bilang kalau kamu merasa terbebani dengan pernikahan kita bilang saja. Mas nggak akan memberatkan kamu. kenapa kamu malah mau mengakhiri hidup mu hah??! kalau kamu mau pergi dari Mas nggak apa apa. tapi jangan dengan cara bunuh diri..!"
Dimas tak henti henti nya mengomeli Fani,bahkan nada bicara nya seperti orang yang sedang nge-Rap.
Dokter,suster beserta Fani tercengang heran mendengar omelan nya Dimas.
"bunuh diri??" Fani tak mengerti dengan kata kata Dimas.
"siapa yang bunuh diri pak?" Dokter pun ikut terheran.
"kamu lah.. siapa lagi." Dimas melebarkan mata nya ke arah Fani.
"tekanan darah bu Fani sangat rendah,di tambah dia kurang tidur. mungkin itu sebab nya ibu Fani pingsan." terang pak Dokter yang menangani Fani.
Dimas: "haa?? darah rendah?? trus kenapa kamu pingsan sambil pegang botol karbol??"
Fani: " Fani tadi habis mandi trus mau bersihin lantai nya karena licin,tiba tiba Fani pusing dan nggak tau deh gimana seterus nya.."
"jadi kamu bukan bunuh diri?? kamu nggak berniat ninggalin Mas?" Dimas memegangi kepala Fani dengan perasaan lega.
__ADS_1
"haah?? kenapa Mas selalu mikir kalau Fani bakal bunuh diri?? waktu di kantor juga mas mikir Fani yang lompat dari gedung." ujar Fani terheran.
"Mas kepikiran aja mungkin kamu merasa tertekan dengan pernikahan kita."
"pikiran Fani nggak sependek itu Mas.. Fani juga ingin panjang umur sampe punya anak cucu."
Fani tersenyum ke arah Dimas.
"benarkah?? kamu ingin punya anak? kapan? Mas juga mau.." bisik Dimas menggoda Fani.
Fani hanya tersenyum malu sambil mencubit kecil perut Dimas.
"muuach.."
Dimas mengecup lembut kening Fani.
"Mas lega kamu baik baik aja.."
ujar nya sambil mengelus pipi Fani.
Sementara Fani berusaha menahan kegugupan nya akibat kecupan hangat Dimas tadi.
ia merasa hati nya di penuhi bunga bunga yang sedang bermekaran.
"apa ini tanda nya aku cinta sama Mas Dimas?"
batin nya dengan wajah tersipu malu.
...~~~~...
kini Fani sudah di perbolehkan pulang.
Dimas dan Fani baru saja masuk kedalam mobil yang masih terparkir di rumah sakit.
"Mas nggak kabarin mama dan adek adek kan?"
Fani terlihat cemas.
"nggak kok.. Mas tau kamu pasti nggak mau buat mereka khawatir." sahut Dimas sambil tersenyum lebar sehingga membuat aura ketamvanan nya semakin memancar.
Fani terpaku dan memandangi Dimas dengan tatapan takjub.
"ihhh.. Mas Dimas peka banget sih.." bisik nya dalam hati sambil tersipu malu.
bagaimana tidak,kemarin soal rumah yang di idam idamkan nya di wujudkan oleh Dimas. padahal Fani tak pernah mengatakan pada siapapun soal rumah itu. tapi melihat Fani menyimpan nya Dimas langsung mengerti bahwa Fani menginginkan rumah mewah tersebut.
"sudah pakai sabuk pengaman?" tanya Dimas,hingga membuat lamunan Fani buyar.
"pakai sabuk nya.. jangan sampai Mas kepegang itu lagi.." pinta Dimas sambil melirik nakal ke arah Fani.
"Mas.. sebenernya Fani nggak pernah bisa masang sabuk pengaman mobil ini." ujar Fani dengan wajah cengengesan.
" apa?? jadi selama ini kamu nggak pernah pakai sabuk pengaman?? itu bahaya lo,kenapa kamu nggak pernah bilang sama Mas?" Dimas mencecar Fani dengan wajah bingung nya.
__ADS_1
"yang Fani tau sabuk pengaman kan tinggal di masukkan ini nya udah.. nah ini pas Fani masukin malah keluar lagi,jadi Fani bingung dia kaya mental gitu,apa karena mobil mahal ya??"
Fani menjawab dengan polos sambil mengangkat gesper sabuk ke arah Dimas.
Dimas pun mengambil gesper itu dan memakaikan nya, Dimas juga berusaha maju semaju mungkin agar ia bisa berdekatan dengan Fani.
sontak saja Fani terbungkam dan deg degan parah karena ulah suami nya itu.
"di masukin dulu,trus agak di tekan sampai bunyi klik gitu baru dia kencang." bisik Dimas tepat di depan wajah Fani yang hanya berjarak 5cm.
Fani tak berani menatap mata Dimas yang sedang di penuhi oleh luapan cinta itu,bahkan Fani bisa merasakan nya tanpa menatap.
Setelah sabuk terpasang,Dimas tidak langsung kembali ke posisi kemudi nya. ia malah terpukau dengan wajah Fani yang masih terlihat sangat cantik bahkan saat sedang sakit.
"udah masukin nya Mas??" tanya Fani gugup memastikan sudah memasukkan gesper nya atau belum.
"belum...Mas masih berusaha.." sahut Dimas berbisik dengan pikiran nya yang sudah kemana mana.
"hhh... istri ku ini benar benar polos.." batin Dimas sambil tersenyum tipis.
ia bisa mendengar dengan jelas detak jantung Fani yang bergemuruh seperti guntur,namun ia malah menikmati pemandangan itu sambil berpura pura berusaha memasukkan gesper nya.
...~~~~...
Di sisi lain..
Riko dan Mila sedang terlibat kerjasama menyelesaikan desain sebuah hotel berbintang yang akan di bangun bulan depan bersama tim yang lain nya.
"saya rasa pintunya nya terlalu dekat pak."
ujar Mila sambil menunjuk contoh properti yang sudah mereka rancang.
"kenapa memang nya, bukankah itu bagus."
Sahut Riko dengan wajah datar nya.
Para karyawan pun banyak yang tidak setuju dengan desain kamar yang terlalu berdekatan itu,namun mereka tidak ada yang berani buka suara karena Riko pasti tak akan menggubris mereka.
"saya takut akan ada banyak orang yang salah kamar akibat pintu yang terlalu dekat, apalagi kalau para tamu sedang mabuk pasti akan langsung menerobos." kata kata Mila seperti sedang menyindir Riko yang tempo hari masuk ke kamar apartemen nya.
"berapakali saya bilang kamu yang mengizinkan saya masuk,saya tidak menerobos!!" Riko terpancing emosi nya karena merasa di sindir.
Para karyawan pun langsung menatapi mereka berdua secara bergantian.
"apa saya ada bilang tentang bapak?" Mila heran dengan Riko yang seperti nya kelepasan.
wajah nya juga seketika merah padam karena seperti nya karyawan disana mencurigai mereka.
"sshhh.. melihat argumen kalian seperti nya kalian pernah tidur bersama." celetuk Vino sambil menyipitkan kedua mata nya ke arah Mila dan Riko.
" yaa nggak lah..! amit amit saya tidur sama dia amit amit..!!" bantah Mila sambil mengetuk meja dan kepala nya.
Berbeda dengan Mila yang salah tingkah karena hampir ketahuan, Riko malah santai sambil memainkan bolpion nya dan memandangi Mila dengan tatapan menusuk nya.
__ADS_1
...***********...