
Gludak..gludak..gludak..!
Riko berusaha membuka pintu kamar mandi dari dalam,namun tak kunjung terbuka karena Mila telah mengunci nya.
"hihihi... rasakan pembalasan ku"
gumam Mila dengan suara seperti mak lampir.
"Milaa!!" teriak Riko.
Mila berjalan pelan pelan keluar kamar,dan meninggalkan Riko di sana. sampai kapan? selamanya pun boleh. batin Mila tertawa lepas.
Gubrakk!!!!
dengan tangan kosong Riko menarik pintu itu hingga gagang sapu yang mengganjal nya patah.
Mila yang baru saja mengambil beberapa langkah langsung terhenti di tempat.
"astaga.." wajah Mila pura pura tak tau apa apa.
"apa maksut mu hah? kenapa kau mengurung ku di sana?" nada bicara Riko terdengar sangat berat.
"aku mengurung mu? tidak? bukan aku.."
jawab nya gugup, Mila sampai tak berani menatap mata Riko yang seperti siap menerkam itu.
Riko meninggalkan Mila dan berpura pura marah,ia sengaja ingin melihat apakah Mila gelisah jika di abaikan.
"dia marah padaku?.."
gumam Mila, ia sedikit merasa bersalah karena sudah keterlaluan mengerjai Riko.
"heeehh!!" Mila langsung berlari keluar kamar karena Riko menanggalkan handuk di depan nya.
Sementara Riko tersenyum tipis.
"hahah.. jangan panggil aku Riko kalau tidak bisa membuat mu takluk."
seperti nya serangan balik akan di lesatkan oleh Riko.
...~~~~...
Vino terus berlari mengikuti Bian dan Nurul,tapi karena lorong rumah sakit berliku liku Vino jadi kehilangan jejak.
"permisi suster.. lihat anak remaja lari ke arah sini?dia bersama dokter yang muka nya ancur ancuran" tanya Vino kepada salah satu suster yang bertugas.
"maaf saya tidak lihat Pak,tapi kalau dokter nya ganteng ada tadi. mereka masuk ke ruang laboratorium" bahkan suster pun tidak berpihak kepada Vino. lagian emang gantengkan? Vino nya aja yang kelewat juling.
"chh.. ganteng apa nya?"
gumam Vino tertawa sinis.
tanpa mengucapkan terimaksih kepada suster,ia langsung ngeloyor begitu saja bahkan tanpa bertanya di mana letak ruang laboratorium.
Sementara itu di dalam ruangan Bian tengah menunjukkan kepada Nurul jenis jenis penyakit yang bisa berbahaya bagi wanita, sekalian ngobrol pdkt...
"nah.. ini yang paling sering di alami oleh wanita, kista.."
"apa bisa menyebabkan kematian pak?"
tanya Nurul.
__ADS_1
"kemungkinan nya kecil sih, tapi ini bisa membuat wanita tidak bisa hamil karena tumbuh nya di sini" Bian menunjuk gambar ovarium di sebuah contoh kertas yang menempel di dinding.
"kenapa nggak bisa hamil pak? kan letak rahim di sini, dan ovarium di sana. seharus nya nggak jadi masalah besar kan?" ucap Nurul seraya menunjuk bagian organ yang di maksut.
"karena kista itu menutupi ovarium yang seharus nya menghasilkan sel telur,sehingga sel sp*rma tidak bisa menyatu dengan sel telur"
jawab Bian,jiwa dosen nya sangat kental saat menjelaskan itu.
"bahaya ya banget berarti ya pak. apa nggak menular ke para suami kalau sampai bersentuhan sama kista nya pak?"
"kista tidak menular,lagi pula tidak bersentuhan langsung karena saat berhubungan intim pen*s hanya sampai ke titik ini dan..." Bian dengan teliti menunjuk satu persatu organ yang ia jelaskan,namun tiba tiba pikiran nya terganggu suatu hal.
(pembahasan apa ini? apa secara tidak langsung aku memberikan toxic kepada nya?)
pikir nya sambil melamun. di dunia kedokteran tentu nya hal ini sudah sangat biasa di bahas, namun Nurul kan bukan dokter ataupun mahasiswa kedoteran. seketika Bian merasa canggung hingga malu untuk melanjutkan pembicaraan mereka.
"dan,, apa pak?" tanya Nurul,ia tampak santai mendengar penjelasan dari Bian karena aura Bian yang sangat positif.
"nanti saja deh saya jelasin kalau kamu sudah paham" sahut Bian sambil garuk kepala salting.
"kalau ini alat untuk apa pak?"
Nurul mengangkat salah satu alat kontrasepsi untuk wanita yang terjajar rapi di atas meja.
"ini anak aktif dan punya rasa ingin tau yang luas,kalau ku jelaskan itu apa. nanti pasti dia tanya cara kerja nya bagaimana,pakai nya bagaimana. bisa semakin runyam urusan"
batin Bian sambil meremas jari jari nya.
"ahh.. itu penghambat beban negara.."
celetuk Bian asal bicara.
Karena di dalam ruangan itu banyak barang dan alat alat organ dalam, Bian pun segera mengajak Nurul keluar dari sana sebelum makin banyak pertanyaan yang di lontarkan.
"ayo kita keluar dek.. saya kebetulan ada jadwal dengan pasien 5 menit lagi"
"iya pak.."
baru saja mereka keluar dari ruangan itu, Vino yang sedari tadi sudah mondar mandir langsung berlari menghampiri mereka.
"hahh.. kena kamu.." Vino menarik tangan Nurul dengan nafas ngos ngosan.
"kamu ngapain sih dari tadi ngejar dia terus?"
Bian menepis tangan Vino.
"kamu ngapain dari tadi nempel sama Ran terus?"
balas Vino.
"kamu kenapa dari tadi posesif banget sama dia? bapak nya? bukan kan? paman nya? bukan kan?
pacar nya.. bukan kan?!" Bian terlihat sangat tak nyaman melihat tingkah Vino yang seakan akan mendiskriminasi Nurul dengan gelagat aneh nya.
"kamu sendiri siapa? sok banget,memang nya kamu bapak nya sampai mau tau banget urusan kami" balas Vino dengan senyuman smirk.
"chh.. saya memang bukan bapak nya,tapi saja bisa menjaga dia layak nya seorang anak" Bian membalas Vino dengan tatapan tak mau kalah.
"selesai kan urusan kamu sama dia, saya mau kerja dulu" bisik Bian pada Nurul,lalu ia beranjak dari sana.
"bapakk...." rengek Nurul tak mau di tinggal persis seperti balita yang tak rela di tinggal kerja oleh ayah nya. mau lari pun tak bisa karena Vino menggenggam lengan nya.
__ADS_1
"Ran.. kamu kenapa sih? saya ada salah sama kamu?" Vino menatap sendu kearah Nurul.
namun Nurul tetap bungkam dan tak mau bicara.
"astaga..! ada pocong!!"
ucap Vino sambil mundur beberapa langkah dengan wajah pura pura panik.
"di mana pak? dia kesini? usir pak!! Nur nggak mau di culik!!
aduh cong.. pliss aku takut sama kalian!"
Nurul meremas kuat baju Vino sambil membenamkan wajah d lengan Vino. lorong yang memang sepi dan tak jauh dari kamar mayat membuat Nurul semakin bergidik ngeri hingga hampir pingsan lagi.
"ahahahhahah... ampuh juga si pocong untuk buka suara kamu" Vino tertawa lebar saat mekihat reaksi Nurul.
Menyadari Vino hanya iseng,Nurul mencubit kuat lengan Vino hingga terasa hampir ngelupas kulit nya.
"hihh!!! bapak bohong ya!"
"arrh.. sakit, sakit..
habis kamu kenapa sih diemin saya terus?"
"karena Nur nggak mau,nggak ikhlas,nggak terima kemarin bapak cium!"
Nurul mengeluarkan semua tenaga nya untuk mencubit Vino lebih keras.
"sshh,, kan kamu sendiri yang nantangin saya"
"tapi Nur kan bercanda!"
"ya sudah, anggap aja kemarin saya juga bercanda" sahut Vino, ia malah tersenyum nakal pada Nurul.
"enak aja bapak main cium terus bilang bercanda!" ketus Nurul sembari terus memukul Vino.
"memang nya kalau saya seriusin kamu mau?"
ucap Vino memainkan sebelah mata nya dan mengangkat dagu Nurul.
"nggak gitu... ihh!! tau ahh..
jangan dekat dekat lagi sama Nur!
pokok nya jangan!!" Nurul langsung berlari meninggalkan Vino sambil ngedumel tak jelas.
Vino bingung bukan kepalang, harus bagaimana membujuk nya lagi.
"aiss!! harus nya aku tak mencium nya saat itu, bagaimana kalau dia tau aku mencium bibir nya waktu itu? bisa bisa di anggap punah aku olehnya"
"ternyata itu masalah nya.."
batin Bian, ternyata sedari dari ia menguping pembicaraan mereka diam diam. kini Bian yakin bahwa di antara mereka memang ada sesuatu.
rem? ya kali. gas lah... batin Bian.
...**********...
*pemanis♥️
__ADS_1