Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 108: Buka kado


__ADS_3

Dimas sedang menyanyikan sebuah lagu untuk anak nya sambil mengelus perut Fani.


sesekali mereka tertawa saat mendapatkan tendangan kecil dari kedua jagoan mereka.


"waahh.. anak mama memberontak, suara papa jelek ya.." ucap Fani terkekeh.


"di tepuk tangan sayang, karena suara Mas merdu"


Dimas merasa sangat bahagia melihat senyum hangat Fani telah kembali setelah berhari hari pucat dan tak bertenaga.


"apa kamu tau sayang? kita hampir kehilangan anak kita, tapi Mas bersyukur karena kamu dan anak kita berjuang sekuat tenaga untuk bertahan"


lirih Dimas dalam hati.


"hahaha.. orang dimdim bilang sendiri sama Fani kalau suara Mas nggak sedap"


"permisi.. saya mau periksa perkembangan nya ya.." ujar dokter Okta,hari ini Bian sedang libur jadi akan di tangani oleh dokter Okta, si jomblo idaman mak bunting sejagat kota.


Dokter Okta melakukan pemeriksaan USG dan melihat perkembangan yang cukup baik.


"wah.. sudah mulai aktif memainkan jari jari nya mereka, posisi nya juga bagus. dan ketuban nya sudah mulai normal.. tidak salah saya menyerahkan ini pada dokter Bian"


Sementara dokter Okta menjelaskan rincian nya kepada Fani, Dimas malah menempelkan wajah nya ke layar monitor sambil mengajak sang bayi berbicara.


"hai anak papa... wahh rambut kalian lebat ya.. tulang kalian juga bagus seperti mama yang hebat dalam hal tendang menendang"


"pak, kalau mau bicara pada anak nya langsung saja ke perut Ibu nya. kalau di sana mereka tidak bisa mendengar" ucap dokter Okta.


"eh.. apa iya?" Dimas langsung berdiri dari sana.


"saya tinggal dulu ya, kalau ada perlu tekan saja tombol di samping ranjang itu"


Dimas: "sayang.. kira kira nama anak kita siapa ya?"


Fani: "mm... Fani belum mikirin sih mas"


"lagi lagi mereka mengabaikan ku.. benar benar mereka ini"


gumam dokter Okta sambil keluar ruangan dengan wajah di selimuti jiwa ingin berbini yang meronta ronta.


"terimakasih ya sayang.. udah mau berjuang demi anak kita.." ucap Dimas sambil menciumi tangan Fani.


Bukan nya menjawab, pikiran Fani malah melantur jauh ke mantan istri nya Dimas. seperti nya mood yang mulai berubah ubah ini menandakan kalau kondisi nya sudah fit.


"Mas beneran nggak punya anak dari pernikahan sebelum nya?"


"kamu nyasar jauh banget sih.. Mas kan udah bilang Mas nggak mau bahas masalalu"


"ya Fani takut aja ntar tiba tiba datang mantan istri Mas bawa anak kalian terus nuntut karena nggak pernah di nafkahi"


"nggak punya sayang.. mereka yang nggak mau punya anak dari Mas, bahkan mantan istri Mas yang kedua sampai nuduh Mas mandul tapi nyata nya emang dia nggak mau hamil sama Mas.


karena mereka nggak bener bener cinta sama Mas!" kecepatan dan nada bicara Dimas naik 3 kali lipat seperti abang abang sales perabotan.


ntah kenapa kalau membahas ini suasana hati Dimas langsung kacau dan sensitif.


"yaa.. santai Mas ku, jangan ngegas... ntar di gas balik sama dimdim tau rasa"


"ini kaya nya kamu punya dendam pribadi sama Mas, terus kalau kamu mau beraksi kamu atas namakan dimdim ya kan? kasian kamu nak di fitnah mama terus.."

__ADS_1


"ehh. nggak gitu Mas, memang beneran bawaan dimdim nih"


"hilihh.. sini sini.. Mas peluk biar dimdim nya nggak minta yang macem macem lagi"


Dimas melingkarkan lengan nya ke pinggang Fani,namun karena perut nya semakin membesar tangan Dimas hampir ntak cukup melingkari nya.


"ahh.. Fani punya ide, gimana kalau nama anak kita Dio dan dea.."


Dimas langsung hilang semangat saat mendengar itu. "Dio?? itu kan nama mantan kamu , kamu masih belum bisa move on dari dia??"


"mantan? orang Fani nggak pernah pacaran"


"tapi tetap dia kan orang yang ada di pikiran kamu? Mas nggak mau pokok nya, ntar pas manggil anak kita malah wajah dia yang kamu bayang bayangkan"


"nanti malah mirip si Dio itu anak kita, Mas nggak mau!" imbuh nya lagi.


"hahahah.. iya iya, nanti Fani cari lagi yang bagus. lagian nggak mungkin lah Mas bisa mirip kak Dio kan bibit nya punya Mas"


Fani tertawa geli melihat Dimas yang sedang cemburu.


"awas kamu sebut sebut nama dia lagi, Mas cium kamu!" ancam Dimas.


Tapi bagi Fani itu bukanlah ancaman,melainkan peluang. ia malah menyebut nama Dio sebanyak banyak nya agar di cium oleh Dimas.


" Dio.. Dio.. Dio..Dio..Dio..."


"nantangin kamu ya.." akhir nya Dimas melayangkan kecupan di sekeliling wajah Fani.


dan Fani sangat menikmati ancaman itu sambil tertawa tawa.


Sementara dokter Okta yang hendak mengambil catatan nya yang tertinggal malah mematung di depan pintu sambil geleng geleng kepala.


rutuk nya kesal.


...~~~~...


Di halaman sekolah menengah Bhineka intercultural school, tampak anak anak seusia nya berhamburan memasuki halaman sekolah dengan mobil masing masing.


ya, hampir rata rata anak sekolah di sana menggunakan supir pribadi untuk mengantar mereka kesekolah.


Nurul berangkat di antar oleh Vino, walaupun harus adu debat dulu akhir nya Vino berhasil membuat Nurul naik ke mobil nya.


"selamat pagi.. supir nya cakep amat non.."


sapa pak satpam.


"pagi pak.." balas Nurul tersenyum ramah, namun ia tak membantah perkataan satpam itu tentang Vino.


"wahh.. yang bener aja dong pak, masa iya saya gagah tampan menawan gini di bilang supir."


bantah Vino tak terima, seperti nya pak satpam benar benar membuat mentalnya down. gimana nggak, udah dandan rapi cakep begitu masih di kira supir.


Nurul langsung meninggalkan Vino di gerbang depan tanpa berpamitan. dan tentu saja itu membuat Vino rugi besar,karena ia mengharapkan setidak nya Nurul tersenyum setelah di antar. eh malah langsung di tinggal.


Vino melihat jam tangan nya,dan ia rasa waktu untuk ke kantor masih banyak jadi ia memutuskan untuk mengikuti Nurul.


"hihh! ngapain sih pak?"


risih Nurul saat Vino menarik tas nya.

__ADS_1


"saya akan temanin kamu sampai bell sekolah masuk, saya tau kamu pasti gugup kan?"


"pak.. Nur ini masuk SMA,bukan SD. jadi jangan ngarang deh! bilang aja bapak mau nempel nempel sama Nur kan" ketus Nurul sambil menaikkan sebelah alis nya.


"nah itu kamu tau.." ucap Vino.


"pak.. pergi atau Nur laporin ke pak satpam sebagai penguntit. mau?"


" iya,iya saya pergi.." Vino langsung lari karena tampang Nurul sudah benar benar kesal.


dari pada semakin runyam mendingan Vino pergi.


...•••...


Nurul berjalan menyusuri koridor sekolah, ia menggunakan rok di bawah lutut,tas waktu masih SMP dan rambut nya hanya di ikat satu menggunakan pita berwarna biru.


ya,tampilan nya yang sangat sederhana dan beda dari yang lain membuat semua mata yang ia lewati memperhatikan nya.


ia merasa sedikit gugup, bukan karena baru masuk atau karena tatapan orang orang.


melainkan karena di sana rata rata yang sesusia nya sudah di kelas 12 dan seperti nya hanya dia yang paling tua di kelas nya nanti.


"wahh.. anak anak tahun ini cantik cantik ya..


badasss abis.." ujar gerombolan kaum lelaki yang sedang nongkrong.


Sementara kaum ciwi ciwi senior malah ngejulid sambil mengomentari penampilan anak anak baru.


"wih.. itu sih vibes orkay banget, lihat aja tas nya. limited edition tu.."


"tunggu.. anak kampung mana dia?"


ujar salah satu dari mereka saat melihat Nurul.


"dia kan yang di rumah sakit.." gumam salah satu siswi geng cetar itu yang tak lain adalah Mei.


kejulidan pun berlanjut,dan biasa nya akan selesai jika bell masuk sudah berbunyi.


...~~~~...


Sementara itu di sisi lain pasutri beda elemen sedang membuka kado pernikahan mereka yang tersisa,karena repot mereka baru membuka beberapa dan hari ini mereka akan melanjutkan unboxing kado kado itu.


Suasana tampak mencekam karena Riko masih pura pura cuek sementara Mila masa bodo.


mereka mengambil kado yang cukup besar dan tertulis bahwa teman teman di dapartemen Mila yang memberikan itu.


Mereka pun membuka kado itu bersama tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


dan saat si buka....


isi dadi kado tersebut adalah kond*m,obat kuat,hingga tespek.


dan yang terlihat dominan adalah puluhan setelan baju haram yang setipis saringan santan.


Riko membentang setelan baju haram itu dan


pluk... sebuah lingerie terjatuh dari lipatan nya.


"apa ini?"

__ADS_1


...*********...


__ADS_2