
"Ran..."
lirih Vino memanggil.
"hm?"
Nurul menaikkan pandangannya perlahan.
Vino menurunkan kedua tangan Nurul yang sedang menggosok rambut nya lalu
di lingkarkan le leher nya.
perlahan, ia menuip pelan wajah Nurul
dari atas ke bawah seakan tengah memberikan sihir cinta yang bisa memabukkan Nurul saat itu juga.
"I love u.."
bisik Vino lalu melayangkan ciuman hangat
di bibir Nurul.
"....Pak?"
Nurul menjauhkan tubuh Vino dengan
siku nya. namun Vino yang tak bisa menahan luapan cinta itu tak perduli
dan mencium bibir Nurul lagi, kali ini
lidah nya sedikit menari dan membelai
lembut bibir mungil Nurul.
tak di perdulikannya Nurul yang kewalahan
berusaha menjauhkan wajah nya dari Vino.
Dalam sekejap, bibir Vino berpindah lapak
ke daun telinga Nurul.
"Ran... I love u .."
"Pak.. tolong berhenti..!"
tukas nya dengan tubuh gemetar.
serangan Vino membuat separuh tenaga nya seakan hilang sampai kaki nya terasa
lemas.
bughh!!!
seseorang menghantam keras punggung
Vino dengan sikut nya, orang itu tak lain
adalah Bian yang sedang menghadiri
perjamuan pemilik rumah sakit di sana.
"aaaak!!!"
Nurul spontan berteriak karena ia sangat
terkejut melihat Vino hampir terkapar.
"apa yang kau lakukan dengan nya hah?!!"
pekik Bian emosi.
"aku mencium nya, kau tidak lihat?"
sahut Vino sangat arogan.
jdaggg!!!
Bian membenturkan tubuh Vino kedinding
lumayan keras.
"bang... tolong tenang dulu.."
Nurul pun bingung harus mengkhawatirkan
siapa, di satu sisi Vino yang hampir babak belur. di sisi lain Bian yang belum sembuh total dengan cedera leher nya.
"sial.. rambut ku belum di bilas!"
rutuk Vino.
"tenang kamu bilang??
saya menjaga mu baik baik, dan dia seenak nya mencium mu. bagaimana saya bisa tenang?"
"ch.. kau pasti berpikir aku merusak
usaha mu untuk menjaga nya dengan baik.
__ADS_1
tapi ketahuilah, aku sudah pernah memciumnya jauh sebelum dia mengenal mu. silahkan berpikir kalau usaha mu memang sia sia."
ucap Vino tanpa segan, ia benar benar tak mau Nurul lepas dari tangannya lagi.
"aku tidak perduli apa yang terjadi dengan kalian dulu, setidak nya dia sekarang kekasih ku. jadi aku berhak marah jika ada pria lain yang menyentuh nya."
"tapi dia tidak mencintai mu..
sadarkah kau akan hal itu??"
Tatapan membara Bian langsung padam kala mendengar Vino mengatakan itu.
ia berbalik menatap Nurul untuk mendapatkan jawaban apakah ia sengaja melanggar janji nya untuk tidak mencintai Vino lagi.
"dek.. saya akan berusaha merelakan
kamu, kalau memang cinta mu untuk nya
tak berubah.." tentu saja ia berharap Nurul tetap memilih untuk bersama nya.
Nurul tak sanggup mengatakan apa apa.
memang benar ia mencintai Vino, tapi
cinta yang Bian berikan selama ini tak
sanggup membuatnya mengatakan bahwa
ia ingin mengakhiri hubungan ini.
"dek..?"
"jawablah Ran, kalau kamu bungkam
itu hanya akan membuat aku dan dia
semakin bingung." imbuh Vino sambil memegang bahu Nurul.
Bian dengan cepat memegang tangan
Vino menyuruh nya untuk menyingkir.
"Nur mencintai pak Vino..
maaf bang,"
jawab nya, suara nya terdengar gemetar
dan mata berkaca kaca.
Mendengar itu terasa seperti menelan satu gelas empedu yang sangat pahit sampai terasa ke tulang. perlahan Bian melepaskan
sambil berusaha mengatur nafas.
"hhhfff...
baik lah... saya rasa memang cuma
di sini akhir hubungan kita."
kecewa? tentu sangat kecewa.
tapi apa mau di kata, seperti perkataannya
memaksa orang untuk tetap bertahan dalam hubungan tanpa cinta hanya akan
membuat kedua nya semakin terluka.
"jaga dia baik baik..
dan jangan membuat nya menangis."
ucap Bian sambil menepuk bahu Vino.
"maaf..." satu kata yang di ucapkan
Vino terasa sangat mendalam dan penuh
makna di lihat dari tatapannya.
tentu saja ia sangat tau apa yang di rasakan
Bian saat itu. tapi ini semua di luar kemauan nya sebagai manusia, cinta yang tertanam kokoh di hati Vino dan Nurul akhir nya
memakan korban yang harus merelakan
hati nya tercabik cabik saat cinta mereka
kembali bersemi.
"sekarang kau tau rasa nya kan merelakan orang yang sangat kau cintai mencintai orang lain?" tambah Vino lagi.
Entah kemana maksut perkataan Vino,
tapi di kepala Bian langsung terpikirkan
Viona.
"beginikah aku menyakiti nya dulu?"
__ADS_1
...-...
...-...
"baik lah.. sekarang saya akan memulai
pembahasan kita untuk menjadikan rumah sakit semakin ramah dan bisa bersahabat dengan......."
Di tengah tengah pimpinan yang sedang
membahas visi dan misi terbaru rumah sakit.
Bian malah melamun dan tak menghiraukan sekeliling nya.
"Dika.. bisa kah kamu pulang saja?"
ia menyela pimpinan hingga semua orang terkejut.
"saya pak? kenapa?"
"tidak.. saya saja yang pulang.
permisi..." tanpa menyapa pemilik rumah
sakit ia langsung melangkah pergi.
entah kenapa melihat Dika di sana
mengingatkan nya dengan kenyataan
bahwa hubungan nya dengan Nurul sudah
benar benar berakhir.
"apa yang terjadi?" tanya rekan dokter yang lain.
"entah lah.. dia murung sejak keluar dari toilet tadi."
"ahh.. mungkin dia mengalami sembelit."
Sedangkan Dika, ia bisa langsung tau kalau seperti nya Bian ada masalah dengan perasaan nya.
"nggak mungkin orang ganteng bisa sembelit.." batin nya yakin.
...~~~~...
Di ruang keluarga, Nurul sedang termenung memandangi cincin pemberian Bian.
"apa dia benar baik baik aja?"
gumam nya sedih.
"kak..."
panggil Ayu mengejutkan Nurul.
"apa??"
"besok jadi kan antarin Ayu ke kecamatan
Titian agung??"
"jadi.. kamu sudah siap siapin baju dan keperluan lainnya?"
"sudah kak.. aman..
tapi kakak yakin nyetir sendiri? tiga jam loh perjalanan nya.."
"sama saya yuk .."
timpal Vino sambil menggendong El
di tangan kiri nya, sedang tangan kanan nya
di masukkan ke saku celana membuat aura
duda maskulin nya terpancar cerah.
Sekolahan Ayu sedang mengadakan tur
wisata ke pedesaan karena baru saja menyelesaikan ujian akhir semester.
sebenar nya sekolahan menyediakan
beberapa Bus, tapi karena Ayu ini mabuk
berat jika naik Bus apalagi ramai dan sesak begitu, jadi dia minta di antar saja.
lagi pula demi kebaikan dan kenyamanan
teman teman lainnya. bayangkan saja
perjalanan indah mereka terganggu dengan
Ayu yang muntah muntah sepanjang
perjalanan.
...*********...
__ADS_1