
Di rumah sakit...
Bian dan Dika sedang menikmati kopi di kantin sambil mengobrol ringan. berbeda dengan Bian yang tampak segar bugar, Dika malah kelihatan pucat lusuh akibat kurang tidur.
"minumlah kopi mu. setengah jam lagi kita akan mendampingi profesor melakukan operasi besar" ucap Bian sembari menyeruput kopi hangat di hadapannya.
Dika yang tengah memejamkan matanya menghela nafas "hhff..tidak bisakah Saya izin Pak? kepala Saya terasa berat."
"tidak bisa, kita bertiga yang penting di sini. lagi pula kenapa kamu kelihatan letih? padahal kemarin kamu tidak dinas malam."
"entahlah, akhir-akhir ini Saya susah tidur, mungkin karena banyak yang terjadi belakangan ini."
"mau teh Chamomile? Saya menggunakan ini untuk mengatasi gejala insomnia." Bian mengeluarkan teh kemasan dari saku nya.
"wahhh.. kamu masih suka teh itu?" potong Viona dengan nampan makan siang di tangannya.
"aku suka manfaatnya" sahut Bian tersenyum kecil.
"oh iya.. pasien di kamar 2655 itu tampak sudah tenang setelah ku suruh Dr.psikolog mendatanginya kemarin." Viona menceritakan tentang Mei kepada Dika.
Namun Dika malah bertambah jengah mendengar itu "ceritakan saja yang lain Bu, Saya sedang sakit kepala."
"kau tidak menjenguknya? kudengar kalian saling kenal." tanya Viona lagi.
"tidak." jawab Dika pendek dan terdengar ketus.
Namun begitu, Viona belum peka juga terhadap respon yang Dika berikan. "aku kasihan pada nya, dari catatan yang ia ceritakan sepertinya dia mengalami kehidupan yang berat. kalian tau? Dr.psikologi membutuhkan satu buku penuh untuk mendengarkan ceritanya. dan semua nya menyedihkan. ck.ck.."
"kalau Saya ke psikologi, maka Dr.irawan (psikolog) membutuhkan satu kodi buku untuk merangkum cerita Saya." gumam Dika lalu berdiri meninggalkan mereka berdua.
"kenapa dia? apa gadis itu mantan kekasihnya?" tanya Viona heran.
"kau jangan membahas itu lagi di depannya." ujar Bian.
"kenapa? aku hanya ingin menceritakan pasienku seperti kalian juga."
"kau tidak pernah berubah. selalu saja membantah ku."
"iya.. ku akui aku masih belum berubah hahahhaha..." sahut Viona melepaskan gelak tawa yang renyah.
Saat hendak kembali keruangannya, Dika melihat Gaby memasuki lift, sudah bisa dipastikan Gaby kesana untuk menjenguk Mei. "Dita? seharian dia tidak membalas pesanku dan malah sibuk dengan anak benalu itu?" pikirnya geram.
...~...
__ADS_1
Cciitttt!!! Vino memarkirkan mobilnya di depan kantor. lalu ia turun dan membanting pintu mobilnya seperti orang kesetanan.
"Pak.. mobilnya jangan di situ dong." tegur petugas keamanan.
"parkirkan!" titah Vino.
"baik... eh kunci nya Pak?" seru si petigas keamanan, tapi Vino sudah melesat jauh ke dalam kantor.
"ihh.. gimana sih, buat susah orang aja!" gerutu si petugas sambil memasang papan bertuliskan Ban Bocor. dari pada ribet, sekalian dia mengempeskan ban belakang Vino agar terlihat realistis.
Sampai lah Vino di ruangan tempat Rey bekerja, ia langsung menanyai salah satu karyawan di sana "dimana Rey?!" suaranya terdengar berat karena di timpa kobaran api cemburu.
"d..di toilet Pak." jawab karyawan itu gugup dan kagum. sudah lama ia tak melihat Vino, orang yang dulu jadi bahan cuci mata para ciwi ciwi kantor.
Kaki jenjang Vino langsung melangkah cepat menuju toilet.
BRAKK!!! pintu toilet hampir terbang oleh tangan Vino. Rey yang sedang mencuci tangannya hanya menoleh santai.
Tanpa aba-aba, Vino langsung menarik kerah baju Rey sambil menatapnya dalam dalam. "ku peringatkan padamu! jangan lagi datang ke rumah ku apapun alasannya!"
"rumah mu? bukankah itu rumah Pak Adit?" sahut Rey tersenyum.
"jangan pura-pura Bod0h!! kau pikir aku tidak tau apa isi kepalamu itu hah?!" Vino semakin emosi melihat ekpresi Rey yang hanya tersenyum seperti orang gila.
"zzz!! baiklah. karena kurasa kau benar-benar bodoh maka aku akan langsung mengatakan ini. jangan pernah mencari perhatian di depan istriku! apalagi sampai punya niat untuk menyukainya! PAHAM?!"
"aku tidak melakukan itu dan aku tidak menyukainya!" tegas Rey pelan tapi terdengar tajam.
"kau pikir aku bodoh Hah! aku memperhatikan setiap centi gelagatmu saat di depan istriku!"
"karena aku menyukai mu. kau yang ku sukai, bukan istrimu." sahut Rey yakin dan tenang hingga membuat Dimas yang sedang menguping dari dalam toilet terkejut bukan kepalang.
Tentu saja Vino tak percaya dengan omong kosong itu.
"ch!! kau pikir aku bodoh hah?! kau selalu menatapnya dengan tatapan menjijikan dan sekarang kau mengarang cerita yang tidak masuk akal? kau pikir aku percaya itu hm!" Vino mengepalkan tangan hendak meninju wajah Rey, namun dengan sabar Rey menggenggam tangan Vino sambil memandanginya sepenuh jiwa.
"aku sengaja memancingmu, karena hanya dengan itu kau tertarik pada ku kan?" Rey tersenyum puas saat mengungkapkan isi hatinya.
"..apa.. apa katamu?" tangan yang tadinya mencengkram erat kerah Rey seketika kehilangan kekuatannya karena syok.
"aku.. tidak menyukai istrimu, kau lah yang ku sukai." Rey mengucapkan itu dengan penuh keyakinan.
Dimas yang dari tadi menguping dari dalam toilet pun tak kalah terkejutnya dari Vino "apa katamu Rey??"
__ADS_1
Keterkejutan Vino menjadi berlipat ganda saat melihat kepala Dimas nongol dari balik pintu toilet. "hei? sejak kapan kau di dalam sana?"
Dimas tak lagi mendengar Vino, karena ia sangat syok mendengar pengakuan Rey. "Rey? kau sadar dengan ucapanmu itu?"
"ck.. inilah mengapa aku menyembunyikannya, kalian pasti tidak akan percaya." sahut Rey seraya merapikan kemeja nya yang awut-awutan di buat Vino.
"tapi kenapa harus.. sshh! banyak wanita cantik di kantor kita. kenapa kau memilih Vino? kau yakin dirimu begitu hah?" Dimas kembali memastikan kalau itu hanyalah gurauan.
Rey duduk di pinggiran wastafel dan menyilangkan kaki nya. "entah lah.. aku memang tidak pernah tertarik dengan lawan jenis."
"hei?! kau benar-benar serius tentang itu?" bingung antara senang atau marah bercampur aduk di kepala Vino.
"tunggu..! apa jangan jangan kau menyukaiku juga?!" tanya Dimas.
"tidak. tapi ku akui Anda memang tampan." papar Rey gamblang.
"ishh! lihatlah baj!ngan ini aaighhh!! aku bingung harus memukulmu di bagian mana agar kau sadar!" rutuk Vino jengkel setengah mati.
"ck..ck.ck.. sudah kuduga ada yang tidak beres denganmu. mana mungkin ada pria waras yang bisa marah kepada putriku. apa kau mau kubawa ke ahli terapi?" Adit yang juga baru menyelesaikan hajatnya sontak membuat mereka bertiga terkejut. prinsip Adit seluruh orang yang bekerja dengannya menjadi bagian dari keluarganya, jadi kesehatan fisik dan mental karyawan baginya sangatlah penting.
"Papa... sejak kapan di sana?๐ณ" tanya Vino dan Dimas bersamaan.
"hhh.. jangan di tanya, kalian tau kan jam terbang saya di toilet memang lama." masih sempat-sempatnya Adit berbangga diri.
"Pa.. tolong pecat atau lempar manusia ini jauh jauh Pa.." pinta Vino.
"hei? perasaanku saja kau tidak menerima sekarang kau mau menghancurkan karirku? whoaah... kau benar benar jahat." tatapan Rey tampak memelas kepada pujaan hatinya itu.
Vino pun kembali naik pitam melihat tatapan Rey yang menjijikkan baginya "hentikan ku bilang! hisshh!!"
"sudah! sudah! kalian semua ikut Saya sekarang!" gretak Adit hingga membuat mereka semua terdiam.
...~~~~...
Sementara itu di rumah Rianti tengah memilih restaurant untuk makan malam bersama lusa. ya, lusa adalah hari yang amat membahagiakan untuknya karena tepat di hari itu usia pernikahannya menginjak 45 tahun.
Ia berniat untuk mengajak seluruh keluarganya merayakan anniversary di sebuah restaurant, sekedar makan bersama saja, lagipula sudah lama mereka tidak kumpul keluarga.
"Yu, ngapain kamu ngelamun nak? mendingan sini bantu Mama pilih pilih cake."
Ayu yang tengah fokus melamun sampai tak mendengar Mama nya memanggil "kira-kira apa yang terjadi di kantor ya? di lihat dari ekspresi Pak Vino tadi sih kayaknya Pak Rey bakalan babak belur tuh. aduh.. gimana dong.." pikirnya risau dan galau.
...********...
__ADS_1
jempol nya tinggal dong heheheh๐ ๐ ๐