Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 5: Lebah dan tawon


__ADS_3

Bian dan Vino saling menatap seperti sedang berbalas peluru. Bian tak begitu terkejut melihat Vino di sana, karena ia pun tak tau kalau Vino sebenarnya tak jadi menikah dengan Zey, terlebih kabar kalau Zey sudah tiada.


Namun Vino, ia termangu mendengar Bian memanggil Nurul dengan sebutan sayang.


"sayang..?" gumam nya dengan tatapan penuh tanya.


"hai.. bagaimana kabar mu?


dia anak mu? wahh dia tampan sekali"


senyum ramah Bian menyapa si mungil El.


Vino berdiri dan menggendong El.


"mm..., dia anak ku."


"dimana istri mu? apa kabar nya juga baik?"


tanya Bian lagi.


Takut menyinggung perasaan Vino dan El,


Nurul pun mencegah Bian bertanya lebih lanjut.


"bang, ayo kita berangkat. udah hampir telat nih"


Nurul menarik paksa Bian dari sana.


"oh.. iya dek.."


Bukan nya Vino yang cemburu, melainkan El.


mata nya berkaca kaca saat memandangi bunda nya pergi bersama orang lain.


pelukan nyaman Nurul dalam satu malam


tampak nya telah mengambil hati El.


...~~~~...


Sepanjang perjalanan menuju kampus, Bian dan Nurul tampak bercanda membahas apa saja yang mereka lihat di jalan. dari mulai papan iklan, tiang listrik, bahkan garis trotoar mereka jadikan topik receh sambil tertawa seperti anak kecil.


"lihat tuh dek, sarang lebah nya besar banget."


Bian menunjuk ke arah pohon besar yang ada di pinggir jalan.


"wihh.. itu mah sarang tawon bang.."


"lah, lebah sama tawon kan sama sayang.."


"beda bang.. kalau lebah nyengat, kalau tawon nggigit."


"tau dari mana kalau lebah gigit? emang adek sudah pernah lihat gigi nya?"


"belum sih.. hehehe..


nanti tangkepin satu ya.. Nur pengen lihat gigi nya.."


"pak Vino kapan sampai ke Indonesia dek?"


"hah??" Nurul tiba tiba ngelag, kok jauh banget gitu belok nya dari lebah ke Vino.


"Pak Vino.. sudah lama sampai di sini?"


Bian mengulangi pertanyaannya.

__ADS_1


"baru sih.." sahut Nurul gugup.


"oh iya...itu anak Pak Vino kan yang panggil kamu bunda malam itu?


tapi abang kok nggak lihat istri nya pak Vino?


apa dia tidak ikut ke Indonesia?"


"dia sudah meninggal bang.."


jawab Nurul pelan.


"hahh?! maksut nya?"


"yaa meninggal.


pak Vino istri nya meninggal.."


"ya tuhan... kapan? sudah lama?


tunggu.. berarti dia duda gitu?"


tegang, kaget, takut. seperti itu lah ekpresi Bian saat itu.


"Nur belum tanya sih bang, Nur pun baru tau.


kaget dan nggak nyangka banget sih kalau tante Zey sudah nggak ada. soal nya keluarga nggak ada yang pernah membahas tentang pak Vino di rumah."


"ya ampun.. kasian banget pak Vino, apalagi anak nya dia pasti kesepian banget." tutur Bian prihatin.


"iya bang.. kemarin sewaktu kami tidur bareng Nur nggak tega lihat wajahnya."


ucap nya sambil memilin milin sabuk pengaman.


"kamu tidur bareng Vino!?"


Bian menatap lurus ke arah Nurul, tangan nya menggenggam erat gadis yang sangat di cintai nya itu.


"dek.. kita sudah buat rencana loh ya tahun depan lamaran."


"i..iya.. kenapa bang?" bukan nya lupa, hanya saja Nurul takut karena Bian tiba tiba seperti sedang mengintimidasi nya.


"saya cuma mengingatkan.." ia tersenyum kecut lalu turun dari mobil nya.


Ya, mereka memang sudah menyusun rencana tahun depan lamaran. lalu setelah Nurul wisuda mereka akan menikah. rencana yang sangat mulus bagi Bian untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius bersama cinta pertama nya.


Namun entah kenapa tiba tiba Bian merasa rencana itu akan menghadapi gelombang yang bisa membuat hubungan mereka sedikit terguncang.


"bang...


Love u..." Nurul memberikan flying kiss lalu berlari menuju kelas nya.


"chh.. kenapa dia sangat imut." wajah suram nya langsung berubah jadi senyum senyum salah tingkah.


"selamat siang pak..." sapa beberapa mahasiswa yang melewati nya.


"khmm.. iya siang.."


Bian langsung merubah lagi wajah nya menjadi kaku, malu dong di lihat anak murid nya.


...~~~~...


Keesokan hari nya...


Karena merasa bosan, Vino mengajak El jalan jalan ke kantor Dimas. sekalian temu kangen dengan teman teman lama nya.

__ADS_1


dengan rambut nya yang sedikit gondrong dan di ikat ke belakang, ia menggendong El dengan tangan kekar nya hingga membuat setiap mata yang melihat meleleh bak mentega yang di celupkan ke wajan panas.


"itu... itu pak Vino kan?"


"Vibes nya duda kece woy.."


"huss.. ngawur duda duda! ada bini nya ntar di gaplok tau rasa." tukas salah satu dari mereka.


"buset.. lama tenggelam sekali nya nongol udah punya buntut." tak henti nya bibir mereka tercengang melihat penampilan Vino yang semakin matang itu.


"hhhff.. kenapa dari dulu tidak ada wanita cantik di kantor ini" dengus Vino.


plakk!!


El memukul bibir ayah nya karena sembarangan bicara.


"ayah..! nanti El bilangin bunda loh.."


"El, sudah berapakali ayah bilang dia itu bukan bunda kita. panggil dia tante!"


Vino sedikit meninggikan suara nya hingga membuat hati El terguncang.


"hhhwwwaaaa.....๐Ÿ˜ญ


El mau sama bunda! El mau bunda..!"


"eh..eh.. jangan nangis nak, ayah minta maaf ya.." tentu saja Vino kelabakan kalau El sudah menangis seperti itu.


"El mau bunda!!!" El semakin tantrum tak karuan.


"El... kenapa kok nangis?" tanya seorang wanita bersuara lembut. suara itu langsung membuat tangisan El berhenti seketika.


"bunda..." panggil nya dengan wajah berbinar.


"Ran? kamu kok sampai sini?"


tanya Vino bingung.


"nganter kak Fani.. Keenan dan Ica nangis minta sama papa nya.i"


"hhh.. anak anak memang susah di mengerti.."


gumam Vino sambil tersenyum.


"bukan susah di mengerti, cuma kita nya aja yang nggak mau coba ngertiin mau nya mereka"


Vino sedikit kesal mendengar itu, dengan kata lain Nurul menganggap kalau Vino tidak pengertian terhadap anak nya.


"bukan saya nggak mau ngertiin, tapi kemauan dia memang aneh!" tukas nya.


"menurut orang dewasa mungkin aneh, tapi bisa jadi itu sangat penting untuk mereka."


"kamu tau apa yang dia minta sampai menangis begini? dia mau bunda nya, dia mau kamu"


Sesaat Nurul terpaku memandangi Vino, namun segera ia menepis nya.


"ya sudah sini..


El mau sama tante ya.. sini yuk"


Nurul merentangkan tangan nya, El pun menyambut tangan Nurul dengan senang hati.


"kamu bisa gendong anak anak?" tanya Vino ragu ragu.


"ya bisa lah pak.. tu si kembar kan Nur yang gendongin."

__ADS_1


Dengan ragu ragu, Vino menyerahkan El kepada Nurul untuk di gendong. namun di saat yang bersamaan gelang mereka berdua tersangkut di kancing kemeja El. ya, gelang coklat itu masih mereka pakai selama hampir 5 tahun hingga bentuk nya sudah agak usang.


...********...


__ADS_2