
Pernikahan Nurul dan Vino akan
di langsungkan besok.
namun hari ini Nurul tetap masuk
kuliah karena ada presentasi penting
yang tidak bisa di tunda.
Karena itu, Vino Duma dan El juga
pulang ke rumah mereka agar besok
ada momen dalam pertemuan kedua
mempelai.
Entah karena gugup, atau bahagia
tubuh Nurul sedari tadi panas dingin.
dahi nya pun sampai berkeringat
padahal ruangan kantin sedang full AC.
Ia menoleh keseluruh arah mencari
keberadaan Gaby, namun seperti nya
Gaby sedang tidak masuk.
padahal momen momen seperti ini
paling tepat kalau curhat ke bestie.
"ini.. minum dulu.."
Bian tiba tiba memberikan sebotol
minuman dingin lalu duduk tepat
di hadapan nya.
"sudah makan?"
tanya Bian lagi.
Nurul tersenyum agar suasana
tak begitu canggung.
"belum lapar bang..
abang udah makan?"
"silahkan.."
ucap ibu kantin menyerahkan
sepiring nasi goreng.
"ini mau makan.."
"wah.. sekarang udah nggak bawa
bekal bang?"
"baru akhir akhir ini saja..
saya merasa aneh kalau makan sendiri,
hhhh.. pohon itu pasti kesepian sekarang"
sahut nya tersenyum pahit saat mengingat
kenangan mereka dulu.
Sebenarnya bukan pohon nya yang
kesepian, melainkan Bian yang kesepian
karena belum bisa melepaskan Nurul.
Nurul membalas dengan senyum lagi.
ia mengeluarkan undangan dari tas nya
untuk di berikan kepada Bian.
"ini bang...
datang ya,,"
Bian memandangi undangan tersebut.
"dek...
kalau suatu saat nanti kamu ternyata
tidak bahagia.
kembalilah sama saya, saya akan
menerima kamu apa ada nya."
deg....
Tulus nya perkataan Bian membuat
Nurul merasa terharu.
"terimakasih sebelum nya bang..
tapi Nur harap abang mendoakan
kebahagiaan Nur ya.. hahahahha.."
sahut nya sedikit bercanda agar
suasana tak begitu tegang.
"pasti...
itu pasti dek, karena kebahagiaan
kamu juga kebahagiaan saya."
"ya udah.. Nur permisi dulu ya bang.
jangan lupa datang.."
pamit nya meninggalkan senyum
lembut yang lama di rindukan Bian.
Tanpa terasa air mata nya menitik
ketika menerima kenyataan bahwa
orang yang sangat di cintai nya
kini benar benar akan menjadi milik
orang lain.
...~~~~...
Di rumah nya, Vino di bantu El tengah
menghafalkan janji pernikahan nya.
"Saya Alvino Giandra, akan menerima
Ran.."
"Alisha Kirana Ayah..
dari tadi Ran Ran terus.."
sewot El mulai kesal.
"aduh.. kita sambung nanti lagi ya El.
Ayah ngantuk banget nih.."
"maka nya Ayah kalau malam
jangan begadang..!"
π³
"El..? kok kamu tau Ayah bergadang?"
tanya Vino gugup.apa jangan jangan
El melihat nya saat sedang....
"tuh.. kantung mata Ayah hitam."
tunjuk El sambil mengerutkan alisnya.
"oh.. iya..Ayah nggak bisa tidur
__ADS_1
semalam.
kalau El, kenapa mata nya bengkak?
bergadang juga ya??"
padahal Vino sudah tau kalau
El menangis semalam, tapi ia sengaja
mengatakan itu untuk mengalihkan
topik.
"kan kita nangis sama sama semalam.
untung lah mata El tidak hitam."
"El,, kalau Ayah meninggal kira kira
masuk surga nggak ya..?"
entah angin apa yang membuat Vino
tiba tiba teringat akan semua dosa dosa nya.
"kenapa Ayah bicara seperti itu?"
"karena Ayah kepikiran sama omongan
kamu tentang mama."
"kalau begitu Ayah harus usahakan
masuk surga agar bertemu sama
mama."
"hahahha.. manusia seperti Ayah
pasti susah untuk masuk surga."
gelak tawa Vino menggema di dalam
kamar membuat El langsung tersenyum.
"kalau begitu ajak El dan Bunda juga
saja.. kan El baik, Bunda baik..
nanti kami berdua yang bawa Ayah
masuk surga."
"hahahahha..
kamu pikir surga itu tempat apa hm?
kalau kita kesana, kita tidak bisa
kembali lagi ke dunia."
"oooohhhhhh....."
sahut El mengangguk.
...~~~~...
Hari yang di nantikan pun tiba,
para kerabat dan tamu mulai berdatangan
memenuhi halaman megah istana Rianti.
para penggerak acara pun mulai berseliweran
bersiap menyambut sang pengantin.
"Pak bisa cepet sedikit tidak??"
pinta Vino tampak tak sabar
untuk mempersunting gadis pujaan nya.
"siap Pak.."
sahut Pak supir menambah
tekanan pada pedal gas nya.
Kecepatan pun bertambah menjadi
dua kali lipat dari sebelumnya.
naskah untuk pernikahan nya.
El dan Duma malah sibuk memilih
nama dede bayi di kursi belakang.
"kalian ini..
Ayah saja belum mematenkan
hak. kenapa kalian malah sibuk
cari nama bahkan jenis kelamin nya
pun kita belum tau."
celetuk Vino geleng kepala.
El menatap mantap Ayah nya.
"Ayah tenang saja, kami cari
kedua nya sekaligus."
"bahkan kami juga carikan
kembar untuk jaga jaga.
siapa tau rejeki kamu seperti
Dimas dapat anak kembar sekaligus
hehehehe...."
Duma pun tak kalah semangat nya dari El.
Tiba tiba mobil yang mereka kendarai
menurun kecepatan nya, tak hanya itu
mobil tersebut bahkan tersendat sendat
sambil mengeluarkan asap hitam dari
belakang.
Sontak saja Vino dan Duma panik.
"loh.. eh.. eh??
kenapa nih??"
Pak supir langsung turun dan memeriksa
keadaan.
"waduh... gimana nih.."
gumam Pak supir khawatir, sebab dia
sudah di suruh untuk service kemarin
namun ia lupa.
Mobil antik tersebut tampak nya merajuk
di hari yang salah.
"waduh Pak... mogok mobil nya."
supir itu tampak ketakutan.
"astaga...!"
rutuk Vino menarik rambut nya
kebelakang.
"kan.. kamu sih Vin.
pake acara minta pake mobil ini.
coba pake mobil sendiri.."
ucap Duma. selamat lah si supir yang
lupa menservis mobil itu.
"aishh!!!
__ADS_1
Pak tua itu selalu saja mengabaikan
mobil nya."
Vino menggerutu tentang Papa nya.
...~~~~...
45 menit berlalu sejak waktu yang
di tentukan. Nurul sampai sudah beberapa
kali menguap karena bosan menunggu
sang pangeran yang tak kunjung timbul.
Papa nya Vino juga sedikit panik
karena di telpon eh nggak di angkat.
ia sampai tak enak dengan beberapa tamu
yang sudah mulai berdatangan.
Di antara para keluarga yang panik,
ada satu orang yang tampak berharap
Vino tak bisa datang hari ini.
siapa lagi kalau bukan Bian.
"semoga gagal..."
batin nya.
Brrrrmmmmmm!!!!
sebuah motor CB memasuki halaman
rumah Rianti siapa lagi kalau bukan Vino.
rambut klimis nya sampai awut awutan
karena helm ia berikan untuk Duma.
"hhhfffff........"
para keluarga langsung menghela nafas
lega, sekaligus menahan tawa melihat
tampilan Vino.
"kemana aja sih kalian?
hampir aja kita bubarin nih acara."
ucap teman teman Vino yang tadi nya
mengiringi mobil mereka.
namun mereka terpisah saat di lampu
merah.
"jangan banyak tanya, bagaimana
penampilan ku??"
Vino berusaha membersihkan
wajah nya dengan tissu.
"kacau.. penampilam mu kacau bro.."
"bodo amat lah.."
sahut Vino cuek.
"ayo... buruan, pembawa acara sudah
manggil pengantin wanita.."
seru Duma kepada rekan rekan Vino
agar menyusun barisan.
Pembawa acara pun naik ke podium.
"baiklah hadirin yang di rahmati tuhan
kita saksikan pertemuan dua insan yang
akan menjadi pasangan suami istri
hari ini.."
Pandangan para tamu langsung
tertuju kepada Nurul yang sangat
cantik dengan balutan gaun putih
yang memancarkan kesan anggun
pada diri nya.
Sedangkan Vino, walaupun lusuh
namun tetap terlihat gagah dengan
setelan coklat muda di tubuh nya.
"cantik nya istri ku..."
batin Vino kagum, padahal belum
sah jadi istri nya tuh.
"pengen ku jitak tuh duda tua.
hampir aja jantungan aku di buat nya."
rutuk Nurul kesal dengan tatapan tajam.
ya, pikiran nya sudah kemana mana tadi
karena Vino terlambat, nggak bisa
di hubungi pula.
Sesampainya di altar,
janji suci pernikahan pun di ucapkan
oleh mereka berdua.
π¨βπΌ: "bersediakah saudari Kirana
menerima saudara Vino sebagai suami?"
Nurul mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Saya bersedia..."
π¨βπΌ: "bagaimana para saksi? sah..?"
"SAHHHHHHH......."
teriak seluruh manusia yang ada di sana.
di iringi tepuk tangan meriah.
Resmilah mereka sebagai pasangan
suami istri. kini Nurul benar benar
milik Vino seutuh nya.
"siap siap lembur.."
bisik Vino.
"lembur apa Ayah?"
celetuk El yang sedang berpose
di tengah mereka.
...*********...
Bebs.... anggap aja itu mereka yaπ¬
otor gk semangat ngedit nya, lelah π
maaf juga karena lama ngilang
karena kesibukan otor sebagai warga
negara baru desa bukit indah sangat sangat
__ADS_1
padatπ jadi maaf yaaaππππ