Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 81: Ikat rambut


__ADS_3

Perasaan kesal Nurul semakin membuncah kala ia melihat Vino tengah duduk manis di balkon sambil melamun ke arah luar.


Brakk! ia menutup pintu kamar sekuat tenaga hingga membuat Vino terkejut. ia menoleh ke arah Nurul "kok baru pulang Ran? bukannya kelas kamu hari ini cuma sampai siang?"


"hhh.." Nurul mendengus kesal, ia mendekati Vino dengan langkah tegas mengisyaratkan dobrakan emosi dari dalam dada.


"Nur nunggu hampir dua jam, dan Mas malah tanya kenapa baru pulang?! ohh.. lupa ya kalau punya istri masih kuliah? atau lupa kalau udah punya istri?"


Vino mengusap kasar wajahnya sambil menghela nafas "hhhhh.... apalagi ini Tuhan.."


"sayang..." bisik Vino lembut sembari merapikan rambut Nurul yang berantakan.


Ingin rasanya Vino mencecar Nurul atas pertanyaan membingungkan barusan, tapi ia sadar. semakin ia bersikap tak mengerti maka Nurul akan semakin emosi.


"lain kali baju yang ini jangan di pakai ya.. kancing nya hilang satu, terlalu terbuka untuk wanita yang sudah bersuami." bisik Vino menunjuk lubang kancing paling atas kemudian beranjak dari sana, seperti nya mereka berdua sama sama butuh waktu sendiri untuk menjernihkan pikiran.


"Ya ampun..! suami siapa sih itu! istrinya nunggu dua jam dan dia nyantai di balkon? bahkan minta maaf pun enggak! malah bahas bahas kancing baju...." Nurul meraba dada nya yang memang tanpa sadar sedikit terbuka.


"eh??" alisnya mengernyit seperti merasa ada yang aneh.


"perasaan tadi pagi lengkap kancing nya, lepas dimana? kapan? apa iya di kampus, kok Gaby nggak ngingetin sih kalau baju ku begini.." gumamnya bingung.


...~~~~...


Di parkiran, Rey tampak sedang menunggu seseorang. ia terus mengamati pintu keluar berharap yang di tunggu segera datang.


Penampilannya hari itu lumayan modis, tak seperti biasa yang hanya menggunakan setelan jas. kaos hitam pendek di padukan dengan celana jeans biru pekat menambah kesan 'pria' pada dirinya semakin memancar.


Tttiiiinnn! ๐Ÿ”Š Rey menekan klakson saat Ayu lewat di depan mobilnya.


Ayu terkejut sampai mengangkat sebelah kaki nya "Sss!! hampir copot jantung ku!" rutuk Ayu kesal, ia melihat ke arah mobil yang sangat ia kenali siapa pemiliknya.


Saat itu Ayu tak sendiri, ia sedang bersama bendahara kelas lagi rundingan tentas uang Kas. tapi tiba-tiba rundingan itu harus buyar karena Rey.


"kamu duluan aja..." ucap Ayu mempersilahkan temannya pergi duluan.


"oke.. bye.." balas remaja dengan wajah berseri tampan itu.


Tiittt๐Ÿ”Š lagi Rey membunyikan klaksonnya karena tak sabar.


"sumpah! ngapain sih itu manusia jelangkung!" ia mengumpat kesal sambil berjalan menuju mobil Rey.


"apa?!!" Ayu berkacak pinggang sambil melotot.


"Masuk"

__ADS_1


Ayu dengan nafas beratnya menuruti perkataan Rey. ia tak menyangka Rey benar-benar terus menjemputnya, Ayu pikir perkataan Rey tempo hari di batalkan karena ketahuan kalau Rey itu belok. ternyata Rey tetap menjemputnya setiap ada waktu luang.


Baru menghempaskan diri di kursi, pandangan Ayu terfokus ke spion kecil di depan. ikat rambut berwarna cokelat muda yang seperti syal itu tergantung di sana.


"itu.. punya siapa?" Ayu merasa familiar dengan benda itu.


"Keponakanmu.." ya, yang Rey tau ikat rambut itu milik Ica.


"ini, kembalikan kalau nanti kamu bertemu dengannya ya." Rey mengambil Bros dan juga kancing baju yang ia taruh di dalam kotak kecil. kemudian ia berikan benda-benda itu kepada Ayu.


"apa kakak meminjamkan ini pada Ica?" batin Ayu, seingatnya ikat rambut itu di kenakan Nurul kemarin.


Rey menginjak gas nya meninggalkan gerbang sekolah. tiba-tiba ia teringat akan perkataan Nurul tentang hari ulang tahun Ayu.


"ada apa dengan ulang tahunmu?"


"hah..? k.. kenapa tiba-tiba ulang tahun?" Ayu bertanya balik.


"ada yang bilang kamu membenci hari itu, apa sebab nya?"


Mata Ayu tertunduk, ia lalu tersenyum. namun senyuman itu tampak pahit "Ayu.. cuma nggak suka bertambah tua."


Rey pun tak menjawab, ia mengangkat sebelah alisnya seakan tak yakin oleh jawaban Ayu barusan.


...-...


...-...


"sepertinya kalian semakin dekat."


Ayu terbelalak sambil memandangi sekeliling mencari sumber suara itu, lalu di dapatinya Vino yang tengah bersandar di dekat pilar.


"apaan sih.." sewot nya sambil buang muka, biasanya Ayu akan menimpali. namun karena hari ini sedang lesu ia tak bersemangat untuk itu.


"saran Saya sih jangan terlalu dekat, bahaya. ntar kamu nya baper eh dia nggak HAHAHAH....." ledek Vino tertawa lepas.


"iss..! NGGAK AKAN!" bantah nya tegas sambil membuat garis silang menggunangan tangannya.


"itu?" ekpresi terkejutnya Vino sama persis seperti Ayu saat melihat pita cokelat muda itu.


"itu kan.." Ya, Vino hapal betul pita itu milik istrinya.


"ini punya Ica, ketinggalan di mobil Pak Rey tadi. dia minta tolong Ayu mengembalikan ini kalau ketemu Ica."


"punya Ica? di mobil nya Rey??"

__ADS_1


Ayu mengangguk, ia melanjutkan langkahnya menuju pintu rumah. namun Vino menahannya "tunggu.. biar Saya yang mengembalikan, nanti sore Saya mau ke rumah Dimas."


"mm,, oke. sekalian sama ini juga ya.." Ayu menyerahkan kotak bening berisi Bross dan sebuah kancing baju.


Tangan Vino tampak bergetar menggenggam erat benda itu. rambut berantakan serta kancing baju hilang Nurul saat pulang kuliah kemarin seakan menggiring pikiran Vino ke hal yang tak masuk akal.


Nafasnya berderu hebat mengalihkan otaknya untuk berpikir positif. namun kedua fakta yang ia saksikan seolah saling bertautan pada hal yang tak di inginkan.


...-...


...-...


Sementara itu di kamar, Nurul tengah mencari ikat rambutnya. lemari, laci meja rias bahkan kerancang cucian kotor ia bongkar untuk menemukan pita kesayangannya itu.


"sss.. dimana ya, padahal itu paling cocok dengan pakaianku hari ini." gumamnya dengan bibir manyun.


Ia terduduk karena lelah berkeliling kamar, kemudian ia menatap ke arah susunan ikat rambut di dekat kaca meja riasnya.


"ck.. haruskanh aku ganti baju agar serasi dengan ikat rambut yang ada?"


"mencari ini?" tanya Vino seraya menggantung ikat rambut itu di depan wajah Nurul.


"wahh.." wajah Nurul langsung berbinar melihat itu.


Ia mengambil ikat rambut itu sambil tersenyum lebar "kok Mas tau Nur lagi cari-cari ini? ketemu dimana?"


Vino mengalihkan pandangannya sambil mengusap hidung dengan jari telunjuk. "di... depan tv."


"iya?? perasaan tadi Nur cari di sana nggak ada deh."


"mungkin kamu kurang teliti..." sahut Vino menatap kosong wajah Nurul. ia teringat akan penampilan Nurul kemarin dan terbayanglah berbagai macam hal di kepala nya.


"mm.. Sayang, kemarin kamu pulang kuliah sama siapa?" Vino mencoba sekuat mungkin untuk tidak gegabah.


Seketika raut wajah Nurul berubah jadi bingung, apa Vino bisa terima kalau ternyata ia di antar pulang oleh Rey kemarin?


Rasa gugup pun tak bisa di sembunyikan Nurul "khm... gini Mas, kemarin Nur nungguin Mas di halte. sekitar dua jam kemudian Pak Rey lewat dan menawarkan tumpangan. tapi bukan Nur mau gitu aja kok, Nur mau ikut karena dia bilang dia mau tanya-tanya soal Ayu."


"Ayu??" amarah seperti sudah di ujung tanduk, namun Vino berusaha menekan tuas rem dalam-dalam.


"iya.. katanya dia berniat mengambil hati Ayu."


Tangan Vino mengepal erat, entah mana yang harus ia percayai. pernyataan Nurul barusan, atau fakta bahwa Rey sebenarnya bukan Gay. jika memang benar Rey seorang Gay, kenapa dia bilang hendak mendekati Ayu? secepat itukah dia pulih? atau kekhawatiran Vino selama ini benar bahwa Rey hanya berpura-pura untuk bisa mendekati Nurul tanpa ada yang curiga?


"jika memang dia menyukai Ayu, lalu apa ikat rambut dan kancing baju ini hanya kebetulan saja?" semua hal yang tak masuk akal itu berputar di kepala Vino.

__ADS_1


...*********...


__ADS_2