
Hari ini Mila dan Riko meminta izin kepada Dimas untuk libur,karena mereka akan mendatangi butik dan studio foto guna membuat undangan pernikahan.
Situasi mencekam di antara mereka berdua pun tak bisa di elakkan, Mila dengan segudang kekesalan nya dan Riko yang tidak bisa berbasa basi membuat suasana di antara mereka sedingin es di kutub.
"selamat datang tuan dan nyonya.... kami sudah menyiapkan beberapa setelan dan gaun dengan tema yang anda minta.
mari saya antar ke ruang percobaan.." sambut salah satu staff butik tersebut.
"hmmm...." jawab mereka berdua berbarengan dengan tampang dingin.
Tak pelak ekspresi mereka pun menjadi bahan gujingan para staff yang melihat itu.
Staff 1: "kau lihat ekpresi mereka?? seperti nya mereka terpaksa menikah.."
Staff 2: "yaa kau benar,, aku sampai merinding melihat ekspresi dingin mereka"
bisik mereka berdua secara bergantian.
"ini yang bernuansa glamour dan ramai, ada juga yang simple dan menawan.. nyonya mau coba yang mana dulu??" tanya si staff sembari menunjukk beberapa gaun dan setelan Jas.
"yang warna hitam ada?? aku ingin nuansa yang gelap dan suram seperti masa depan ku" jawab Mila malas.
"a..apa?" staff itu mengernyitkan alis nya.
"maaf.. calon istri saya agak demam, kami coba yang itu dulu.." sahut Riko sambil merangkul bahu Mila.
sesaat mereka pun beradu tatapan tajam dan menyeramkan.
Beberapa menit kemudian,mereja berdua keluar dari ruangan ganti.
Mila dengan tampang kusut nya berjalan seperti zombi ke arah cermin.
sementara Riko yang juga baru keluar malah terperangah akan kecantikan si calon istri.
"sejak kapan Mak lampir itu secantik ini??"
gumam nya.
"wahhh,, kalian sudah tampak sangat serasi dengan setelan itu..."
ujar staf tersebut tersenyum lebar.
"maaf kerah anda sedikit berantakan tuan..."
imbuh nya lagi.
"oh ya?? perasaan sudah rapi, kalau begitu bisa bantu merapikan nya?" pinta Riko kepada staff.
Dengan senang hati staff itu pun menghampiri Riko sambil tersenyum tipis.
kapan lagi bisa deket cogan yekann...
baru akan melayangkan tangannya ke leher Riko,tiba tiba Mila menarik kerah baju Riko dari belakang seperti anak kucing dan langsung memutar tubuh Riko.
"berapa umur mu?!! merapihkan kerah saja tidak bisa!" rutuk Mila dengan mata melotot sambil membenarkan posisi kerah nya Riko.
"chhh... kau cemburu??" tanya Riko dengan tatapan nakal nya.
__ADS_1
"untuk apa aku cemburu.. aku akan sangat bersyukur jika ada wanita yang membawa mu pergi sebelum hari pernikahan kita!" tukas nya sewot,namun tak berani menatap mata Riko.
"berhenti menggerutu. kau membuatku ingin menciummu" goda Riko lagi hingga membuat wajah Mila merah.
"berhenti bicara omong kosong.. kau membuatku ingin merobek bibir mu!!" ketus Mila sambil menjauhkan diri dari Riko.
Riko hanya tersenyum tipis melihat tingkah Mila yang menurut nya menggemaskan,apalagi saat sedang kesal.
Kedua staff yang mendampingi mereka dari kejauhan pun tak henti henti nya menggunjing mereka berdua.
bahkan mereka sampai gemas dengan tingkah laku Mila dan Riko yang seperti nya sama sama gensi.
Staff 1: "ck..ck..seperti nya ada cinta yang tak terucapkan di antara mereka.."
Staff 2: "aku juga merasa begitu.. lihat si wanita nya tersipu malu saat di tatap oleh si pria.."
Staff 1: "tapi mereka berdua seperti nya sama sama jual mahal hihihihihih.... kira kira bagaimana kehiudupan mereka setelah menikah??"
Kedua staff itu pun saling memandang sambil terkekeh kecil, baru kali ini mereka mendapatkan pelanggan yang saling sinis satu sama lain tapi juga menggemaskan.
...~~~~...
Di kantor...
Setelah syuting iklan selesai, para staff kantor maupun agensi berpamitan untuk istirahat karena masih ada dua konsep lagi yang harus mereka rekam.
Dimas masih tinggal di sana sembari mengecek hasil pengambilan video nya.
Zey yang baru saja selesai mengganti kostum nya baru akan keluar dari sana,tapi Dimas memanggil nya.
Zey langsung menghentikan langkah nya dan berbalik perlahan.
"iyaa Pak.."
"coba lihat bagian ini... saya rasa kamu kurang ekspresif di sini. saya mau nanti kita take ulang video nya. lihat perhatikan ekpresi mu"
ujar Dimas sambil menyodorkan laptop nya ke pada Zey.
Zey pun duduk di sebelah Dimas dan memperhatikan video tersebut.
namun bukan nya fokus,ia malah kepikiran kenapa Dimas masih memanggil nama nya dengan sebutan Shuzy.
"lihat? kau selalu buruk di bagian menaiki tangga itu" komplain Dimas lagi.
"hhh.. i..iya Bapak kan juga tau dari dulu saya paling takut menaiki tangga" celetuk Zey dengan gamblang. Zey tidak bermaksut untuk mengenang masa lalu mereka berdua,tapi ntah dari mana pikiran itu muncul.
hingga membuat mereka berdua seketika saling menatap canggung.
"selain bertambah matang,tidak ada yang berubah dari nya.....
astaga Zey!! jaga mata mu!"
gerutu Zey membuyarkan tatapan nya.
"kau masih memakai itu..?" tanya Dimas canggung.
Zey: "a..apa??"
__ADS_1
Dimas: "khhm..barang haram itu.."
Zey: "tidak.. aku berhenti berkat bantuan Vino"
"dari dulu? dan kau baru berhenti sekarang?"
Dimas terkejut mendengar jawaban Zey,
ya Zey memang sudah lama menjadi pecandu barang itu.
"i..ya.. bukan nya itu lebih baik dari pada tidak berhenti sama sekali?"
Dimas hanya menganggukkan kepala nya,ia membayangkan seluruh organ tubuh Zey yang sudah terkontaminasi oleh barang itu selama bertahun tahun.
Saat mereka tengah diam dan canggung,tiba tiba sebuah tiang lampu shooting hampir jatuh tepat di atas kepala Zey.
dengan sigap Dimas pun berdiri dan memegang tiang lampu itu, lengan kekar dan dada nya yang bidang pun membentang di atas kepala Zey.
Zey sampai menelan ludah melihat tubuh maskulin nya Dimas yang hanya berjarak beberapa centi dari wajah nya.
Dari luar studio ternyata Vino memperhatikan mereka berdua dari tadi.
kewaspadaan diri nya akan Zey pun meningkat,ia takut kalau Zey malah menyukai Dimas.
baru mau masuk,ia melihat bayangan seseorang yang tak asing bagi nya dari pintu kaca.
ya,orang itu adalah Fani yang hendak menghampiri Dimas dengan sekotak bekal di tangan nya.
"hai Vin..." sapa Fani sembari menjulurkan tangan nya ke gagang pintu studio.
karena panik,Vino pun langsung membalikkan tubuh Fani dan membawa nya pergi dari sana.
ia tidak ingin hal buruk terjadi pada rumah tangga Fani,maka dari itu ia menutupi nya.
pasti akan alah paham kan kalau Fani melihat Dimas dan Zey sedekat itu.
apalagi Fani sedang hamil sudah pasti tingkat kesensitifan nya sedang memuncak.
"loh.. kamu ngapain?? Fani mau nganter bekal Mas Dimas nih..." ujar nya sambil berusaha menghentikan langkah Vino,tapi tak bisa.
"Dimas lagi meeting sama klien penting.. nanti saja ya.." Vino terus membawa Fani sejauh mungkin dari sana.
"meeting? di studio?"
"kau mau es krim? aku dengan es krim yang manis bagus untuk meningkatkan mood ibu hamil" sahut Vino melarikan topik pembicaraan.
"t..tapi.. itu.." Fani masih saja kekeh ingin menemui Dimas.
"es krim rasa terbaru sudah ada di kantin, kau mau rasa apa? bagaimana dengan
Belgium white cholate?? aku dengar itu sangat lezat." Vino semakin mempercepat langkah nya sambil mencengkramkan tangan nya di bahu Fani.
Fani tak bisa berkata kata lagi,dengan wajah bingung ia terus mengikuti langkah kaki Vino yang dua kali lebih besar dari langkah kaki nya.
rasa penasaran akan rasa eskrim yang di sebutkan Vino berbeperang melawan rasa penasaran kenapa Dimas meeting di studio.
...********...
__ADS_1