Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 33 : Gara gara mimpi.


__ADS_3

Dimas merebahkan tubuh Fani di kasur, di tengah tengah momen yang mendebarkan karena akan otw baku hantam. tiba tiba ponsel Dimas berdering keras sehingga membuat Dimas dan Fani terkejut.


"sshhh..."


Dimas terlihat jengkel saat itu.


"angkat dulu mas...siapa tau penting."


ujar Fani lega. karena ia sungguh tak mengharapkan itu terjadi malam ini. karena diri nya belum siap untuk bertempur dengan Dimas.


"baiklahh.."


Dimas mengambil ponsel nya di atas meja rias,tertulis nama penelpon itu Vino.


"kenapa perjaka tua ini menelpon ku sekarang??!" rutuk Dimas kesal dalam hati.


"ada apa??!!" jawab Dimas sambil menggertakkan gigi nya.


"maaf,aku pasti menganggu mu kan. tapi aku menelpon sebagai sekertaris pak. ada hal yang sangat penting yang perlu bapak periksa,aku sudah mengirimnya lewat surel." Vino terdengar buru buru dan tegang dari seberang telpon,dan ia juga langsung memutuskan pembicaraan nya.


"hhhuufff...."


Dimas menghela nafas nya..


"sayang.. maaf tapi Mas harus memeriksa sesuatu." ujar Dimas tak enak.


"mm.. iya silahkan."


Fani menjawab dengan cepat.


Dimas memeriksa komputer nya di ruang kerja,ternyata Vino sedang tidak membohongi nya. terjadi masalah serius di kantor,dan Dimas harus segera menangani ini.


Setelah 1 jam berkutat dengan komputer nya,Dimas bisa bernafas lega. akhir nya masalah itu bisa di tangani dengan cepat sebelum di ketahui pihak pesaing.


ia pun kembali ke kamar nya,ia mendapati Fani yang sudah tertidur pulas.


"Vino sialan..!!" gerutu Dimas jengkel karena ia gagal melaksanakan pertempuran nya malam ini.


Dimas hanya bisa memandangi Fani yang sudah tertidur,lalu mata nya terfokus pada dress Fani yang tersingkap di bagian betis,sehingga membuat Dimas langsung menelan ludah nya saat itu.


"sshh.. bahkan betis ini seperti memanggil ku."


Dimas menarik selimut dan menutupi betis putih nan mulus milik Fani.


setelah itu Dimas membelai lembut pipi Fani.


Ntah apa yang sedang di impikan oleh Fani,ia malah mengigau dan mengatakan


"tolong jangan sentuh aku.." ujar nya lirih namun nada suara nya terdengar tegas.raut wajah nya juga menjadi sangat ketakutan sampai ia mengeluarkan keringat.


Mendengar itu Dimas langsung menarik tangan nya dari wajah Fani.


" apa..? kalau kamu belum siap menjadi istri ku seharus nya bilang saja. nggak usah di sembunyikan, bahkan sampai kebawa mimpi."


Dimas langsung berkecil hati,ia pun tidur di sofa yang ada di kamar itu dengan raut wajah sedih dan bersalah.


ia merasa sudah melanggar janji nya kepada Fani yaitu bersabar.


......~~~~......

__ADS_1


Pagi hari.....


Fani terbangun dari tidur nya,tampak mata hari sudah sangat silau menembus kaca besar yang ada di kamar Fani.


di lihat nya jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi,ia langsung teringat akan Dimas.


"apa Mas udah berangkat kerja?? kapan aku tidur?" gumam nya sambil mengusap usap wajah.


Ia pun turun dan bertanya kepada Art yang tengah membereskan rumah nya.


"bik?? Mas Dimas udah berangkat kerja yaa??"


"udah nyonya.." jawab bik Siti yang sedang mengepel lantai.


Fani pun teringat akan mimpi nya yang menyeramkan semalam,sebelum nya ia tidak pernah mimpi horor seperti itu di tambah mimpi itu sangat terasa nyata.


"bik.. apa rumah ini ada hantu nya?" tanya Fani kepada bik Siti.


"hantu??" bik Siti mengernyitkan alis nya.


"memang nya ada apa nyonya??" sambung bik Siti lagi.


"tadi malam saya mimpi di kejar Zombi bik, trus dia narik saya secara paksa mau di masukin ke kuburan.. saya baru kali ini mimpi kaya gitu dan ini pertama kali saya tidur di sini, jadi saya berpikiran apa rumah ini ada hantu nya ya bik." ujar Fani panjang lebar dengan wajah panik ketakutan.


"hahaha.. mungkin nyonya kecapek an maka nya mimpi seram begitu. mana mungkin rumah ini ada hantu nya." sahut buk Siti sambil terkekeh.


"iya juga yaa.. " seperti nya omongan bik Siti terdengar masuk akal.


"oh iya bik.. tolong panggil saya Fani aja, saya agak kurang nyaman di panggil nyonya."


bik Siti: "eh.. tapi ..."


ia pun kembali ke kamar nya untuk mandi sambil celingak celinguk ketakutan.


"hhiihh.. mimpi ku tadi malam terasa nyata banget." gumam Fani bergidik ngeri.


...~~~~...


Fani berniat ke kantor untuk mengantarkan makan siang Dimas, ia meminta pada supir untuk mengantarkan nya karena ia tidak bisa mengendari mobil sendiri.


Sesampai nya di kantor,rekan rekan Fani sangat antusias melihat kedatangan nya terutama Mila.


"ya ampun.. pengantin baru..."


" Fani .. sering sering lah kesini,kami merindukan mu.."


"iya Fani.. sering sering lah mampir.."


ujar Mila dan yang lain nya bergantian.


"ehh. btw apa kami tidak apa apa memanggil nama mu? haruskah kami memanggil mu Buk,nyonya,atau Madam?" Mila tampak sungkan kepada Fani,karena sekarang ia sudah menjadi istri pimpinan di perusahaan tempat nya bekerja.


"aaihh.. santai aja buk, panggil saya Fani aja, kita kan tetap teman." ujar Fani sambil tersenyum renyah.


"oh iya.. sebentar ya, saya mau antar makan siang buat Pak Dimas." ujar Fani malu malu.


"iya iya... silahkan Bu presdir.." ucap mereka serentak.


Fani pun segera bergegas masuk ke kantor Dimas dengan menenteng kotak makan.

__ADS_1


"Mas.. ini Fani bawain makan siang, Mas udah makan?"


"belumm..." Dimas menjawab Fani sambil cemberut.


Fani membuka satu persatu lauk yang ia masak sendiri tadi,lalu menata nya di meja tempat di mana mereka dulu makan bubur berdua.


"ayo Mas, makan dulu.."


" hmmm..." jawab Dimas dingin. ia pun berjalan kearah Fani dengan wajah ngambek bak anak kecil yang nggak keturutan beli jajan.


Fani pun menarik tangan Dimas agar duduk di sebelah nya.


" hishhh.. apa mau nya anak kecil ini,kemarin dia bilang aku tidak boleh menyentuh nya. Sekarang dia malah memegang tangan ku dengan wajah polos nya." batin Dimas heran.


"Mas kenapa sih?? bukan nya harus nya aku yang marah karena udah ninggalin aku sampai sampai aku ketiduran." Fani pun membatin heran melihat tingkah Dimas.


Dimas menggeser tubuh nya dan memberi jarak pada Fani.


"Mas kenapa?"


tanya Fani terheran.


"Mas berusaha nggak menyentuh mu." jawab Dimas acuh dengan wajah ngambek nya yang menggemaskan.


Fani: "kenapa?"


"kan kamu sendiri yang bilang semalam."


ujar Dimas sambil memalingkan wajah nya.


"kapan aku bilang begitu?? yaa aku memang berharap untuk nggak melakukan nya dulu, tapi kan aku bilang dalam hati, apa Mas bisa mendengar suara hati ku? atau aku mabuk semalam dan bilang begitu?? haishh.. kenapa aku nggak ingat pernah mengatakan nya."


Fani terus saja mengomeli diri nya sendiri,ia juga berusaha mengingat kapan dia mengatakan itu.


Sementara Dimas asik menyantap makanan nya,dengan wajah kusut seperti dompet akhir bulan.


"kamu yang masak ini?"


Fani: " iya kenapa Mas?? nggak enak ya?"


"jujur aja sih.. ini pertama kali nya Fani masak, karena dari dulu Fani nggak pernah belajar masak." ujar nya merendah,karena memang dari dulu ia hanya sibuk mencari uang bahkan sebelum lulus sekolah,jadi dia tidak punya waktu untuk belajar memasak.


"kenapa semua nya pertama kali bagimu?"


tanya Dimas sok angkuh, padahal hati nya senang tak terkira saat mendengar kata pertama itu. ia merasa mendapatkan berlian langsung dari pertambangan yang belum pernah di sentuh dan di jamah siapapun.


"nggak juga. Fani pernah kok melakukan hal yang di lakukan kebanyakan orang."


"apa?? apa yang pernah kamu lakukan?"


Dimas mendadak penasaran.


"mencari UANG.." jawab Fani bangga sambil menaikkan kedua alis nya.


"hmm... syukur lah,Mas kira apa tadi...."


Dimas keliatan lega sekali mendengar nya.


ia sudah akan salah mengira tadi karena perkataan Fani

__ADS_1


...********...


__ADS_2