
Vino menatap risih wanita itu.
"siapa??"
"ck.. kau melupakan ku?
kita menghabiskan dua malam saat.."
"tidak.. aku tidak mengenalmu..!"
sahut Vino panik sambil menjauhi wanita
itu, sebenar nya ia kenal bahkan ingat betul
siapa wanita itu. tetapi tatapan tajam Nurul
membuat nya tak bisa berkutik.
Vino membawa Nurul pergi ke arena
bermain yang lain.
"gaya apa waktu itu Pak?"
"banyak..eh??"
Vino berpikir sejenak.
"apa..apa yang kamu maksut?"
"oohh.. banyak ya..
anu bapak sehat kan?!"
ia membelalakkan mata nya.
"sehat.. sehat banget lah.."
keringat mulai mengalir dari pelipis Vino.
perasaan nya sudah mulai tak enak.
"yakin? nggak ada HIV? raja singa
atau yang lain lain nya?"
tanya Nurul lagi.
Vino menyengir geli.
"hh.. dari mana kamu tau istilah-istilah
itu?"
"Nur nggak mau ya ketularan penyakit
kelamin! pulang dari sini kita mampir
ke rumah sakit. cek bapak bener bener
sehat atau enggak..!"
Vino menggaruk garuk kepala nya
yang tidak gatal.
"astaga Ran...
saya sehat.. sehat lahir batin."
"siapa yang tau? bapak kan sering nganu
sama banyak perempuan."
"iya memang, tapi sejauh ini saya sehat.."
"dih.. bangga pula tuh..!"
sewot Nurul.
"hhh.. oke ayo kita cek nanti..
kalau saya terbukti sehat malam pertama
sampai pagi. gimana deal?"
tantang Vino sambil menaikkan alis nya.
"deal!"
ucap Nurul spontan.
sesaat ia baru tersadar..
"eh. sampai pagi??
bisa tewas aku. t..tapi nggak mungkinlah
pak Vino juga udah tua ini.
aman.. aman..."
batin nya menenangkan diri.
...~~~~...
Keesokan hari nya...
Nurul sedang menyirami bunga
kesayangannya di taman belakang.
sambil memegangi selang, Nurul melamun
membayangkan bagaimana jika Vino
benar benar 'melahapnya'' nanti.
sampai pagi...
sampai pagi...
sampai pagi...
Kata kata itu terus saja terngiang-ngiang
di kepala Nurul.
"aishhh!!! kenapa kamu risau bodoh?
bukankah bagus kalau calon suami mu
sehat jasmani..
walaupun rohani nya agak sakit sih..."
"bina.. pot nya udah kebanjiran tuh.."
tegur Ica yang ikut ikutan menyirami
bunga.
"eh..?"
__ADS_1
Nurul langsung memindahkan arah selang nya.
"kamu kenapa? dari tadi kakak perhatikan
melamun terus? masih memikirkan
laki laki tak tau diri itu?"
Dika menyinggung Ayah mereka.
"kak.. jangan gitu, nggak baik
membicarakan kejelekan orang yang
sudah meninggal."
"tidak usah terlalu di pikirkan..
hidup ataupun mati, kita tetap tidak
mempunyai ayah seperti dia.
lihat? tidak ada yang berubah kan
meski dia lenyap dari dunia ini?"
Dika melemparkan senyuman sinis lalu
melanjutkan aktivitasnya yakni berjemur.
Benci? tentu saja, Fani dan juga Nurul
juga sangat membenci nya.
tapi kebencian mereka runtuh mengingat
orang tersebut tak ada lagi di dunia ini.
mereka takkan pernah bisa mengutarakan
kebencian ataupun kerinduan nya lagi.
Lalu bagaimana dengan Dika?
sebenci itukah ia dengan sang Ayah.
tidak.! ia juga sangat merindukan nya.
ia juga ingin memaafkan nya.
hanya saja apa yang ia lihat di masa lalu
sangat menyakitkan di banding rasa
rindu itu sendiri.
...πππ...
Mari kita flashback bagaimana awal
kehancuran keluarga mereka.
Kala itu mereka masih sangat kecil.
Fani berusia 8 tahun, Dika 5 tahun,
dan Nurul 4 tahun.
Keluarga mereka bisa di bilang berkecukupan.
pekerjaan Ayah nya juga cukup mapan.
kala itu mereka tinggal di rumah perumnas
tak hanya itu, Nita dan Suami nya berhasil
menabung dengan jumlah lumayan
untuk masa depan anak anak mereka.
Walaupun hanya Rudi yang bekerja, tapi
itu sudah sangat cukup mengingat posisi
nya sebagai kepala manajer di sebuah
Bank swasta.
Nita juga berperan jadi istri yang sangat
baik dan sempurna yang mendedikasikan
seluruh jiwa nya untuk anak anak dan suami.
namun di balik semua itu, Rudi sudah
dua kali menghianati Nita.
yang pertama dengan seorang bidan,
namun hubungan nya hanya sebatas pacaran
diam diam saja jadi Nita memaafkan nya.
Yang kedua, dengan sepupu Nita yang
tinggal di kampung. namun Nita kembali
memaafkan nya karena masih memikirkan
anak anak. sejak kejadian itu pula Nita
menjaga jarak dari saudara nya itu.
alasannya? tentu saja karena ia sakit hati.
Perselingkuhan yang pertama dan kedua
tak berlangsung lama.
setelah perselingkuhan kedua nya, Rudi
kembali sadar dan fokus meniti karir
demi keluarga nya.
Dari mulai kelahiran Dika, hingga Nurul
Rudi benar benar menepati janji nya.
namun semua nya berubah di saat Nita
sedang mengandung Ayu.
"Mas! apa maksut nya ini?"
Nita melempar ponsel Rudi tepat
di hadapan nya.
"Mas.. kamu pulang ke sini kan malam
ini? anak anak ku sedang menginap
__ADS_1
di rumah nenek nya. jadi ku pikir
ini saat yang tepat untuk kita melepas rindu."
begitu isi pesan dari nomor yang tak
ada nama nya.
"Nit.. kamu salah paham..
aku nggak tau itu nomor siapa.."
Rudi membual dengan berbagai macam cara
hingga akhir nya Nita kembali percaya.
Selang beberapa hari, Fani memergoki
Ayah nya sedang berbicara di telepon.
pembicaraan itu sangat mesra sekali.
Fani yang ketakutan Ayah dan ibu nya
bertengkar lagi pun berpura pura tidak
tau.
Hari berikut nya, Fani dan Dika di ajak
Ayah nya jalan jalan ke taman bermain.
walau Rudi mempunyai sifat tak setia.
namun ia sangat sayang kepada anak anaknya.
entah sayang yang bagaimana, di bilang
perduli, tapi dia terus terusan selingkuh
tanpa memikirkan dampak nya.
di bilang tak perduli, tapi ia sangat
menyayangi anak anak nya.
bahkan Fani sangat dekat dan sering
menjadikan sang Ayah sebagai teman curhat.
"Mas.." seru Evi setengah berbisik.
ternyata mereka memang sudah janjian
untuk bertemu di sana.
tujuan Rudi membawa Fani dan Dika
tak lain agar Nita tak curiga kalau sebenarnya
ia keluar untuk menemui Evi, sang janda
menawan beranak tiga.
"Fani, Dika.. Ayah kesana dulu ya,
itu ada teman kerja Ayah.."
ucap nya berasalan.
Rudi membawa Evi mengobrol di balik
pondok bambu yang tak terlihat oleh siapapun.
karena penasaran, Fani dan Dika pun
diam diam mengintip mereka.
Terkejutlah mereka saat melihat Ayah nya
dan wanita itu tengah berpelukan mesra.
namun lagi dan lagi mereka terlalu takut
dengan pertengkaran yang terus saja
terulang. akhirnya mereka memilih untuk
bungkam.
Hingga pada suatu hari, Fani keceplosan
mengungkapkan isi hati dan pikirannya
tentang keburukan yang akan terjadi
"kalau Ayah menikah lagi, Fani tetap
mau ikut ibuk ya.. Fani nggak mau punya
Ibu tiri.." lirih nya sambil meringkuk
di samping Ibu nya yang tengah tidur.
ia sudah membayangkan kemungkinan
terburuk apabila perselingkuhan Ayah nya
terungkap lagi.
Namun ternyata Nita belum tidur saat itu.
ia mendengar perkataan Fani dengan sangat
jelas.
"kenapa Fani? apa ada yang salah
sama Ayah dan ibuk?"
Bagai petir menyambar di siang hari.
hati Nita kembali hancur untuk yang kesekian
kali nya. namun ia berusaha tetap tenang
dan memendam rasa sakit itu.
Hari demi hari Nita menyelidiki siapa
wanita selingkuhan suami nya itu.
Nita mencaritahu semua nya, dan
pada saat Nita menemukan bukti yang
konkrit. Nita pun meminta penjelasan
atas kelakukan Rudi.
Dari sana lah tragedi besar trauma nya
Dika di mulai....
__ADS_1
...**********...