Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 40: Sehat banget..


__ADS_3

Vino menatap risih wanita itu.


"siapa??"


"ck.. kau melupakan ku?


kita menghabiskan dua malam saat.."


"tidak.. aku tidak mengenalmu..!"


sahut Vino panik sambil menjauhi wanita


itu, sebenar nya ia kenal bahkan ingat betul


siapa wanita itu. tetapi tatapan tajam Nurul


membuat nya tak bisa berkutik.


Vino membawa Nurul pergi ke arena


bermain yang lain.


"gaya apa waktu itu Pak?"


"banyak..eh??"


Vino berpikir sejenak.


"apa..apa yang kamu maksut?"


"oohh.. banyak ya..


anu bapak sehat kan?!"


ia membelalakkan mata nya.


"sehat.. sehat banget lah.."


keringat mulai mengalir dari pelipis Vino.


perasaan nya sudah mulai tak enak.


"yakin? nggak ada HIV? raja singa


atau yang lain lain nya?"


tanya Nurul lagi.


Vino menyengir geli.


"hh.. dari mana kamu tau istilah-istilah


itu?"


"Nur nggak mau ya ketularan penyakit


kelamin! pulang dari sini kita mampir


ke rumah sakit. cek bapak bener bener


sehat atau enggak..!"


Vino menggaruk garuk kepala nya


yang tidak gatal.


"astaga Ran...


saya sehat.. sehat lahir batin."


"siapa yang tau? bapak kan sering nganu


sama banyak perempuan."


"iya memang, tapi sejauh ini saya sehat.."


"dih.. bangga pula tuh..!"


sewot Nurul.


"hhh.. oke ayo kita cek nanti..


kalau saya terbukti sehat malam pertama


sampai pagi. gimana deal?"


tantang Vino sambil menaikkan alis nya.


"deal!"


ucap Nurul spontan.


sesaat ia baru tersadar..


"eh. sampai pagi??


bisa tewas aku. t..tapi nggak mungkinlah


pak Vino juga udah tua ini.


aman.. aman..."


batin nya menenangkan diri.


...~~~~...


Keesokan hari nya...


Nurul sedang menyirami bunga


kesayangannya di taman belakang.


sambil memegangi selang, Nurul melamun


membayangkan bagaimana jika Vino


benar benar 'melahapnya'' nanti.


sampai pagi...


sampai pagi...


sampai pagi...


Kata kata itu terus saja terngiang-ngiang


di kepala Nurul.


"aishhh!!! kenapa kamu risau bodoh?


bukankah bagus kalau calon suami mu


sehat jasmani..


walaupun rohani nya agak sakit sih..."


"bina.. pot nya udah kebanjiran tuh.."


tegur Ica yang ikut ikutan menyirami


bunga.


"eh..?"

__ADS_1


Nurul langsung memindahkan arah selang nya.


"kamu kenapa? dari tadi kakak perhatikan


melamun terus? masih memikirkan


laki laki tak tau diri itu?"


Dika menyinggung Ayah mereka.


"kak.. jangan gitu, nggak baik


membicarakan kejelekan orang yang


sudah meninggal."


"tidak usah terlalu di pikirkan..


hidup ataupun mati, kita tetap tidak


mempunyai ayah seperti dia.


lihat? tidak ada yang berubah kan


meski dia lenyap dari dunia ini?"


Dika melemparkan senyuman sinis lalu


melanjutkan aktivitasnya yakni berjemur.


Benci? tentu saja, Fani dan juga Nurul


juga sangat membenci nya.


tapi kebencian mereka runtuh mengingat


orang tersebut tak ada lagi di dunia ini.


mereka takkan pernah bisa mengutarakan


kebencian ataupun kerinduan nya lagi.


Lalu bagaimana dengan Dika?


sebenci itukah ia dengan sang Ayah.


tidak.! ia juga sangat merindukan nya.


ia juga ingin memaafkan nya.


hanya saja apa yang ia lihat di masa lalu


sangat menyakitkan di banding rasa


rindu itu sendiri.


...πŸƒπŸƒπŸƒ...


Mari kita flashback bagaimana awal


kehancuran keluarga mereka.


Kala itu mereka masih sangat kecil.


Fani berusia 8 tahun, Dika 5 tahun,


dan Nurul 4 tahun.


Keluarga mereka bisa di bilang berkecukupan.


pekerjaan Ayah nya juga cukup mapan.


kala itu mereka tinggal di rumah perumnas


tak hanya itu, Nita dan Suami nya berhasil


menabung dengan jumlah lumayan


untuk masa depan anak anak mereka.


Walaupun hanya Rudi yang bekerja, tapi


itu sudah sangat cukup mengingat posisi


nya sebagai kepala manajer di sebuah


Bank swasta.


Nita juga berperan jadi istri yang sangat


baik dan sempurna yang mendedikasikan


seluruh jiwa nya untuk anak anak dan suami.


namun di balik semua itu, Rudi sudah


dua kali menghianati Nita.


yang pertama dengan seorang bidan,


namun hubungan nya hanya sebatas pacaran


diam diam saja jadi Nita memaafkan nya.


Yang kedua, dengan sepupu Nita yang


tinggal di kampung. namun Nita kembali


memaafkan nya karena masih memikirkan


anak anak. sejak kejadian itu pula Nita


menjaga jarak dari saudara nya itu.


alasannya? tentu saja karena ia sakit hati.


Perselingkuhan yang pertama dan kedua


tak berlangsung lama.


setelah perselingkuhan kedua nya, Rudi


kembali sadar dan fokus meniti karir


demi keluarga nya.


Dari mulai kelahiran Dika, hingga Nurul


Rudi benar benar menepati janji nya.


namun semua nya berubah di saat Nita


sedang mengandung Ayu.


"Mas! apa maksut nya ini?"


Nita melempar ponsel Rudi tepat


di hadapan nya.


"Mas.. kamu pulang ke sini kan malam


ini? anak anak ku sedang menginap

__ADS_1


di rumah nenek nya. jadi ku pikir


ini saat yang tepat untuk kita melepas rindu."


begitu isi pesan dari nomor yang tak


ada nama nya.


"Nit.. kamu salah paham..


aku nggak tau itu nomor siapa.."


Rudi membual dengan berbagai macam cara


hingga akhir nya Nita kembali percaya.


Selang beberapa hari, Fani memergoki


Ayah nya sedang berbicara di telepon.


pembicaraan itu sangat mesra sekali.


Fani yang ketakutan Ayah dan ibu nya


bertengkar lagi pun berpura pura tidak


tau.


Hari berikut nya, Fani dan Dika di ajak


Ayah nya jalan jalan ke taman bermain.


walau Rudi mempunyai sifat tak setia.


namun ia sangat sayang kepada anak anaknya.


entah sayang yang bagaimana, di bilang


perduli, tapi dia terus terusan selingkuh


tanpa memikirkan dampak nya.


di bilang tak perduli, tapi ia sangat


menyayangi anak anak nya.


bahkan Fani sangat dekat dan sering


menjadikan sang Ayah sebagai teman curhat.


"Mas.." seru Evi setengah berbisik.


ternyata mereka memang sudah janjian


untuk bertemu di sana.


tujuan Rudi membawa Fani dan Dika


tak lain agar Nita tak curiga kalau sebenarnya


ia keluar untuk menemui Evi, sang janda


menawan beranak tiga.


"Fani, Dika.. Ayah kesana dulu ya,


itu ada teman kerja Ayah.."


ucap nya berasalan.


Rudi membawa Evi mengobrol di balik


pondok bambu yang tak terlihat oleh siapapun.


karena penasaran, Fani dan Dika pun


diam diam mengintip mereka.


Terkejutlah mereka saat melihat Ayah nya


dan wanita itu tengah berpelukan mesra.


namun lagi dan lagi mereka terlalu takut


dengan pertengkaran yang terus saja


terulang. akhirnya mereka memilih untuk


bungkam.


Hingga pada suatu hari, Fani keceplosan


mengungkapkan isi hati dan pikirannya


tentang keburukan yang akan terjadi


"kalau Ayah menikah lagi, Fani tetap


mau ikut ibuk ya.. Fani nggak mau punya


Ibu tiri.." lirih nya sambil meringkuk


di samping Ibu nya yang tengah tidur.


ia sudah membayangkan kemungkinan


terburuk apabila perselingkuhan Ayah nya


terungkap lagi.


Namun ternyata Nita belum tidur saat itu.


ia mendengar perkataan Fani dengan sangat


jelas.


"kenapa Fani? apa ada yang salah


sama Ayah dan ibuk?"


Bagai petir menyambar di siang hari.


hati Nita kembali hancur untuk yang kesekian


kali nya. namun ia berusaha tetap tenang


dan memendam rasa sakit itu.


Hari demi hari Nita menyelidiki siapa


wanita selingkuhan suami nya itu.


Nita mencaritahu semua nya, dan


pada saat Nita menemukan bukti yang


konkrit. Nita pun meminta penjelasan


atas kelakukan Rudi.


Dari sana lah tragedi besar trauma nya


Dika di mulai....

__ADS_1


...**********...


__ADS_2