
"b..benarkah??" ucap Vino terbata, ia tampak tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"tiga..! El mau tiga Bunda, yang satu Laki-laki terus yang dua nya kembar perempuan. jadi Ayah dan Bunda punya dua pasang anak kembar😁" imbuh El mengacungkan empat jari nya.
Mereka semua langsung salah tingkah, karena merasa suasana akward ini tak pantas di pertontonkan pada anak-anak.
Dimas berdiri dari kursinya lalu mendorong Vino pelan "ssh., kalian pergilah dan rundingkan ini secara pribadi. untuk apa kalian membahas itu di sini? memangnya ini proposal bisnis yang bisa kalian rundingkan secara gamblang!"
Mata Vino berkedip cepat seolah baru tersadar dari lamunan. "hhh.. Ayo ke kamar" bisik nya sembari menarik lengan Nurul.
"Ada apa dengan mereka? apa mereka baik-baik saja?" tanya Adit kebingungan, ia khawatir mereka berdua ribut besar nantinya.
"biasa lah Pa... namanya rumah tangga pasti ada guncangan nya." bisik Rianti menenangkan Suaminya.
"Papa takut Vino emosi ma, soalnya raut wajah Vino kusut banget dari tadi."
"Vino pasti langsung teken proposal nya, jadi Papa tenang saja." sahut Dimas tersenyum kecil. ia tentu tau betul Vino takkan melewatkan kesempatan emas ini.
...~~~~...
Sesampainya di kamar, Vino langsung menanyakan kembali maksud perkataan Nurul.
"kamu kenapa sih Ran? kalau memang kamu sudah membuka pikiran untuk punya anak ngomong langsung sama Saya. jangan di depan keluarga kaya tadi, apalagi ada anak-anak di sana."
"kamu yang kenapa Mas! kalau memang Nur punya salah ngomong aja langsung. jangan diemin Nur kaya gini! keluarga? Mas mikirin pandangan keluarga ke kita? tapi Mas sendiri acuh sama Nur. Mas pikir mereka nggak sadar sama sikap aneh Mas ini?!" sahutnya meluapkan seluruh emosi nya.
Pandangan Vino terpaku menatap lurus wajah istrinya, ia memikirkan kesalahan apa yang ia perbuat? sampai-sampai Nurul menaikkan nada bicaranya.
"kamu ngomong sama Saya. kenapa? Saya ada salah apa sama kamu hm?"
Kata-kata itu semakin membuat Nurul kesal. bisa-bisa nya Vino tak sadar akan perubahan sikapnya yang dingin beberapa hari ini.
"nggak ada Mas. Mas nggak salah, Nur yang salah!" rutuknya sambil menghempaskan diri di ranjang lalu membelakangi Vino.
"hhhffttt... apa?? apa salahku ASTAGA!" batin Vino merutuki dirinya sendiri.
Vino duduk di sebelah Nurul sambil mengusap lembut bahu kecilnya "khhm.. penawaran yang tadi masih berlaku?"
SRRINGG!!!😠Nurul menoleh dengan tatapan tajamnya. "bisa-bisa nya nanya kaya gitu di saat Mas sendiri nggak tau di mana kesalahan Mas!"
Telapak tangan Vino seketika menciut dan diangkat perlahan. "penipuan ini nama nya.." gumam Vino garuk garuk kepala.
...~~~~...
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul empat sore, karena Dimas akan ada pertemuan dengan kolega nya. ia meminta Rey untuk mengantarkan si kembar pulang kerumah. mereka datang bersama Fani saat jam makan siang tadi, namun mereka tidak ikut pulang karena ingin bermain dengan Papa nya.
Ica si sulung duduk di kursi depan sambil memainkan boneka teddy nya. sementara Keenan tertidur di belakang.
Ica asik mendandani bonekanya dengan selembar kain, seolah sedang memakaikan baju dengan bantuan peniti bros yang ia bawa dari rumah.
"cantik kan Om.." pamernya sembari mengangkat boneka teddy itu.
"fftt... boneka itu kan laki-laki, kenapa di pakein gaun Ica?" Rey tertawa geli melihat kreasi Ica salah alamat.
...-...
...-...
Setelah beberapa menit perjalanan, sampailah Rey di rumah Dimas dan Fani. ia langsung berpamitan karena hendak mendampingi Dimas nantinya.
Di tengah perjalanan, ia memperhatikan peniti Bross milik Ica tadi "sepertinya Ica lupa membawa itu." gumamnya sambil melirik ke arah peniti yang tersemat di tali sabuk pengaman.
...-...
...-...
Di sisi lain, Vino yang tengah bingung menghadapi kegundahan Nurul pun curhat kepada Dimas.
"memahami wanita memang sulit, tapi satu hal yang ku tau. jika wanita meninggikan suara nya sambil menatap matamu, itu tandanya kau benar-benar berbuat kesalahan." ujar Dimas malas. bagaimana tidak, ia sedang sibuk hendak menyiapkan berkas penting eh malah Vino datang menambah beban pikiran.
...-...
...-...
Bukan karena dompet atau handphone nya ketinggalan, sebab ia tak menelpon orang rumah hanya karena ia malas saja pulang kerumah, apalagi suasana hatinya belum baik. rasanya ingin menyendiri di suatu tempat yang amat tenang, tapi ia tak tau dan bingung dimana tempat yang tepat.
Tiba-tiba sebuah mobil hitam yang tadinya melewati Nurul mundur perlahan dengan kaca sedikit terbuka.
"hei.. butuh tumpangan?" ajak Rey bersemangat. kalau dia mengantar Nurul pulang, ada kemungkinan bertemu Vino kan?
Nurul menatap malas ke arah Rey "nggak.. aku lagi malas terlibat kesalahpahaman."
"apa ada orang yang salah paham jika mengantarkan kakak iparnya?" celetuk Rey asal bicara. bagai menghalalkan segala cara, ia sengaja membuat Nurul tak curiga bahwa yang di idamkan Rey adalah suami nya.
"hah?" terkejut dong, mulutnya sampai menganga karena tak percaya akan hal itu.
"masuklah, ada yang ingin Saya tanyakan juga mengenai Ayu."
__ADS_1
Nurul akhirnya masuk ke mobil Rey, lagi pula sampai kapan ia berharap menunggu jemputan Vino di sana.
"mau tanya apa?" Nurul tampak antusias.
"mm.. kapan ulang tahun nya? Saya berniat memberikan kejutan kecil untuk memulai langkah pendekatan."
Nurul terdiam, raut wajahnya seketika berubah sedih kala mengingat hari ulang tahun Ayu. "cari saja hari lain.." jawabnya singkat.
"kenapa?"
"dia membenci hari ulang tahunnya.."
...-...
...-...
Setengah jam kemudian, Rey sampai di rumah Nurul. ia menepuk sandaran kursi lumayan keras agar Nurul terbangun.
bugg.bug..! "bangun.. kita sudah sampai."
Nurul langsung terbangun "hh? makasih ya.. Pak" ujarnya gelagapan dengan rambut terurai. ia cepat melepaskan sabuk pengaman, namun kancing bajunya tanpa sadar terlepas akibat tersangkut peniti Bross milik Ica.
Rey pun tak memperhatikan itu, ia memandangi jam tangannya. "masih ada waktu, cuci mata dulu kali ya.." bisiknya tersenyum smirk. ia pun turun untuk berpura-pura menemui Ayu.
"Yakin beneran 9ay?!" tanya Ayu yang tiba tiba muncul dari belakang Rey.
"Astaga! ngapain kamu hah?!" sahut Rey terkejut.
"Bapak ngapain??🤨 pake acara pulang bareng kakak, nggak usah modus deh. Ayu curiga nih, jangan jangan yang Bapak suka itu sebenernya kak Nurul kan? alibi Bapak aja ngarang cerita suka sesama jenis biar nggak ada yang curiga. yakan??! ngaku deh.." cerosos Ayu tanpa henti membuat telinga Rey terasa panas.
Rey mendekatkan wajahnya pada Ayu sambil menatap dalam mata Ayu. tentu Ayu terbelalak sambil mundur perlahan, jantung nya bergemuruh bagaikan petir sebelum badai.
"sayang sekali Saya tidak bisa menepis fakta itu. bahkan jantung Saya tidak bereaksi di depan gadis cantik seperti mu..." ucap nya lirih tanpa menghiraukan Ayu yang panas dingin di buatnya.
ddrttt....ddrrrrt... Ponsel Rey berdering.
"Iya baik Pak. Saya kesana sekarang." ucapnya sigap, sepertinya jadwal mereka di majukan. itu sebabnya Dimas meminta Rey segera datang.
Rey langsung melajukan mobilnya keluar, namun Ayu masih terpaku di tempatnya sambil tersenyum di iringi pipi merona.
"cantik kata nya??☺️" batin Ayu menahan senyum salah tingkah.
"aisssh!! iya lah cantik. kan perempuan! bodoh banget sih aku, bisa bisa nya seneng di katain cantik sama laki-laki abnormal." gerutunya sambil memutar bola mata dan mendengus kesal.
__ADS_1
...**********...
jangan lupa like nya ya beb.. komen juga☺️ biar kita halu nya makin semangat😘