
Di sisi lain Dimas sudah lebih dari seratus kali menelpon Fani,namun tak ada jawaban.
dan saat sedang panik panik nya,tiba tiba notifikasi khusus dari Fani berdering.
ia pun membuka pesan suara itu dan dan langsung terkejut saat mendengar kata kata Fani.
"Vino!! cepat telpon polisi dan suruh semua petugas keamanan ikut saya"
"baik Pak"
"kalau sampai terjadi apa apa dengan istri dan anak anak ku! aku akan membunuh mu Sean!!"
Dimas memukul meja nya sangat keras.
...~~~~...
Melihat Sean yang kesakitan,Fani pun mengambil kesempatan emas itu. ia mengambil tali yang tadi lalu mengikat tangan Sean sekuat mungkin ke arah belakang.
"Fani!! kau gila?!! mata ku sakit!!"
Sean menggeliat sebisa nya,namun kali ini posisi nya terbalik. tusukan yang di buat Fani tadi seperti nya menembus ke bola mata hingga membuat rasa perih,cenat cenut,bahkan sampai sekujur tubuh nya.
"kita sama sama gila bukan?" ucap Fani.
sebenarnya ia tak tega melihat Sean seperti itu,tapi ia menepis rasa itu karena Sean ini ibarat ular yang akan menggigit bahkan saat di perlakukan dengan baik.
"aaahhh!!!! tolong mata ku sakit. aku hampir mati rasa nya"
"itu cuma luka kecil jauh dari nyawa!!"
Sean hanya bisa meratapi rasa sakit yang amat sangat itu,ia tak menyangka Fani ternyata sangat berani.
"terimakasih ya nak.. kalian udah kuat bantuin mama" ucap Fani dalam hati,ia benar benar bersyukur karena sang janin sepertinya sangat mengerti dengan situasi ini.
Saat hendak berdiri dari posisi jongkok nya,Sean menggerakkan kaki nya lalu mengapit pinggang Fani hingga jatuh terduduk.
"aku bisa menendang perut mu kalau aku mau!!"
ucap Sean, tampilan nya benar benar seperti monster dengan darah hampir menutupi wajah nya.
"maka kau akan mati!!" Fani melebarkan mata nya ke arah Sean. ia mengatakan itu karena firasat nya mengatakan Dimas sudah ada di sana.
Entah benar atau tidak, Fani hanya mencoba menguatkan diri nya sendiri. takut? sudah pasti. siapa yang tidak takut,di tengah kondisi nya yang sedang hamil dan dia di sekap dengan makhluk titisan dajjal itu. tambah seisi rumah di kelilingi oleh penjaga yang bertubuh sangat besar.
jika ceroboh sedikit saja,maka ia bisa tertangkap dan bisa bisa nyawa nya menjadi taruhan.
"lepaskan aku! atau aku akan menendang perut mu!!"
"lalu kau pasti balik menyekapku kan?"
ujar Fani sedikit ketakutan.
"pikiran lah!" Sean mulai mengencangkan kedua kaki nya di antara pinggang Fani.
terlihat Fani merasa kesakitan,namun ia berusaha tetap menahan nya.
Braakkk!!!!
Dimas masuk di saat yang tepat, ia menendang kepala Sean hingga tubuh nya tersungkur ke lantai.
"Mass.... hiks..hikss..."
Fani menumpahkan tangis yang sedari tadi sudah ia tahan.
"sayang,pejamkan sebentar mata mu.."
Fani pun menuruti permintaan Dimas,ia segera memejamkan mata nya.
"aku akan membunuh mu!!
__ADS_1
DASAR KEPARAT!!"
Dimas melayangkan pukulan nya berkali kali ke wajah Sean hingga babak belur.
Setelah puas menghajar Sean,Dimas langsung memeluk tubuh Fani.
"sayang.. kamu nggak apa apa kan? ada yang sakit?"
"perut Fani nyeri Mas.." ujar Fani lirih.
"sakit?" Dimas langsung menggendong Fani menuruni anak tangga menuju ke mobil nya.
Vino dan beberapa pengawal nya masuk ke kamar Sean.
tendangan pun di layangkan pada Sean yang sudah hampir tak sadarkan diri itu.
Vino benar benar emosi karena terus saja dia mengusik Dimas. di tambah ulah nya yang sudah menghancurkan karir Zey.
"pak Vino sudah pak.. dia bisa mati nanti.."
pengawal Dimas menghentikan Vino yang sudah gelap mata.
"orang seperti dia pantas mati!!"
"haha....." sempat sempat nya Sean tertawa bak seorang psikopat di tengah kondisi nya yang babak belur itu.
30 menit kemudian,puluhan mobil polisi tiba. mereka membekuk semua pengawal di rumah Sean yang sudah babak belur karena sebelum nya terlibat perkelahian sengit dengan Dimas dan pasukan nya.
"jika kalian polisi! pastikan dia tak bisa keluar selangkah pun dari penjara!!" Vino menatap tajam ke semua aparat kepolisian.
"kami akan menindak lanjuti hukuman nya Pak,begitu juga orang yang membantu iblis ini keluar!!" sahut komandan bertubuh kekar itu.
lalu mereka menyeret Sean.
hukuman kali ini pasti akan lebih berat lagi mengingat kejahatan nya sudah di luar batas
Tentu saja Dimas juga akan menuntut sanksi besar kepada Sean lebih dari sebelum nya termasuk pada oknum yang menerima sogokan dari Sean pun akan di proses sama berat nya.
...~~~~...
Fani sempat mengalami pendarahan ringan tadi karena terlalu kelelahan.
"syukurlah pendarahan nya sudah teratasi..."
ujar dokter yang menangani Fani.
di kehamilan nya yang pertama ini benar benar banyak ancaman yang di dapat Fani,dari mulai menyerang psikis hingga fisik nya.
beruntung si kembar di dalam perut Fani sangat kuat hingga sejauh ini masih baik baik saja.
"syukur lah..." Dimas sangat lega mendengarnya.
jika sampai terjadi apa apa maka Sean pasti tak akan di biarkan hidup oleh Dimas.
Dokter: "saya tinggal dulu ya pak,jika ada perubahan pada pasien segera panggil saya"
"baik pak.. terimakasih"
ucap Dimas dengan mata sembab nya.
"zzzhhh,,,terimakasih sayang.. kamu sudah kuat dan melindungi anak kita.
Mas minta maaf karena tidak bisa menjaga kamu dan anak kita" ujar Dimas lirih kepada sang istri yang masih terbaring lemas.
...~...
Setelah urusan dengan si iblis selesai, Vino tak kembali ke kantor ia memutuskan untuk pulang saja karena tubuh nya benar benar lusuh dan tangan nya mendapat banyak luka karena tadi baku tinju dengan pengawal Sean.
Karena rumah nya terlalu jauh, ia pun memutuskan kerumah Rianti saja sekalian cuci mata.
__ADS_1
lagi pula tubuh nya sudah sangat lelah saat itu hingga tak sanggup lagi rasa nya menyetir mobil lebih lama lagi.
...-...
...-...
"tante... tante.." panggil Vino saat memasuki rumah Rianti.
"mama pergi.. ..Pak Vino?"
Nurul terhenti di tengah tengah anak tangga saat melihat tampilan Vino yang sangat berantakan itu.
"kemana?" tanya Vino.
"temenin mama nya bapak tadi ngurus surat izin praktek kalau nggak salah. bapak kenapa?",
"saya numpang istirahat ya..
oh iya bisa ambilkan obat tetes dan perban?"
Vino menunjukkan kedua tangan nya yang terkelupas lecet dan darah nya sudah hampir kering.
"oh.. iya.." Nurul langsung putar balik mengambil PK3 yang ada di lantai atas.
...~~~~...
"jangan.. jangan..!!!"
Fani mengigau hingga mengeluarkan keringat dari wajah nya.
"sayang??.. sayang ini Mas.."
Fani membuka mata nya setelah mendengar suara Dimas.
"Mas...hiks..hiks..hiks..πππ
Fani takut Mas..." tangis nya pecah tak terbendung lagi.
"tenang sayang.. kamu sudah aman sayang"
ia memeluk tubuh sang istri sambil terus mengecup kening nya.
"anak kita Mas??? anak kita? Sean mencoba membunuh anak kita tadi.. anak kita nggak apa apa kan Mas??"
Dimas meraih tangan Fani lalu meletakkan nya di atas perut.
"anak kita baik baik saja sayang.. itu berkat mereka punya mama yang kuat seperti kamu"
Jemari Fani yang masih lemas mencoba meraba raba perut nya,lalu ia mendapat sinyal dari sang jabang bayi melalui sundulan kecil.
"syukur lah... hhwwwuu hiks..hiks..."
Dimas menekan bell di sebelah ranjang mengukuti saran Dokter tadi.
"jangan menangis hmm,, Mas nggak kuat lihat kamu nangis begitu.
kita periksa lagi ya keadaan kamu.."
"Mas itu benar benar Sean kan?? kenapa dia bisa keluar dari penjara Mas? gimana kalau nanti dia balik lagi terus celakai anak kita? Fani beneran takut Mas.." tangis nya masih saja tak terbendung,rasa takut akan kejahatan nya Sean masih terpampang jelas di pikiran Fani.
"maafin Mas ya sayang.. kamu tenang ya, Mas akan selalu ada bersama kamu dan melindungi mu
Mas janji nggak bakal membiarkan iblis itu menyentuh bahkan ujung rambut mu"
ujar Dimas,air mata nya pun kini ikut menitik melihat betapa ketakutan nya Fani dengan kejadian itu.
"apa ku bunuh saja dia?!!"
batin Dimas dengan tatapan menusuk nya, ia sangat ingin melenyapkan Sean saat itu karena telah membuat Fani menderita dan ketakutan.
__ADS_1
...**********...