
Malam panjang yang indah menyapa semua
orang yang sedang mengistirahatkan pikiran nya.
balita, pelajar, mahasiswa, dan juga orang dewasa lainnya tampak menikmati malam
yang sejuk ini.
Di bawah lampu kecil sudut meja, seorang wanita
cantik berumur tiga puluhan sedang menuliskan
isi hati nya di sebuah buku diary.
Walaupun hati mu telah terisi orang lain
entah kenapa diri mu masih lekat di pikiranku.
aku masih mencintai mu di sini
jika suatu saat kau terluka, kemarilah..
aku bersedia mengobati mu..
ahh.. rasa nya terlalu banyak kenangan yang
kita miliki hingga sulit untuk melupakannya begitu saja. tidakkah kau berniat mengajarkanku bagaimana cara nya melupakan ini semua dengan cepat?
aku sangat egois bukan?
dan untuk wanita yang sekarang di hati nya
mohon maafkan aku, karena aku masih
mencintai pria mu sampai saat ini.
Di akhir tulisan, wanita itu mengukir tanda tangannya lalu ia menulis nama lelaki yang
merupakan cinta pertama nya.
...Bastian.......
...~~~~...
Di rumah nya, Bian menunggu jawaban
panggilan Video dari Nurul.
"tumben si kunyil sudah tidur, biasa nya jam
segini dia yang heboh ingin Video call."
"selamat tidur sayang ku...
mimpi indah ya.. mwaahh..."
ia mengecup wallpaper layar ponsel nya yang
terpajang foto Nurul.
Bian pun kembali melanjutkan pekerjaan nya,
ia masuk sift tiga hari ini. begadang sudah menjadi makanan sehari hari bagi nya.
"ah.. benar, lusa minggu.
besok sift malam lagi,selesai sift jam 6 pagi.
tidur 8 jam. berarti malam baru bisa keluar.
semoga tidak ada operasi darurat lagi."
ia memeriksa semua jadwal nya agar rencana kencan esok benar benar sempurna.
...~~~~...
Pukul 06:00 pagi...
Punggung Nurul terasa berat dan sesak.
ia berusaha membalikkan posisi badan nya
dengan mata setengah terpejam.
"aww..." rintih nya. dan ternyata yang menimpa
punggung nya adalah kaki Vino. sedangkan El ia menjadikan betis Nurul sebagai bantal nya.
hanya Nurul yang tidur seperti manusia normal pada umum nya.
"aaahh..bapak dan anak ini benar benar menyekap ku."
"tunggu?! apa ini? kaki pak Vino?!!
ihhh!! kurang ajar memang.."
__ADS_1
ia mencubit betis Vino hingga Vino terlonjak
kesakitan.
"aduhh.. aaahh!! apa Ran? kok di cubit?"
"seharus nya di tonjok pakai palu tau..!
kaki bapak berat loh, punggung Nur sampai kram nih."
"iya..iya.. iya.." ucap Vino, bukan nya bangun ia malah berpindah posisi dan tidur lagi.
"Pak!! geserin El dong.. malah tidur lagi.."
"El... pindah..kaki bunda kram." ucap Vino.
Dan ajaib nya El langsung bergeser masih dengan mata terpejam. ya, ini menjadi keunikan tersendiri bagi El. sepulas apapun tidur nya, ia tetap akan mendengar perintah sang ayah.
begitu juga sebalik nya, seribut apapun keadaan
ia tak akan terbangun jika tak ada suara ayah nya.
Tentu saja Nurul terheran heran melihat tingkah El. bagaimana bisa dia tak sadar saat diri nya dan Vino berdebat, tapi langsung bergerak saat Vino meminta nya.
...~~~~...
Di kampus...
Sama seperti di SMA, Mei menjadi senior Nurul di kelas. mereka memang tak pernah bertegur sapa. Mei dengan sifat congkak nya masih saja
iri terhadap Nurul dan teman teman lainnya yang
benar benar tajir, tak seperti diri nya yang masih berbohong sampai sekarang.
dendam kesumat Mei bertambah membuncah saat Gaby menjadi akrab dengan Nurul semenjak kuliah.
"Kirana..." sapa Mei sambil membawa nampan makan siang nya.
"eh iya??" Nurul terheran, tumben nih anak
ramah tamah.
"tumben makan siang di kantin? biasa nya bawa bekal makan bareng pak Bian.."
goda nya dengan senyum yang tentu saja palsu.
"kamu juga tumben nyapa kita, biasa nya sombong..." tukas Gaby.
"karena kelas pagi jadi nggak sempat nunggu bibik masak, lagian badan ku sakit semua jadi males banget mau masak." sahut Nurul ramah
Mei: "ohh.. btw pulang ngampus kamu sibuk nggak? nongkrong yuk.. di cafe Orion dekat lampu merah depan."
Nurul: "nggak ah, di situ kan mahal.."
Mei: "ya elah.. santai aja kali, nanti aku yang bayarin."
Nurul: "nggak deh, lagian nanti aku mau jemput kakak ke rumah sakit."
Mei: "kakak yang dokter itu? kok di jemput?
emang nya dia nggak punya mobil.
masa orang kaya nggak punya mobil."
"nggak semua orang kaya royal kali Mei..
ada juga yang hemat, lebih memilih nabung buat masa depan." imbuh Gaby, ia sudah terlihat gerah dengan tingkah Mei yang tak biasa itu.
"ya masa iya, anak orang kaya. dokter pula..
beli mobil aja nggak bisa.."
"hhff.. bukannya nggak bisa, kalau dia mau
buka showroom pun bisa. tapi dia nggak suka
pamer pamer. the real orang kaya mah biasa nya gitu." Gaby tampak sangat membela Dika karena sejak dulu ia menjadi fangirl nya Dika.
Nurul yang tau betul teman dekat nya itu sangat
mengidolakan kakak nya pun hanya senyum senyum saja.
"eh, lain kali kalau nongkrong di rumah mu aku ikut ya.. kangen tau pengen kumpul kaya dulu lagi.." Mei masih saja melanjutkan basa basi nya yang benar benar basi.
"chh..kita kan emang nggak pernah kumpul bareng. kok bilang kangen?" kekesalan membuat jiwa SAVAGE Nurul mau tak mau agak timbul.
"eh.. ya tapi kan kita teman, jadi nggak apa apa dong sesekali aku ikut ya kan.." Mei merangkul Gaby dan Nurul bersamaan.
"teman? sejak kapan?" ucap Nurul malas.
Gaby sudah tak tahan lagi melihat Mei sok akrab dengan mereka.
"udah deh Mei, jangan sok akrab, aku malah risih loh. kamu selama ini sombong nya minta ampun.
kalau memang mau berteman ya pelan pelan aja, jangan spontan langsung sok akrab apalagi sama Kirana. biar nggak kelihatan banget caper nya.."
__ADS_1
ia segera bangkit dan menggandeng Nurul untuk pergi dari sana.
"Na.. kamu jangan percaya sama kata kata nya untuk berteman ya, dia itu pinter banget membual." ujar Gaby.
"hmm.. aku juga tau, dari mata nya kelihatan banget dia nggak tulus."
Sedangkan Mei terus saja mengumpat pada Nurul dan Gaby.
"chh.. dasar sok..!
kalian kira kalian cantik banget gitu?
dih.. dasar perempuan kampung!!"
...~~~~...
Rumah sakit....
"abang..." panggil Nurul pada Bian yang baru juga sampai di sana.
"dek..? jemput Dika?" ia memeluk erat Nurul untuk melepas rasa rindu nya.
"iya bang... abang baru datang?"
"iya sayang.. sudah makan?"
"udah bang.. oh iya, besok jadi kan abang libur?"
"jadi dek, tapi abang bisa nya malam.."
"iya nggak apa apa bang, lebih adem malah kalau malam kan." Nurul mengerti karena Bian hari ini masuk sift malam lagi.
"Selamat sore pak Bian.. "
sapa pimpinan rumah sakit.
"sore ..." Bian terkejut saat melihat yang bersama pak pimpinan adalah Viona.
"hai Bi..." sapa Viona tersenyum lebar.
"hai dek.." Viona juga menyapa Nurul.
"iya kak.." sahut Nurul.
"Wah.. Pak Bian sudah mengenal Bu Viona?
tadi nya saya hendak mengenalkan kalian karena mulai Senin depan Ibu Viona akan bekerja di sini." ujar pimpinan tersebut.
"wahh.. serius? kamu di mutasi?"
tanya Bian tak percaya.
"hmm.. " Viona menaikkan alisnya.
Nurul sudah kenal dengan Viona, ia juga tau
kalau Viona dan Bian bersahabat sejak kecil.
namun ia tak tau kalau Viona dan Bian dulu
sudah hampir lamaran.
dan Nurul pun tak tau kalau batal nya rencana lamaran mereka karena Bian lebih memilih diri nya di banding Viona.
"bang.. Nur ke ruangan kak Dika dulu ya.."
"iya dek.. hati hati ya pulang nya.."
Bian melambai sambil tersenyum pada Nurul.
"wah... kamu di pindah ke sini pasti karena
kinerja bagus mu." puji Bian basa basi.
"hahahaha.. seperti nya begitu." sahut Viona tertawa lepas.
Viona: "bagaimana? hubungan kalian baik?"
Bian: "baik.. kami baru merencanakan ke bioskop
besok malam."
Viona: "ck..ck..ck.. kamu seperti anak ABG saja.."
Bian: "hahaha.. harap maklum, ini kali pertama aku berpacaran."
Viona tersenyum hambar.
"hmm.ya, mau ku rekomendasi kan film bagus?"
"boleh, rekomendasi dari mu tak pernah gagal."
Bian dengan senang hati rekomendasi
rekomendasi lagi dari Viona.
__ADS_1
...********...