
Semenjak kejadian rambut tersangkut itu,mood Fani kembali hancur. walaupun dia sudah menyingkirkan pemikiran yang tidak tidak,tetap saja ia tak bisa melupakan itu.
Sejak itu pula Fani selalu jutek kepada Dimas hingga membuat Dimas bingung kalang kabut.
"sayang.. keluar yuk cari makan.."
"nggak" jawab Fani singkat dan datar.
...-...
...-...
Dimas: "cium dulu sini...."
Fani tak menjawab dan malah pergi meninggalkan Dimas.
...-...
...-...
"sayang cariin kemeja Mas dong..."
"cari sendiri Mas.."
...-...
...-...
"sayang... Mas pingin..." rengek Dimas sambil mendusel manja pada Fani.
Fani tak menjawab dan malah berbalik badan membelakangi Dimas dengan wajah manyun.
...-...
...-...
Pagi hari saat hendak bekerja pun Fani tak mengantarkan Dimas sampai depan pintu seperti biasa.
"kenapa Fani jadi cuek? apa karena perubahan hormon nya?"
Sepergi nya Dimas,Fani bangkit dari kasur nya dan membuka laci meja rias nya.
ternyata ia masih menyimpan helaian rambut itu di sebuah kotak kecil.
"kalau sampai terbukti Mas ada main dengan perempuan lain. liat aja!! nggak bakal ku kasih ampun!" rutuk Fani geram.
Ia pun tiba tiba terpikirkan Vino, ia baru menyadari gelagat nya saat di depan studio itu sangat aneh.
"apa Vino tau sesuatu? maka nya dia menyeretku dari sana??"
...~~~~...
Siang hari nya, Fani yang sebenarnya malas ke kantor Dimas pun memaksakan diri ke sana untuk membicarakan hal ini dengan Vino.
ia sangat bersemangat hari ini,yang biasa tubuh nya terasa lemas pun kali ini menjadi bugar. mungkin dua jagoan kecil di perut nya mendukung sang mama untuk menyelesaikan keruwetan ini.
Fani sudah mengabari Vino dan mereka akan bertemu di kantin seperti biasa.
__ADS_1
kali ini Fani sengaja tidak memberitahu Dimas kalau dia datang ke kantor.
"hai..."
sapa Vino yang baru saja tiba.
"ada apa mengajak ku bertemu?"
tanya Vino penasaran.
"aku akan langsung pada inti nya...
mmm,, waktu di depan studio kamu pasti melihat sesuatu kan?" Fani langsung to the point dengan wajah nya yang sangat serius.
Vino langsung merinding melihat ekpresi Fani, yang ia tau Fani adalah wanita polos dan lembut tapi kali ini berbeda aura Fani terasa sangat menyeramkan.
"melihat..apa??
aku hanya melihat mu waktu itu"
"ya di luar memang aku. tapi di dalam studio,apa yang kamu lihat?"
"ya..meeting.. seperti yang kukatakan kemarin,Dimas sedang meeting di sana"
Vino tampak gelagapan mengatakan itu.
Fani hanya tersenyum tipis,ia tau pasti bukan itu yang sebenar nya.
"hhh.. adik ku, Nurul. dia sangat suka dengan laki laki yang jujur"
terpaksa Fani harus mengeluarkan umpan.
"ahh.. begini.. sebenarnya aku melihat Dimas dan Zey. tapi mereka sungguh tidak melakukan apa apa,hanya saja situasi nya pasti akan menimbulkan salah paham jika kau melihat nya kemarin. aku bukan nya ingin menutupi ini dari mu tapi aku tidak ingin kalian berdua bertengkar hanya karena salah paham" seketika keraguan di kepala Vino hilang saat mendengar nama Nurul.
"jadi situasi seperti apa yang maksut bisa bikin aku salah paham?"
Fani ingin mendapatkan jawaban lebih detail lagi.
"sshh... jadi waktu itu Dimas sedang mengoreksi video yang di lakoni Zey lalu......"
Vino pun menceritakan semua detail nya dengan kalimat sesederhana mungkin agar Fani tidak salah paham. ia juga meminta Fani agar tidak marah pada Dimas,karena ia tau Dimas sangat mencintai Fani.
"kau tau sendiri kan, Dimas sangat tau bagaimana sakit nya di hianati. jadi dia tidak mungkin melakukan hal yang menyakiti mu,dia sangat mencintai mu." tambah Vino lagi sangat yakin, ia berharap hubungan antara Fani dan Dimas tetap baik baik saja.
"baiklah.. akan ku pikirkan perkataan mu, terimaksih sudah membantu ku meluruskan ini"
Fani tersenyum pada Vino sambil beranjak dari sana.
Vino: "eh ..tunggu.. itu, soal Kirana.. bolehkah aku.."
"08++++++++++" Fani menyebutkan nomor handpone Nurul.
"apa??" Vino malah terheran.
"nggak di catat? itu nomor nya"
ujar Fani.
__ADS_1
"hah..? tolong ulangi.." pinta Vino dengan wajah sumringah.
Fani pun mengulangi angka itu,ia tersenyum kecil sambil geleng geleng kepala melihat tingkah Vino.
"tapi bersabarlah kalau kamu serius,adik ku masih sekolah.." ujar Fani lagi sambil berlalu pergi dari sana.
"terimakasih.." seru Vino tersenyum lebar.
"apa ini semacam lampu hijau??" gumam nya salah tingkah.
Setelah bebicara Fani berniat menghampiri Dimas barang sejenak,sebab akan aneh jika Fani datang ke kantor tanpa menemui Dimas.
"ya ampun!!!"
Fani di kejutkan oleh Dimas yang menarik tubuh nya tiba tiba.
"Mas?? Fani kira siapa loh.." ia tampak mengatur nafas nya yang tersengal.
Dimas menyudutkan tubuh Fani di tembok.
"apa yang kalian bicarakan hah? kenapa akhir akhir ini kalian tampak dekat?"
tatapan Dimas tampak sangat menusuk saat itu.
"bukan apa apa.. hanya ngobrol biasa.."
Fani mengalihkan wajah nya dari tatapan Dimas.
"jangan buat Mas cemburu ya Fani.. Mas nggak suka lihat kamu senyum senyum apalagi sampai akrab sama laki laki lain" nafas Dimas mulai terdengar berat. lorong yang sepi dan hening semakin memperjelas detak jantung Dimas yang bergemuruh.
"Fani juga bisa cemburu Mas mmhhh.."
belum sempat meneruskan kata kata nya,Dimas sudah membungkam nya duluan dengan ciuman penuh gairah.
Fani pun tak bisa berkutik lagi,ia hanya bisa memejamkan mata nya dan membiarkan sang suami melepaskan gairah nya yang memuncak.
Di ujung lorong,Zey yang hendak kembali ke ruangan staf nya tak sengaja melihat adegan plus plus dua sejoli itu.
"ssitt!!!" gumam nya terkejut,segera ia menyembunyikan diri di balik tembok.
namun bukan nya pergi dari sana,ia malah mengamati gestur tubuh Dimas yang semakin mempesona saat sedang berciuman.
apalagi saat melihat Dimas yang dengan sangat nafsu mengurung Fani di antara lengan kekar nya,membuat Zey tanpa sadar menelan ludah bahkan sampai berkhayal bertukar posisi dengan Fani.
"mmhh.. Mas...nanti di lihat orang.." Fani berusaha melepaskan mode vakum dari bibir Dimas.
"ini karena kamu nggak kasih jatah semalam..."
bisik nya lagi sambil menggerayangi telinga Fani dengan bibir nya.
"shhh...Mas..." desah nya tak tahan dengan serangan sang suami.
"ayo ke ruangan Mas.." Dimas merangkul mesra Fani dan membawa nya pergi dari sana agar bisa melanjutkan uwu uwu nya tanpa takut di lihat orang.
"ck.. kenapa dulu dia tidak pernah melakukan itu dengan ku" gumam Zey sambil terus memandangi Dimas yang berlalu pergi.
"astaga bodoh!!ingat dia suami orang!!!"
__ADS_1
Zey memukul kepala nya untuk menyadarkan diri sendiri.
...***********...