
Tampak nya hari ini merupakan hari paling haru bagi Zey,belenggu yang selama 5 tahun ini mencengkram nya kini lepas karena bantuan Vino.
ketakutan besar yang menghantui nya kini hilang, dulu ia selalu menangis jika memikirkan akan sampai kapan dia seperti ini.
mungkin ini balasan atas kebaikan hati nya karena tak mau merusak rumah tangga orang.
"ayo turun..." ucap Vino sambil membukakan pintu mobil nya.
"hiks....hikss...." Zey malah menangis tersedu sedu saat menatap wajah Vino.
nafas nya sampai sesak tak terlendali,ada rasa lega,tidak menyangka dan juga rasa bahagia yang sangat besar.
tapi ntah kenapa hati nya ingin meluapkan semua itu dengan menangis.
"menangis lah.. itu akan membuat mu lebih baik"
Vino mengusap lembut pipi Zey yang di aliri air mata. ia seakan akan mengerti dengan apa yang di rasa kan Zey.
seburuk apapun masalalu Zey tetap saja dia masih berhak menjadi wanita yang layak di cintai dan di kasihi.
Zey menumpahkan semua tangis nya di depan Vino,saat ini Vino lah satu satu nya orang yang paling memahami situasi nya.
Vino lah satu satu nya orang yang berhasil mengeluarkan Zey dari kegelapan yang selama ini membelenggu diri nya.
...~~~~...
Di rumah sakit...
Dimas duduk dengan wajah gusar di sebelah Fani,kondisi nya baik baik saja. dia hanya syok dan tak dapat mengendalikan diri saat melihat ayah nya,karena itu lah ia kehilangan kesadaran.
namun,sudah lebih dari 30 menit siuman Fani tak membuka mulut nya dan hanya menangis dengan tatapan kosong. tentu saja hal itu membuat Dimas semakin cemas.
"kenapa ayah nggak mengenali ku? aku bahkan masih ingat suara ayah. kenapa ayah tampak sangat susah? harus nya kehidupan ayah lebih baik saat meninggalkan kami..
kalau ayah sukses,setidak nya kebencian ku bisa semakin jelas karena kelakuan ayah.
aku kasihan sama ayah....
aku benci ayah.."
batin Fani sambil terus meneteskan air mata.
"sayang...kenapa hm?? jangan buat Mas takut sayang.."
ujar Dimas dengan mata berkaca kaca. ia bingung apa yang membuat Fani menangis seperti itu.
"sayang.. jangan nangis lagi ya,, kasihan anak kita sayang" bujuk nya lagi sambil meletakkan tangan Fani di perut.
"a,,ayaah...."
suara Fani bergetar saat menyebut nama itu.
Dimas hanya mengernyitkan alis nya tak mengerti siapa yang di maksut Fani.
"Laki laki yang Mas bantu tadi.. ayah.. ayah Fani.." sambung nya lagi dengan terbata bata.
__ADS_1
"apa?.. yang tadi? ayah kamu?mertua Mas??"
sahut Dimas terbelalak.
Fani hanya menganggukkan kepala nya perlahan,
akhir nya ia bisa menguatkan diri untuk bercerita dengan Dimas.
"seburuk itu kah kenangan nya bersama sang ayah? sampai sampai dia tak bisa mengendalikan air mata nya"
ujar Dimas dalam hati nya. ia tak bisa membayangkan seberapa perih nya kenangan masalalu antara Fani dan ayah nya.
Dimas pun menjadi bingung,bagaimana dia harus bersikap? haruskah dia menawarkan untuk mencari sang ayah. atau menyuruh Fani mengabaikan ayah nya,tapi bagaimana pun lelaki itu adalah ayah kandung Fani kan?
"shh...kamu tenang ya sayang.. kamu mau ketemu ayah lagi? Mas akan suruh orang mencari ayah kamu.. aishhh.. tapi kartu nama nya Mas kembalikan tadi" Dimas menepuk kening nya,karena akan lebih mudah jika dia mempunyai nomor ayah mertua nya.
"nggak!!Fani nggak mau ketemu sama dia!!"
tolak Fani tegas.
"terus sayang kenapa nangis??"
"Fani jadi teringat semua nya Mas.. Fani inget ibuk..hiks..hiks.. gara gara dia ibuk jadi susah.."
Dimas hanya menarik nafas panjang,apa yang sepantasnya ia katakan di situasi ini?
"jadi apa yang bisa Mas lakukan agar kamu tenang sayang?"
"Fani mau pulang Mas.."
"tenangin diri kamu dulu.. ayo tarik nafas nya pelan pelan.." pinta Dimas.
Fani menarik nafas nya perlahan mengikuti arahan sang suami.
hhhhuuufftttt......
"tenangkan diri mu Fani... pikirkan anak yang sedang kau kandung.. kau harus kuat.."
ucap nya sambil berusaha tersenyum.
"jangan nangis lagi ya.. kasian Dimdim kita ikutan stress nanti di dalam." Dimas mengecup lembut kening nya Fani.
"Mas nggak mau kesayangan Mas sakit.." imbuh nya lagi sambil mengelus pucuk kepala Fani.
"hmm... maaf Mas" balas Fani dengan senyuman tipis.
...~...
Di kediaman Mila.
Kedua orang tua Riko sudah datang, mama nya tampak sangat bersemangat saat mendengar kabar bahwa Riko akan segera menikah.
namun karena insiden kesalapaham itu, Mila hanya bungkam sambil terus mengumpat semua orang yang ada di ruangan itu tak terkecuali orang tua nya.
"cantik nya calon menantu ku..."
__ADS_1
ujar mama nya Riko sambil tersenyum lebar.
"jadi kapan tanggal pernikahan nya akan di tetapkan?" ujar Bara sambil menatap tajam ke arah Riko.
"secepat nya" sahut Riko enteng.
Mila yang mendengar itu langsung melotot ke arah Riko.
"iyaa..bagus itu,semakin cepat semakim baik"
sahut Sarah tak kalah girang nya. sepertinya hanya Mila yang menganggap rencana pernikahan ini musibah.
"kau pasti akan sangat beruntung mendapatkan anak ku.. karena dia orang nya sangatttt penyayang.." ujar mama Riko bangga.
"chh.. penyayang? dia bahkan terus terusan menindas ku di kantor maupun di sini." gumam Mila dengan bibir keriting nya.
"apa yang membuat kalian memutuskan untuk menikah?" tanya papa Riko tak kalah antusiasnya.
Mila: "terpakmmm...!!"
dengan cepat Riko membungkam bibir Mila,karena ia sudah menduga jawaban itu sebelum nya.
"tentu saja cinta pa.. memang nya ada orang yang menikah tanpa cinta" terang Riko pada sang papa.
"pa.. bisa nggak tahun depan aja nikah nya pa.. Mila belum siap pa..." bisik Mila sambil merengek di sebelah papa nya.
"papa nggak mau punya cucu hasil luar nikah!" tegas Bara juga berbisik.
"paaa...." rengek Mila lagi.
"kamu nurut papa. atau pulang dan menikah dengan Elvan?!"
gretak Bara seketika membuat nyali Mila menciut. ia pun langsung terdiam dan menjauhkan badan nya dengan wajah lesu.
Riko mendengar percakapan Mila dan papa nya tadi,walaupun mereka setengah berbisik tapi Riko bisa mendengar nya karena ia duduk di sebelah Mila.
"dia langsung diam saat di ancam dengan nama Elvan. dan lebih memilih menikah dengan ku? ck.." batin Riko sambil terus tersenyum tipis.
"pertengahan bulan depan. bagaimana??"
usul papa Riko sambil melihat selembar kalender adat di atas meja.
"setuju..." jawab mereka semua serentak kecuali Mila.
"masih tersisa 3 minggu lagi dari sekarang.. aku masih punya kesempatan untuk kabur.. yaa aku haru melarikan diri dari Negara ini!!" pikir Mila dengan konyol nya.
"jangan berpikir untuk kabur! atau papa akan membuatkan altar pernikahan untuk mu dan Elvan" bisik Bara,ia bisa menebak apa yang ada di pikiran putri nya dengan hanya melihat ekpresi wajah Mila.
"ng..nggak kok." Mila menelan ludah nya, ternyata selain seorang Jenderal papa nya juga bisa membaca pikiran orang lain?
Lain dengan Mila,Riko terus tersenyum ia merasa sangat beruntung dengan takdir yang seperti jalan pintas ini.
Mak lampir pujaan hati akhir nya bisa di miliki tanpa bersusah payah merayu nya.
"hentikan senyuman itu!! kau membuatku ingin mencungkil mata mu!" gerutu Mila sambil menatap tajam Riko.
__ADS_1
sedangkan Riko semakin melebarkan senyuman nya, ya mengeluarkan tanduk Mila sudah menjadi hobi yang mendarah daging di tubuh Riko. semakin Mila marah semakin melunjak pula kejahilan Riko.
...***********...