Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 83: Si Baby


__ADS_3

Di kelas...


Sambil mendengarkan penjelasan Dosen pembimbing, Nurul menundukkan wajahnya menahan hawa panas. lesu, panas dingin serta sedikit pusing membuat Nurul tak sabar ingin segera keluar dari kelas.


Sementara itu di mobil, Vino tengah menunggu sang istri keluar kelas. ia tak sendirian di sana, El yang sedang asyik memainkan game di gadgetnya tampak sumringah karena tak sabar bertemu dengan Bunda nya.


Berbeda dengan El yang tampak sumringah, Vino malah murung dengan alis mengkerut karena semalam gagal berkembang biak.


"ch.. pusing katanya? apa dia tidak tau kalau aku lebih pusing jika harus diam saja melihat tubuhnya?" gerutu Vino kala mengingat penolakan Nurul kemarin.


"aiss!! ayo lah Vino. jangan egois! memang kau tak melihat wajah pucat nya semalam hah?!" rutuk nya lagi memarahi diri sendiri.


15 menit kemudian...


Nurul berdiri didekat pintu keluar, matanya mengedar mencari apakah ada mobil suaminya di salah satu parkiran. sambil meletakkan tangan di atas dahi, ia berusaha menembus silaunya matahari sore sambil menyeringai.


Bluuk.. tiba-tiba tas jinjing di tangannya terjatuh, pandangannya pun sedikit gelap di sertai keringat dingin. tak pelak kondisi itu menggoyahkan kaki nya dan membuat nya terhuyung lemas.


"dek?!!" panggil Bian sambil menopang tubuh Nurul dari belakang. untung ia cepat datang, jika tidak mungkin Nurul sudah jatuh lemas di sana.


"sshh.. pusing.." rintih nya dengan nada bergetar.


"oke oke.. bisa jalan kesana? sini Saya bantu.." ucap Bian sedikit panik, ia memapah tubuh Nurul ke kursi yang tak jauh dari sana.


Dengan sigap Bian mengeluarkan stetoskop nya lalu memeriksa kondisi Nurul "ada telat makan?"


Nurul menggeleng perlahan "nggak.."


Bian menempelkan stetoskop di perut bagian bawah Nurul dengan sedikit di tekan "hari pertama haidh terakhir kapan?"


Tiba tiba Vino datang dan mencengkram erat tangan Bian "jauhkan tanganmu dari istriku!" ia menepis tangan Bian agak kasar.


"ayo kita kerumah sakit Sayang.." ajak Vino hendak menggendong Nurul. namun Nurul mengangkat tangannya seolah memberi isyarat 'tunggu sebentar'


"akhir Januari.." ujar Nurul menyeringai kesakitan.


Mata Bian langsung berbinar "hei,tidak salah lagi. aku bisa mendengar detak jantung nya." ia menatap wajah Vino kegirangan.


"ck.. tentu saja, dia kan masih hidup! dasar dokter mobul! (modus dan cabul) " ketus Vino kesal.


"bukan istrimu yang ku maksut, tapi anak mu. perkiraan usianya sudah delapan minggu di sana." tunjuk Bian ke arah perut Nurul.


"hah?!" "A..apa?!" ucap Nurul dan Vino bersamaan.


Vino langsung berlutut dan menempelkan telinganya ke perut Nurul kkkruuukkk.... hanya suara itu yang terdengar oleh Vino.


"kok detak jantungnya keroncongan?"


"pakai ini pak tua!" titah Bian memasangkan stetoskop ke telinga Vino.


Beberapa detik Vino menggerakkan matanya ke kanan dan kiri, ia berusaha mendengarkan detak jantung yang di maksut.


"sshh.. AKU DAPAT! AKU MENDENGARNYA!" senyum sumringah Vino melebar kala mendengar detak jantung yang amat lembut itu.


"tunggu! ini bukan detak jantung Ran kan?" tanya Vino masih tak percaya.


"sejak kapan jantung nya pindah ke bawah sana?" sahut Bian mulai kesal.


Vino: "buktinya kita bisa meraba detak jantung di urat nadi, siapa tau itu juga urat nadi."


Bian: "kenapa kau tidak percaya? apa kau tidak menginginkannya?"


Mendengar Bian dan Vino berdebat, kepala Nurul semakin sakit. dari tadi ia berusaha menutup mulutnya menahan dorongan dari kerongkongan, namun apa daya, ia tak bisa lagi membendung rasa mual yang sedari tadi mengaduk lambungnya.


HOOEEKKKK.... ๐Ÿคฎ cairan bening dengan toping beberapa cincangan nasi dan sayur melumuri tangan Vino.


"akhhhh!!" teriak Vino jijik.


...*******...


Di sisi lain, Ayu dan Rey hendak menuju ke rumah. masih dengan seragam sekolahnya, Ayu tampak lesu serta tak bersemangat.


"musiknya matikan." ketus Ayu pada Rey.


"ada masalah?" tanya Rey tampak perhatian, melihat dari wajah kumel Ayu ia bisa merasakan segudang beban yang menumpuk.


"mulai.. sok sok perhatian.." batin Ayu kesal. bukannya ia tak senang, melainkan ia selalu terbawa perasaan kala Rey menunjukkan perhatian kecil seperti itu.


"bisa nggak, mulai sekarang jangan buat Ayu berpikir jauh." lirihnya menatap ke kiri jalan.


"contohnya?"


"dari awal Bapak mendekati Saya cuma alasan kan? bukankah harusnya Bapak menjauh karena udah nggak butuh lagi alasan itu?"


"haruskah?" Rey dan Ayu beradu tatapan sesaat.


"ch.. membingungkan." gumam Ayu kala melihat senyum tipis di wajah Rey.

__ADS_1


"sampai kapan Bapak mau begini terus? pura-pura jemput Ayu padahal modus doang. mentang mentang Ayu anak-anak? jadi Bapak bertingkah seenaknya aja gitu?"


Rey menghela nafas, entah ada apa dengan Ayu hari ini. yang pasti ia tau kalau dirinya sedang jadi sasaran kemarahan bocah itu.


"kalau ada masalah cerita saja.."


"satu satu nya masalah ya Bapak!"


ddrrtttt..... dering ponsel Ayu melerai mereka berdua.


"hallo.....oke." dua kata itu sudah cukup menjelaskan kalau telepon barusan sangat penting.


"putar balik! ke rumah sakit." pinta Ayu sedikit ngegas.


"baiklah.."๐Ÿ˜ sahut Rey pasrag bagai supir pribadi.


...*******...


Sesampainya di rumah sakit, Ayu berjalan cepat menuju resepsionis.


"permisi, dimana ruangan SpOG?"


"mau bertemu dokter siapa kak?" tanya sang resepsionis.


"Bastian."


"sudah ada janji?" sang resepsionis memastikan lagi.


"janji.. belum, tapi dia yang menyuruh Saya datang kak."


"baik. ruangan nya di lantai 4 sebelah kiri ya.."


"terimakasih..." Ayu bergegas secepat mungkin.


Saat di dalam lift, raut wajah Ayu tampak khawatir. bagaimana tidak? ia mendapat telepon dari Bian bahwa kakaknya sedang di rawat. namun kekhawatiran di wajah Ayu malah di salah artikan oleh Rey.


"kamu hamil?" tanya Rey tanpa basa-basi.


"H..hah?" sontak Ayu terbelalak. kok bisa bisa nya Rey berpikir demikian tanpa bertanya dulu tujuan Ayu ke sana.


Wajah syok Rey bahkan sudah timbul sebelum Ayu menjawab pertanyaannya "masih sekolah loh kamu! siapa Bapak nya? apa dia kabur?"


"hhfff...." dengus Ayu kesal. "iya dia kabur! kenapa? mau tanggung jawab?!"


"h..hah?" giliran Rey di buat ngeblank. suasana pun hening beberapa detik.


"ck.. tidak ku sangka gadis sepolos dia ternyata liar juga. eh.. apa jangan-jangan dia kesini mau aborsi?" pikirnya sambil menatap prihatin dan syok ke arah Ayu.


...-...


...-...


Sesampainya di depan ruangan Bian, Ayu langsung masuk "bang.. dimana kakak??"


"yuk Saya antar.." sambut Bian amat ramah, bahkan ia merangkul kecil pundak Ayu. keakraban mereka memang sudah seperti kakak adik. walaupun gagal menjadi abang iparnya bukan berati silaturahmi mereka menjadi renggang.


"ch! kenapa dia tidak menjelaskan tadi." rutuk Rey saat melihat lampiran berkas pasien yang tertulis nama Nurul.


...-...


...-...


Sementara itu di ruang pemeriksaan.


Gubrakk! Vino yang hendak duduk di kursi malah terjengkang saat mendengar asisten Bian menjelaskan ada janin di rahim Nurul.


"benar benar bayi? di rahim istriku?" gumamnya dengan mata berkaca-kaca.


"Bu.. tolong pastikan lagi, Saya udah 4 hari nggak BAB. apa ibu yakin itu janin? bukan feses?" sahut Nurul tak kalah terkejutnya.


"hahah kalian ini ada ada saja, mana ada feses di rahim." timpal dokter kandungan berwajah gemuk itu.


"ini.. ukurannya masih sebesar almond, detak jantungnya normal dan plasentanya menempel dengan baik. hanya saja ibu kekurangan darah, jadi mungkin akan di rawat sampai besok." papar sang dokter sambil menunjuk kondisi si janin di layar monitor.


"terimakasih Sayang.. mmuuachh!" Vino mengecup kening Nurul amat bersemangat.


"licik kamu Mas.." Nurul memukul bahu Vino dengan sisa tenaga nya. bisa-bisa nya ia tak tau gawang nya di Gol kan oleh Vino.


Suasana haru itu tiba-tiba di buyarkan oleh Ayu yang tak kalah antusias "serius?! coba lihat? udah berapa bulan?"


"masuk sembilan Minggu, selamat ya.. bakal dapat keponakan baru kamu hahah.." sahut Bian tertawa renyah.


Sementara El yang dari tadi mengamati sambil memijat kaki Nurul kini mulai bosan "kok lama sih dedek nya keluar๐Ÿ™" ucap El mulai jenuh.


"kenapa nak?" bisik Nurul lembut.


"El capek Bunda.. katanya dede bayinya udah ada. tapi kok nggak keluar keluar?" ia bicara dengan manjanya sembari mengepalkan tangan yang agak pegal karena dari tadi memijat kaki Bundanya.

__ADS_1


"ffttt..." sontak seluruh orang di ruangan itu menahan tawa.


"jadi kamu pikir dede nya akan keluar sekarang? karena itu kamu anteng banget mijitin Bunda mu di situ hahha.." Bian sampai menunduk menahan rasa geli di perutnya.


El pun mengangguk penuh harap "iyaa..."


Mendengar ucapan polos anaknya Vino hanya bisa mengusap wajah "duh.. anak siapa sih kamu El."


"emangnya bukan anak Ayah?" tanya nya lagi.


plukk! Nurul menepuk pelan lengan Vino "Mas ini. kayak nggak tau kelakuan anakmu aja."


"karena janin dan ibu nya baik baik saja, Saya tinggal dulu ya. nanti sehabis makan siang Saya pindahkan ke ruang rawat." pamit Bian tersenyum lebar.


"abang mau makan? ikut.." kebetulan Ayu tidak makan siang tadi.


"gas.." sahut Bian


Namun Rey malah menarik tas Ayu dari belakang persis seperti menarik anakan kucing "eitss! kamu nggak pulang? udah sore nanti Bu Rianti marah sama Saya."


"udah nggak apa-apa.. nanti dia Saya antar pulang. Bu Rianti pasti nggak marah kalau sama Saya." potong Bian amat yakin.


"ahha..๐Ÿ˜ƒ kesempatan nih. kalau dia berhasil ku buat kepanasan. ada harapan dong sinyalku terbalas hihihi..." yap. seperti nya otak cemerlang Ayu amat jeli hingga bisa memanfaatkan kesempatan ini.


"iya Pak. nanti Ayu pulang bareng bang Bian aja. oke.." iya hendak berlari ke arah Bian, namun Rey sekuat tenaga menarik tas Ayu.


"Pulang!" ketus Rey menatap tajam.


"Pakk..." rengek Ayu bak meninta izin ke orang tua nya.


"lepas tas nya! lepas.." Bisik Bian dari depan pintu. Ayu pun mengangguk, namun sayang gelagat mereka terbaca oleh Rey. ia segera menggenggam lengan Ayu.


"nurut bisa?"


"i..iya bisa kok." ucap Ayu mengusap pelan pucuk hidungnya. bibirnya menyunggingkan senyum kecil karena merasa rencana nya berhasil.


Saat keluar menuju mobil, tingkat kebaperan Ayu pun semakin melambung hingga ia tak bisa menyembunyikan senyuman salah tingkahnya.


"ngapain kamu senyum senyum hm?!"


"mm.. nggak ada.. Bapak suka ya sama Ayu hehe" bisa-bisa nya ia tersipu malu di saat wajah Rey kaku seperti batu.


"hh.. bicara apa anak ingusan ini?" gumam Rey menatap risih.


...~~~~...


Dalam sekejap, ruang rawat Nurul di penuhi berbagai macam buket bunga dan balon dari keluarga nya.


Duma sebagai ibu mertua Nurul tampak yang paling bersemangat "aduh aduh...makasih banyak ya sayang, akhirnya kamu memberikan mama cucu bersertifikat hahah.." ia mengusap dahi sang menantu amat lembut.


"maksut Oma, El cucu imitasi?" ucap nya sedikit merajuk. insting cemburu sebagai anak sulung sedikit merasuki El. ya walaupun tadinya dia yang gencar minta adik.


Duma langsung merangkul El agar tak tersinggung "eh, nggak dong. El juga cucu bersertifikat kok, pakai Visa lagi karena dari luar negeri."


"mama sih, jangan ngarang kalau ngomong di depan El." tegur Vino berbisik.


Di tengah kebahagiaan keluarganya, Nurul malah termenung. Vino yang menyadari itu pun lekas mendekati sang istri "maafkan Saya ya.." ucap Vino lirih.


"hm? untuk apa Mas?"


"kuliah kamu pasti terganggu nantinya.." ia menunduk, tentu saja ia mencemaskan keadaan dan psikis sang istri. menyelesaikan kuliah serta menerima gelar adalah hal yang sangat di inginkan Nurul.


"maaf karena merusak mimpimu.." ia menggenggam telapak tangan mungil itu.


Nurul menatap teduh ke arah Vino, ia tersenyum kecil melihat tingkah suaminya itu. "merusak? Nur nggak ngerasa ada yang rusak tuh, kecuali di sini heheh.." tunjuknya pada ulu hati yang terasa perih karena bawaan mual.


"cita-cita kamu Sayang.. nantinya kamu akan kerepotan dengan keadaan sekarang, maupun saat anak kita sudah lahir nanti."


"kenapa Nur harus repot? apa gunanya punya suami kaya hahhahahahha..."


"kamu mau menyewa babby sitter? biar Saya cari dari sekarang."


"bukan itu.. maksut Nur soal cita-cita. kan Mas sendiri bilang tanpa gelar pun Nur bisa melakupan semua nya. Galery Art, Studio desain, bahkan Museum. maka dari itu, ayo kita besarkan anak kita, dan bangunkan cita-cita Nur dengan apa yang Mas punya." raut wajah nya berseri saat membayangkan hal itu. tadinya memang ia bersikerad menunda, namun janin yang tengah di kandungnya seolah membuka naluri keibuan untuk menerima kodrat wanita yang sesungguhnya.


"waahh! tiba-tiba kamu jadi dewasa? apa ini bawaan bayi?" suasana harmonis itu seketika berubah jadi konyol karena ulah Vino.


"ck.. apaan sih! lagi serius juga๐Ÿ˜" ketus Nurul kesal.


"hahah.. maaf Sayang, habis kamu aneh tiba-tiba jadi dewasa hahah.. maaf. hhfff oke, kamu mau yang mana Sayang.. Museum? Studio? atau Galery? Saya cari lokasi nya sekarang."


"semua.. masing masing satu aja cukup kok heheheh.. tapi kalo bisa Galery nya dua Mas, soalnya Nur mau pajang semua hasil karya lukisan dari berbagai penyandang disabilitas." masa depan cerah.. batin Nurul sambil mengelus perutnya.


Vino tersenyum lalu berbisik di telinga Nurul "boleh.. setiap satu lokasi untuk satu anak๐Ÿ˜‰ kita sudah punya El dan si baby, berarti kita perlu mencetak dua lagi. deal??"


"hhhhh??" mata Nurul terbelalak mendengar persyaratan Vino.


"Deal." sahut El juga berbisik sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah Nurul. Vino pun mengacungkan jempol kearah putra sulungnya itu dengan senyuman bangga.

__ADS_1


... TAMAT...


__ADS_2