Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 110: Sinyal asmara


__ADS_3

Sore pun tiba..


matahari sudah hampir terbenam,Bian dan keluarga Nurul bersiap untuk pergi ke klinik nya Duma. namun terjadi sedikit drama karena si bungsu Ayu yang biasa nya mabuk ini tak mau duduk terpisah dari Dika,karena hanya Dika yang bisa mengatasi mabuk perjalanan nya saat di mobil.


Mobil Adit sudah berisi 5 orang yakni supir,Adit,Rianti,Dika,dan Ayu.


Nurul tidak kebagian kursi, jadi Rianti meminta supir yang lain mengambil mobil satu lagi untuk Nurul. tapi Bian yang merasa itu terlalu repot menawarkan agar dia naik ke mobil Bian.


Tadi nya Nurul meminta Dika dan Ayu masuk bersama ke mobil Bian karena ia canggung berduaan dengan lelaki di depan keluarga nya.


namun Ayu yang juga tidak mau jauh dari Rianti membuat keadaan menguntungkan bagi Bian karena Nurul dan dia hanya akan duduk berdua di dalam mobil.


"bisa pakai sabuk nya dek?" tanya Bian.


Nurul tak menjawab,ia sangat bingung karena sabuk mobil nya Bian berbeda dari mobil yang biasa ia naiki.


Bian dengan otak nya yang bersih tak bernoda pun dengan sabar mempraktikan memasang sabuk di tubuh nya sendiri sampai Nurul paham.


di sini lah timbul kenyamanan Nurul bila dekat Bian, karena Bian aura dan sikap nya sangat posistif tidak seperti Vino yang sudah lekat di mata Nurul sebagai kang sosor.


"yey.. udah bisa pak, ayo.."


ucap Nurul bangga.


"oke meluncur..." Bian menancap pedal gas nya menyusul mobil keluarga Nurul di depan.


...~~~~...


Di rumah sakit Dimas mendatangkan tamu tak teduga yakni si Cj yang akan membantu nya menuntaskan Sean.


ia datang bersama Vino, Dimas dan Vino menceritakan kepada Fani tentang semua rencana mereka agar sewaktu waktu ada serangan mendadak dari Sean Fani tak terkejut.


Karena Fani juga ingin Sean di tuntaskan,ia pun mengerti dan paham dengan tujuan suami nya.


ia juga mendengarkan penjelasan dari CJ agar tak salah paham nanti nya.


CJ berjanji akan membantu Dimas menuntaskan ini sebagai permintaan maaf kepada Fani karena telah membuat nya terkena gelombang beberapa waktu lalu.


setelah urusan dengan Sean tuntas ia berjanji akan pergi dan menikmati hasil kerja keras nya selama ini.


Fani percaya dan memaafkan, lagi pula orang lah yang menggiring ombak kearah rumah tangga mereka waktu itu, Fani yakin dan percaya kepada Dimas bahwa dia melakukan ini demi melindungi diri nya dan juga anak mereka dari monster psikopat itu. Dimas lega karena perang argumen yang selama ini selalu menjadi akar salah paham nya Fani sudah bisa di atasi. kini ia bisa fokus bagaimana menyusun rencana untuk membuat Sean di kurung seumur hidup atau di hukum mati karena perbuatan perbuatan nya di masa lampau dan kini.


Sekitar 2 jam lebih Vino,Dimas,Cj menyusun langkah. pertama mereka akan ke pengadilan untuk mengangkat kasus pemerkosaan nya Sean.


lalu mereka akan menuntut atas trauma psikis yang di alami korban bahkan sampai bunuh diri.


tak lupa Fani ikut nimbrung karena ia merasa ini sangat seru. seperti nya si dimdim yang ikut ikutan nimbrung agar serangan balik papa nya tersusun rapi.


...•••••...


Setelah selesai dengan urusan kantor dan Sean, Vino langsung meluncur ke klinik mama nya yang akan melakukan peresmian karena sudah di perluas dengan fasilitas lebih lengkap.


"tante Rianti datang nya sama Ran nggak ya.."


gumam Vino, sedikit ia bersemangat karena ada harapan akan bertemu dengan Nurul di sana.


...~~~~...


Para tamu undangan dan kerabat dekat Duma sudah hadir dan siap untuk menggunting pita peresmian. setelah Vino siap,baru lah pita di gunting. semua orang yang ada di sana bertepuk tangan dan memberikan selamat kepada Duma.

__ADS_1


Di tengah riyuh nya suasana para emak emak dokter dan bidan yang saling bersalaman.


Vino melihat wajah manis dari gadis idaman nya siapa lagi kalau bukan Nurul.


Bergaya lah Vino merapikan dasi,lengan kemeja serta rambut nya yang agak berantakan karena memang belum mandi. tapi baru beberapa langkah maju, tampak oleh nya sosok laki laki yang di anggap pembatas anatara diri nya dan Nurul siapa lagi kalau bukan Bian.


"wahh.. Nur nggak nyangka hampir semua orang disini kenal sama bapak" ujar nya takjub.


"hahah.. iya soal nya sebagian besar senior saya ada yang dari rumah sakit,bahkan kampus"


Tiba tiba terpikirkan oleh Nurul sejak kapan Bian ini menjadi dokter sekaligus dosen.


"di umur berapa bapak jadi dokter?"


"saya mulai jadi dokter saat umur 24 tahun"


"kalau jadi dosen?" tanya Nurul lagi.


"hmm.. belum genap setahun"


Suasana tenang mereka tiba tiba terusik dengan Vino,ia langsung menarik kursi dan duduk di sebelah Nurul.


"bagaimana hari pertama sekolah nya?"


"buruk.. tas Nurul putus gara gara bapak tarik tadi" sahut Nurul sedikit ketus.


"mereka sudah berbaikan ternyata.."


pikir Bian, karena Nurul sudah mau menjawab Vino.


"benarkah? kalau begitu nanti saya belikan yang baru" ucap Vino.


"nggak usah" ujar Nurul,karena mama nya memang sudah membelikan yang baru hanya saja dia belum memakai nya.


ucap Vino pada Bian. ia merasa kesal karena semenjak mereka kenal di mana ada Nurul pasti ada Bian.


"kenapa? dia tidak keberatan"


jawab Bian santai.


"bapak ngapain kesini? bapak kan anak tuan rumah jadi harusnya menyambut tamu"


kali ini Nurul terdengar mengusir Vino secara halus.


"saya mau lihat wajah kamu.." Vino secara terang terangan mengatakan itu hingga membuat Nurul gugup. karena sedikit kesal Nurul berdiri dan mengajak Bian pergi saja dari sana.


Di saat yang bersamaan seorang yang membantu di dalam acara tanpa sengaja menjatuhkan minuman dari nampan yang di bawa nya.


Vino yang masih duduk pun reflek langsung menarik Nurul ke pangkuan nya agar tidak tersiram oleh minuman itu.


bruukk...


tubuh mungil Nurul mendarat di pangkuan Vino, suhu tubuh nya pun mulai panas dingin di sertai detak jantung yang tak beraturan.


Dengan jarak sangat dekat dari wajah Nurul, Vino sampai menelan ludah karena jiwa agresif nya bergejolak.


"maaf Pak..." padahal Vino yang menarik nya, karena gugup bukan nya mengucapkan terimakasih Nurul malah meminta maaf lalu segera pergi dari hadapan Vino.


ia menutupi wajah nya yang terasa panas dengan kedua telapak tangan nya, di iringi Bian yang mengikuti nya.

__ADS_1


"beruntung di sini ramai, kalau tidak mungkin aku sudah hilang kendali" gumam Vino sembari menghirup aroma lembut Nurul yang masih tertinggal di sana.


Tanpa ia sadari ternyata Duma memperhatikan gelagat Vino sedari tadi. dari raut wajah Vino yang berbinar ia tau betul kalau anak bujang nya tergila gila kepada Nurul.


"kenapa harus dia sih Vin, kan masih kecil. lama lagi dong mama punya cucu" bisik Duma dalam hatinya.


...-...


...-...


"dek.. mau kemana?" Bian penasaran kemana tujuan Nurul.


Karena di rasa sudah cukup jauh dari keramaian, Nurul duduk di kursi yang ada di belakang klinik.


"malu Nurul pak.." sahut nya dengan wajah merah.


"kenapa malu? kan tidak sengaja"


ujar Bian.


"tapi rasa nya malu banget pak.. jantung Nur sampai mau meledak ini jadi nya" ia mengatur nafas nya sebisa mungkin agar rileks.


"karena kamu suka sama dia?"


Bian bicara dengan santai nya.


"suka? ahh! ngarang bapak"


"kalau jantung berdebar saat dekat seseorang, itu tanda nya kamu suka sama dia"


"kemarin Nur di stop polisi gara gara boncengan sama temen nggak pakai helm, deg deg'an bukan main pak. apa itu tanda nya Nur suka sama pak polisi nya?"


Kali ini otak emas nya Bian tampak tak berfungsi menghadapi polos nya Nurul.


"ya.. ngggak gitu juga dek, mungkin karena kamu takut sama polisi nya"


"nah ya itu.. Nur deg deg'an bukan karena suka pak Vino, tapi karena takut"


"takut apa? memang nya dia ngapain kamu?"


"dia... itu.."


Nurul bingung harus menjawab apa, ya kali mau bilang kalau dia pernah di cium Vino.


Bian mengamati wajah lucu Nurul yang kebingungan.


"kok bisa ada orang semanis dia.. andai sudah besar sudah ku jadikan hak milik ini anak"


batin nya sambil senyum senyum sendiri.


tampak nya hati yang selama ini tertutup rapat itu mulai mengeluarkan sinyal asmara.


"Ran..." suara Vino terdengar mendekat.


seperti nya ia menyusul Nurul kesana.


Karena tak ingin berjumpa Nurul langsung menarik tangan Bian dan meminta pergi saja dari sana.


"ayo kita pulang pak.." ujar nya sambil berlari.

__ADS_1


Bian yang pasrah hanya bisa ikut berlari sambil tersenyum salah tingkah.


...********...


__ADS_2