
Gubrrakkkk!!!!!
Dimas langsung berlari cepat menuju kamar mandi saat mendengar Fani yang seperti nya terjatuh.
"Fani..? kenapa kamu sayang??" Dimas menggedor pintu kamar mandi nya.
"aaaahhhhwww.. Fani kepeleset Mas.." Fani meringis kesakitan sambil memegangi pinggang nya. ia jatuh dengan posisi duduk tanpa sehelai benang pun yang menempel di badan nya.
karena ia belum sempat mengenakan handuk.
"bisa berdiri nggak? atau Mas bantu??.."
"NGGAK..! aku kan nggak pakai baju.. aduhhhh mana handuk nya jauh banget lagi.." gumam Fani ketakutan.
ia berusaha mengambil handuk yang masih tergantung di dinding,namun sia sia usaha nya karena pinggang nya ngilu untuk bergerak.
"gimana sayang.? kamu bisa berdiri?" tanya Dimas lagi.
Fani: "nggak Mas,, sakit banget pinggang Fani."
Dimas: "kalau gitu Mas masuk ya.."
"Jangann... Fani masih polosan.." ujar nya setengah teriak dengan wajah panik.
Dimas hanya tersenyum kecil mendengar itu, tubuh nya seketika meronta ronta saat membayangkan sang istri yang sedang polosan tanpa sehelai benang pun.
"trus gimana?? kamu mau sampai besok di situ?"
Dimas seperti nya sangat senang dengan situasi terjepit ini. (dasar om om lucnut. bininya jatoh malah girangπ€£)
"gini aja deh.. Mas masuk dan kasih kamu handuk dulu. janji Mas akan tutup mata nggak bakalan ngintip."
"beneran yaa...janji??!!" ujar Fani meyakinkan.
"janji.." sahut Dimas sambil tersenyum penuh makna.
Dimas pun mengambil handuk di lemari lalu segera kembali lagi ke sana.
"Mas buka pintu nya ya.. kamu arahin posisi kamu dimana."
"iyaa.." sahut Fani gugup.
ceklek...
pintu kamar mandi terbuka perlahan dan Dimas pun memasuki kamar mandi dengan mata terpejam sambil menenteng handuk di tangan nya.
"Dimana sayang??" tanya Dimas sambil berusaha meraba raba dinding kamar mandi.
ya karena kamar mandi nya terlalu luas,jadi sulit langsung menemukan posisi Fani.
"trus Mas.. pelan pelan.."
"kekanan dua langkah .."
"iyaa maju terus Mas.."
Fani mengarahkan Dimas seperti tukang parkir di pasar.
sementara Dimas mengikuti dengan patuh arahan Fani sambil terus meraba raba dinding seperti orang buta.
Fani tak memperhatikan kalau ada satu anak tangga di depan nya,dia hanya mengatakan "maju terus Mas, hati hati." kepada Dimas.
Dimas yang tak bisa melihat apa apapun hanya menuruti Fani sambil terus melangkah kan kaki nya dan...
brruuuukkkk.....
__ADS_1
kaki Dimas tersandung anak tangga itu hingga membuat tubuh nya oleng dan akhir nya terjatuh tepat di atas tubuh nya Fani.
reflek dong Dimas membuka mata karena penasaran di mata diri nya jatuh.(kok empukk) batin Dimas.
Dan saat membuka mata nya Dimas langsung bertatapan dengan dua benjolan yang tak asing bagi nya,namun pertama kali melihat ini pada Fani.
ggllekkk....
Dimas sampai menelan ludah nya saking tak percaya.
"bukan mimpi kah?" batin nya sambil terus melotot memandangi dua gunung himalaya yang putih mulus seperti tertutup salju itu.
Fani mematung di tempat dengan mata hampir lepas serta mulut terbuka akibat syok sudah jatuh tertimpa duren pula.π€
jantung nya pun tak kalah lincah nya seperti memberontak ingin keluar dari sana.
Dimas tersadar pada misi awal nya dan baru lah ia percaya kalau ini bukan lah mimpi. ia menaikkan pandangan nya ke wajah Fani yang masih membeku tak bergerak.
"ekhmm...hmm.." mereka berbarengan berdeham agar suasana tak mematung seperti itu.
"m..Mas udah bertahan Fani..tapi takdir berkata lain." ujar nya dengan nafas berderu kencang.
tangan nya meremas kuat handuk yang di bawa nya.
" dingin.." ucap Fani gugup,ia berniat memberi kode agar Dimas segera membawa nya ke kamar dan agar dia bisa segera memakai baju.
Namun otak Dimas yang terlanjur traveling malah salah mengartikan kode itu. ia memeluk tubuh bug*il Fani dan menyosor leher nya yang sedari tadi menantang untuk di jamah.
tangan Dimas pun meraih tuas shower yang tak jauh dari sana,mengguyur lah air dari atas membasahi mereka berdua. membuat gairah Dimas yang sudah lama terbendung jadi mengganas.
Fani tak bisa berkutik lagi di buat Dimas,ia merasakan sensai yang bercampur aduk di tubuh nya antara takut,merinding dan juga ahh mantap.
begitu lah akhir nya tragedi Malam pertama mereka bermula. di bawah guyuran shower Dimas melepaskan semua keinginan nya yang sudah menggunung bak tumpukan es di Antartika.
malam ini ia melelehkan semua es itu dengan gairah yang menggebu gebu.
Pagi hari nya....
Dimas terbangun dari tidur pulas nya..
ia mengerjapkan mata nya perlahan,lalu memandangi jam dinding yang menunjukkan sudah pukul 08:00.
"aakhhhh... kenapa badan ku sakit semuaa.."
Dimas menggeliat dan meregangkan tangan nya ke atas.
lalu ia tersadar bahwa ada yang aneh,ya tubuh nya yang hanya tertutup selimut tanpa selembar pakaian karena habis baku hantam tadi malam.
"ahahha... ternyata itu bukan mimpi... hihihihi"
Dimas berguling ke kanan dan kekiri kegirangan saat menyadari bahwa kejadian tadi malam bukan lah mimpi belaka.
Lalu ia tersadar bahwa Fani sudah tidak ada di kamar. biasa nya Fani tak pernah bangun sebelum diri nya.
Dimas yang over thingking langsung berlari ke arah lemari baju dengan selimut yang masih melilit di tubuh nya,bukan untuk mengambil baju nya lalu di pakai.
melainkan untuk memerika masih ada atau tidak baju Fani di sana.
ia langsung kepikiran bahwa Fani minggat dari rumah karena diri nya melanggar janji untuk tetap menunggu.
"hhhhffff.... baju nya masih ada berarti dia tidak pergi..." Dimas menarik nafas lega.
"ehh. tapi kan bisa aja dia pergi tanpa bawa baju.
bagaimana kalau dia marah pada ku lalu pergi jauh dan nggak balik lagi. jadi duda lagi aku?? aihh..." wajah Dimas berubah panik lagi karena berpikiran yang tidak tidak.
__ADS_1
"nggak nggak.. Dimas.. tenangkan diri mu.. dia nggak mungkin pergi karena adik adik nya ada disini, tapi nama nya orang marah bisa aja kan? atau dia bawa adik adik nya juga."
"aaahhhhh. mikir apa sih kamu Dimas..!!!!"
Dimas terlihat sangat panik dan frustasi seperti orang gila. dengan rambut acak acak kan dan selimut yang menjutai bak gaun pengantin ia mondar mandir di kamar nya.
di buka nya gorden yang menutupi kaca besar di sisi depan kamar agar mendapat sedikit ketenangan.
Seketika raut wajah nya berubah jadi sumringah dengan senyuman yang mengembang di bibir nya.
" Fani..?" ujar nya lirih dengan mata berbinar.
ia mendapati Fani sedang menyimari bunga anggrek kesayangan nya di taman depan dengan rambut terurai setengah basah karena habis keramas.
terlihat Fani sangat ceria sembari mengguyuri bunga anggrek itu dengan penuh kasih sayang bak anak sendiri.
"hhh.. jadi dia nggak marah dengan ku?sshhh lihat senyum itu.. bahkan sangat indah dan ceria." ujar Dimas girang sambil terus mengamati Fani dari balik kaca.
ia pun melamun dan membayangkan kembali momen sakral tadi malam sambil senyum senyum sendiri. tanpa ia sadari Fani sudah masuk ke kamar.
"Mas...." Fani menepuk bahu Dimas agar tersadar dari lamunan nya.
"kamu..? kok udah di sini?"
Dimas heran karena perasaan tadi Fani masih menyiram bunga di luar.
"ngelamunin apa sih Mas pagi pagi?? buruan mandi kita sarapan bareng." Fani bergegas ke ruangan pakaian untuk menyiapkan baju Dimas.
sebenarnya ia masih canggung karena momen semalam,tapi ia tak ingin terlalu kentara kalau sebenar nya ia gugup kalau dekat dengan Dimas.
Dimas mengikuti Fani ke ruang pakaian.
"kamu nggak marah sayang??"
"soal apa?" Fani tak mengerti dengan pertanyaan Dimas.
"anu.. tadi malam.." ujar Dimas terbata.
"k..kenapa marah? bukannya itu wajar terjadi pada orang yang udah menikah." Fani pun menjawab dengan gugup serta wajah merah dan panas.
"terimakasih sayang..." Dimas memeluk tubuh Fani hingga tenggelam di dada nya.
"mandi dulu.. bau keringet Mas..."
Fani merasa tubuh nya panas dingin lagi kala bersentuhan dengan Dimas.
"hahaha.. iya sayang.. Mas mandi dulu ya."
"wwuuuhuuuu.... yesss...." batin Dimas kegirangan sambil membalikkan badan dan mengepalkan kedua tangannya di depan dada.
sehingga membuat selimut yang sedari tadi ia jepit di ketiak melorot sampai ke kaki.
tapi Dimas dengan santai meninggalkan selimut itu dan berjalan tanpa sehelai benang pun
ke kamar mandi."tau dia nggak marah dari kemarin kemarin ku sikat habis.." batin nya sambil tersenyum lebar.
Sementara Fani terduduk lemas di depan lemari karena ulah Dimas yang terlalu bar bar menanggalkan selimut itu di depan mata nya.
"ck..orang tua itu...." gumam nya dengan wajah lemas hampir tak sadarkan diri.
...*********...
**Makasih banyak buat support para readers sejauh ini... π
sehat terus yaa kalian biar bisa nemenin kisah cinta Fani dan Dimas sampai tuntas.
__ADS_1
Love u Allππππππ**