Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
Bonus chapter I


__ADS_3

Britania Raya - Southall - London.


Dua belas hari sudah Vino memulai pencarian rumah orang tua Zey, alamat yang di berikan orang suruhan nya ternyata tak pasti sebab di ketahui orang tua Zey kerap berpindah rumah setiap bosan dengan suasana nya.


Tapi kali ini Vino beruntung, karena orang tua Zey masih di titik yang sama.


(anggap aja dialog nya pake bahasa inggris ya๐Ÿ˜)


"permisi..." ucap Vino menyapa sepasang pasutri paru baya dengan dua anak lain nya.


mereka tampak menikmati sore hari sambil meminum teh bersama.


"iya..? ada yang bisa kami bantu?" tanya pria berdarah Cina-Indo yang tak lain adalah papa nya Zey.


"apa benar ini kediaman orang tua Shu Zeyra?"


tanya Vino.


"iya benar.. ada apa?"


"saya kekasih nya.."


terpaksa Vino harus berbohong, apa kata keluarga nya nanti jika dia bilang hanya teman,tapi sampai menghamili Zey.


"hah.. benarkah? ayo masuk kalau begitu.."


papa nya Zey membukakan pagar depan lalu menyuruh Vino masuk.


"mam.. suruh anak anak masuk, kita punya tamu" ucap papa nya Zey.


mama nya pun langsung menyuruh dua anak remaja nya untuk masuk ke rumah.


"ohh.. silahkan silahkan..


where you from?" mama nya Zey tampak sangat ramah menyambut Vino.


"Indonesia, Aku dari sana"


sahut Vino tersenyum ramah.


...-...


"apa kalian bertengkar?" tanya kedua orang tua Zey.


"mm.. ya,, aku rasa kami sedikit bertengkar tempo hari" Vino tampak bingung.


Orang tua Zey saling menatap penuh tanya.


"apa pertengkaran hebat?


soal nya dia membawa semua surat penting, dari akte kelahiran sampai mengurus surat pindah domisili. dia tidur di sini sampai beberapa hari yang lalu, ia juga bilang sudah berhenti dari dunia entertainment. apa yang terjadi sebenarnya?"


"apa? pindah? jadi dia tidak di sini?


kemana dia pindah?"


"ntah lah.. anak itu tak pernah memberitahu kami kemana dia pergi. dia hanya akan pulang kerumah ini sesuka nya lalu pergi begitu saja"

__ADS_1


ya, memang begitu lah kelakuan Zey dari dahulu kala. ia selalu ingin berdiri sendiri tanpa campur tangan orang tua nya dengan kebebasan sebagai alasan nya.


"Swiss... aku melihat itu di tiket nya tempo hari"


ucap adik lelaki Zey dari depan pintu.


Vino mengusap wajah nya, rasa nya ia ingin kembali ke Indonesia saja karena putus asa.


Swiss itu salah satu Negara yang tak pernah di sambangi nya. London saja yang bisa di bilang tanah air kedua nya sangat susah untuk menemukan alamat orang tua Zey.


"jangan putus asa Vino.. anggap saja kau sedang berpetualang.." batin nya.


...~~~~...


Beberapa bulan kemudian...


Sepergi nya Vino, hari hari Nurul terasa hambar dan sunyi karena sosok yang biasa menghantui nya hilang bak di telan bumi. ingin rasa nya ia memanggil semua hantu di muka bumi ini agar ada yang menggantikan posisi Vino.


"dek.. sudah sampai nih.." ucap Bian.


ia menjemput Nurul hari ini berhubung jam tugas nya sudah habis.


"makasih bapak..." Nurul menundukkan kepala sambil tersenyum.


"hahahha iya... jangan lupa besok.."


Bian mengingatkan Nurul agar tak melupakan janji mereka untuk menonton pameran di museum.


"iyaa.. ingetin maka nya, Nur gampang lupa.." ucap nya sambil melambaikan tangan ke mobil Bian. semenjak tak ada Vino kian hari mereka semakin dekat, sosok Bian yang lemah lembut dan positif memberikan energi tersendiri untuk Nurul. namun tetap saja hari nya hampa karena tak ada sang Aligator yang mengusik nya.


"hhhffff... seperti nya aku nggak gampang lupa"


Lalu Viona? dia hampir saja membunuh Bian karena secara gamblang membatalkan janji nya untuk melamar. namun di sisi lain Viona masih sabar menanti, ia yakin suatu saat nanti Bian akan mencintai nya.


...~~~~...


Dimas dan Fani kini sudah kembali ke rumah mereka sendiri, suasana rumah menjadi sangat ramai karena di isi oleh tangisan,tawa bahkan ocehan Disha dan Difa yang menambah kehangatan mereka.


Selama kelahiran buah hati nya, Dimas bahkan jarang ke kantor, ia memantau semua aktifitas kantor nya dari rumah. jika ada kepentingan mendesak, baru lah Dimas berangkat ke kantor nya. ia ingin menyaksikan kedua anak nya tumbuh, karena momen ini lah yang telah lama ia nanti nantikan.


"ica... Difa.. sini cepet cepet.. mama kasih permen.." Fani menghentakkan sebungkus permen kapas ke lantai untuk menarik perhatian anak nya.


"sama papa sini nak.. papa punya beruang bisa joget nih sini..." Dimas tak mau kalah, ia membunyikan boneka beruang Teddy yang bisa menari untuk anak anak nya.



Baby Ica dengan riang nya mengejar boneka Teddy yang sedang berjoget meliuk liuk dengan lampu warna warni di kaki nya. sedangkan baby Difa malah asik bermain dengan bayangan nya,


ia sama sekali tak menghiraukan mama papa nya yang tengah heboh berlomba menarik perhatian mereka. dari sini kita bisa lihat, siapa yang memberi Fani tenaga untuk menghancurkan pintu lemari dan juga pintu kamar mandi rumah nya.


"ahahahaha... Ica anak papa, gembul nya papa... suka boneka joget ya.. nanti papa belikan biduan nya.. eh maksut nya boneka nya lagi..." hampir saja Dimas mendapat cubitan kepiting dari Fani.


"jangan ngarang ya Mas.. Fani perass nanti bibir Mas itu kalau macem macem" ancam nya sambil melempar tatapan panas.


"hehehe.. nggak lah sayang..


mana mungkin Mas begitu.. sini sini..

__ADS_1


Mas punya permen.. sini.." gantian ia menggoda Fani persis seperti ia menggoda baby nya.


"uuuwaaaaa...!!" tiba tiba baby Difa berteriak, mungkin ia ingin di ajak bermain dengan papa nya.


"iya nak... mau main sama papa iya.."


Dimas sigap mengangkat Difa dan meletakkan di pangkuan juga.


"bababa... waaa..." oceh baby Difa sambil memainkan air liur nya.


"apa? ohhh.. Difa minta adik?


nanti ya papa bilang sama mama dulu.."


Dimas melirik nakal ke arah Fani dengan senyum hangat nya.


"halah.. Mas mah ngawur..


anak sendiri di fitnah"


"nggak fitnah sayang.. kamu sih nggak ngerti bahasa mereka"


puuukkk....!


baby Ica memukul bibir Dimas dengan kepalan mungil nya.


"hhahhahha... tuh, Ica keberatan kata nya"


gelak tawa Fani lepas melihat bibir Dimas terkena pukulan Ica.


"mmmmm....."


Dimas menyedot sekejap bibir Fani karena menertawakan nya.


"kena kamu kan.. ketawa lagi sini, Mas masih mau..." goda Dimas sambil merangkul mesra pinggang Fani.


"hehehe.. nanti aja ya, tunggu mereka bubuk"


ucap Fani berbisik.


"aahhh.. sayang.. kemarin juga bilang nya gitu,


pokok nya kali ini harus.."


"yaa siapa suruh Mas ketiduran.."


"kamu sih nggak bangunin Mas.


pokok nya malam ini Mas tunggu"


"bbbbaaababaaaa...! aaaaaaaa..!"


pekik Ica dan Difa berbarengan, mereka malah baku pukul di pangkuan Dimas saat orang tua nya sedang merencanakan baku hantam.


"waduh waduh... gembul papa ini memang paling jago kalau suruh nyiksa adik nya.."


Fani segera mengambil Difa yang menangis karena kalah adu pukul dari Ica, ya begitu lah keseharian mereka, kegiatan selalu di akhiri dengan baku pukul dan sudah pasti Difa yang selalu menangis. definisi cowok selalu mengalah seperti nya sudah tertanam di diri Difa sejak masih dalam kandungan.

__ADS_1


Malam pun di lewati dengan Fani yang menina bobokkan baby twins mereka, sedangkan Dimas memeluk nya dari belakang sambil duduk menonton televisi bersama.


...********...


__ADS_2