
nih..." Nurul memberikan kotak PK3 itu pada Vino.
"sshh..kamu bisa bantu saya? tangan saya luka kedua dua nya" Vino sengaja mendramatisir luka yang tak seberapa itu.
"bisa.. tapi Nur nggak mau.
Nur panggilin bibik aja ya.."
Nurul segera berbalik badan hendak memanggil bibik Art.
Tetapi....
ssett...
Vino menarik lengan Nurul lumayan keras hingga membuat nya terduduk tepat di sebelah Vino.
"saya mau nya kamu..."
tatapan Vino membuat Nurul gugup dan merinding hingga tembus ke pori pori.
"nggak mau.." ucap Nurul gugup sambil menggelengkan kepala nya perlahan.
"kalau saya mau kamu harus mau!"
Vino menekan suara nya dan tambah mengeratkan genggaman nya di lengan mungil Nurul.
Namun ia tetap menggelengkan kepala nya sambil menggeser tubuh nya sejauh mungkin.
"nggak mau Pak.."
kejadian di basemen hotel itu tiba tiba terlintas di pikiran nya hingga membuat tubuh nya semakin panas dingin.
"hmm..? apa kata mu?"
Vino sengaja mendekatkan tubuh nya ke arah Nurul hingga hampir membuat nya terpojok.
Nafas Nurul mulai tak beraturan, kesadaran nya mulai hilang tapi karena saking tak karuan rasa nya, ia bahkan tak bisa menuruti saraf otak nya yang sudah hampir tak sadarkan diri.
"iya Pak.. iya.. mau"
ujar nya dengan nafas tesengal sengal seperti habis di kejar setan.
"nah.. begitu dong"
Vino senyum menaikkan sebelah garis bibir nya.dengan terpaksa dan penuh tekanan batin,Nurul membersihkan luka di tangan Vino.
"saya yang kesakitan kok kamu yang gemetaran?"
Vino tersenyum dan menaikkan sebelah alis nya.
"Nur juga sakit pak.." sahut nya refleks.
Vino: "dimana??"
Nurul: "hah? apa nya yang di mana Pak?"
Vino: "sakit nya?"
"kan Bapak yang sakit,kok tanya sama Nur?"
Nurul kebingungan,seperti nya ia tak menyadari kalau barusan bicara melantur.
"sshh.. ni bocil sering banget loss koneksi kalau lagi salah tingkah" batin Vino senyum senyum sendiri.
Sambil mengobati tangan Vino,Nurul sedikit mencuri curi pandang kepada Vino yang
terus menatap nya dengan tatapan aneh.
"kenapa sih akhir akhir ini Pak Vino aneh"
gumam nya dalam hati.
drrrtt...drrrtt....
Ponsel Vino bergetar tanda panggilan masuk. tertulis nama penelponnya adalah Zey.
__ADS_1
"hallo?"
"hallo Vino,kau sibuk?"
ujar Zey dari seberang telepon.
Vino tak langsung menjawab,ia memandang ke arah Nurul dulu beberapa detik.
"sekarang iya. ada apa?"
"aku akan pindah dari hotel nanti malam, jadi aku minta bantuan mu.
aku bingung mau minta tolong ke mana,ya kau tau sendiri kebusukan ku masih semerbak di mana mana" suara Zey terdengar sangat rapuh hingga membuat siapapun yang mendengar nya ingin memeluk dan menguatkan nya.
"baik lah.. aku akan datang nanti malam, jangan khawatir aku akan membantu mu dengan senang hati" di sisi lain Vino terdengar memberikan kekuatan dan semangat kepada Zey.
"astaga Nur.. kamu mikir apa sih? masa kamu lupa kalau Pak Vino dan tante Zey itu pacaran" ucap nya dalam hati, pipi nya sampai keram karena merasa sangat malu.
bukan Vino yang aneh,hanya saja ia yang terlalu berpikiran negatif.
begitu kira kira pikir Nurul.
...~~~~...
Setelah lebih dari satu jam mengalami tantrum,Fani akhir nya bisa lebih tenang di setelah di berikan sedikit terapi dan obat penenang oleh ahli psikolog.
trauma? sudah pasti.
siapa orang yang tetap tenang saat nyawa nya dalam bahaya bahkan saat ia tengah mengandung.
"apa istri saya akan baik baik saja dokter?"
tanya Dimas pada ahli psikologi tersebut.
"saya sarankan minggu ini setidak nya kontrol lagi minimal dua kali untuk memastikan apakah istri bapak bisa mengatasi trauma tersebut atau tidak"
"tapi tidak berpengaruh buruk pada kesehatan istri dan calon anak saya kan dok?" tanya Dimas lagi.
"kalau si ibu bisa mengatasi nya,mudah mudahan janin yang di kandung juga baik baik saja,dan di sini Bapak selaku suami nya berperan penting untuk menjaga psikis si Ibu agar tidak memikirkan hal hal yang ia takuti"
untuk kondisi ini Fani dan calon bayi nya termasuk hebat karena tidak ada perubahan yang signifikan hingga menimbulkan dampak buruk bagi kedua nya.
Sepergi nya sang Dokter, Dimas kembali meneteskan air mata nya sambil terus menatap Fani yang tengah tertidur.
"Maafkan Mas ya sayang.. kamu harus menanggung semua ini karena Mas"
ucap nya lirih.
ia merasa sangat bersalah karena tak bisa menjaga istri nya dengan baik,di tengah kondisi nya yang sedang mengandung ia malah terus terusan di hadapkan oleh segala macam musibah.
Fani terbangun dari tidur nya saat merasakan air mata menitik di tangan nya.
"Mas..." panggil nya pelan.
Dimas menarik nafas dan mungkin juga ingus nya. hhhzzzfff......
"iya sayang?? kenapa?"
Fani yang mengira kalau diri nya sudah meninggal terheran kala melihat Dimas.
"Mas masuk surga juga??"
"hah?" Dimas terkejut plus ingin tertawa,antara takut dan geli melihat sang istri melantur. memang dokter menjelaskan tadi obat penenang nya akan memiliki efek samping seperti obat bius.
Dimas pun memanggil Dokter yang menangani Fani.
...-...
...-...
Tatapan Fani terpaku pada Dokter yang memang tampan,ya 11 12 lah dengan Dimas.
"wahhh.. ternyata pangeran surga bener bener ganteng banget ya..
apa aku juga jadi bidadari surga?"
__ADS_1
ujar Fani dengan mata setengah terbuka.
"hehe.. bidadari,ayo periksa suhu badan nya dulu ya.." ujar sang Dokter tampan itu sembari menyelipkan termometer di lubang telinga Fani.
Fani yang sedang lupa jati diri pun senyum tipis tipis dengan wajah bersemu merah.
"harus kah aku bersyukur,atau menangis?"
gumam Dimas pasrah.
namun seperti nya ia harus bersyukur karena Dokter menyatakan kalau keadaan Fani sudah stabil,tinggal menunggu pemulihan psikis nya yang terganggu akibat kegilaan Sean.
...~~~~...
Di sisi lain..
Sang calon pengantin baru yakni pasangan beda elemen sedang memantau persiapan dekor gedung pernikahan mereka.
"kau yakin mau pakai warna ini??"
Riko mengernyitkan alis nya saat melihat dekorasi bunga bunga di dominasi warna pink.
"kenapa?? kau kan bilang terserah ku, kenapa kau protes?" sahut Mila terlihat kesal.
"tapi ini berlebihan Mila..!
Pak..pak..tolong warna ini di kurangi atau hilangkan saja! tambahkan warna putih atau silver agar lebih elegant dan mewah"
pinta Riko pada kepala tim wedding organizer.
"apaan sih!? jangan dengerin dia Pak,di sini saya yang berkuasa" Mila tersenyum sinis ke arah Riko.
"aku akan menyetujui kau berkuasa tentang ini asal setelah acara aku yang berkuasa.!"
bisik Riko dengan suara berat dan nada sensual.
Otak Mila berpikir keras,apa maksut nya?
"oke! setuju!" jawab nya tanpa ragu.
selamat Mila,anda kena jebakan betmEn.
sementara Riko hanya tersenyum bengis melihat Mila yang amat mudah di bohongi.
Saat sedang asik membuat kesepakatan,seorang petugas WO lewat dengan seember air di tangan nya. ia berniat mengisi kolam mini yang ada air mancur nya di depan pelaminan.
namun karena kewalahan ia kepeleset hingga membuat air itu mengguyur Riko.
byyyuuuurrrrrr..
Dalam hitungan detik tubuh gagah Riko yang hanya di balut kemeja putih pun basah kuyup. tentu saja itu membuat dada kekar dan roti sobek nya terpampang jelas hingga para wanita yang ada di sana terpana.
tak hanya para wanita, Mila pun tanpa sadar terpesona hingga ia menelan ludah.
"maaf Pak maaf.. saya nggak sengaja"
ucap staff WO tersebut sambil membungkukkan badan.
"kau tidak punya mata hah?!!"
Riko meninggikam suara nya.
"maaf Pak.." staff itu kembali membungkukkan badan.
"haishh kau ini,dia kan sudah minta maaf"
Mila menyeret tangan Riko.
"dia harus di marah agar tak melakukan kesalahan seperti itu" sahut Riko ketus.
"ck..ck.. lupakan jabatan mu! ini bukan di kantor" imbuh Mila dengan tatapan lurus ke arah aset nya Riko.
Riko tak membalas perkataan Mila,namun tetap menggerutu dalam hati nya.
...********...
__ADS_1