Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 77: Was-was


__ADS_3

Sambil mengawasi El berenang, Nurul tampak gelisah. dia sendiri tak tau darimana kegelisahan itu berasal. pikirannya terus melayang ke Vino seperti khawatir, cemas dan bingung menjadi satu.


Tak ingin merasa stress, Nurul pun berniat membuka internet guna mencaritahu apa penyebab kegelisahan itu. ya ia berharap itu hanya efek menjelang datang bulan. biasanya kan tingkat kesensitifan wanita jadi meningkat kalau mendekati siklus menstruasi.


Cemas dan terus kepikiran suami, apa penyebabnya? begitu kata kunci yang ia ketik di kolom pencarian.


Ia terus menarik layar ponselnya ke atas, namun bukannya bertambah tenang ia malah merasa tak masuk akal dengan jawaban di internet tersebut.


Hanya ada dua hal memungkinkan, yang pertama apabila anda terus merasa cemas saat memikirkan suami/pasangan anda, bisa jadi itu pertanda suami anda dalam bahaya. tulis beberapa artikel yang tertera di sana.


Beberapa artikel lagi menyebutkan jika anda terus merasa khawatir dan was-was terhadap pasangan anda, maka waspadalah. bisa jadi pasangan anda tengah mencintai atau sedang di cintai oleh orang lain.


"ch! artikel apa ini?!" rutuk nya kesal. seketika ia jadi emosi dan ingin sekali melempar ponsel itu ke kolam renang. bukannya tenang eh malah bertambah was-was.


Kalau tentang artikel yang kedua, Nurul tak terlalu percaya. tapi yang pertama? itu sangat membuatnya gelisah karena Vino sedang tidak ada di rumah sekarang.


"hhhhfff.. posistif Nur! Mas Vino sedang baik-baik saja. positif..." lirihnya menenangkan diri sendiri.


...-...


...-...


Di seberang sana Nurul berdoa Vino baik-baik saja. tapi pada dasarnya Vino sedang tidak baik-baik saja sekarang. ya, Vino tengah menghadapi cobaan besar yakni Rey.


Masih di waktu yang sama, Adit masih mengintrogasi Rey. dan Ayu masih berdiri kaku di sebelah Dimas sambil menatap Rey dengan tatapan geli.


"Aku mempunyai kenalan yang ahli mengatasi LGBT. biasanya dia mendatangi pasiennya ke rumah apabila masih dalam kondisi seperti kamu ini." tutur Adit, tampaknya ia bersungguh-sungguh ingin membantu Rey.


"kalau kamu bersedia, aku akan mengundangnya nanti sore. datanglah ke rumah kami untuk mengetahui kau suka atau tidak dengan mode terapinya." sambung Adit lagi.


Bagaikan rejeki nomplok. senang bukan kepalang Rey mendengar Adit menyuruhnya datang kerumah mereka nanti, itu berarti dia akan bisa melihat Vino lebih lama kan?


"baiklah.. Saya akan mencoba.." Rey mengangguk.


Apakah baru kali ini Rey mencoba berobat dan bertaubat? tentu tidak. beberapa tahun yang lalu Rey sampai ke tiga ahli Psikologi untuk meminta bantuan. namun yang terjadi bukannya perubahan, Rey malah menyukai ketiga Psikologi itu yang menurutnya memang tampan.


Dan Adit pun sudah bisa menduga hal itu, maka itu dia menawarkan kenalannya yang sudah berumur 50 tahunan, sudah cukup tua lah untuk meminimalisir Rey jatuh hati.


Lain dengan Adit yang bisa menerima ini dengan lapang dada, Dimas malah belum percaya jika Rey sungguh menyukai sesama jenis.

__ADS_1


"sssh.. aku masih belum percaya ini. sungguh ini seperti mimpi. aku tidak percaya sekertaris kepercayaan ku seorang pecinta .... hhhrrr... kau benar benar yakin? tidak sedang bercanda? lihat ini, lihat dia baik-baik." Dimas mendorong Ayu ke hadapannya.


"apa kau sama sekali tidak tertarik? dia sangat cantik untuk anak seusianya. kau yakin tidak merasakan debaran di dada mu hm?!" ia memutar tubuh Ayu ke kanan kiri seperti pajangan. sedangkan Ayu belum bisa buka mulut karena masih syok.


"yang di sebelah lebih menarik.." sahut Rey menatap ke arah Vino.


"ighh!!! amit amit jabang bayi!!!" Vino sampai mengetuk meja di sebelahnya agar terjauh kan dari kutukan semacam itu.


...-...


...-...


Setelah sepakat merahasiakan tentang Rey, mereka pun melanjutkan kegiatannya masing-masing. Dimas kembali bekerja, namun kali ini sedikit was-was, takutnya malah di lirik oleh Rey.


Sedangkan Adit, ia melakukan inspeksi di bagian statistik penjualan di ikuti beberapa pengawalnya.


Ayu dan Vino juga hendak pulang, namun belum selesai masalah Rey. Vino di buat jengkel lagi dengan ban mobilnya.


"ya ampun!!" ia menendang ban mobilnya sekuat tenaga, lumayan buat ngurangin emosi jiwa.


...~~~~...


Sementara itu di dapur, Nurul dan Fani dengan lihainya menghias cake dua tingkat berwarna pastel sebagai hadiah kecil dari mereka.


Karena kedua bersaudara itu kini telah bergelar menjadi seorang ibu, tidak lengkap rasanya jika kegiatan itu tak di barengi dengan bisik-bisik rumpi.


"kak.. selama pernikahan, kakak pernah nggak merasa was-was kepikiran Mas Dimas." tanya Nurul sambil berbisik. sepertinya hati dan pikirannya belum tenang saat itu.


Dahi Fani mengerut di sertai bola mata memandang ke atas. "mm... sering sih, apalagi waktu hamil si kembar, bawaannya was-was terus."


"emang kenapa?" lanjut Fani bertanya balik.


"dari pagi tuh Nur kepikiran terus sama Ayahnya El, kaya nggak tenang gitu kak. kira-kira kenapa ya?" ia berharap sang kakak bisa memberikan jawaban yang bisa menenangkan pikirannya.


"jangan jangan..."


Nurul mendengarkan dengan seksama, ia terlihat sangat mengamati mimik wajah serius kakaknya.


"kamu hamil.." lirih Fani sambil tersenyum.

__ADS_1


"ih kakak! kirain kenapa.." dengus Nurul kesal.


"loh...seharusnya kamu senang dong kakak nebak begitu. gimana? udah telat?" Fani terlihat masih penasaran, akankah ia mendapatkan keponakan baru?


"belum kak, lagian Nur dan Ayahnya El juga sepakat untuk nunda dulu. masih mau fokus kuliah."


Fani mengangguk saja "mm gitu, tapi jangan lama-lama nunda nya ntar Suami mu bikin anak sama orang lain loh hahahhahahha..."


Tawa melengking Fani seolah membuat Nurul tersungkur ke semak belukar paling dalam. baru terpikirkan olehnya, bagaimana jika ternyata Vino bosan menunggu kesiapan dirinya lalu pergi ke wanita lain seperti yang di ucapkan Fani barusan.


Semakin gundah gulana pikiran Nurul memikirkan hal itu. "akhh! nggak nggak! nggak mungkin Mas Vino begitu, dia sendiri kan yang buru buru menikahi aku, dan bersedia menungguku siap memberinya anak. nggak mungkin dia begitu." gumam Nurul menepis pikiran kotor terhadap suami nya.


Tak lama berselang, pulang lah Adit dan yang lainnya. namun Adit malah bingung melihat hiasan bunga mawar putih di setiap sudut ruangan.


"Ma... memangnya kita ada acara ya?" tanya Adit.


"loh.. Papa lupa hari ini hari anniversary kita? mama mau bikin acara makan bersama.." sahut Rianti sedikit bingung karena melihat Rey bersama mereka.


Melihat tatapan heran Rianti, Adit langsung memberikan penjelasan. "mm begini Ma, kami ada keperluan tapi sebentar kok. acaranya masih nanti kan?"


Adit benar benar tak ingat kalau hari ini hari spesial keluarganya. sudah terlanjur buat janji pula dengan Rey dan Psikiater kenalannya.


"ohh.. iya deh.. sekalian aja nanti ikut makan bareng kita ya..." Rianti tampak tidak keberatan, lagi pula acara nya hanya makan malam biasa.


...-...


...-...


Langit yang tadi nya bersinar jingga telah berubah menjadi gelap. masing masing orang di rumah itu tengah sibuk, ada yang mandi, dandan dan lain-lain.


Sedangkan Rey dan Adit masih menunggu tamu mereka yang kabarnya terjebak macet. sambil menunggu mereka berdua sambil bercerita tentang pekerjaan. namun beberapa menit kemudian Adit meninggalkan Rey di sana karena ia hendak mandi dulu.


Tinggallah Rey seorang diri, beberapa asisten rumah tangga memang mengajaknya ngobrol. tapi Rey kurang merespon dan hanya diam sambil membaca majalah.


"jujurlah padaku... bila kau tak lagi cintaa... tinggalkan lah aku.. bila tak mungkin bersama.. jauhi diriku.. lupakanlah aku.. selamanya...iiihaaaaaa....πŸ’ƒ" Ayu bernyanyi dengan pede nya, dengan handuk di atas kepala serta celana pendek berwarna hitam yang memperlihatkan jelas kaki putihnya.


Ia berjalan menuju ke dapur melewati Rey di ruang tengah. dan dengan santainya ia menggaruk bok0ng yang terasa gatal sambil membuka kulkas.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2