
"Sayang... jangan pergi..." ucap Dimas sambil terbangun dari tidur nya dengan mata sembab dan berkeringat.
tampak sinar matahari pagi sudah terang hingga menembus kaca besar di sisi kamar.
"Mas kenapa??" tanya Fani masih dengan mata remang remang.
"ya ampun.. Mas minpi kamu meninggal sayang.. itu cuma mimpi kan? ini beneran kamu kan sayang??" Dimas memegangi wajah Fani masih dengan mata berkaca kaca.
"iya ini Fani Mas..."
"aahhh.. syukur lah itu cuma mimpi buruk, dada Mas sampai sesak beneran nih karena mimpi nya terasa nyata banget"
"nggak usah di pikirin Mas, itu cuma bunga tidur.
lagian kata orang tua dulu kalau memimpikan orang meninggal berarti orang itu panjang umur Mas.."
"benarkah?? syukur lah..." Dimas memeluk Fani sambil menghela nafas lega.
Mereka pun saling berpelukan hangat.
"kalau Fani beneran meninggal gimana Mas?"
celetuk nya tiba tiba.
"ihh.. jangan ngomong gitu..! barusan kamu tenangin Mas, jangan bikin pikiran Mas kemana mana sayang"
"ya kan setiap yang bernyawa pasti bakal mati Mas, Fani juga akhir akhir ini sedikit takut dan kepikiran gimana kalau pas melahirkan Fani meninggal.
trus nanti anak kita nggak punya ibu,trus kamu nikah lagi dapet istri yang kejam pula sama anak kita..
kasian anak kita nanti..hiks hiks..hiks.." Fani melantur jauh sekali, sampai ia terbawa perasaan dan menangis.
mungkin efek perubahan hormon kehamilan nya yang membuat Fani kepikiran yang tidak tidak.
Dimas mengusap kepala Fani yang masih tenggelam di pelukannya.
"ssstt.. kamu mikir apa sih sayang.. udah udah jangan nangis, kita akan sama sama terus sampai kakek nenek sampai punya banyak cucu"
Bukan nya tenang, pikiran Fani malah melantur lebih jauh lagi.
sepertinya efek kurang asupan gizi dari ular kadut nya Dimas yang bikin Fani ngeblank pagi ini.
"berarti Mas yang bakalan jadi kakek kakek duluan,Mas kan jauh lebih tua dari Fani.
trus kalau Mas yang meninggal duluan gimana..hiks..hikss.. "
"Ya ampun... kamu doain Mas mati duluan?"
"ya nggak Mas.. tapi kan nama nya umur kita nggak tau.." Fani semakin terisak sambil meremas kuat dada bidang nya Dimas.
"kamu kenapa sayang?? kok kamu sampai kepikiran kesana? kamu beneran berharap Mas mati duluan?!" Dimas meninggikan suara nya,tampak nya ia sedikit tersinggung.
"Ya jangan marah marah.!! kan Fani cuma kepikiran aja. Mas aja sampe mimpiin Fani meninggal beneran Fani nggak marah!"
sentak Fani yang juga meninggikan suara nya sambil terisak.
"hhhhuuuufffttt.....Mas nggak marah.. nggak marah kok sayang, ya udah iya seandai nya Mas yang mati duluan, jangan harap kamu bisa nikah lagi! Mas akan gentayangin kamu terus..
jadi jangan coba coba punya pikiran mau nikah lagi setelah Mas mati!"
ucap Dimas sambil mengeratkan gigi nya, ntah pembahasan macam apa ini.
__ADS_1
pagi pagi sudah membuat adu argumen.
"udah ya.. kamu jangan nangis lagi sayang.. kasihan nanti Dimdim kita ikutan sedih lo.."
Dimas mengusap lembut air mata yang sudah membasahi seluruh wajah Fani.
"sini..sini.. cium dulu biar nggak nangis..."
ia pun melayangkan beberapa kecupan di sekeliling wajah Fani.
"mulut Mas bau..." ucap Fani membuat jiwa Dimas semakin down.
"hmm...iyaa.. iya Mas bau.. cuma sayangku ini yang paling wangi..muuaaachhh..."
kali ini kecupan nya di layangkan ke perut Fani spesial buat si jabang bayi.
...~~~~...
"Pak Vino...pak!! bangun pak. sarapan.."
Nurul yang sudah mengenakan seragam sekolah menendang nendang kaki Vino agar terbangun, semua orang di rumah ini sudah membangunkan nya. tapi ia tak bergerak sedikitpun 'tidur kaya orang mati' itu lah julukan yang di berikam keluarga Vino.
"apa pak Vino mati beneran ya??" gumam Nurul sambil memperhatikan wajah Vino dengan seksama.
Nurul pun mendekatkan jari telunjuk nya ke hidung Vino untuk memastikan Vino masih bernafas atau tidak.
"ck.. masih hidup nya,kok susah banget di bangunin."
merasa tak ada jalan lain Nurul pun mengambil gelas di atas meja dekat ranjang,lalu menyiramkan nya sedikit ke wajah Vino.
"astaga!! banjir.. ujan? apa ini?!!" Vino langsung terduduk dengan wajah panik.
"aahahhahahah.... maaf pak, abis bapak Nur tendang nggak bangun bangun" ucap Nurul cekikikan.
"chh.. berasa punya istri pagi pagi ada yang bangunin.." batin Vino dengan senyuman tipis,ia malah berkhayal kira kira begini lah kehidupan masa depan nya sesudah menikah.
wajah nya tambah berbinar lagi karena hari ini sangat spesial bagi nya,di mana pertama kali membuka mata pagi hari ia melihat sosok wanita idaman hati.
"nikah yuk.." ucap Vino tanpa sadar sambil memandangi Nurul.
"apa? bapak bilang apa?" Nurul terbelalak mendengar itu.
"eh,itu sarapan. yuk sarapan.."
sahut Vino gugup sambil beranjak dari tempat tidur nya.
"mulut mu Vino!!"
rutuk nya dalam hati.
"hishh...dasar aki aki aneh!!" gumam Nurul sambil berjalan mendahului Vino.
Vino langsung terbelalak mendengar itu.
"apa kata nya?? aki aki? gagah begini di bilang aki aki?? wahh bener bener tu bocil minta di geprek!"
oceh nya sambil berkacak pinggang dengan rambut dan wajah yang masih basah.
...~~~~...
tit..tut..tit..tit..
__ADS_1
Riko menekan kode pintu rumah Mila dengan kotak pk3 di tangan nya,ya Mila sudah di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.
karena luka nya tinggal menunggu kering saja dan hanya memerlukan kontrol jahitan beberapa kali lagi,jadi Mila meminta untuk pulang saja karena ia tidak betah di rumah sakit.
"kemana mak lampir itu?" gumam Riko kala tak mendapati Mila di sana.
tak lama Mila pun keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk di atas lutut.
"ehh ngapain bapak kesini??!!"
Mila sangat terkejut melihat Riko.
"kau mandi?? bagaimana dengan luka mu?"
Riko mendekati Mila dengan wajah khawatir.
"isss stopp!! keluar saya mau pakai baju!!"
Mila melangkah mundur teratur ke kamar nya sambil menyilangkan lengan di dada nya.
"kalau kena air luka mu akan lembab lagi, jadi semakin lama kering nya.."
"terus saya nggak mandi sampai luka nya kering gitu?!" ketus Mila sambil melebarkan mata nya.
"ya setidak nya jangan mandi sendiri karena kamu nggak bisa lihatkan luka mu dimana?"
"terus?? nggak mungkin kan saya minta mandiin bapak??!" Mila semakin ngotot dan kesal dengan Riko.
"ide bagus..." sahut Riko dengan senyuman smirk nya.
"hishhh!! pergi lah..!! laki laki mesum!"
pekik Mila, seperti nya Riko berhasil mengeluarkan tanduk Mila lagi.
"hhh.. kau bisa ganti perban mu sendiri? kurasa kau bahkan tidak bisa melihat dimana letak kuka nya"
Mila terdiam dan memutar bola mata nya memcari alasan, seperti nya Riko ada benar nya.
"tidak bisa kan? aku kesini untuk membantu mu"
Riko menghampiri Mila yang masih menggunakan handuk.
"bentar bentar!!" Mila berlari ke arah dapur dan mengambil sebuah pisau.
Riko: "untuk apa?"
"kalau kau mencuri kesempatan lagi akan ku bunuh!!" ujar Mila sambil berjalan ke arah Riko.
Riko hanya tersenyum dingin melihat tingkah Mila.
tentu saja Mila tak mau rugi,karena Riko sudah dua kali menciumnya seenak jidat.
Sebenarnya Riko sudah lama punya perasaan untuk Mila,tapi dia bingung harus bagaimana mengatakan nya.
ia juga takut kalau Mila tak membalas perasaan nya,maka itu Riko terus memancing Mila agar dia bisa tau apakah Mila punya perasaan yang sama juga pada nya.
...********...
πmaaf ya kakak kakak UP nya lama..
soal nya keadaan otor belum pulih banget, kecapek an dikit langsung datang kekasih kepala(iya kekasih kepala,bukan kekasih hati) otor sampe dibikin melayang2....
__ADS_1
harap maklum dan mohon maaf yaaπππππ