Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 19: Pas...


__ADS_3

Vino duduk di dalam mobil nya untuk


menstabilkan diri.


seandai nya Nurul tidak punya kekasih


maka semua nya akan mudah.


tinggal bilang, Ran.. ayo kita besarkan


El bersama. beres masalah.


"gampang sekali dia bilang memberi


perhatian untuk El bersama. apa dia tidak memiliki rasa yang sama untuk ku?


aku sangat mencintai nya, tapi dia sudah


menjadi kekasih orang.


lalu bagaimana bisa aku santai saja saat


kami banyak menghabiskan waktu bersama?"


rutuk Vino sambil mengeluarkan


bungkus rokok dari box mobil nya.


namun ia teringat akan permintaan


Nurul untuk berhenti merokok.


"chh.." Vino tersenyum tipis lalu membuang


Rokok nya.


...-...


...-...


Di waktu dan tempat yang sama,


Bian dan Viona mampir juga ke


supermarket itu untuk membelikan


pesanan orang tua mereka.


mereka semua akan mengadakan makan


malam bersama untuk memperingati hari ulang tahun mama nya Viona.


"rambut mu basah.."


ucap Bian.


"biarlah, yang penting bahan makanan


kita aman." sahut Viona.


ia mendekap beberapa kantong belanjaan


di bawah gerimis tanpa menggunakan payung.


"dasar nggak peka. kalau tau basah


kenapa malah memakai payung nya sendiri."


gerutu Viona sambil menyusun belanjaannya


di bagasi.


"aku tau kamu menggerutu di dalam hati..


tapi aku harus bagaimana?


kamu tidak suka kan kalau aku memberi


perhatian." ujar Bian tanpa ragu.


tapi Viona tak menggubris Bian.


JDAARRRR....!!!!


Petir menyambar kuat membuat Viona


terkejut dan langsung memeluk Bian.


pobia dengan suara petir tampak nya


bel hilang dari diri Viona.


"tenang lah.." ucap Bian menenangkan


sahabat nya itu.


"aku takut.."


Viona takut akan ada petir susulan karena


langit masih menggelegar walau pelan.


"wahh.. ini kah yang di khawatirkan Dika?"


gumam Vino yang sedari tadi memperhatikan


mereka dari dalam mobil.


Tadi nya ia tak mau ikut campur,


tapi ia jadi bingung saat melihat ke arah


spion Nurul menuju ke sana.


"gawat....!"


Vino langsung keluar dari mobil nya.


Sedangkan Nurul berjalan sambil


terus mengoreksi apa saja yang belum


ia beli di struk belanjaan nya.


"daging ayam, selada, telur, wortel.."


"Ran..." Vino menghadang agar Nurul tak


melihat pemandangan itu.


"hmm?"


"balik lagi yuk.. kita cek ada yang lupa atau


nggak.."


"udah semua kok pak.."


"mm,,temani saya ke dalam dulu yuk.


ada yang mau saya beli."


Nurul tak menggubris Vino dan tetap ingin


segera masuk ke mobil.


"pak..jangan banyak tingkah deh.


ayo pulang, keburu El tidur."


Merasa tak ada cara lain, Vino pun melepas


jaket nya lalu membungkus kepala Nurul


agar tak melihat pemandangan Bian yang


sedang di peluk Viona.


"ihh!!! pak ngapain sih?!!"

__ADS_1


"diam lah!! kalau kamu melawan saya akan


membungkus seluruh tubuh mu.


ayo ikuti saya masuk ke mobil!"


gretak Vino sambil menuntun Nurul.


"t..tapi ngapain ini Nur di bungkus kaya


nangka mateng gini?"


"sstt.... jangan banyak tanya."


"pak!!!"


"iya Ran.."


sahut Vino santai.


"ihh bodo amat ahh!!"


dengan jengkel Nurul berusaha melepaskan


buntalan di kepala nya itu.


"Ran.. saya sudah dua hari loh tak merokok.


seperti nya bau mulut saya sudah berkurang.


kamu mau coba tidak?"


"pak.. sebelah sini longgar deh kaya nya.


kencengin aja nggak apa apa."


sahut Nurul panik sambil membenarkan


posisi jaket yang membungkus kepalanya itu.


Terpaksa lah Nurul harus mengikuti arahan


gila dari Vino. beberapa orang yang melihat


Nurul menyangka dia adalah buronan yang


lepas, atau maling yang ke tangkap.


tapi Vino masa bodo dengan itu, walaupun


pasti bagus untuk nya jika Nurul melihat


Bian tadi, namun entah kenapa ia tak mau


Nurul merasakan sakit hati.


"Vi... geluduk nya sudah berhenti."


ucap Bian sembari menepuk bahu Viona.


Viona pun langsung melepaskan pelukannya.


"ah.. maaf.. maafkan aku.."


"mm.. tidak apa apa,


aku tidak menyangka kau masih takut


dengan suara petir."


"karena suara nya masih sangat keras.


dan itu membuatku takut sekaligus terkejut."


sahut Viona gugup dan canggung.


...~~~~...


Saat turun dari mobil, Nurul berjalan terhuyung


karena pandangan nya gelap akibat ulah


perjalanan.


"kan.. gara gara bapak ini!


kepala Nur jadi pusing."


Nurul melotot lebar kearah Vino.


"loh kok saya? kan saya bilang tadi sudah


boleh di buka. tapi kamu yang tidak mau."


Lirikan tajam di lesatkan untuk Vino.


dia memang bilang buka saja, buka saja,


tapi begitu tangan Nurul bergerak eh


Vino terus saja mengatakan bahwa nafas nya sudah tidak bau lagi.


Alhasil, sambil menyiapkan nasi bola untuk


El Nurul terus saja ngedumel.


"buka aja.. Ran kok nggak di buka.."


tiru nya dengan bibir belok belok.


"hahaha.. apa sih Ran.


mau di bantu hmm?"


"mau di bantu hmm.."


Nurul tetap menirukan Vino sambil


manyun manyun.


Duma yang sedari tadi memperhatikan


mereka diam diam pun senyum senyum


sendiri melihat tingkah mereka berdua.


"manis nya ..."


drrrttt...drrrttt...drrrt...


ponsel di saku daster Nurul berdering.


"hallo bang.."


sahut nya berbinar saat membaca nama


si penelpon itu kekasih nya.


"hallo dek..


adek repot tidak malam ini."


"mm.. nggak sih, kenapa bang?"


"saya mau ajak makan malam bersama,


bisa??"


"makan bersama? siapa aja bang?"


tentu saja Nurul penasaran, karena sudah


pasti Bian mengajak makan bersama jika


ada acara keluarga saja.


"jadi hari ini ulang tahun mama nya Viona.


kebetulan mama saya juga ingin ikut

__ADS_1


merayakan, jadi saya ingin ajak adek juga.


mau..?"


"Viona?


terus apa hubungan nya sama ku?"


rutuk Nurul sedikit kesal.


"dek.. gimana?"


"mm.. nggak deh bang,


Nur juga lagi ada sesuatu yang harus


di kerjakan.."


"Ran... ini bener ngupas nya begini?"


panggil Vino dengan sengaja sambil


menunjukkan wortel yang di kupas nya.


tut..tutttt....


sambungan telepon Nurul langsung di putus


oleh Bian, entah sengaja atau tidak.


yang pasti Nurul juga merasa pasti Bian


sedikit kesal mendengar suara Vino


memanggil nama nya.


"Ran.. ini bener?"


tanya Vino lagi lebih dekat.


"Salah!!


masa ngupas wortel bopeng bopeng gitu.


bapak ngupas nya pakai apa sih?"


ketus Nurul membelalakkan mata nya.


Vino garuk garuk kepala sambil


menunjukkan golok untuk memotong


daging. "heheheh.. ini.."


"ya ampun...


ihh.. udah deh bapak sana aja.


bikin ribet aja deh.."


"saya mau bantu kamu..


masa iya saya nggak bantu sedangkan


ini permintaan anak saya."


"bantu apaan..


malah bikin ribet."


oceh Nurul sambil memakai celemek,


ia berusaha mengikat bagian belakang nya


namum sedikit sulit karena tangannya memakai


sarung tangan plastik.


Mata elang Vino pun menangkap momen


menguntungkan itu.


ia mendekat lalu mengikatkan celemek


Nurul perlahan.


"kalau butuh bantuan bilang..."


bisik nya tepat di belakang telinga Nurul.


Nurul reflek menoleh hingga membuat


pucuk hidung mereka hampir bertabrakan


karena jarak nya sangat dekat.


"mau di bantu yang lain?"


bisik Vino lagi.


Spontan Nurul bergerak sedikit menjauh


karena kondisi jantung nya benar benar


tak aman.


"i.. coba bapak cicip rasa nya udah


pas belum, b..biar langsung di bentuk."


ucap Nurul terbata bata sambil menunjuk


ke arah nasi yang sudah ia beri bumbu


dan suwiran daging ayam.


"kamu aja yang cicip.."


"ah iya.. benar.."


Nurul langsung menyendok secuil


nasi itu lalu mengunyah nya.


"enak.. tapi Nur rasa kurang asin,


coba bapak cicip juga.."


"benarkah??"


bukan nya mencicipi nasi itu, Vino malah


mendekati Nurul lalu mengusap bibir


Nurul dengan ibu jari nya.


"mmmhhcc.."


Vino menghisap kecil ibu jari nya.


"enak kok.. pas.."


ucap nya sambil mengedipkan sebelah mata


lalu pergi dari sana.


Detak jantung Nurul benar benar seperti


meledak di sana. ia berjongkok sambil


mengatur nafas nya yang terus berpacu


tak bisa di Rem.


"arrhh...


huufff..huuftt...."


...*********...

__ADS_1


__ADS_2