
Vino duduk di dalam mobil nya untuk
menstabilkan diri.
seandai nya Nurul tidak punya kekasih
maka semua nya akan mudah.
tinggal bilang, Ran.. ayo kita besarkan
El bersama. beres masalah.
"gampang sekali dia bilang memberi
perhatian untuk El bersama. apa dia tidak memiliki rasa yang sama untuk ku?
aku sangat mencintai nya, tapi dia sudah
menjadi kekasih orang.
lalu bagaimana bisa aku santai saja saat
kami banyak menghabiskan waktu bersama?"
rutuk Vino sambil mengeluarkan
bungkus rokok dari box mobil nya.
namun ia teringat akan permintaan
Nurul untuk berhenti merokok.
"chh.." Vino tersenyum tipis lalu membuang
Rokok nya.
...-...
...-...
Di waktu dan tempat yang sama,
Bian dan Viona mampir juga ke
supermarket itu untuk membelikan
pesanan orang tua mereka.
mereka semua akan mengadakan makan
malam bersama untuk memperingati hari ulang tahun mama nya Viona.
"rambut mu basah.."
ucap Bian.
"biarlah, yang penting bahan makanan
kita aman." sahut Viona.
ia mendekap beberapa kantong belanjaan
di bawah gerimis tanpa menggunakan payung.
"dasar nggak peka. kalau tau basah
kenapa malah memakai payung nya sendiri."
gerutu Viona sambil menyusun belanjaannya
di bagasi.
"aku tau kamu menggerutu di dalam hati..
tapi aku harus bagaimana?
kamu tidak suka kan kalau aku memberi
perhatian." ujar Bian tanpa ragu.
tapi Viona tak menggubris Bian.
JDAARRRR....!!!!
Petir menyambar kuat membuat Viona
terkejut dan langsung memeluk Bian.
pobia dengan suara petir tampak nya
bel hilang dari diri Viona.
"tenang lah.." ucap Bian menenangkan
sahabat nya itu.
"aku takut.."
Viona takut akan ada petir susulan karena
langit masih menggelegar walau pelan.
"wahh.. ini kah yang di khawatirkan Dika?"
gumam Vino yang sedari tadi memperhatikan
mereka dari dalam mobil.
Tadi nya ia tak mau ikut campur,
tapi ia jadi bingung saat melihat ke arah
spion Nurul menuju ke sana.
"gawat....!"
Vino langsung keluar dari mobil nya.
Sedangkan Nurul berjalan sambil
terus mengoreksi apa saja yang belum
ia beli di struk belanjaan nya.
"daging ayam, selada, telur, wortel.."
"Ran..." Vino menghadang agar Nurul tak
melihat pemandangan itu.
"hmm?"
"balik lagi yuk.. kita cek ada yang lupa atau
nggak.."
"udah semua kok pak.."
"mm,,temani saya ke dalam dulu yuk.
ada yang mau saya beli."
Nurul tak menggubris Vino dan tetap ingin
segera masuk ke mobil.
"pak..jangan banyak tingkah deh.
ayo pulang, keburu El tidur."
Merasa tak ada cara lain, Vino pun melepas
jaket nya lalu membungkus kepala Nurul
agar tak melihat pemandangan Bian yang
sedang di peluk Viona.
"ihh!!! pak ngapain sih?!!"
__ADS_1
"diam lah!! kalau kamu melawan saya akan
membungkus seluruh tubuh mu.
ayo ikuti saya masuk ke mobil!"
gretak Vino sambil menuntun Nurul.
"t..tapi ngapain ini Nur di bungkus kaya
nangka mateng gini?"
"sstt.... jangan banyak tanya."
"pak!!!"
"iya Ran.."
sahut Vino santai.
"ihh bodo amat ahh!!"
dengan jengkel Nurul berusaha melepaskan
buntalan di kepala nya itu.
"Ran.. saya sudah dua hari loh tak merokok.
seperti nya bau mulut saya sudah berkurang.
kamu mau coba tidak?"
"pak.. sebelah sini longgar deh kaya nya.
kencengin aja nggak apa apa."
sahut Nurul panik sambil membenarkan
posisi jaket yang membungkus kepalanya itu.
Terpaksa lah Nurul harus mengikuti arahan
gila dari Vino. beberapa orang yang melihat
Nurul menyangka dia adalah buronan yang
lepas, atau maling yang ke tangkap.
tapi Vino masa bodo dengan itu, walaupun
pasti bagus untuk nya jika Nurul melihat
Bian tadi, namun entah kenapa ia tak mau
Nurul merasakan sakit hati.
"Vi... geluduk nya sudah berhenti."
ucap Bian sembari menepuk bahu Viona.
Viona pun langsung melepaskan pelukannya.
"ah.. maaf.. maafkan aku.."
"mm.. tidak apa apa,
aku tidak menyangka kau masih takut
dengan suara petir."
"karena suara nya masih sangat keras.
dan itu membuatku takut sekaligus terkejut."
sahut Viona gugup dan canggung.
...~~~~...
Saat turun dari mobil, Nurul berjalan terhuyung
karena pandangan nya gelap akibat ulah
perjalanan.
"kan.. gara gara bapak ini!
kepala Nur jadi pusing."
Nurul melotot lebar kearah Vino.
"loh kok saya? kan saya bilang tadi sudah
boleh di buka. tapi kamu yang tidak mau."
Lirikan tajam di lesatkan untuk Vino.
dia memang bilang buka saja, buka saja,
tapi begitu tangan Nurul bergerak eh
Vino terus saja mengatakan bahwa nafas nya sudah tidak bau lagi.
Alhasil, sambil menyiapkan nasi bola untuk
El Nurul terus saja ngedumel.
"buka aja.. Ran kok nggak di buka.."
tiru nya dengan bibir belok belok.
"hahaha.. apa sih Ran.
mau di bantu hmm?"
"mau di bantu hmm.."
Nurul tetap menirukan Vino sambil
manyun manyun.
Duma yang sedari tadi memperhatikan
mereka diam diam pun senyum senyum
sendiri melihat tingkah mereka berdua.
"manis nya ..."
drrrttt...drrrttt...drrrt...
ponsel di saku daster Nurul berdering.
"hallo bang.."
sahut nya berbinar saat membaca nama
si penelpon itu kekasih nya.
"hallo dek..
adek repot tidak malam ini."
"mm.. nggak sih, kenapa bang?"
"saya mau ajak makan malam bersama,
bisa??"
"makan bersama? siapa aja bang?"
tentu saja Nurul penasaran, karena sudah
pasti Bian mengajak makan bersama jika
ada acara keluarga saja.
"jadi hari ini ulang tahun mama nya Viona.
kebetulan mama saya juga ingin ikut
__ADS_1
merayakan, jadi saya ingin ajak adek juga.
mau..?"
"Viona?
terus apa hubungan nya sama ku?"
rutuk Nurul sedikit kesal.
"dek.. gimana?"
"mm.. nggak deh bang,
Nur juga lagi ada sesuatu yang harus
di kerjakan.."
"Ran... ini bener ngupas nya begini?"
panggil Vino dengan sengaja sambil
menunjukkan wortel yang di kupas nya.
tut..tutttt....
sambungan telepon Nurul langsung di putus
oleh Bian, entah sengaja atau tidak.
yang pasti Nurul juga merasa pasti Bian
sedikit kesal mendengar suara Vino
memanggil nama nya.
"Ran.. ini bener?"
tanya Vino lagi lebih dekat.
"Salah!!
masa ngupas wortel bopeng bopeng gitu.
bapak ngupas nya pakai apa sih?"
ketus Nurul membelalakkan mata nya.
Vino garuk garuk kepala sambil
menunjukkan golok untuk memotong
daging. "heheheh.. ini.."
"ya ampun...
ihh.. udah deh bapak sana aja.
bikin ribet aja deh.."
"saya mau bantu kamu..
masa iya saya nggak bantu sedangkan
ini permintaan anak saya."
"bantu apaan..
malah bikin ribet."
oceh Nurul sambil memakai celemek,
ia berusaha mengikat bagian belakang nya
namum sedikit sulit karena tangannya memakai
sarung tangan plastik.
Mata elang Vino pun menangkap momen
menguntungkan itu.
ia mendekat lalu mengikatkan celemek
Nurul perlahan.
"kalau butuh bantuan bilang..."
bisik nya tepat di belakang telinga Nurul.
Nurul reflek menoleh hingga membuat
pucuk hidung mereka hampir bertabrakan
karena jarak nya sangat dekat.
"mau di bantu yang lain?"
bisik Vino lagi.
Spontan Nurul bergerak sedikit menjauh
karena kondisi jantung nya benar benar
tak aman.
"i.. coba bapak cicip rasa nya udah
pas belum, b..biar langsung di bentuk."
ucap Nurul terbata bata sambil menunjuk
ke arah nasi yang sudah ia beri bumbu
dan suwiran daging ayam.
"kamu aja yang cicip.."
"ah iya.. benar.."
Nurul langsung menyendok secuil
nasi itu lalu mengunyah nya.
"enak.. tapi Nur rasa kurang asin,
coba bapak cicip juga.."
"benarkah??"
bukan nya mencicipi nasi itu, Vino malah
mendekati Nurul lalu mengusap bibir
Nurul dengan ibu jari nya.
"mmmhhcc.."
Vino menghisap kecil ibu jari nya.
"enak kok.. pas.."
ucap nya sambil mengedipkan sebelah mata
lalu pergi dari sana.
Detak jantung Nurul benar benar seperti
meledak di sana. ia berjongkok sambil
mengatur nafas nya yang terus berpacu
tak bisa di Rem.
"arrhh...
huufff..huuftt...."
...*********...
__ADS_1