Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 9: Montir dadakan.


__ADS_3

tutt... tutt...


di luar dugaan, ternyata Vino masih memakai nomor yang sama. tidak sia sia ternyata Nurul masih hapal nomor Vino selama ini.


"hmm.. hallo?" sahut Vino dari seberang sana


dengan suara berat. seperti nya ia sudah tertidur.


"pak... tolongin..." pinta Nurul, suara nya terdengar goyang karena hampir menangis ketakutan.


"hah? kok bisa? kamu di mana sekarang?"


...~~~~...


Tak butuh waktu lama, Vino sudah tiba di sana.


entah karena terburu buru atau karena masih ngantuk, ia hanya menggunakan celana boxer pendek dan kaos putih oblong bahkan tanpa mencuci wajah nya.


"buka bagasi kamu.."


"iya pak..." Nurul segera menekan tombol bagasi pada mobil nya.


Kemudian Vino mengambil ban cadangan dan juga alat seperti dongkrak dan lain nya yang tersedia di bagasi Nurul.


"kamu ngapain sih keluyuran malam malam?"


"ee..tadi nya mau nonton, tapi nggak jadi pak."


"bayangin kalau saya nggak angkat telpon kamu,


bisa sampai pagi kamu di sini.


lain kali jangan keluyuran sendirian apalagi malam hari. kalau ada orang jahat gimana coba?"


Vino mengomeli Nurul sambil memasang dongkrak masih dengan mata sayu.


"iya.. maaf udah ngerepotin bapak.


nih pak.." ia memberikan sebotol air mineral kepada Vino.


"saya nggak haus Ran.."


"untuk cuci muka, kotoran mata bapak numpuk tuh.. takut nanti salah tarik baut hehehe."


"khmm. iya.." malu banget pasti nya.


wajah Vino sampai panas dingin begitu.


Beberapa menit kemudian....


"ffuuhh... akhir nya.."


ucap Vino, kaos yang semula normal kini jadi memabukkan mata karena basah oleh keringat.


ia duduk di atas trotoar sambil menenggak sebotol air.


"makasih ya pak.."


"hmm.. besok besok kalau ada masalah genting lagi jangan sungkan hubungi saya."


"Nur sih berharap kedepan nya nggak ada masalah hehehe..."


Vino tersenyum tipis saat melihat kebiasaan Nurul masih sama saat bicara dengan nya.


"cch.. kamu kalau jawab omongan orang emang paling pinter. seharus nya kamu jadi pengacara saja."


"hahahaha.. Seni adalah hal terbaik yang pernah Nur lihat.." sahut nya terkekeh. ia ikut duduk di sebelah Vino.


"tunggu..." Vino memberikan sandal nya untuk alas duduk agar celana Nurul tidak kotor.


"nah, duduk lah.." senyum lembut di sigarkan Vino untuk Nurul.


"saya nggak nyangka kamu masih simpan nomor saya, saya pikir sudah kamu hapus."


"emang udah Nur hapus pak, tapi entah kenapa Nur masih hapal sampai sekarang. coba kalau nggak hapal, entah kemana Nur minta tolong tadi. Nur juga nggak nyangka bapak masih pakai nomor yang sama."


"hahaha.. saya pernah kehilangan ponsel saya, sekitar 3 tahun yang lalu. tapi saya urus kembali kartu nya dengan nomor yang sama. kamu tau apa alasan nya?"


Nurul menggelengkan kepalanya, nggak penting dan nggak mau tau juga sih dia sebenarnya.


"karena saya berharap kamu akan menghubungi saya, tapi seperti nya kamu lupa sama saya hahaha..."

__ADS_1


"ih..? ya kali Nur ganjen ngechat atau nelponin suami orang.."


"kamu tau..?


dalam 1.589 hari saya di sana.


tidak pernah satu hari pun kamu absen dari ingatan saya.."


Nurul terdiam melihat raut wajah Vino yang seakan ingin melepaskan segudang kerinduan.


"1.589 hari, 19 jam 43 menit 12 detik.


hitungan waktu ku berhenti saat pertama kali


kita bertemu di pesta ulang tahun itu.


aku memang tidak merindukan bapak,


karena aku menepis itu sebisa mungkin.


tapi tau kah bapak? selama hampir 5 tahun itu


tak pernah terlewat satu malam pun tanpa aku memimpikan bapak.."


"katakan Ran.. katakan kalau kau juga merindukan ku. katakan kalau kau menanti ku..


aku tau kau pun sama dengan ku.


tatapan mata mu mengatakan dengan jelas


kalau kau juga merindukan ku."


Mereka saling bungkam dan menatap satu sama lain, semua hal yang ingin di curahkan terhalang dinding besar yang membuat mereka tak bisa mengatakan nya.


"dek.. maaf abang ada operasi mendadak.


sebelah mana yang bocor?" tanya Bian dengan senyum manisnya, namun tangan nya mengepal tampak marah melihat Vino ada di sana.


Nurul dan Vino membuyarkan tatapan batin mereka, tampak nya mereka sama sama hanyut dalam tatapan masing masing hingga tak menyadari kedatangan Bian. ada sedikit rasa gugup dan sungkan di benak Nurul karena sudah merepotkan Bian.


Nurul berdiri menghampiri Bian.


Senyuman di wajah Bian sedikit memudar, ia merasa benar benar membuat Nurul kecewa.


dari mulai membatalkan kencan mereka tanpa kabar, hingga tak bisa datang di saat seperti ini.


"aku sudah mengganti nya, karena kau datang. maka bantu aku membereskan ini, biar adil."


ujar Vino di barengi wajah smirk nya.


Kelihatan nya Bian sedikit kesal kepada Vino.


kenapa harus dia yang menolong Nurul di saat seperti ini?


"dek, kamu masuk aja ya. dingin soal nya nanti kamu demam.."


"oh.. iya bang.." Nurul pun segera masuk ke. mobil nya.


Karena tinggal mereka berdua, Bian pun bersiasat untuk mengingatkan Vino agar menjaga jarak dari kekasih nya.


"aku akan berbicara santai pada mu,


tidak bisa kah kau menjaga jarak dengan Nurul?


ku perhatikan kau sengaja mendekati nya."


rutuk Bian sambil menyusun alat bengkel itu dengan keras. tampak nya ia benar benar kesal dengan Vino.


"seperti yang kau tau, walaupun tidak ada hubungan darah kami ini tetap saudara.


jadi kecil kemungkinan nya untuk kami menjauh.


apalagi sekarang ada anak anak yang seolah menjadi pengikat kami untuk terus bertemu."


"wahh.. dari jawaban mu seperti nya kau


benar benar tidak punya malu." sahut Bian semakin panas.


"memang begitu kenyataan nya." ucap Vino enteng.


"dengar. aku ini kekasih nya, cinta pertama nya.

__ADS_1


jadi jangan berpikir kau lebih spesial dari ku.


dan aku sangat berhak menyuruh mu menjauh.!"


"cchh.. aku rasa lebih spesial ciuman pertama dari pada cinta pertama.." Vino membalas tatapan tajam Bian.


"apa kata mu?" beruntung Bian tak mendengar


itu karena mereka sama sama melemparkan barang tadi hingga membuat suara agak berisik.


"jaga dia baik baik. karena aku siap merebutnya


kapan saja jika kau melepaskan nya."


Vino menekan kata kata nya lalu pergi dari sana.


"maka jangan coba coba merebut nya!


karena aku tak berniat melepaskan nya."


Vino tak menggubris dan hanya tersenyum tipis.


mata nya menjelaskan bahwa jati diri nya sebagai predator buas belum hilang walau sudah lama absen dari habitatnya.


"dek, ayo jalan. abang ikuti dari belakang ya.."


"iya bang.." Nurul tersenyum kecut pada Bian.


bukan karena ia terlambat datang. bukan kah setidaknya Bian meminta maaf karena sudah membuat nya menunggu tanpa kejelasan.


"ahhh.. sudah lah..


mungkin bang Bian lagi capek banget.."


ia tersenyum untuk menepis pikiran negatif nya.


...~~~~...


Di sebuah kos kosan yang terlihat mewah.


Mei sedang melamun di atas balkon sambil terus memandangi foto bapak nya sewaktu muda,


ia juga membayangkan seberapa mirip Dika dengan bapak nya.


"ya nggak salah lagi, dokter Andika saudara cewek kampungan itu. tapi kenapa dia mirip banget sama bapak. apa jangan jangan bener yang di bilang orang orang kalau bapak dulu punya anak, dan di tinggalkan begitu aja karena selingkuh sama ibuk?


kalau bener berarti kurang ajar banget bapak.


udah miskin banyak tingkah!


tapi kenapa bisa mereka jadi kaya?


ahhh nggak mungkin deh kaya nya.


lagian banyak juga orang yang bukan saudara


tapi mirip." seketika jiwa dengki Mei memberontak, seolah olah tak terima karena keluarga Nurul benar benar unggul dari segala sisi.


Punya pacar dosen plus dokter, punya kakak dokter. punya orang tua kaya raya.


banyak juga penggemar nya di kampus karena


Nurul sangat ramah dan humble.


siapa coba yang tidak iri dengan semua itu.


"deketin kali ya. siapa tau kecipratan dapet bibit unggul. hahahaha..." gumam Mei sangat percaya diri.


...*********...


jangan lupa like, komen dan hadiah nya kakak😁


yg nggak ngasih tak santet🤣





hayo... pilih abang Bian atau si duda tanpa status🙈🙈🙈

__ADS_1


__ADS_2