
Pukul 04:00 pagi...
Nurul mengerjapkan mata nya perlahan
sambil menerawang sekitaran kamar
yang terang benderang.
"aahww..
leher ku sakit.."
rintih nya sambil berusaha mengumpulkan
nyawa. ia memandangi kasur nya yang rapi
tertata, sedangkan ia tertidur di lantai.
"hh.. semua nya hanya mimpi??"
bangau dan ungkapan cinta, hanya mimpi
terasa. sampai ia menyadari bahwa
sedang menjadikan lengan kekar sebagai
bantal nya.
Nyawa yang tadi nya masih terbang di awang awang kini berkumpu.l dengan kecepatan penuh
ia langsung terduduk.
"pak Vino??!!"
Pandangan panik nya menangkap sekardus
bangau kertas yang sudah di rapikan Vino
sebelum nya.
"bangau..?!!"
ia memukul pipi nya untuk menyadarkan
ungkapan cinta mereka kemarin bukanlah
mimpi semata.
"Ran.. kemarilah.."
Vino menarik Nurul kedalam pelukannya
sambil menggeliat.
"kenapa kami tidur bersama??
bagaimana kalau orang rumah lihat?
nggak..! nggak.. jangan panik.
kami masih memakai pakaian lengkap."
batin Nurul kebingungan.
"love u bunda.."
bisik Vino sambil mengecup lembut
kening Nurul.
"pak..! bangun...!"
ia mengguncang keras tubuh Vino.
"hah?? kenapa??"
"mendingan bapak pindah sekarang
selagi keluarga yang lain belum bangun."
"Ran.. yang terjadi semalam bukan
mimpi kan??" tanya Vino setengah terpejam.
"apa? apa memang nya yang terjadi.."
tentu Nurul panik dan berpikir sudah terjadi
yang tidak tidak di antara mereka.
"begini.."
Vino kembali mempraktikkan pelukan mesra
mereka semalam.
"saya menyatakan cinta sama kamu..
dan kamu juga..."
Nurul mengangguk malu malu sambil
menunduk.
"benarkan?? bukan mimpi?"
"bisa kita bahas nanti pak?
Nur takut yang lain anggap kita
berbuat aneh aneh karena satu kamar."
walaupun Nurul sangat bahagia bisa
mengutarakan perasaan nya, risau di hati
masih membumbung memenuhi setiap
celah karena ia masih terikat hubungan
dengan Bian.
"oke.. saya keluar.."
wajah girang Vino terlukis jelas
walau masih lusuh.
__ADS_1
...~~~~...
Hari ini Nurul sengaja tidak kuliah karena
jam kelas nya barengan dengan jam tugas
Bian. ia bingung, kemana dan bagaimana
pembahasan tentang hubungan mereka
akan berlanjut, rasa takut, marah, dan
bimbang mengarungi lubuk hati nya hingga
terasa perih membalut sayatan luka batinnya.
"Kirana? dia titip absen sama saya tadi pak."
ujar salah satu teman sekelas Nurul.
"apa dia tak apa apa?
kenapa seperti nya dia menghindari ku?"
Bian merasa risau karena Nurul tak membalas
telepon atau pun pesannya.
"*dek.. kamu dimana?"
"kamu baik baik saja?"
"saya ingin kita memperbaiki
kesalahpahaman ini"
"saya tunggu di taman dekat persimpangan
rumah kita. jam 7 nanti malam..
tolong, saya masih ingin memperbaiki
hubungan kita*."
ini ke sekian kali nya Bian mengirim pesan
spam kepada Nurul, di baca. namun tak di
respon walau hanya sepatah kata.
...-...
...-...
Di rumah, keluarga Nurul kebingungan
kenapa Nurul tak keluar kamar sejak
pagi tadi? kini jam makan siang tiba
dan Nurul tak juga mau turun, akhirnya
seluruh keluarga membicarakan Nurul
di meja makan.
"Nur kenapa? apa dia sakit?
tanya Rianti.
"lagi sakit kali ma?"
sahut Ayu masih dengan seragam sekolahnya
karena dia baru pulang.
"nggak dek, tadi kakak periksa dia baik baik
saja.."
"apa dia kangen sama mendiang ibu kalian?"
tanya Rianti lagi.
"emang bunda kenapa oma?"
El pun penasaran ikut nimbrung.
"bina sakit kali.."
sahut si kembar menimpali.
"eh.. anak anak jangan ikut ikut."
tegur Fani sambil menyuapi bayi besarnya
yakni paksu Adimas. sudah dua hari mereka
tidur di rumah Rianti karena si kembar
yang meminta.
Panas mendengar mereka menerka nerka
Vino pun memutuskan membuka mulut nya.
"dia ada masalah dengan hubungan nya.
biasalah anak muda.."
"kok Om Vino tau?"
celetuk Ica.
"iya tau dong, kan tadi pagi ayah ke kamar bunda.." timpal El dengan polos nya.
"hah.. El tau dari mana?"
tanya Dimas.
"tadi pagi El terbangun terus mau cari ayah,
eh nampak ayah keluar dari kamar bunda."
"apa yang kau lakukan di sana?
pagi pagi buta kau menyelinap ke kamar
__ADS_1
anak gadis untuk apa?!"
Dimas sedikit tersulut karena menilai
Vino sangat lancang. apalagi ini di rumah
keluarga nya, tentu rasa nya tidak pantas.
"aku tidur di sana..
bukan menyelinap."
sahut Vino santai mengunyah makan siangnya.
"APAA????"
semua orang di meja makan sangat terkejut
mendengar itu.
"heh duda cap badak!
apa yang kau lakukan pada nya?"
Dimas melemparkan irisan timun
ke arah Vino.
"pak. saya tau keinginan anda untuk
mantab mantab terlalu lama terbendung.
tapi jangan..."
"woy..woy..woy..
apa apaan ini?! saya nggak se mesum yang
kalian pikirkan ya!"
elak Vino tak terima.
"ehh!! jaga kata kata kalian, ada anak anak
di sini!" tegur Fani dan Rianti.
"apasih ribut ribut??"
celetuk Nurul turun dari kamar nya karena
merasa lapar.
Semua mata yang ada di sana langsung
memindai tubuh Nurul dari atas sampai
bawah.
"Ran.. kamu tidak cuci muka dulu?"
"nggak.. keburu laper.."
"sini duduk lah.."
Vino menarikkan kursi di sebelahnya.
"Kalian tadi malam tidur bersama?"
tanya Papa nya yang sedari tadi diam saja.
ffffrrrrrrtttttttt
Baru setengguk air masuk ke mulut,
Nurul sudah di buat terkejut hingga membuat
sumber air dadakan dari mulutnya.
dan lebih apes, Vino yang menjadi korban
di sana hingga wajah nya berembun oleh
jigong nya Nurul.
"papa tau dari mana?"
"jadi beneran?"
"i..iya, tapi kita.."
"burung.. saya cuma kasih burung.."
timpal Vino.
bbbbbrrttttt
kali ini Ayu yang terkejut karena merasa
pembahasan ini di luar nalar.
"bangau kertas.."
sahut Nurul cepat.
"terus? kok bisa tidur bersama?"
tanya Dimas tak kalah garang.
Merasa jengah dengan pertanyaan konyol
mereka, akhirnya Vino memutuskan untuk
menceritakan yang sebenar nya.
"saya cinta sama Ran..
bisa tolong kerja sama nya?"
klenting....
sendok di tangan mereka semua terjatuh
saking tak percaya,terkejut dan terperangah.
...*********...
kita lanjut besok ya bebπππ
__ADS_1
jangan lupa like komen dan vote nya ππ
love uβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈ