
Karena jarak nya lumayan jauh, butuh waktu lama untuk menghampiri lokasi Bian dan Nurul.
belum lagi kejebak macet di jalan membuat Vino semakin jauh memikirkan hal yang tidak tidak.
Setelah hanpir 40 menit di perjalanan, tinggal sedikit lagi menuju titik lokasi Nurul, Vino di buat kesal lagi dengan tanda yang menunjukkan kalau Nurul dan Bian sudah cabut dari sana.
"hishh!! awas saja kalau dia menyentuh Ran ku, akan ku cincang habis leher nya!" rutuk Vino kesal.
Di sisi lain, geng violet yang juga tengah mengikuti Nurul langsung heboh saat mobil Bian bergerak pergi.
"By.. buruan tuh mereka udah jalan.."
ujar teman teman nya Gaby.
mereka pun langsung tancap gas mengikuti mobil Bian.
Bian dan Nurul kini di ikuti dua mobil sekaligus seperti buronan.
sementara mereka heboh membuntuti, Nurul dan Bian malah asik bernyanyi mengikuti musik yang di mainkan Bian.
"dan tlah habis sudah... kisah ini
tak lagi tersisa.. untuk dunia
karena tlah ku habiskan sisa cinta ku hanya untuk mu...." Bian dan Nurul tenggelam dalam suasana karaoke ofline yang mereka ciptakan.
"wahh.. ternyata selera musik kita sama ya dek,
hampir semua playlist lagu yang saya punya kamu hapal" ucap Bian tersenyum lebar.
"iya pak.. Nur suka banget sama semua lagu lagu bapak, the best.." Nurul mengacungkan dua ibu jari nya.
"sama saya nggak suka?"
"suka lah..." sahut Nurul cepat tanpa tau apa itu makna 'suka' yang Bian tanyakan.
Bian merasa terbang seketika, namun ia bisa mengendalikan situasi nya agar tak canggung.
"hahahahaha.. kamu ini, jangan sembarangan naruh rasa ke orang, kalau nyasar susah balik nya"
Nurul hanya tertawa, ia tampak tak serius menanggapi ocehan Bian. ia malah membuka topik lain yang sedari lama ingin di tanyakan.
"omong omong.. bapak tinggal di sini sama keluarga?"
"cuma sama mama.. saya anak tunggal"
sahut Bian.
"boleh ceritain nggak pak? Nur penasaran bagaimana seorang dokter hebat dan tampan ini tumbuh hehehe" tanpa sadar Nurul mengatakan hal yang bisa membuat Bian salah tingkah lagi.
ya emang udah ganteng dari lahir, tapi kalau orang yang di suka mengatakan nya kan rasa nya beda, gurih gurih gimana gituu...🤭
"mmm.. baiklah..
orang tua saya sudah lama bercerai, sejak umur 10 tahun saya di besarkan oleh mama saya tercinta yang juga seorang dosen.
tapi sekarang beliau sudah pensiun dan hanya di rumah saja menikmati masa tua nya yang sepi karena saya kerja terus.
tau nggak yang bikin kesal apa?
setiap kami makan pasti dia selalu tanya, Bas kapan kasih mama cucu.. kapan kasih mama mantu..
kebalik ya kan, harus nya menantu dulu baru cucu. kalau cucu nya dulu ya bisa gawat hahahahahha...."
"hahahahha iya juga ya..
__ADS_1
tapi mungkin bukan begitu maksut nya pak..
bapak mah negatif thingking sama emak sendiri"
"dan yang lebih memalukan, dulu setiap dia ngantar bekal untuk saya, pasti setiap ada suster yang lagi tugas sama saya di bilang calon menantu, parah nggak tu dek? sampai sampai saya malu karena secara tidak langsung membuat suster suster itu berharap lebih"
Bian tampak leluasa menceritakan kisah kisah konyol nya karena dia benar benar merasa nyaman dengan Nurul.
Begitu juga dengan Nurul yang tampak menikmati kisah lucu dari Bian.
"hahaha... ya ampun pak.
lagian bapak sih, harus nya bapak gerak cepat dong cari calon istri, kasian tau mama nya kesepian. udah pengen gendong cucu.."
"iya ini lagi di usahain.."
celetuk Bian memandangi Nurul.
"pakkk!!!!"
sssssrrtttt!!!!!!!!
Bian spontan menekan rem karena Vino memberhentikan mobil nya tepat di depan mereka. Vino langsung keluar dan mengetuk kaca mobil.
"Pak Vino?!! udah gila ya? kalau kita tabrakan bisa fatal tau akibat nya!" pekik Nurul dengan jantung dag dig dug ser mau copot.
bagaimana tidak, hampir saja mereka di jemput malaikat maut karena ulah Vino.
"anda ngapain pak Vino? tau kan tindakan anda berbahaya?" Bian yang kalem itu tampak tak bisa marah bahkan di situasi seperti itu. efek sering dapet pasien yang menguras emosi nih.
"semua sudah ku perhitungkan!"
ketus Vino.
"gila.. berenti terus gini kapan sampai nya"
dengus Mei kesal.
"sstt.. jangan berisik deh! seru nih, berasa lagi nonton film" ujar Gaby.
"iya guys.. jadi semakin penasaran sebenarnya siapa gadis kampung itu"
timpal yang lain nya.
"Ran.. ayo masuk. saya mau bicara sama kamu!"
Vino menarik paksa lengan Nurul.
"eh.. tadi kan saya yang menang"
Bian juga menarik lengan Nurul.
"batalin! saya mau bicara penting sama Ran!"
"ya nggak bisa begitu pak Vino..!"
Bian membulatkan mata nya.
Nurul menepis tangan Vino lalu mendekat ke arah Bian. "ayo pak.." ujar nya.
Vino menghunuskan tatapan nya pada Nurul. "Ran..."
Sial nya Nurul malah reflek menatap mata Vino.
pandangan mereka yang bertemu membuat Nurul merasa seperti di hipnotis lagi.
__ADS_1
"ayo masuk.." ucap Vino perlahan tapi tegas.
Nurul mengangguk tanpa kata, lalu masuk ke mobil Vino dengan sendiri nya.
"serem banget mata nya.. nurut aja deh"
batin Nurul.
Bian yang melihat itu hanya bisa menarik nafas panjang, kalau memang Nurul yang mau ikut dengan Vino, ya dia bisa apa.
"hati hati dek.." ucap Bian.
Nurul hanya mengangguk sambil tersenyum,
ntah mantra apa yang di bacakan Vino untuk Nurul hingga membuatnya tunduk.
...~~~~...
Saat sampai di depan rumah...
"kamu beneran nggak ngapa ngapain tadikan??"
Vino kembali mengulangi pertanyaan nya selama di perjalanan tadi.
"astaga pak.. berapa kali Nur bilang.. bapak mikir nya ngapain yang gimana sih? Nur makan sate, terus pulang. yang bapak maksut ini ngapa ngapain yang kaya gimana coba di jelaskan"
"kalau bicara lihat ke saya dong.." ujar Vino, sedari tadi Nurul menjawab tanpa memandang nya. itu lah yang membuat nya tak percaya.
"Nur masuk dulu.. mau mandi gerah"
ia langsung berlari meninggalkan Vino yang masih penasaran.
"tapi kalau di lihat lihat tidak ada yang berubah dari gestur nya.. mungkin dia jujur, tapi apa yang ku dengar tadi aaggrhhh!!!"
masih dengan galau nya, Vino pun memutuskan kembali ke kantor karena jam istirahanya sudah hampir habis.
Di sisi lain geng Violet yang memperhatikan Nurul dari kejauhan hampir pingsan serentak saat melihat pemandangan rumah miliknya.
"kan.. apa ku bilang! sudah pasti dia orang kaya.. kalau nggak mana mungkin bisa sekolah di BIS"
"gilak ya.. kalau dia masuk geng kita bisa jadi bos nya dia"
"sejak kapan jadi ketua geng harus yang paling kaya b*go!" Gaby memukul bahu teman nya itu.
"ya kamu kan yang memantaskan diri dengan alasan kekayaan orang tua mu lebih dari kita kita"
"hahahha.. ya nggak lah, kalo soal kaya udah pasti sih Mei kita yang paling juara. soal nya bapak dia pengusaha tambang minyak say.."
ujar Gaby menunjuk Mei yang sedari tadi terdiam dengan pikiran julid nya kepada Nurul.
Tak lama berselang Nurul masuk, keluar lah Dika dengan kaos hitam nya sedang membuang sampah di luar pagar.
para ciwi ciwi itu langsung bersorak kegirangan bak ayam potong.
"fix, itu jodoh ku woy..."
"masa depan ku..."
"asli keluarga Kirana bibit unggul semua ya, dari om nya sampai saudara nya bikin jantung jedar jeder guys..." mereka yang tadi nya hendak pulang malah nyangkut di sana sambil melihat Dika memisah misahkan sampah ke masing masing tempat.
Sementara Mei malah mengamati wajah Dika sambil mengingat sesuatu.
"di mana ya.. kok agak mirip seseorang yang sering ku jumpai.. tapi siapa?"
...*********...
__ADS_1