Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 16: Setiap detik


__ADS_3

Sepanjang di putar nya Film, Nurul hanya diam saja. ia seperti tak tertarik dengan alur yang di


kemas dalam film itu.


Kini mereka tengah berkeliling melihat pakaian


dan lainnya di sekeliling mall.


Bian mengajak Nurul untuk memilih jam


tangan Couple agar seperti pasangan lain nya.


"yang ini bagus bang.." tunjuk Nurul pada sepasang jam tangan berwarna hitam.


"mm.. jangan yang itu dek, abang sudah


pernah punya."


"kalau ini gimana?" Bian memilih sepasang


jam tangan berwarna silver.


"mm.." Nurul mengangguk saja, lagi pula


ia tak terlalu suka memakai jam tangan.


Sambil menunggu Bian membayar, Nurul


melihat lihat ke store depan yang menjual baju


anak anak. ia pun teringat kepada tiga bocil


yang selalu mengisi hari nya.


Nurul memilih dua kemeja kembar untuk El


dan Keenan.


"uuhh.. gumushh nya.." gumam Nurul.


"dek? beli apa?"


"ini bang.." Nurul menunjukkan kemeja


itu pada Bian.


"lah.. kok dua dua nya baju cowok?


Ica kamu suruh pakai kemeja dek?"


Bian tertawa melihat nya.


"nggak bang. ini untuk El dan Keenan."


"mm... mula mula perhatian sama anak nya..


ntar jadi perhatian juga ke bapak nya.."


ujar Bian sedikit cemburu.


"apaan sih bang..


kan nggak enak kalau cuma belikan si kembar.


El juga keponakan Nur loh."


"hmm. iya iya.."


...-...


...-...


Sebelum pulang, mereka mampir sebentar menaiki biang lala sambil melihat pemandangan


kota. Nurul tampak sangat menikmati


gemerlapnya kota dari atas sana.


sedangkan Bian malah keringat dingin,


bukan, bukan karena takut. ia gugup karena


ingin memberikan sesuatu kepada Nurul.


"abang kenapa sih diem aja.


kan jadi nggak seru.."


"dek.."


"iya..?"


Bian mengeluarkan kotak cincin dari saku


celana nya. ia membuka itu tepat di depan


wajah Nurul.


"waahh.. buat Nur bang??


eh tapi kan kita masih lama lamaran nya?"


"untuk tanda jadi.."


Bian tersenyum manis sambil memandangi


wajah Nurul.


Saat hendak memakaikan cincin itu,


biang lala terhenti dan staff menyambut mereka.


"silahkan.. terimakasih telah berkunjung.."


ucap staff itu sambil membukakan pintu


biang lala.


Merasa tersipu, Nurul pun mengambil kotak cincinnya dari tangan Bian lalu memasukkan


ke kantong belanja.


"makasih ya bang..."


"kok di masukin dek?


saya ingin pakaikan untuk mu."


"malu ih, ntar di liatin banyak orang.


ntar aja abang make in Nur cincin pas lamaran nya. hehehe.."


"iya deh, lagian itu cuma hadiah kecil kok


jadi tak terlalu sakral." ucap Bian.


"manis banget sih bang Bian ku..."


Nurul tersenyum merona sambil mencubit


kecil lengan Bian.


"duh.. kok di cubit sih dek, di sayang dong.."


"muuahhh..."


Nurul mengecup lengan yang tadi di cubitnya.


"dek.."


"hmmm..?"


"love u..." bisik nya sambil mengecup


kepala Nurul.


"apa apa? nggak denger.."


goda Nurul.


"I LOVE U......" teriak Bian hingga semua


orang di sekitar sana melihat mereka.


"ihh.. abang.. jangan kenceng kenceng


juga dong... kan pada lihatin tuh.."


"biarin.. biar semua orang tau


kalau kamu punya saya.."

__ADS_1


"hahahahahha...


ada ada aja abang ini.."


"es krim nya enak tadi dek?"


"enak bang.. manis.."


"kaya kamu kan.."


"ih.. udah deh bang, lama lama mateng


nih muka Nur karena panas terus.."


"masa iya.. coba sini, abang icip dulu


sudah matang atau belum."


"hahahhaahah...."


mereka melanjutkan perjalanan ke parkiran


sambil bermain dan tertawa seperti anak


kecil. sesekali Bian juga mengusili Nurul


dengan menggendong nya karena Bian


gemas akan tubuh mungil Nurul.


"bang.. jatuh nanti..!


bang...."


...~~~~...


Jreng..creng..jreng...


(suara gitar..)


Setiap detik..


engkau yang selalu menghantuiku


tak pernah lari dari pikiran ku


tak mau hilang dari ingatan ku


Tapi mengapa.. saat gelap datang


kau masih tak di samping ku


sampai kapan kah, aku menanti mu


selalu menanti mu huu....


Setiap detik aku memikirkan mu


Setiap detik rindu meracuni ku


Setiap detik teringat ku pada mu


Setiap detik apakah harus begini


Kumohon dengar lah rintihan hati ini


kan ku curahkan seraya ku bernyanyi


sampai kapan kah aku terus begini


Ku harap kau kan kembali kepada ku..


Ku harap kau kan kembali kepada ku..


hoouwooo oo...


ku harap kau kan kembali kepada ku..


"ayah.. itu bunda kembali.."


celetuk El menyela konser tunggal


yang di gelar Vino di taman depan.


"El..."


panggil Nurul sambil berlari, 4 jam tak bertemu


itu.


"bunda.." sahut El jingkrak jingkrak.


"kok belum tidur nak, hmm?"


ia memeluk El sambil mencium kepala nya.


"El tunggu bunda.."


sahut nya gembira, kegembiraan yang double


karena Nurul memanggil nya 'nak'.


"hah? jangan bilang dia minta tidur bareng lagi.


waduh gawat, remuk lagi nanti badanku."


batin Nurul panik.


"El nggak minta tidur bareng lagi kan?"


tanya Nurul.


"bunda mau?


kalau bunda mau El senang banget..


ayah.. bunda mau tidur bersama lagi.."


ucap El kegirangan.


Nurul hanya bisa garuk kepala di buat El.


apes apes, malah salah tanggap tuh


bocah.


Melihat ekspresi Nurul, Vino pun angkat


bicara.


"bunda sama ayah nggak boleh sering


sering tidur bareng El, bahaya.."


"bahaya kenapa ayah?


kan kita cuma tidur."


"kita memang tidur, tapi kekuatan ayah


bangun. jadi bisa bahaya.." bisik Vino


kepada anak nya, bisikan sesat lebih


tepat nya.


"ohh.. kalau El yang tidur sama bunda?


tidak apa apa kan?"


"El mau ninggalin ayah?"


"ayah tidur sama Keenan, El mau sama


bunda lagi. boleh ya ayah.."


bujuk nya sambil memelas.


"iya iya.. masuk gih, ayah mau ngomong


sama bunda.." bisik Vino lagi.


"oke.." El langsung ngibrit lari meninggalkan


mereka berdua.


"Nur duluan ya pak.."


pamit nya hendak menyusul El.


"eits.. kamu di sini.."

__ADS_1


Vino menarik kantong belanja Nurul hingga


ia hampir terjengkang. tak hanya itu, kotak


cincin dari Bian pun jadi gelundung


keluar.


"pak.. kalau jatuh tadi gimana?"


"enak kok jatuh di pangkuan saya..


mau coba?"


Vino mengambil kotak cincin itu.


"ih.. itukan.. sini pak!!"


"cie.. cie.. cincin apa nih?"


goda Vino sok tabah padahal hati nya


senat senut perih euy.


"cincin untuk di pake lah..


masa untuk di buang."


sewot Nurul, ia membuka kotak nya lalu


memakai di jari manis sebelah kanan.


Apes nya, setelah masuk baru terasa kalau


cincin nya kekecilan.


ia berusaha menarik itu sampai jari nya merah.


"aduh.. kok sempit..


abang sih beli nya nggak bilang bilang.


jadi nggak pas kan." gumam nya sambil


merem melek menahan pedih di jari manis.


"kekecilan?"


Vino mengangkat tangan Nurul.


"hmm.." Nurul mengangguk malu.


Vino memijit mijit sebentar jari Nurul agar


otot nya rileks dan mudah di lepas.


"ya begini kalau tidak cocok tapi


di paksa. sakit.."


"tadi masuk nya gampang pak,


nggak Nur paksa paksa.."


"akhir nya tetap sakit kan?


karena tak sesuai ukuran."


"aahhs.. pelan pelan pak.."


desis Nurul saat cincin nya di tarik.


Namun Vino yang otak sableng malah


traveling sambil membayangkan hal


yang iya iya.


"punya handbody?"


"ada.. buat apa pak?"


"biar licin.."


Nurul pun mengambil handbody mini dari


dalam tas nya. di bantu Vino ia menuangkan


dan melumuri ke jari manis nya.


"Ran..."


"iya..?"


"kapan kalian akan tunangan?"


"tahun depan pak, kenapa?"


"saya mau siapkan tenaga untuk


memporak porandakan acara nya


hahahahaha...."


"ih... tujuan bapak apa?"


"biar kamu nggak jadi tunangan,


terus nikah sama saya." ujar nya cengengesan.


"ribet banget, kenapa nggak dari sekarang


aja ajak nya pak."


"nikah yuk.."


"hah?? nggak lah.!"


"tuh, kamu aja nggak mau..


hahahhaha"


"hishh.. nggak lucu!"


"nah.. lepas juga akhir nya.."


Vino ikutan lega melihat jari Nurul bebas.


"hufff..


minta tuker ah sama bang Bian."


"eh.. coba aja di sebelah kiri,


biasa nya jari kiri lebih kecil dari kanan."


"ah.. ya sama lah pak, orang sama sama


masih jari Nur." sahut nya ngeyel.


"ihh.. nggak percaya, sini.."


Vino merebut cincin itu lalu memakaikan


nya perlahan ke jari manis sebelah kiri.


Nuansa nya jadi berubah yang tadi nya receh


dan bete, menjadi mendebarkan karena


Nurul merasa sedang di lamar.


begitu pula dengan Vino, ia merasa


sedang memakaikan cincin di depan


keluarga besar nya dan tamu undangan.


tatapan sendu mereka saling mengunci


hingga nuansa sakral itu terasa sangat nyata.


"mwaachh..."


Vino mengecup punggung tangan Nurul


tepat setelah cincin itu bertengger di pangkal


jemari nya.


"Pak...?" lirih Nurul terbelalak.

__ADS_1


...********...


__ADS_2