
Sepanjang di putar nya Film, Nurul hanya diam saja. ia seperti tak tertarik dengan alur yang di
kemas dalam film itu.
Kini mereka tengah berkeliling melihat pakaian
dan lainnya di sekeliling mall.
Bian mengajak Nurul untuk memilih jam
tangan Couple agar seperti pasangan lain nya.
"yang ini bagus bang.." tunjuk Nurul pada sepasang jam tangan berwarna hitam.
"mm.. jangan yang itu dek, abang sudah
pernah punya."
"kalau ini gimana?" Bian memilih sepasang
jam tangan berwarna silver.
"mm.." Nurul mengangguk saja, lagi pula
ia tak terlalu suka memakai jam tangan.
Sambil menunggu Bian membayar, Nurul
melihat lihat ke store depan yang menjual baju
anak anak. ia pun teringat kepada tiga bocil
yang selalu mengisi hari nya.
Nurul memilih dua kemeja kembar untuk El
dan Keenan.
"uuhh.. gumushh nya.." gumam Nurul.
"dek? beli apa?"
"ini bang.." Nurul menunjukkan kemeja
itu pada Bian.
"lah.. kok dua dua nya baju cowok?
Ica kamu suruh pakai kemeja dek?"
Bian tertawa melihat nya.
"nggak bang. ini untuk El dan Keenan."
"mm... mula mula perhatian sama anak nya..
ntar jadi perhatian juga ke bapak nya.."
ujar Bian sedikit cemburu.
"apaan sih bang..
kan nggak enak kalau cuma belikan si kembar.
El juga keponakan Nur loh."
"hmm. iya iya.."
...-...
...-...
Sebelum pulang, mereka mampir sebentar menaiki biang lala sambil melihat pemandangan
kota. Nurul tampak sangat menikmati
gemerlapnya kota dari atas sana.
sedangkan Bian malah keringat dingin,
bukan, bukan karena takut. ia gugup karena
ingin memberikan sesuatu kepada Nurul.
"abang kenapa sih diem aja.
kan jadi nggak seru.."
"dek.."
"iya..?"
Bian mengeluarkan kotak cincin dari saku
celana nya. ia membuka itu tepat di depan
wajah Nurul.
"waahh.. buat Nur bang??
eh tapi kan kita masih lama lamaran nya?"
"untuk tanda jadi.."
Bian tersenyum manis sambil memandangi
wajah Nurul.
Saat hendak memakaikan cincin itu,
biang lala terhenti dan staff menyambut mereka.
"silahkan.. terimakasih telah berkunjung.."
ucap staff itu sambil membukakan pintu
biang lala.
Merasa tersipu, Nurul pun mengambil kotak cincinnya dari tangan Bian lalu memasukkan
ke kantong belanja.
"makasih ya bang..."
"kok di masukin dek?
saya ingin pakaikan untuk mu."
"malu ih, ntar di liatin banyak orang.
ntar aja abang make in Nur cincin pas lamaran nya. hehehe.."
"iya deh, lagian itu cuma hadiah kecil kok
jadi tak terlalu sakral." ucap Bian.
"manis banget sih bang Bian ku..."
Nurul tersenyum merona sambil mencubit
kecil lengan Bian.
"duh.. kok di cubit sih dek, di sayang dong.."
"muuahhh..."
Nurul mengecup lengan yang tadi di cubitnya.
"dek.."
"hmmm..?"
"love u..." bisik nya sambil mengecup
kepala Nurul.
"apa apa? nggak denger.."
goda Nurul.
"I LOVE U......" teriak Bian hingga semua
orang di sekitar sana melihat mereka.
"ihh.. abang.. jangan kenceng kenceng
juga dong... kan pada lihatin tuh.."
"biarin.. biar semua orang tau
kalau kamu punya saya.."
__ADS_1
"hahahahahha...
ada ada aja abang ini.."
"es krim nya enak tadi dek?"
"enak bang.. manis.."
"kaya kamu kan.."
"ih.. udah deh bang, lama lama mateng
nih muka Nur karena panas terus.."
"masa iya.. coba sini, abang icip dulu
sudah matang atau belum."
"hahahhaahah...."
mereka melanjutkan perjalanan ke parkiran
sambil bermain dan tertawa seperti anak
kecil. sesekali Bian juga mengusili Nurul
dengan menggendong nya karena Bian
gemas akan tubuh mungil Nurul.
"bang.. jatuh nanti..!
bang...."
...~~~~...
Jreng..creng..jreng...
(suara gitar..)
Setiap detik..
engkau yang selalu menghantuiku
tak pernah lari dari pikiran ku
tak mau hilang dari ingatan ku
Tapi mengapa.. saat gelap datang
kau masih tak di samping ku
sampai kapan kah, aku menanti mu
selalu menanti mu huu....
Setiap detik aku memikirkan mu
Setiap detik rindu meracuni ku
Setiap detik teringat ku pada mu
Setiap detik apakah harus begini
Kumohon dengar lah rintihan hati ini
kan ku curahkan seraya ku bernyanyi
sampai kapan kah aku terus begini
Ku harap kau kan kembali kepada ku..
Ku harap kau kan kembali kepada ku..
hoouwooo oo...
ku harap kau kan kembali kepada ku..
"ayah.. itu bunda kembali.."
celetuk El menyela konser tunggal
yang di gelar Vino di taman depan.
"El..."
panggil Nurul sambil berlari, 4 jam tak bertemu
itu.
"bunda.." sahut El jingkrak jingkrak.
"kok belum tidur nak, hmm?"
ia memeluk El sambil mencium kepala nya.
"El tunggu bunda.."
sahut nya gembira, kegembiraan yang double
karena Nurul memanggil nya 'nak'.
"hah? jangan bilang dia minta tidur bareng lagi.
waduh gawat, remuk lagi nanti badanku."
batin Nurul panik.
"El nggak minta tidur bareng lagi kan?"
tanya Nurul.
"bunda mau?
kalau bunda mau El senang banget..
ayah.. bunda mau tidur bersama lagi.."
ucap El kegirangan.
Nurul hanya bisa garuk kepala di buat El.
apes apes, malah salah tanggap tuh
bocah.
Melihat ekspresi Nurul, Vino pun angkat
bicara.
"bunda sama ayah nggak boleh sering
sering tidur bareng El, bahaya.."
"bahaya kenapa ayah?
kan kita cuma tidur."
"kita memang tidur, tapi kekuatan ayah
bangun. jadi bisa bahaya.." bisik Vino
kepada anak nya, bisikan sesat lebih
tepat nya.
"ohh.. kalau El yang tidur sama bunda?
tidak apa apa kan?"
"El mau ninggalin ayah?"
"ayah tidur sama Keenan, El mau sama
bunda lagi. boleh ya ayah.."
bujuk nya sambil memelas.
"iya iya.. masuk gih, ayah mau ngomong
sama bunda.." bisik Vino lagi.
"oke.." El langsung ngibrit lari meninggalkan
mereka berdua.
"Nur duluan ya pak.."
pamit nya hendak menyusul El.
"eits.. kamu di sini.."
__ADS_1
Vino menarik kantong belanja Nurul hingga
ia hampir terjengkang. tak hanya itu, kotak
cincin dari Bian pun jadi gelundung
keluar.
"pak.. kalau jatuh tadi gimana?"
"enak kok jatuh di pangkuan saya..
mau coba?"
Vino mengambil kotak cincin itu.
"ih.. itukan.. sini pak!!"
"cie.. cie.. cincin apa nih?"
goda Vino sok tabah padahal hati nya
senat senut perih euy.
"cincin untuk di pake lah..
masa untuk di buang."
sewot Nurul, ia membuka kotak nya lalu
memakai di jari manis sebelah kanan.
Apes nya, setelah masuk baru terasa kalau
cincin nya kekecilan.
ia berusaha menarik itu sampai jari nya merah.
"aduh.. kok sempit..
abang sih beli nya nggak bilang bilang.
jadi nggak pas kan." gumam nya sambil
merem melek menahan pedih di jari manis.
"kekecilan?"
Vino mengangkat tangan Nurul.
"hmm.." Nurul mengangguk malu.
Vino memijit mijit sebentar jari Nurul agar
otot nya rileks dan mudah di lepas.
"ya begini kalau tidak cocok tapi
di paksa. sakit.."
"tadi masuk nya gampang pak,
nggak Nur paksa paksa.."
"akhir nya tetap sakit kan?
karena tak sesuai ukuran."
"aahhs.. pelan pelan pak.."
desis Nurul saat cincin nya di tarik.
Namun Vino yang otak sableng malah
traveling sambil membayangkan hal
yang iya iya.
"punya handbody?"
"ada.. buat apa pak?"
"biar licin.."
Nurul pun mengambil handbody mini dari
dalam tas nya. di bantu Vino ia menuangkan
dan melumuri ke jari manis nya.
"Ran..."
"iya..?"
"kapan kalian akan tunangan?"
"tahun depan pak, kenapa?"
"saya mau siapkan tenaga untuk
memporak porandakan acara nya
hahahahaha...."
"ih... tujuan bapak apa?"
"biar kamu nggak jadi tunangan,
terus nikah sama saya." ujar nya cengengesan.
"ribet banget, kenapa nggak dari sekarang
aja ajak nya pak."
"nikah yuk.."
"hah?? nggak lah.!"
"tuh, kamu aja nggak mau..
hahahhaha"
"hishh.. nggak lucu!"
"nah.. lepas juga akhir nya.."
Vino ikutan lega melihat jari Nurul bebas.
"hufff..
minta tuker ah sama bang Bian."
"eh.. coba aja di sebelah kiri,
biasa nya jari kiri lebih kecil dari kanan."
"ah.. ya sama lah pak, orang sama sama
masih jari Nur." sahut nya ngeyel.
"ihh.. nggak percaya, sini.."
Vino merebut cincin itu lalu memakaikan
nya perlahan ke jari manis sebelah kiri.
Nuansa nya jadi berubah yang tadi nya receh
dan bete, menjadi mendebarkan karena
Nurul merasa sedang di lamar.
begitu pula dengan Vino, ia merasa
sedang memakaikan cincin di depan
keluarga besar nya dan tamu undangan.
tatapan sendu mereka saling mengunci
hingga nuansa sakral itu terasa sangat nyata.
"mwaachh..."
Vino mengecup punggung tangan Nurul
tepat setelah cincin itu bertengger di pangkal
jemari nya.
"Pak...?" lirih Nurul terbelalak.
__ADS_1
...********...