Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 4: Apa kabar?


__ADS_3

Dalam temaramnya suasana kamar, Nurul mengerjapkan berat mata nya sambil menguap lebar. "hh.. aku memimpikan orang tua itu lagi"


gumam nya lalu kembali memejamkan mata.


Di sudut ruangan, Vino melepas lega nafas nya.


"hhhuufft... untung dia cuma ngigau"


ia memandang sejenak ke arah El yang tampak lelap di pelukan Nurul. sesaat hati Vino terenyuh ketika menyadari kalau sang anak tak pernah mendapatkan pelukan mama sepanjang hidup nya.


"maafkan papa El. papa gagal memberikan kamu keluarga yang utuh.." batin nya sembari meneteskan air mata. lalu ia beranjak dari sana perlahan lahan agar tak membangunkan El dan Nurul.


...~~~~...


Pagi hari nya, Nurul yang baru saja keluar kamar mandi di kejutkan oleh El yang sedang duduk di kursi rias nya. sorot mata El manatap tajam ke arah Nurul sambil tersenyum kecil.


"El..? udah bangun? El nggak keluar?


keluarga El pasti nyariin loh.."


"tidak.. El tunggu bunda saja.." ucap nya sambil bersedekap di dada.


Nurul tersenyum kecut mendengar El terus saja memanggil nya bunda. beruntung ini di dalam rumah, kalau di luar pasti orang akan mengira kalau diri nya janda beranak satu.


"El.. panggil saya tante ya, atau bina juga boleh seperti Keenan dan Ica" ucap nya sambil mengeringkan rambut dengan hairdryer.


El tak menjawab, ia hanya memperhatikan


wajah lembut Nurul yang amat berseri.


"omong omong.. El kesini sama siapa? terus keluarga El apa juga tidur di sini?"


"El kesini sama ayah, oma dan opa El juga


tidur di sini kok bunda"


Nurul berpikir, yang mana oma opa nya? sebab ada beberapa kerabat papa nya juga yang menginap di sana. sama sekali tak terlintas di benak nya kalau yang di maksud El adalah Duma dan Steve.


"El.. siapa coba yang nyuruh kamu manggil saya bunda? panggil saya tante oke?" Nurul mencolek hidung mungil nya El.


El menggelengkan kepala nya.


"tidak.. Bunda Ran itu bunda nya El.."


El tersenyum lebar hingga mata nya menyipit.


"bunda Ran??"


seketika Nurul tertegun. Ran, hanya ada satu orang yang memanggil nya begitu, yaitu Vino.


...~~~~...


Sambil menunggu sarapan di siapkan, Nurul duduk di pondok taman sambil mengawasi tiga bocil bermain. El dan Keenan tampak asik memainkan mobil remote nya sambil balapan.


sedangkan Ica asik membuat garis lintasan yang akan di lewati Keenan dan El berikut nya.


"yeeyy Keenan duluan..."


"ahahahahha...." Ica kegirangan melihat mobil Keenan bisa melalui tanjakan yang ia buat dari tumpukan kardus.


"El kejar Kenan...." ucap El tak kalah girang.


saking semangat nya El sampai berlari lari agar bisa mengejar posisi Keenan.


Dari sudut ruangan lain, Vino tersenyum lebar memperhatikan anak nya yang tengah bermain.


dan senyum nya bertambah lebar lagi kala mencuri pandang ke arah gadis yang sampai sekarang masih mendebarkan dada nya.

__ADS_1


"El.. Kenan.. jangan la..." belum sempat Nurul menyelesaikan seruan nya. El tersungkur di atas lantai paving lumayan keras.


Nurul langsung bangkit dan berlari menghampiri El, begitu juga dengan Vino. ia langsung ambil langkah seribu melihat anak nya terjatuh.


sampai ia lupa tujuan nya bersembunyi di sana untuk bersembunyi dari Nurul.


Tinggal sedikit lagi Nurul sampai ke tempat El, Vino lebih dulu menghampiri El dan menggendong nya. Nurul terkejut dan langsung berhenti di tempat kala melihat sosok pria tak asing itu muncul di hadapan nya.


"p..pak Vino?" lirih nya dengan tubuh bergetar.


"El tidak apa apa nak? ada yang sakit?"


Vino memeriksa seluruh tubuh putra nya itu.


"El tida luka ayah..." sahut El tersenyum.


"syukurlah.." ucap Vino.


"ayah??" ucap Nurul tak percaya.


Karena sudah kepalang basah, Vino pun memberanikan diri melihat ke arah Nurul.


"hh..hai.." ia terlihat sangat gugup.


Nurul maju dua langkah lebih dekat,


ia masih tak percaya lelaki yang berdiri di depan nya itu Vino. lelaki yang dulu selalu usil kepada nya, lelaki yang dulu selalu mengawasi gerak gerik nya. lelaki yang tiba tiba menghilang dan hingga kini menyisakan kenangan indah di angan angan nya. kini lelaki itu berdiri lagi di hadapan nya dengan tampilan,status dan situasi yang berbeda.


"El.. dia anak bapak dan tante Zey?"


Nurul menunjuk El dengan tangan bergetar.


"hm.. dia anakku.." sahut Vino sambil mencium kepala El dengan tatapan sayu.


Air mata haru, sedih dan bingung yang bergelantungan di ujung kelopak mata Nurul kini


debaran antara gelisah,kecewa dan tak percaya.


debaran yang entah kenapa membuat hati nya kacau tak tentu arah.


"kabar mu baik hmm? kau tampak sangat sedih"


tanya Vino, tanpa sadar air mata nya pun


menitik perlahan.


"baik..


b,,bapak juga kelihatan sedih..


bapak baik baik aja?"


Nurul menunjuk wajah Vino yang di basahi air mata.


"saya.. ya, saya sedikit sedih"


sahut Vino terbata.


"Nur.. ayo masuk, sarapannya sudah siap.."


seru Fani dari kejauhan. ia tak tau kalau Nurul dan Vino telah bertemu di sana.


"iyaaa kak...." sahut Nurul.


ia tersenyum tipis ke arah Vino lalu segera pergi dari sana.


"Ran...." panggil Vino.

__ADS_1


Nurul berbalik. "iya..?"


darah Nurul langsung berdesir hebat mengaliri setiap centi tubuh nya. panggilan itu, sudah lama sekali dia merindukan panggilan itu.


"senang bertemu lagi dengan mu.."


ucap Vino tersenyum kecil dan suara nya terdengar gemetar.


"mm.." Nurul membalasnya dengan senyuman lalu meninggalkan Vino disana.


...~~~~...


Di ruang makan yang besar itu, semua nya berkumpul menikmati hidangan yang telah di sajikan. di kursi ujung kanan ada Vino dan di ujung kiri ada Nurul yang sedari tadi menghindari kontak mata dengan Vino.


Melihat situasi di antara mereka berdua, semua keluarga paham pastilah Vino sudah bertemu dan bicara dengan Nurul sebelum nya.


Di benak nya, Nurul terus memikirkan betapa malang nya nasib El karena dia bahkan belum sempat bertemu ibu nya. ia menatap sendu ke arah El yang terus saja ceria dan tertawa bersama Keenan dan Ica.


"bagaimana bisa anak kecil seperti nya sangat tegar.." lirih nya sedih.


Sedangkan di benak Vino, ia sedang memikirkan cara bagaimana menceritakan pada Nurul tentang kehidupan nya yang amat sangat berantakan.


ia malu, bagaimana cara nya memberitahu


bahwa dosa nya di masa lalu merusak


kebahagian seorang wanita, dan melenyapkan harapan seorang anak tak berdosa untuk mendapatkan belaian kasih sayang dari


seorang ibu.


...~~~~...


Pukul 11:00


Nurul sedang menunggu Bian menjemput nya, ia duduk di depan rumah sambil melihat video di ponsel nya.


"khm..." Vino yang berdiri tak jauh dari sana memberi kode bahwa dia ingin bicara sebentar.


Nurul menoleh canggung. ia hanya mengangguk tipis saat melihat Vino seolah memberi nya sapaan.


"Ran.. boleh saya ngobrol sama kamu?"


deg..deg.. deg...deg..


"hah.. iya boleh.."


Vino menghampiri Nurul dan duduk di sebelah nya. ia mengambil jarak cukup jauh untuk menghargai kenyamanan Nurul.


"sudah lama ya.." ucap Vino, ingin rasa nya ia bilang rindu tapi sangat sulit.


"hhh.. lumayan lama.." sahut Nurul gugup.


lumayan lama untuk nya menahan rindu akan sosok Vino yang dulu selalu mewarnai hidup nya.


"bunda mau pergi ya..?" El tiba tiba datang dan duduk di pangkuan sang ayah.


"mm.., iya.. saya mau sekolah.." sahut Nurul.


Tak lama Bian tiba dan langsung turun


dari mobil nya.


"sayang... ayo berangkat..." seru Bian setengah berlari, namun seketika langkah nya melambat saat melihat Vino duduk di sebelah kekasih nya.


"Vino?" senyum di bibir Bian memudar saat itu juga.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2