Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
Episode 31: Lamaran


__ADS_3

Mendengar itu rasa penasaran El


semakin tinggi.


"kenapa El hasil minum minum?


apa El hadiah? bukan anak mama?"


"Ran.. kamu sih, jangan bahas yang


aneh aneh di depan El."


bisik Vino sambil menggenggam


tangan Nurul memohon agar


pembahasan berhenti sampai di sana.


"maka nya kelakuan bapak juga jangan


aneh aneh! emang susah ya kalau


pemain handal ini, ck..ck..ck.."


seketika keraguan muncul karena


berpikiran pasti lah Vino mengencani


banyak wanita saat di luar Negeri.


"maksut bunda El punya saudara apa?


ayah punya anak lagi?"


"eh..eh.eh. ssstt...


anak ayah cuma El, udah El jangan


dengar kata bunda ya, bunda lagi


ngambek sama ayah."


Seketika udara di dalam mobil terasa


semakin pengap dan gerah karena


tatapan berapi api nya Nurul ke Vino.


ya memang wajar Nurul berpikiran begitu


karena ia tau betul bagaimana Vino,


seorang playboy kelas kakap yang


bisa dengan mudah menaklukan wanita


manapun termasuk diri nya.


...~~~~...


Keesokan hari nya di kampus.


Saat jam makan siang tiba, Nurul


pergi ke kelas Mei untuk memberikan


titipan ibu nya.


"wihhh.. lihat, siapa yang datang


ke kelas kita..." ucap Mei arogan


saat melihat Nurul celingukan di


sana.


"hh.." Nurul tersenyum tipis dan sinis.


"ngapain kamu? bawa bawa kantong


plastik segala, mau ngemis?"


ledek salah satu teman Mei.


Merasa kesal dengan sikap mereka,


Nurul melemparkan kantong plastik


itu ke meja mereka.


"Kecamatan Titian Agung, Rt 15 rumah


bata di seberang kebun kenari.


itu oleh oleh dari sana.. dari seorang ibu


bernama Evi." ucap nya tersenyum


tipis lalu pergi dari sana.


"apa??? tidak mungkin..!"


Mei merasa ingin menjambak Nurul


saat itu juga karena ia berpikir Nurul


mencari tau rumah nya.


"kalau sampai dia buka mulut..


bisa tamat aku!" rutuk nya ketakutan.


"yang di maksut dia rumah siapa Mei?"


tanya teman teman nya.


"i..itu rumah,, pembantu.."


...-...


...-...


Saat hendak menuju kantin, Nurul


melewati sekelompok siswa yang sedang


latihan basket. dengan tatapan kosong


memikirkan keluarga Mei yang sebenar nya.


"dek..!!"


Bian menarik Nurul ke arah nya


karena hampir saja bola basket itu


menghantam Nurul.


Para siswa yang mengetahui mereka


masih berpacaran pun langsung


meledek adegan sweet itu.


"cieeeee......."


"uhuyyyy......"


Rasa canggung antara mereka pun


tak dapat di elakkan lagi.

__ADS_1


"makasih bang.. eh Pak."


"lain kali hati hati.."


ucap Bian dengan senyum lembut khas nya.


segera ia beranjak karena merasa tak enak.


"hhfff... ku rasa dia baik baik saja."


lirih Nurul.


...~~~~...


Hari ini tugas dadakan dari dosen


membuat Nurul pulang lebih lambat.


lelah dan kantuk menyerbu kepala nya,


segera berbaring di kasur seperti nya


obat paling manjur saat itu.


"sore... semua.."


sapa nya saat melewati ruang tengah.


ia heran melihat Steve dan Duma yang


juga ada di sana, kok tumben pikir


Nurul.


"bunda..." El langsung berlari


memeluk kaki Nurul.


"iya..."


Nurul menunduk dan membalas


pelukan El.


"udah dari tadi tante? Om?"


tanya Nurul.


"lagi bahas saham kah?


tumben kumpul semua hahaha..."


imbuh nya, karena memang seluruh keluarga nya ada di sana termasuk juga


Dimas dan Fani.


"Vino meminta kami untuk melamar mu."


ucap Duma tersenyum bahagia.


Tentu Nurul menganggap Duma


hanya bercanda.


"HAHAHAHAHAHAA.....


iya iya.. lanjut lah kalau gitu, Nur


mau ke atas dulu.."


"duduk dulu sini..


di terima nggak nih lamaran Vino?"


ucap Rianti.


"hah?? lam..lamaran?"


hampir semaput si Nurul mendengar itu.


tanya Duma lagi.


"nggak mau.."


Vino langsung berdiri dari duduk nya.


"kenapa? apa alasannya?"


"alasan nya..."


belum selesi bicara, Vino menarik


Nurul keluar dari sana.


Vino membawa nya ke taman untuk


bertanya secara pribadi apa alasan


pasti Nurul menolak lamaran nya.


"Ran.. kamu cinta kan sama saya..?"


Nurul mengangguk.


"lalu apa alasan kamu menolak


lamaran saya?"


"bukan kah ini terlalu cepat pak?


Nur masih mau lanjut kuliah."


"cepat??


lima tahun Ran.. lima tahun kita


saling memendam cinta, saya tidak


bisa menunggu lebih lama lagi."


"tapi Nur masih mau kuliah pak..


masih terlalu muda untuk Nur menikah.."


"terus nunggu saya jadi kakek kakek


gitu? baru kamu mau menikah?


saya sudah tua Ran...tua."


"tapi Nur masih muda pak."


"iya.. karena kamu masih muda,


saya takut kamu tergoda oleh pria


yang lebih tampan dan lebih baik dari


saya. maka nya saya mau patenkan


hak milik saya ke kamu dengan


pernikahan. paham?!"


"Pak. Nur masih harus mengejar cita cita.


alasan Nur menolak lamaran bapak


bukan karena masih kuliah saja,


Nur punya keinginan dan tekad tersendiri.

__ADS_1


ingin menjadi wanita karir yang mapan,


ingin mengusai ilmu melukis lalu membuka


galeri sendiri. dan kalau semua sudah terwujud baru lah Nur ingin berumah tangga."


"Ran.. kamu tau saya bukan orang


yang pelit kan?


galeri? mapan? semua keinginanmu


bisa kita wujudkan bersama.


kamu duduk saja nanti di rumah,


semua yang kamu mau tinggal tunjuk


saya akan berikan."


"bapak kan pengangguran.."


celetuk Nurul santai.


"j..jadi kamu berbelit belit seperti


ini karena mengira saya pengangguran?"


Vino tak menyangka, wajar sih karena


Nurul tak tau kalau Vino adalah pewaris


tunggal GD grup.


Yang ia ketahui dari mama nya,


papa Vino memang mempunyai toko


perhiasan, ya yang Nurul pikir toko


seperti yang ada di pasar pasar itu,


yang juga jual ikat rambut plus gelang lemarebuan. juga Vino dulu bekerja


dengan Dimas kan?


"ya realistis pak, coba bayangin,


bapak pengangguran dan Nur


nggak kerja. masa iya mau minta


makan sama mama?"


Vino menunjukkan Email dari


perusahaan nya, perhari cukup lah


untuk jajan cilok di mang udin.


"lihat..? pengangguran asal


uang ngalir tidak masalah kan?"


Nurul tercengang, ia mencoba


membaca angka perhari yang Vino


dapatkan yakni berkisar 90 juta


US Dollar perhari.


"perhari??!! bukan pertahun??"


otak nya sampai konslet saat mencoba


mengalikan berapa rupiah yang di dapat


Vino dalam sebulan.


"hmm.. bagaimana?


pilih lah lokasi mu untuk membuka


galeri, atau museum sekalian?"


bujuk Vino agar Nurul mau menerima


lamarannya hari ini.


"Lihat kakak mu, dia sekarang menjadi


ratu tanpa gelar sarjana. apa lagi


yang kamu ragukan?"


"jadi bapak menganggap pendidikan


nggak penting untuk wanita?


maksut bapak percuma Nur sarjana


kalau ujung ujung nya menjadi istri


begitu??" entah bagian mana yang


membuat nya tersinggung, ia memang


menganggap pendidikan dan gelar itu


wajib agar tidak di remehkan kaum


lelaki.


"hei, saya tidak bilang begitu..


saya cinta sama kamu Ran,


apa salah jika saya ingin menjadikan


kamu milik saya secepatnya?


saya cuma takut kamu jatuh ke tangan


orang lain jika terlalu lama.


saya juga tidak membatasi kamu


jika kamu masih ingin kuliah."


Satu hal yang membuat Nurul ragu,


bukan karena masalalu Vino, bukan


pula karena perbedaan usia mereka.


Nurul hanya takut memulai hubungan


dengan status yang berbeda.


ia takut suatu saat nanti suami nya


menuntut dan mencela bahwa wanita


harus bisa ini, harus bisa itu.


ia takut jika nanti suami nya akan


mencampakkan diri nya karena tidak


memiliki apa apa, seperti yang di alami

__ADS_1


mendiang ibu nya.


...********...


__ADS_2