
Mendengar itu rasa penasaran El
semakin tinggi.
"kenapa El hasil minum minum?
apa El hadiah? bukan anak mama?"
"Ran.. kamu sih, jangan bahas yang
aneh aneh di depan El."
bisik Vino sambil menggenggam
tangan Nurul memohon agar
pembahasan berhenti sampai di sana.
"maka nya kelakuan bapak juga jangan
aneh aneh! emang susah ya kalau
pemain handal ini, ck..ck..ck.."
seketika keraguan muncul karena
berpikiran pasti lah Vino mengencani
banyak wanita saat di luar Negeri.
"maksut bunda El punya saudara apa?
ayah punya anak lagi?"
"eh..eh.eh. ssstt...
anak ayah cuma El, udah El jangan
dengar kata bunda ya, bunda lagi
ngambek sama ayah."
Seketika udara di dalam mobil terasa
semakin pengap dan gerah karena
tatapan berapi api nya Nurul ke Vino.
ya memang wajar Nurul berpikiran begitu
karena ia tau betul bagaimana Vino,
seorang playboy kelas kakap yang
bisa dengan mudah menaklukan wanita
manapun termasuk diri nya.
...~~~~...
Keesokan hari nya di kampus.
Saat jam makan siang tiba, Nurul
pergi ke kelas Mei untuk memberikan
titipan ibu nya.
"wihhh.. lihat, siapa yang datang
ke kelas kita..." ucap Mei arogan
saat melihat Nurul celingukan di
sana.
"hh.." Nurul tersenyum tipis dan sinis.
"ngapain kamu? bawa bawa kantong
plastik segala, mau ngemis?"
ledek salah satu teman Mei.
Merasa kesal dengan sikap mereka,
Nurul melemparkan kantong plastik
itu ke meja mereka.
"Kecamatan Titian Agung, Rt 15 rumah
bata di seberang kebun kenari.
itu oleh oleh dari sana.. dari seorang ibu
bernama Evi." ucap nya tersenyum
tipis lalu pergi dari sana.
"apa??? tidak mungkin..!"
Mei merasa ingin menjambak Nurul
saat itu juga karena ia berpikir Nurul
mencari tau rumah nya.
"kalau sampai dia buka mulut..
bisa tamat aku!" rutuk nya ketakutan.
"yang di maksut dia rumah siapa Mei?"
tanya teman teman nya.
"i..itu rumah,, pembantu.."
...-...
...-...
Saat hendak menuju kantin, Nurul
melewati sekelompok siswa yang sedang
latihan basket. dengan tatapan kosong
memikirkan keluarga Mei yang sebenar nya.
"dek..!!"
Bian menarik Nurul ke arah nya
karena hampir saja bola basket itu
menghantam Nurul.
Para siswa yang mengetahui mereka
masih berpacaran pun langsung
meledek adegan sweet itu.
"cieeeee......."
"uhuyyyy......"
Rasa canggung antara mereka pun
tak dapat di elakkan lagi.
__ADS_1
"makasih bang.. eh Pak."
"lain kali hati hati.."
ucap Bian dengan senyum lembut khas nya.
segera ia beranjak karena merasa tak enak.
"hhfff... ku rasa dia baik baik saja."
lirih Nurul.
...~~~~...
Hari ini tugas dadakan dari dosen
membuat Nurul pulang lebih lambat.
lelah dan kantuk menyerbu kepala nya,
segera berbaring di kasur seperti nya
obat paling manjur saat itu.
"sore... semua.."
sapa nya saat melewati ruang tengah.
ia heran melihat Steve dan Duma yang
juga ada di sana, kok tumben pikir
Nurul.
"bunda..." El langsung berlari
memeluk kaki Nurul.
"iya..."
Nurul menunduk dan membalas
pelukan El.
"udah dari tadi tante? Om?"
tanya Nurul.
"lagi bahas saham kah?
tumben kumpul semua hahaha..."
imbuh nya, karena memang seluruh keluarga nya ada di sana termasuk juga
Dimas dan Fani.
"Vino meminta kami untuk melamar mu."
ucap Duma tersenyum bahagia.
Tentu Nurul menganggap Duma
hanya bercanda.
"HAHAHAHAHAHAA.....
iya iya.. lanjut lah kalau gitu, Nur
mau ke atas dulu.."
"duduk dulu sini..
di terima nggak nih lamaran Vino?"
ucap Rianti.
"hah?? lam..lamaran?"
hampir semaput si Nurul mendengar itu.
tanya Duma lagi.
"nggak mau.."
Vino langsung berdiri dari duduk nya.
"kenapa? apa alasannya?"
"alasan nya..."
belum selesi bicara, Vino menarik
Nurul keluar dari sana.
Vino membawa nya ke taman untuk
bertanya secara pribadi apa alasan
pasti Nurul menolak lamaran nya.
"Ran.. kamu cinta kan sama saya..?"
Nurul mengangguk.
"lalu apa alasan kamu menolak
lamaran saya?"
"bukan kah ini terlalu cepat pak?
Nur masih mau lanjut kuliah."
"cepat??
lima tahun Ran.. lima tahun kita
saling memendam cinta, saya tidak
bisa menunggu lebih lama lagi."
"tapi Nur masih mau kuliah pak..
masih terlalu muda untuk Nur menikah.."
"terus nunggu saya jadi kakek kakek
gitu? baru kamu mau menikah?
saya sudah tua Ran...tua."
"tapi Nur masih muda pak."
"iya.. karena kamu masih muda,
saya takut kamu tergoda oleh pria
yang lebih tampan dan lebih baik dari
saya. maka nya saya mau patenkan
hak milik saya ke kamu dengan
pernikahan. paham?!"
"Pak. Nur masih harus mengejar cita cita.
alasan Nur menolak lamaran bapak
bukan karena masih kuliah saja,
Nur punya keinginan dan tekad tersendiri.
__ADS_1
ingin menjadi wanita karir yang mapan,
ingin mengusai ilmu melukis lalu membuka
galeri sendiri. dan kalau semua sudah terwujud baru lah Nur ingin berumah tangga."
"Ran.. kamu tau saya bukan orang
yang pelit kan?
galeri? mapan? semua keinginanmu
bisa kita wujudkan bersama.
kamu duduk saja nanti di rumah,
semua yang kamu mau tinggal tunjuk
saya akan berikan."
"bapak kan pengangguran.."
celetuk Nurul santai.
"j..jadi kamu berbelit belit seperti
ini karena mengira saya pengangguran?"
Vino tak menyangka, wajar sih karena
Nurul tak tau kalau Vino adalah pewaris
tunggal GD grup.
Yang ia ketahui dari mama nya,
papa Vino memang mempunyai toko
perhiasan, ya yang Nurul pikir toko
seperti yang ada di pasar pasar itu,
yang juga jual ikat rambut plus gelang lemarebuan. juga Vino dulu bekerja
dengan Dimas kan?
"ya realistis pak, coba bayangin,
bapak pengangguran dan Nur
nggak kerja. masa iya mau minta
makan sama mama?"
Vino menunjukkan Email dari
perusahaan nya, perhari cukup lah
untuk jajan cilok di mang udin.
"lihat..? pengangguran asal
uang ngalir tidak masalah kan?"
Nurul tercengang, ia mencoba
membaca angka perhari yang Vino
dapatkan yakni berkisar 90 juta
US Dollar perhari.
"perhari??!! bukan pertahun??"
otak nya sampai konslet saat mencoba
mengalikan berapa rupiah yang di dapat
Vino dalam sebulan.
"hmm.. bagaimana?
pilih lah lokasi mu untuk membuka
galeri, atau museum sekalian?"
bujuk Vino agar Nurul mau menerima
lamarannya hari ini.
"Lihat kakak mu, dia sekarang menjadi
ratu tanpa gelar sarjana. apa lagi
yang kamu ragukan?"
"jadi bapak menganggap pendidikan
nggak penting untuk wanita?
maksut bapak percuma Nur sarjana
kalau ujung ujung nya menjadi istri
begitu??" entah bagian mana yang
membuat nya tersinggung, ia memang
menganggap pendidikan dan gelar itu
wajib agar tidak di remehkan kaum
lelaki.
"hei, saya tidak bilang begitu..
saya cinta sama kamu Ran,
apa salah jika saya ingin menjadikan
kamu milik saya secepatnya?
saya cuma takut kamu jatuh ke tangan
orang lain jika terlalu lama.
saya juga tidak membatasi kamu
jika kamu masih ingin kuliah."
Satu hal yang membuat Nurul ragu,
bukan karena masalalu Vino, bukan
pula karena perbedaan usia mereka.
Nurul hanya takut memulai hubungan
dengan status yang berbeda.
ia takut suatu saat nanti suami nya
menuntut dan mencela bahwa wanita
harus bisa ini, harus bisa itu.
ia takut jika nanti suami nya akan
mencampakkan diri nya karena tidak
memiliki apa apa, seperti yang di alami
__ADS_1
mendiang ibu nya.
...********...