
"tompel?? emang aku tompelan ya?"
Gaby bingung, yang di namakan tompel
kan yang hitam besar kaya koin kan?
Gaby nggak merasa tuh punya tompel.
"itu.. yang di atas bibir, dulu kamu punya."
"ouuuuhhhh....
itu bukan tompel kak. itu kan cuma
tahi lalat biasa, cuma secuil juga."
"iya tapi tetap aja timbul kan, orang
jelas banget kok dulu."
"itu, gara gara aku jatuh dari sepeda,
jadi area sini tuh luka. terus pas sembuh
ilang dia.." tutur Gaby, tangan nya
masih menggantung di leher Dika.
sorot mata nya memancarkan kebahagiaan
yang amat jelas, bagaimana tidak.
usaha nya untuk tetap berdiri sebagai
penggemar berat Dika selama ini tak
sia sia.
"ya ampun...jadi gara gara itu?
tau nggak sih kamu, gara gara tompel
itu hilang aku jadi sulit menemukan mu.
hhhffff... kini aku lega, ternyata Dita ku
tumbuh dengan baik.. cantik lagi.."
"jadi kakak sebahagia ini karena
aku cantik? gimana kalau ternyata
aku nggak secantik ini?
atau gimana kalau ternyata Dita itu
bukan aku? apa kakak tetap akan
mencintai Dita tanpa melirik ku sedikit pun?"
"ku akui,, kamu memang cantik.."
pandangan mata Dika seakan menaburkan
seribu cinta ke jantung Gaby.
"dan aku udah lama tertarik sama kamu,
karena kecantikan mu, tapi aku memilih
diam karena jauh di lubuk hati ku masih mengharapkan Dita.
kalau saja aku tak bertemu lagi dengan
Dita, aku akan meminta maaf karena
sudah berpaling, berpaling pada
kecantikanmu..
tapi aku sangat sangat bersyukur,
karena ternyata Dita ku, cinta ku,
adalah kamu Gaby..
aahhhhhh... aku lega, harus kah
kita rayakan ini? atau kita umumkan
ke semua orang kalau kita sepasang
kekasih?"
Gaby benar benar syok menyaksikan
sikap Dika yang benar benar berbeda.
Dika yang biasa nya hanya mengatakan
oh, iya, hm.. oke.. kini benar benar
mencair hanya dalam sekejap.
"kekasih..? kita??🤭"
tanya Gaby tersipu.
Dika mengangguk.
"hmm.. kenapa? ku rasa kita
saling cinta bukan?"
"saling cinta..? beneran??"
wajah Gaby semakin merah merona.
"tunggu.. aku masih belum percaya
ini kak Dika. beneran nggak sih..
ya ampun, kak Dika yang ku kenal itu
begini Oh, iya.. terserah...bagus.."
Gaby sampai mempraktekkan raut wajah
jutek Dika saat sedang berbicara pada nya.
__ADS_1
"masa iya?? perasaan kamu aja itu
hehehhe...."
Dari lantai atas kampus, ternyata ada
seseorang yang diam diam mengambil
foto mereka yang sedang berpelukan mesra.
Orang itu adalah salah satu perawat
magang di rumah sakit yang sama dengan
Dika.
"ya tuhan??!
itu dokter Dika beneran? peluk pelukan
sama anak kuliahan? bukan nya dia
bilang sudah punya istri? OMG!!
apa dia selingkuh???"
gumam wanita itu syok.
...~~~~...
Hari berikut nya, semua orang di rumah
Rianti tengah bermusyawarah tentang
Vino dan Nurul yang akan tinggal di mana.
Duma meminta mereka tinggal di rumah nya,
sementara Rianti pun ingin Nurul tetap
tinggal di sana.
"kamu sendiri lebih ingin kemana nak?
pilih saja sesuai kenyamanan kamu.."
ujar Duma yang kini telah resmi bergelar
menjadi ibu mertua.
"Nur sih ikut Mas Vino aja tan.. eh Ma.."
"ya saya juga ngikut kamu aja, yang penting
kamu nyaman, kamu senang.."
Ya,.. begitu lah mereka berdua dari tadi.
tidak ada yang mau mengambil keputusan.
"bagaimana kalau kalian tinggal di apartemen
Bronze, lokasi nya di tengah tengah rumah
mama kamu, juga kami.."
usul Dimas memberikan peta lokasi tower
Berat rasa nya Duma untuk setuju, karena
Vino anak semata wayang nya.
akan di kemana kan rumah nya jika
Vino tak tinggal di sana?
"yahh... mama sendirian dong,
padahal mama berharap rumah kita
ramai sama seperti di sini.."
ucap Duma memelas.
"ya nggak apa apa Ma..
Mama juga kan lebih sering di klinik,
tu Papa sampai keriput menahan rindu
hahahahahha...."
"ishh!! kau ini benar benar tak pernah
menyanjung ku."
balas Steve mengepalkan tangan nya
ke arah wajah Vino.
"bagaimana sayang?
kalau kamu keberatan bilang saja,
saya akan menuruti kecocokan hati mu."
biasa lah bund.. rayuan pengantin baru,
jadi masih anget anget nya.
"Nur rasa ide Mas Dimas bagus juga..
lagi pula lokasi itu dekat kalau mau
main ke sini, ataupun rumah mama Duma."
"oke.. nanti sore kita lihat lihat ke sana,
tapi ini gratis kan??"
Vino menatap Dimas sambil mengedipkan
sebelah mata nya.
"wohhh!! tidak bisa.
bisnis ya bisnis... hahahahah.."
sahut Dimas.
__ADS_1
"Diskon? kasih lah minimal 80 persen
hitung hitung hadiah pengantin baru😉"
"heh. kau bisa membeli semua unit
kalau kau mau, kalau ku kasih diskon
untuk apa uang mu hah?"
"untuk treatment biar awet muda hahahah.."
"chh. sadar lah.. umur takkan menghalangi
datang nya keriput di wajah mu.
jadi kau siap siap saja mungkin Nurul
akan berpaling dengan yang lebih muda
gagah macho saat keriput mulai
menghampiri mu 😆."
Merasa tak rela suami nya di pojokkan,
Nurul pun angkat bicara memberi
pembelaan.
"Mas juga hati hati.. ntar kak Fani
malahan yang kepincut ama daun muda.
secara Mas kan juga udah tua hahaha.."
"dek.. Mas mu ini laki laki paling gagah
yang pernah kakak temui, jadi jangan
berpikir kakak bakal pindah ke lain hati."
ucap Fani juga membela sang suami.
"ya siapa tau kan..
soal nya Mas Dimas bentar lagi menapouse
HAhahahHHahha..."
"idih.. kalau itu mah masih lama.
kali Vino yang menapouse duluan hahaha..
kan dia udah sering tuh cangkul cangkulan,
jadi udah letih duluan🤣🤣🤣"
"woy..! bisa nggak kalau mau ngejelekin
kami nanti aja, pas kami nggak ada."
gretak Vino tak terima si alex di jelekkan.
"Hahahaha...
ya kan paling enak ngomongin orang
dari depan." imbuh Fani tertawa lebar.
"tapi enakan dari belakang sayang..
lebih terasa... hahahaha..."
Dimas juga tampak nya senang melihat
Vino kepanasan.
"Ahhahahaha....
aduh aduh.. udah ntar pada ngompol
tau rasa.." potong Nurul tak kuasa
menahan kram perut lantaran banyak
tertawa.
"siang siang gini rujak enak ya dek..
seger banget.. sssrrrpp..."
Fani menelan ludah sambil mengecapkan
bibir nya.
Dimas dan Vino langsung saling
bertatapan. begitu juga dengan Rianti
dan Duma yang menguping dari dapur.
"rujak mang udin masih buka kali ya..?"
"masih mungkin kak.. tapi jangan
Nur ya. males hahahahah.."
ia dan Vino reflek saling bertatapan
karena mengingat momen pertama
mereka.
Tiba tiba suara melengking Ayu memecah
suasana saat itu.
"hai semua nyaa.....
hari yang indah sekali..."
ia melepas sepatu nya lalu berjalan
santai ke arah mereka.
Fani dan Nurul saling menatap sambil
menaik turunkan alis nya.
__ADS_1
😄😄
...*********...