
setelah mendengar penjelasan Joni Reno dan ibunya pun merasa lega, karena tadi mereka hampir saja mengucapkan hal yang tak boleh di ucapkan. namun untungnya Joni telah mengetahui semuanya. sehingga mereka berdua tidak khawatir lagi dengan janji nya.
mereka pun bercerita panjang lebar, terlihat suasana mereka seperti keluarga yang lama tidak bertemu. Joni merasakan suasana yang telah hilang dari kehidupannya.
setelah beberapa lama ibu meninggalkan mereka berdua untuk ngobrol.
terlihat Reno dan Joni masih melanjutkan ceritanya.
''bapak banyak cerita tentang kak Reno dan pak Toni. maaf jika karena ayah kak Reno mengenal bapak jadi kehidupan kalian pun sama dengan kehidupan kami'', kata Joni sambil menundukkan kepalanya.
''tidak Joni. jangan seperti itu, ayahmu lah yang telah menyelamatkan ayah sehingga ayah bisa hidup dan mempunyai aku sebagai anaknya.
ayahmu tak salah sedikitpun, justru beberapakali ayahmu menyelamatkan ayah dan ibuku, mungkin ini tak di ceritakan ayahmu padamu. namun di mata kami ayahmu adalah saudara yang patut kami lindungi bahkan jika itu menggunakan nyawa kami.'' ucap Reno yang seketika membuat Joni tersentak kaget.
''apa yang pernah bapak lakukan pada keluarga ini, hingga rela bertaruh nyawa untuk ayah''. pikir Joni dalam hati.
namun Joni tak ingin mempertanyakan hal ini pada ayahnya.
yang ada dalam hati Joni adalah rasa beruntung karena dia bisa menjadi anaknya, dan ayahnya adalah figur untuknya di masa depan.
setelah beberapa saat Joni kembali bertanya pada Reno perihal keinginannya yang dulu ingin ke negara tengah untuk mencari keluarga ayahnya di sana.
''aku dulu sangat ingin pergi ke negara tengah, namun waktu yang tak memberiku kesempatan saat itu, saat ayah meninggal semua ke inginan itu ku tunda hingga adik adiku besar dan mampu menjaga ibu.'' ucap Reno
''memangnya siapa yang ingin kak Reno temui di negara tengah''. tanya Joni lagi
''mengapa kamu tanyakan hal ini. apakah kamu ingin ke negara tengah, bukan kah saat ini kamu sedang me nimba ilmu''. kata Reno bertanya
''em.... ada rencana sih kak. tapi masih lama, kita lihat nanti siapa yang duluan bisa pergi kesana makanya aku menanyakan ini ke kak Reno.'' kata Joni
reno pun mengatakan semua rencananya kepada Joni. semua yang ingin dia katakan dan tujuan yang ingin di tujunya saat itu. dengan seksama Joni mendengarkan semuanya
''jika nanti aku bisa ke negara tengah sebelum kak Reno dapat pergi maka tujuan itu akan ku cari dan akan ku sampaikan pesan ini'' ucap Joni penuh keyakinan.
Reno memandangi Joni yang terlihat penuh percaya diri.
setelah lama mengunjungi keluarga Reno dan bahkan makan di rumah Reno akhirnya Joni pun berpamitan untuk pulang, di jalan Joni sekilas melirik rumah Endi sahabat kecilnya yang belum nampak pulang ke desa Soko.
seandainya saja Endi pulang mungkin Joni akan menceritakan rencananya untuk pergi ke negara Utara.
.............
esok hari pun tiba, saatnya Joni me mulai pelatihan dari ayahnya sesuai janji kemarin.
tampak Joni bangun lebih awal bahkan melakukan sedikit gerakan pemanasan,
dari dalam pondok ayah memandangi Joni yang penuh semangat pagi ini.
__ADS_1
tak lama kemudian ayah keluar untuk memberikan pelatihan pertama pada Joni.
''wah.. wah .. semangatnya anak bapak ini.'' ucap ayah yang mengejutkan Joni yang sedang melakukan pemanasan.
Joni pun menghentikan gerakannya lalu menghadap ayahnya sambil berdiri tegak.
''aku sudah siap pak, mohon berikan bimbingan''. ucap Joni
''baiklah. tahap pertama yang harus kamu lakukan adalah memperbaiki jalan dari desa Soko sampai perbatasan ladang warga di ujung jalan sana dengan membawa batu batu itu,'' ucap ayahnya sambil menunjuk ke arah jalan dan batu yang sudah di kumpulkan nya.
''dan setiap jalan yang kamu lalui harus di perbaiki dari bahan batu yang ada di sungai itu'' tambah ayah sambil menunjuk ke arah sungai tempat mereka mandi.
itu artinya setiap berangkat dan kembali akan melewati rumah pondok mereka.
Joni terkejut mendengar apa yang di ucapkan ayah padanya.
namun ayahnya bercerita kalau dulu ia di tugaskan untuk mengirim 500 batu bata dari rumah sampai ke ujung kota untuk keperluan pembuatan pos penjagaan bahkan tanpa makan dan minum.
namun kali ini ayah menyiapkan ceret air di depan pondok jika Joni ingin minum, namun Joni hanya boleh minum saat di pondok saja.
joni tak boleh minum di tempat lain selain disini, ini adalah latihan fisik dan keteguhan hati.
lalu Joni pun memulai latihannya, hari pertama Joni terasa sangat berat karena ini belum pernah ia jalani sebelumnya.
Joni membawa setengah dari batu yang telah disiapkan bapak beratnya sekitar 25 kg.
Joni pun berjalan kembali untuk melanjutkan latihannya.satu kali, dua kali, Joni terlihat sangat lelah, namun dia tetap melanjutkan latihannya, setelah 3 kali balik akhirnya Joni memutuskan untuk minum 1 kali untuk hari ini.
setelah minum Joni melanjutkan lagi latihannya. namun kali ini saat kembali untuk mengambil batu Joni kembali dengan berlari untuk mempercepat waktu.
waktu hampir pukul 3 sore dan Joni sudah 10 kali balik. namun misinya masih selesai, ia baru mengerjakan setengah jalan.
aku harus bisa melalui apa yang pernah bapak lakukan dulu. ucap Joni menyemangati diri dalam hatinya. waktu berlalu dan jam menunjukan pukul 8 malam, Joni masih belum menyelesaikan latihannya.
ayahnya menunggu di ruang pondok dan sudah menyiapkan makanan enak untuk Joni makan saat sudah menyelesaikan tugasnya hari ini.
setelah satu jam menunggu, akhirnya Joni mengetuk pintu pondok.
ayah keluar dan bertanya apakah tugas yang di berikan nya sudah selesai.
''sudah ayah aku baru saja menyelesaikannya'' ucap Joni.
''baiklah kamu mandi dulu, bapak tunggu kamu disini untuk makan bersama.'' ucap ayahnya
Joni yang hendak langsung masuk terhenti dan berbalik ke arah sungai untuk mandi.
setelah bersih dan berpakaian Joni mendatangi ayahnya yang nampak sudah lama menunggunya.
__ADS_1
''ayo kita makan.....'' ucap Joni sambil mendekati ayahnya.
setelah makan ayah menyuruh Joni untuk ber istirahat, besok kamu tidak latihan seperti tadi dulu ya, sebab kondisi badanmu besok harus ber adaptasi dengan kegiatan mu hari ini.
''baik pak''. ucap Joni dan pergi untuk ber istirahat.
esok hari pun tiba, seperti biasa Joni bangun awal dan sedang melakukan gerakan pemanasan namun kali ini gerakan nya agak lambat, karena tubuh Joni belum terbiasa dengan kegiatan latihan kemarin. tampak gerakan Joni sesekali tertahan karena merasakan sakit.
ayah yang datang menghampiri hanya tersenyum melihat Joni pagi ini.
''bagai mana...'' kata ayah sambil tersenyum menatap wajah anaknya.
''mantap memang pak. badanku rasanya seperti di pukuli. tapi besok sudah tak ada rasa sakit lagi mungkin''. kata joni optimis.
''baiklah hari ini tugas latihan mu adalah kita sama sama melihat ke jalan yang sudah di betulkan kemarin ya..
saran dari bapak buat kamu yaitu kita kesana sambil Joni menggendong batu, cukup yang itu saja''. ucap ayah sambil menunjuk batu yang beratnya kurang lebih 8 kg.
''siap pak.'' ucap Joni dengan senang hati
lalu mereka berdua pun berjalan sambil ngobrol, menuju jalan di pertengahan desa dan berjalan ke arah ujung desa yang kemarin di perbaiki Joni.
ayah memperhatikan timbunan batu yang nampak tersusun rapi, ayah merasa cukup puas dengan perbaikan yang di lakukan Joni, dan terus berjalan menuju ujung desa.
Joni nampak ter engah engah sambil berjalan di belakang bapak. namun dia terus melakukan nya dengan sekuat tenaga dan sebaik baiknya.
beban yang dia pikul hari ini memang lebih ringan dari kemarin.
namun yang membuat Joni lelah adalah ritme jalannya tak seperti kemarin saat dia latihan, kemarin dia bisa berlari atau mempercepat langkahnya, namun kali ini dia berjalan sangat pelan bahkan sesekali berhenti. dan kadang ayah berbicara dengan warga yang melintas yang melihat mereka.
hampir semua warga yang melintas mempertanyakan Joni untuk apa batu yang ia bawa, dan satu persatu pertanyaan itu dapat di jelaskan ayah. terlihat ada warga yang berinisiatif untuk mengunci batu yang disusun dengan tanah, agar tidak bergerak saat di lalui.
dan diikuti beberapa warga lainnya, melihat hal ini Joni dan ayah merasa senang, dan akhirnya mereka pun sampai di ujung jalan,
''nah, nak coba letakkan batu yang telah kamu bahwa ke tepi jalan itu'', ucap ayah sambil menunjuk tepi jalan yang di maksud.
Joni meletakkannya dengan segera karena sudah merasa bobot batu ini bukan lagi 8 kg, tapi lebih mirip 50 kg.
setelah meletakkan batu itu Joni merasa lega sekali karena tak ada lagi beban yang ia bawa.
istirahatlah dulu luruskan kakimu dan atur nafas mu, itu akan membuat tubuhmu lebih tenang. ucap ayah yang melihat Joni beristirahat.
........................
....................
...00000...
__ADS_1
...000...