The Copy Master

The Copy Master
episode 22. PENYESALAN


__ADS_3

terlihat Joni sedang memanggang daging buruannya. dia sedang mengguling kijang.


wah... kijang guling memang sangat menggoda kata Joni sambil terus memutarmutarnya.


''sayang kakak tak tau dan mungkin tak pernah mengalami hal ini jika tetap bekerja di perusahaan. memakan kijang guling sendirian. wah pasti sangat kuenyang aku malam ini''. pikir Joni sambil tersenyum sendiri.


saat sudah matang Joni langsung memakannya, tanpa memperhatikan 2 penjahat yang dari tadi pingsan.


setelah beberapa saat. salah satu penjahat terbangun. dia melihat ke arah temannya yang masih pingsan lalu melihat Joni yang sedang asyik makan kijang guling nya.


''ternyata bocah ini bukan bocah sembarangan'' ucap penjahat dalam hatinya sambil melihat ke arah Joni yang masih asyik makan.


ia pun mendekat ke arah temannya dan membangunkannya.


Joni yang melihat penjahat yang menyerangnya bangun dari pingsan pun tak peduli, dia tetap asyik menikmati kijang gulingnya. sampai tinggal setengahnya.


2 penjahat itu perlahan lahan mendekati Joni dan duduk di hadapannya.


''maafkan kami tuan,,'' kata salah seorang penjahat sambil menahan rasa sakit dan menelan ludahnya melihat Joni makan kijang guling yang aromanya sangat memikat selera dihadapannya.


Joni diam tak perduli dengan kedua orang ini. dia terus saja makan.


''saya Ari, dan ini Rudi'' kata salah seorang yang memperkenalkan diri mereka.


''maaf tuan. tadi kami berniat jahat padamu. tolong maafkan kami tuan''. ucap Ari yang tadi memperkenalkan dirinya.


akhirnya Joni pun bicara, namun bukan karena dia ingin berbicara pada mereka hanya saja, bahasa 'tuan' itu sangat mengganggunya. bahkan membuat Joni kehilangan selera makannya.


''kakak kakak penjahat ini sebenarnya maunya apa. aku inginnya saat kalian sadar dari pingsan harusnya pergi saja, tak perlu minta maaf, kenalan, apalagi dari tadi kakak ini memanggilku tuan terus... bikin selera makan saya hilang saja. tuh sisa kijang gulingnya. kalian saja yang makan...''. kata Joni menunjuk sisa kijang guling yang sudah habis paha, punggung dan kaki depannya. hanya tinggal daging yang menempel di tulang rusuk, leher dan kepala saja.


''terimakasih tuan,,'' kata Rudi yang sudah tak tahan melihat kijang guling didepannya.


''sekali lagi kakak panggil aku tuan, ku lempar kalian dari sini'' ucap Joni dengan muka marah menatap mereka.

__ADS_1


''maaf tu... eh.. dek. kami tak sengaja mengucapkannya. tapi terimakasih makanannya.'' ucap mereka sambil merobek tulang rusuk kiri kanan dan langsung memakannya.


melihat penjahat yang menyerangnya tadi makan seperti orang kelaparan, Joni pun agak sedikit menaruh simpati pada mereka..


''kakak kakak penjahat ini berasal dari mana'' kata Joni bertanya


''maaf dek. saya Ari dan ini Rudi'' kata mereka mengenalkan diri lagi.


''maafin ya bukannya nama kakak sulit di ingat dan bukannya aku tidak tau nama kalian. tetapi saat kalian berniat jahat pada seseorang seperti padaku tadi. maka kakak tak punya hak menyandang nama pemberian orang tua kalian. dan lebih pantas memiliki nama pen-ja-hat.'' kata Joni dengan wajah yang masih kesal mengingat perbuatan mereka padanya.


penjahat yang bernama Rudi bercucuran air mata mendengar apa yang di katakan Joni. sambil terus memakan makanannya.


dan Ari terlihat sangat menyesali perbuatannya.


''coba kakak penjahat bayangkan, jika tadi orang yang ingin kalian celakai benar benar luka luka, cacat atau bahkan mati. dan jika kalian di posisi sebagai adik, kakak, keluarga atau bahkan sebagai orangtuanya apakah kalian bisa menganggap seperti tak terjadi apa apa''


ucap Joni lagi sambil melihat serius ke arah mereka


''kenapa mereka masih saja makan, saat air mata ikut membasahi daging yang mereka makan. apa mungkin ber cucur nya air mata mereka anggap sebagai bumbu tambahan sampai mereka bisa terus makan dan terus mengunyah, atau apakah karena mereka berdua benar-benar kelaparan''. pikir Joni dalam hatinya.


melihat hal itu, Joni pun berpikir mungkin lebih baik membiarkan mereka menghabiskan makanannya dulu. karena jika ku marahi saat mereka makan malah terlihat semakin lahap makannya walau pun sambil bercucuran air mata. jika terus seperti ini bisa bisa aku juga ikut ikutan lapar gara gara melihat mereka. pikir Joni


''yasudah, selesaikan saja dulu makanan kalian berdua''. ucap Joni sambil melirik ke arah organ dalam kijang yang belum ia panggang.


Joni pun memanggang organ dalam yang ia sisihkan sebelumnya. dan sekarang hanya tinggal kulitnya saja. yang menggantung dan tidak di apa apakan karena bingung mau di apakan.


setelah masak Joni langsung melahap lagi daging panggang nya. sampai sampai tak tau kalau Ari dan Rudi sudah selesai makan dan memperhatikan nya, menunggunya menyelesaikan tugas makannya.


mereka berdua heran, berapa banyak isi perutnya hingga sudah makan daging kijang begitu banyak ditambah lagi organ dalamnya yang juga terlihat banyak.


''dek, sekali lagi maafkan kami. kami terpaksa melakukan hal keji tadi, karena kami sangat kelaparan. maafkan kami, kami sangat menyesal,'' ucap mereka berdua sambil membungkukkan badan tanda hormat dan penyesalan mereka.


Joni melirik mereka sambil tersenyum, ia merasakan bahwa yang mereka ucapkan bukanlah sebuah ke bohongan. tapi lebih terdengar ketulusan bercampur rasa penyesalan yang dalam.

__ADS_1


''sudah sudah. duduklah. aku tak biasa melihat hal seperti ini. duduklah jika kalian tak bermaksud menghilangkan selera makan ku lagi.'' ucap Joni menyuruh mereka bersikap biasa.


''baik dek, terimakasih banyak atas kemurahan hati mu. kalau boleh tau siapa namamu, dan berapa usiamu saat ini'' kata Ari bertanya.


''o... namaku Joni, usiaku 18 tahun, aku dari desa Soko. aku ingin pergi ke kota bunga'' ucap Joni lengkap


''di kota bunga, siapa yang ingin kau kunjungi, dan kenapa kamu berangkat sendirian....?''


tanya Ari lagi.


''aku ingin mengunjungi temanku di sana, sejak dia bersekolah di kota bunga. aku tak pernah bertemu dengannya lagi. dan aku pergi sendirian, kakak ku kerja dan ingin menjaga bapak.'' ucap Joni


''kota bunga adalah kota yang terbilang rawan, jika kamu pergi sendirian bolehkah aku mengikutimu dan membantumu menemukan temanmu itu. kebetulan kami ber asal dari desa daun yang letaknya juga tak jauh dari kota bunga. paling tidak berikan aku kesempatan untuk membalas budimu yang telah menyadarkan ku''. ucap Rudi menawarkan diri


''tunggu aku juga menawarkan hal yang sama, aku juga merasa sangat berhutang Budi padamu, kalau bukan karena kamu yang menyadarkan ku, mungkin kami benar benar telah menjadi penjahat. dan tak pantas lagi bertemu dengan keluarga kami''. ucap Ari


''sebenarnya, aku juga tidak tau sama sekali tentang pulau telunjuk dan kota bunga dan jangankan alamatnya, arahnya saja aku tidak tau. saat berangkat aku lupa bertanya pada neneknya di desa Soko. tapi jika kakak kakak penjahat ingin mengantarku, mungkin aku tak keberatan. tapi maaf saja, jika masalah ongkos penyebrangan besok kakak kakak penjahat harus membayarnya sendiri, karena aku tak punya uang yang cukup untuk membiayai kalian'' ucap Joni polos.


''huh..... bisakah kamu memanggil kami dengan nama kami saja'' kata Rudi yang kurang senang namanya jadi penjahat.


''o.... kalau soal nama, aku baru bisa memanggil nama kalian besok pagi. karena aku masih belum bisa me maafkan kalian berdua'' ucap Joni tegas.


''huh.... ya sudah lah, terserah kamu saja'' ucap Rudi pasrah


''intinya kami sudah berterimakasih padamu saja mungkin sudah cukup bagus'' ucap Ari.


''baiklah, sebaiknya kita beristirahat dulu untuk perjalanan besok. kakak kakak juga mungkin merasakan sakit karena pertarungan tadi. jadi lebih baik kita beristirahat dulu'' ucap Joni yang bersiap tidur di samping api unggun.


mereka bertiga beristirahat mengelilingi api unggun.


..........................


....................

__ADS_1


.............


.........


__ADS_2