
pagi hari pun tiba Joni terlihat sudah terbangun dengan badan yang segar, dan tentu saja masih kenyang makan daging semalam.
mereka bertiga kembali ke dermaga untuk menunggu penyebrangan dibuka.
Joni mencoba memperkirakan jarak antara pulau jempol dan pulau telunjuk berjarak sekitar 200 meter.
dalam hatinya berfikir, jarak itu bisa di lalui dengan menggunakan rakit. atau kapal kayu tapi mengapa penyebrangan disini hanya mengandalkan perahu landasan yang semuanya terbuat dari besi. Joni penasaran melihat keadaan tempat pelabuhannya dan akhirnya dia memutuskan untuk bertanya.
''kak Ari, dari tadi ku perhatikan jarak antara pulau jempol dan pulau telunjuk setidaknya berjarak sekitar 200 meter. dan seharusnya dermaga penyebrangan ini bisa di lalui menggunakan rakit atau kapal kayu. tapi yang ku lihat kenapa penyebrangan di sini hanya mengandalkan landasan besi itu.'' kata Joni bertanya.
''o... pertanyaan ini sering sekali di tanyakan oleh orang orang yang baru pertama kali menyeberang. tapi sepertinya lebih pass jika aku tak menjawabnya, nanti saat kita menyeberanginya kamu pun akan tau alasannya'' ucap Ari yang membuat Joni semakin penasaran.
............
penyebrangan pun dibuka, beberapa kendaraan memasuki ruangan yang ada di bagian bawah landasan, dan orang orang naik di atas landasannya. ada beberapa penyeberang yang membawa payung untuk persiapan saat menyeberang. karena di landasan atas tidak ada atap yang di buat sehingga saat menyeberang, penyeberang yang tak membawa payung akan basah kuyup karena hujan.
saat landasan mulai bergerak menuju pulau telunjuk dan hampir mencapai tengah,
brak,, brak,, brak,, suara yang bertubi-tubi terdengar dan membuat landasan bergoyang goyang. Joni kaget dan bertanya tanya dalam hati.
lalu Joni pun menuju tepi landasan yang terpasang besi pegangan untuk menjaga supaya penyeberang tidak terjatuh akibat goncangan dan gelombang.
saat mencapai tepi landasan, Joni melihat ke arah laut dan terlihat ada semacam ekor buaya namun ini lebih besar dan panjang. jika dilihat sepintas panjangnya bisa mencapai 20 meter dan jumlahnya tidak hanya satu.
''hey... kak Ari, itu binatang apa yang terus menghantam landasan ini''. tanya Joni.
''nah.... itulah alasannya mengapa penyebrangan ini hanya mengandalkan landasan besi ini''. ucap Ari.
''itu binatang yang mirip buaya tapi tak memiliki kaki seperti buaya pada umumnya panjangnya mencapai 20 sampai 30 meter mereka menyerang apa saja yang melewati batas laut disini, orang orang menyebutnya belut purba''
kata Ari menjelaskan.
''o... pantas saja, aku merasa ada yang tidak beres dengan lautan ini sejak awal aku datang memang aneh jika hanya dengan jarak yang terbilang dekat namun penyebrangan hanya menggunakan landasan besi saja. bahkan perahu nelayan pun tak terlihat berjajar di sepanjang dermaga ini. rupanya ini lah penyebabnya'' ucap Joni yang mengetahui mengapa tak ada satu pun kapal nelayan yang terbuat dari kayu di dermaga ini.
setelah beberapa saat menyeberangi selat antara pulau jempol dan pulau telunjuk. mereka bertiga pun sampai di tepi pulau telunjuk.
mereka bergegas turun dari landasan penyebrangan.
Joni berjalan keluar dari dermaga penyebrangan.
__ADS_1
''kak kemana arah menuju kota bunga..''
ucap Joni
''o.. sebenarnya negara timur ini hanya memiliki beberapa kota saja jadi, untuk akses jalan, bisa di bilang mudah saja. karena dari ujung ke ujung hanya ada 1 jalan utama. dan jarak ke kota Bunga sekitar 90 km dari sini. dan sepertinya bentuk jalan utamanya tak jauh berbeda dengan jalan utama di pulau jempol.'' ucap Ari menjelaskan.
''Oya kak. mungkin aku akan bergegas menuju kota bunga sebelum perutku merasakan kelaparan lagi'' ucap Joni sambil melihat ke arah Ari dan Rudi.
''jika kakak kakak bisa mengejar ku, boleh. tapi jika tak bisa tidak apa apa. masalah kalian ingin membantu ku menemukan temanku, itu nanti saja memikirkannya''. kata Joni yang bersiap pergi lebih dulu.
''wus...'' Joni bergerak berlari menyusuri jalan dan masuk ke dalam hutan dengan kecepatannya.
Ari dan Rudi ikut berlari dan setelah beberapa saat, mereka berhenti kelelahan. bahkan saat ini sudah tak ada lagi jejak Joni. mereka benar benar sudah tertinggal sangat jauh.
''rud, nampaknya kita tak akan mampu mengejar Joni. dia terlalu cepat, bagi kita. huh ..huh ..'' kata Ari sambil ter engah engah.
''iya benar, saat bertarung dengan kita kemarin dia juga belum menggunakan pukulan. dia hanya menabrakkan tubuhnya untuk mengalahkan kita. bagiku dia sangat mengagumkan. dan aku juga ingin mempunyai kemampuan seperti dia. tapi.... huh...huh....'' Rudi bicara sambil terengah engah.
''sudahlah, yang penting kita juga harus pergi ke kota bunga dan mencarinya juga membantunya'' ucap Ari sambil berjalan menyusuri ke arah kota bunga.
dari dalam hutan nampak Joni terus bergerak dengan kecepatannya sambil terus berlatih metode 4.
setelah hampir 1.5 jam berlalu Joni pun sampai di tepi kebun dan melihat ada banyak bangunan tinggi di ujungnya.
Joni bertanya pada orang yang kebetulan lewat,
''pak apakah ini kota bunga..'' tanya Joni
''iya.. benar, adek dari mana dan mau kemana''. kata orang itu sambil bertanya balik
''syukurlah, saya dari kota lori ingin ke tempat pendidikan yang ada di kota ini''. ucap Joni
''o... begitu.... Oya disini ada 5 sekolah beladiri dan. 2 sekolah formal 1 sekolah hanya formal saja dan yang satunya formal dan pondok. kira kira kamu mau ke mana..''. tanya orang itu lagi.
''o... banyak juga ya sekolah disini.
aku ingin ke sekolah yang ada pondoknya pak.'' ucap Joni
''kalo sekolah itu di arah timur kota letaknya dekat dengan alun alun kota bunga, kamu ikuti saja jalan yang terbagi 2 ini. nanti kau akan sampai di alun alun dan letak sekolahannya ada di sebelah kanan'', ucap orang itu memberitahu.
__ADS_1
''terimakasih banyak pak''. ucap Joni sambil pergi ke arah yang di tunjukan
beberapa saat kemudian Joni sampai di tempat yang di tunjukan tadi dan benar saja ada bangunan sekolah di sebelah kanan jalan. dan Joni berjalan ke arahnya.
sesampainya di pos sekolah Joni bertemu penjaga sekolah dia memperkenalkan dirinya sekaligus bertanya, apakah di sekolahan ini ada siswa yang bernama endi yang telah lulus tahun ini, dan dia dari pulau jempol juga.
terlihat penjaga sekolah berfikir keras, mengingat apakah ada anak dari pulau jempol dan bernama endi.... bahkan dia sampai membuka daftar siswa yang lulus tahun ini.
setelah lama mencari ada 2 nama Endi dalam daftar. 1 nama Endi. dan 1 nama Endi Setiawan.
tapi dua duanya berasal dari pulau telunjuk.
Joni merasa bingung, saat bersekolah di desa Soko. sahabatnya bernama endi saja tapi disini ada 2 nama endi.
''menurut saya kamu datangi saja keduanya, mungkin salah satunya adalah sahabatmu''. kata penjaga sekolah sambil memberikan salinan alamat pada Joni.
Joni pun pergi menuju alamat yang tertera. mungkin ke yang bernama endi saja dulu, pikir Joni dalam hati.
setelah beberapa saat Joni bertemu dengan anak seusianya dan ia menanyakan alamat yang tertera di kertas yang di bawanya. anak itu mengantarkan Joni dan menunjukan rumah yang tertulis di alamatnya.
''itu rumahnya''. kata anak itu dan pergi meninggalkan Joni.
Joni datang ke rumah yang tertera dalam alamat dan beruluk salam.
seseorang keluar dari rumah dan menghampiri Joni.
terlihat seorang ibu ibu datang menghampiri, usianya seusia ibunya Joni jika masih hidup, tapi agak lebih muda. dia berdiri menghampiri dan bertanya pada Joni sambil tetap berada di dalam rumah.
''siapa ya...'' tanya ibu ibu tersebut
''maaf.. Bu, saya Joni. saya dari desa Soko di pulau jempol. saya sedang mencari sahabat kecil saya yang bernama endi. apakah ini rumah Endi sahabat saya dari desa Soko dulu.'' ucap Joni.
mendengar ucapan Joni yang detail dan menerangkan siapa dirinya, ibu itu pun membuka pintu rumahnya.
........................................
.............................
.................
__ADS_1
...........
........