
sesampainya di rumah Endi dan melihat Endi sedang menunggunya.
''maaf ya en, tadi aku menunggu kakakku berangkat dulu, jadi agak telat datang ini hi.hi.hi....'' ucap Joni sambil tersenyum.
''iya nggak apa apa kok.'' kata Endi sambil berdiri dan berjalan menghampiri Joni.
''ayo kita berangkat'' ajak Endi.
mereka pun berjalan melewati ladang dan beberapa saat kemudian merekapun sampai di kebun mangga milik keluarga Endi.
''emangnya sudah ada yang jatuh kah...'' ujar Joni bertanya.
''udah, kemarin ayah bawa beberapa yang jatuh. makanya aku ajak ke sini, mungkin besok baru di panen habis ini. jadi kita petik beberapa buat kita makan dan kamu bawa pulang ya''. jawab Endi
''aku sudah bilang ke ayah kalau kita akan ke sini jadi sudah aman'' kata Endi menambahi.
kebun mangga keluarga Endi letaknya tak jauh dari perumahan dan jumlah pohonnya pun lumayan banyak tapi hanya 2 jenis mangga saja yang di tanam keluarga endi. hanya jenis mangga Indramayu dan 2 pohon mangga budi raja. dan biasanya saat musim mangga banyak anak anak yang menunggu mangga jatuh baik sebelum maupun selepas panen. karena pemilik pohon memanen mangga nya hanya 80% saja. dan sisanya di biarkan sebab mengetahui kebiasaan anak anak saat musim mangga.
luas kebun mangga di desa ini membentang sepanjang kanan dan kiri sungai sebagai penahan erosi tanah.
''ayo naik jon'' kata Endi sambil menunjuk pohon budi raja yang tidak terlalu tinggi dan tak terlalu besar.
''ok '' kata Joni sambil bersiap memanjat.
''cari yang udah merah kulitnya ya. biasanya dah Mateng itu, sekalian ambil 5 atau 6 buah untuk kamu bawa pulang juga ya.'' kata Endi meminta Joni
''ok bos'' saut Joni sambil meledek.
mangga budi raja adalah jenis mangga yang memiliki ukuran besar dengan bobot yang berada di atas jenis mangga lain tetapi jika dibandingkan dengan mangga Indramayu maka para pembeli biasanya lebih banyak memilih mangga indramayu karena lebih manis dan tahan lama (tak mudah busuk).
setelah mengambil beberapa buah, Joni pun turun dengan hati hati dan duduk di bawah pohon.
Endi mengeluarkan pisau yang di bawanya untuk mengupas mangga yang di dapat.
''wah.... manis ini nampaknya'' kata Endi sambil menahan liur dan mengupas mangga.
dan mereka berdua pun makan mangga sambil menunggu mangga jatuh.
angin mulai bertiup, sehingga suasananya pun jadi lebih segar dan asri khas pedesaan.
''lihat en, nampaknya yang itu, itu, itu, jatuh bentar lagi.'' kata Joni sambil menunjuk beberapa buah mangga Indramayu yang nampak besar dan kekuningan.
setelah beberapa saat dari kejauhan terlihat anak anak yang d juga datang ke kebun Endi. untuk mencari dan berebut mangga jatuh, dan bagi mereka suatu kebanggaan tersendiri saat berhasil berlari dan mendapatkan mangga secara berebut seperti itu.
dan benar saja saat sampai mereka menyapa dan mulai melihat mangga yang sudah matang dan menunggu di bawah pohon yang di inginkan sambil menunggu angin yang agak kuat berhembus untuk menjatuhkannya.
setelah beberapa saat.
''wus.....'' angin bertiup dan menggoyangkan dahan pohon dan....
''buk... buk... buk....'' beberapa buah jatuh dan sontak mereka berlari dan berebut termasuk Endi dan Joni yang ikut serta.
__ADS_1
aku dapat, kata mereka sambil mengangkat dan mengejek kawan lainnya. Joni tertawa lesu karena kalah berlari.
sementara itu Endi menyemangati Joni.
''tenang Jon... kita lari lagi selepas ini''. kata Endi menghibur.
benar saja..
buk buk buk buk. beberapa buah jatuh lagi termasuk mangga yang tadi di tunjuk Joni.
mereka sontak berlari kalang kabut sambil melihat kemana mangga itu jatuh...
hanya 1 anak yang tidak dapat kali ini.
Joni dapat 2 buah dan masing masing yang lain dapat 1.
setelah beberapa saat Joni kembali untuk mengumpulkan hasil mangga nya hari ini.
''wah... sudah banyak ini en. nampaknya aku udah ah nggak mau ikut berebut lagi'' kata Joni merasa cukup.
''ok aku juga sudah dapat ini tapi aku mau cari satu lagi'' jawab Endi sambil menunjukkan mangga yang dia dapat.
hari sudah semakin siang cuaca sudah semakin panas.
''ayo en kita pulang yo'' ajak Joni.
''ayo, aku malah dah nambah 2 he.he.he'' jawab Endi
''Jon besok kita nunggu mangga lagi Yo'' ajak Endi.
''ayo, tapi kita cari tempat lain ya sambil mencari anak burung untuk kita pelihara.'' ucap Joni
''ok siap, kita sambil bawa ketapel donk...'' kata Endi
''iya'' saut Joni lagi.
malam hari pun tiba, dan malam ini Joni tidur di kamar ibu, karena ayah masih belum kembali.
''Bu, kapan bapak pulang'' tanya Joni pada ibunya.
''besok nak, mungkin siang baru sampe rumah'' jawab ibu.
''o.... asik..., kakak lagi ngapain ya bu'', tanya Joni.
seketika raut muka ibu tampak berubah sedih,
Joni menyadari pasti ibu masih sedih karena baru pagi tadi kakak berangkat.
''Bu, besok kalau bapak datang. kita sama sama makan mangga yang kudapat tadi ya. tadi juga ada yang di kasih sama endi tapi belum masak'' ucap Joni mengalihkan pembicaraan.
''iya, Alhamdulillah ya Endi baik nanti bilangkan terimakasih ibu pada Endi ya'' jawab ibu lagi.
__ADS_1
''bu, besok aku mau ke kebun mangga lagi ya'' kata Endi menyela
''iya nggak apa apa, ibu nunggu bapak pulang aja di rumah'' jawab ibu mengizinkan Joni.
saat malam, seperti biasa ibu terbangun. dan kali ini ibu juga terkejut sebab benda terbang tempo hari ada lagi, tapi yang ini bermacam macam warna cahayanya.
''benda apa lagi sih itu, kok dah dua kali ada semacam ini'' ucap Bu Sumiyati dalam hati.
pagi hari pun tiba. sesuai janji setelah sarapan Joni bergegas pergi ke rumah Endi untuk pergi ke kebun mangga lagi.
terlihat Endi yang sudah bersiap dengan senjata pamungkasnya (ketapel).
ayo berangkat ajak Joni
dan merekapun pergi
sepanjang jalan Endi bercerita pada Joni bahwa semalam ada bintang jatuh, dan Joni pun banyak bertanya kali ini sebab dia sama sekali tidak tau kejadian semalam. dan ibu juga tak memberitahunya.
tak terasa mereka sampai di kebun mangga dan berniat menjelajah ke dalam kebun dan hutan tepian sungai.
Joni melihat ada beberapa ranting pohon yang sedikit layu di satu pohon. tanpa memperdulikannya mereka pun masuk ke dalam kebun dan hutan tepian sungai.
Joni dan Endi terus memperhatikan. ke atas sambil mencari sarang burung. tapi kali ini Joni juga memperhatikan hal lainnya.
ranting pohon yang layu itu membentuk garis lurus bahkan semakin ke dalam kebun tampak beberapa daun terlihat layu kering dan semakin dalam semakin kering bahkan ada beberapa ranting pohon yang patah.
apakah ini akibat adanya bintang jatuh semalam yang di ceritakan Endi, pikir Joni dalam hati.
saat semakin dalam Joni tak lagi melihat tanda tanda daun kering dan ranting patah lagi.
''Jon'' ucap Endi yang seketika mengagetkan langkahnya.
''tuh liat,'' kata Endi sambil menunjuk ke arah dahan pohon sebelah pohon mangga besar yang tingginya sekitar 5 meter yang terlihat ada sarang burung nya dan samar terdengar ada suara anak burung.
Joni pun me manjat ke arah sarang yang di tunjuk Endi. karena kebetulan pohonnya pun agak kecil jadi Joni bisa meraih batang pohonnya. dan memanjat sampai sarang dengan menginjak dahan pohon itu.
sambil memanjat Joni terus memperhatikan sekitar pohonnya yang tampak banyak bulu yang tampak seperti terbakar, saat sampai alangkah terkejutnya Joni mendapati induk burung yang mati karena terdapat luka di punggungnya, dan lebih terkejut lagi saat melihat salah satu induk burung mati tanpa kepala yang tampak pecah tertabrak sesuatu. tapi anak burungnya masih hidup, semuanya berjumlah 3 ekor yang nampak kelaparan.
Joni melemparkan induk burung ke arah Endi yang menunggunya di bawah. Endi pun ikut kaget sambil menyimpan pertanyaannya untuk Joni saat sudah turun nanti.
Joni meraih sarang dan memasukannya ke wadah yang selalu dia bawa.
saat hendak turun sekitar 4.5 meter lagi.
Joni melihat ada lubang sebesar jempol kaki orang dewasa yang menembus batang pohon mangga di sebelahnya sebab lubang itu nampak menghancurkan kulit kayu luarnya, seperti lubang peluru tapi lebih besar. tanpa pikir lagi Joni cepat turun dan menghampiri Endi. yang masih menunggunya.
setelah sampai di bawah.
''Jon ini kenapa induk burungnya ya.'' masa ada yang nembak tapi kok bisa ya nggak ada kepalanya. tanya Endi sambil memegang induk burung
" aku juga nggak tau, sebab induk yang 1 masih dalam posisi mengerami tapi punggungnya tampak terbakar.'' ucap joni
__ADS_1