Time Travel: Jenderal Jia Li

Time Travel: Jenderal Jia Li
S2. {Kehidupan Zu}


__ADS_3

Pagi itu Zu bangun dari tidur nya dengan senyum yang mengembang diwajah nya, dia sungguh bahagia saat bangun dari tidurnya yang pertama dia lihat adalah istri nya, perempuan yang dia cintai.


Zu mengelus wajah Hong Shilin dengan lembut, dan dia pun memainkan anak rambut Hong Shilin yang menutupi wajah Hong Shilin, lalu dia pun menciumi pipi Hong Shilin dengan lembut.


Hong Shilin yang merasakan sentuhan Zu melenguh karena merasa terganggu, lalu dia pun membuka mata nya dan memegang tangan Zu yang berada di wajah nya.


“Zu?” panggil Hong Shilin dengan suara serak khas bangun tidur.


“Kau bangun sayang? maaf aku mengganggu tidur mu” ucap Zu.


“Tidak apa-apa” Hong Shilin melepaskan tangan Zu yang dia genggam dan mengelus wajah tampan Zu.


“Kapan kau akan membawa ku pergi Zu?” tanya Hong Shilin dan menatap Zu.


“Besok” jawab Zu.


“Besok? kenapa tidak hari ini Zu?” tanya Hong Shilin dengan bingung.


Zu menghela nafas panjang dan memegang tangan Hong Shilin yang masih berada di wajah nya.


“Apa kau tak lelah hem?” tanya Zu dengan lembut.


Hong Shilin yang mendengar pertanyaan itu terdiam.


“Lelah sih” jawab nya dengan kikuk.


Zu terkekeh melihat ekspresi Hong Shilin, lalu dia pun kembali menciumi wajah Hong Shilin.


“Maka dari itu aku mengajak mu untuk tinggal di markas Black Wolf besok” Zu mendekatkan kembali wajah nya dan berbisik pelan.


“Lebih baik sekarang kita kembali membuat Zu junior” bisik Zu dan dia pun segera mel*mat bibir tipis Hong Shilin.


Hong Shilin terkesiap saat Zu mel*mat bibir nya, belum sempat Hong Shilin membalas ciuman Zu, Zu sudah mengigit bibir Hong Shilin hingga Hong Shilin refleks membuka mulutnya.


Zu mulai menyusuri setiap rongga mulut Hong Shilin dengan lidah nya, dan akhirnya Hong Shilin pun membalas ciuman Zu dan mengalungkan tangannya pada leher Zu.


Mereka pun kembali mengulangi aktivitas mereka semalam.


.


.


.


.


.


.


.


Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman Hong Xinian, dia bangun dari tidurnya dengan kepala nya yang berdenyut sakit.


Dia mendudukkan tubuhnya dan memegangi kepala nya yang terasa sangat sakit itu, dia tidak tahu kenapa, tapi ini sungguh sangat sakit.


“Ah, kenapa kepala ku sangat sakit sekali?” gumam Hong Xinian dengan lirih dan menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


Saat dia sedang terdiam pintu kamar nya di ketuk oleh seseorang dan dengan susah payah dia pun turun dari peraduan nya dan berjalan dengan tergopoh pada pintu kamar nya, saat sudah membuka pintu nya dia melihat dua pelayan yang biasa melayani nya sudah menunggu di depan pintu kamar nya.


“Nona, apa kami mengganggu tidur nona?” tanya salah satu pelayan dengan takut.


Hong Xinian menggeleng dengan lemah.


“Tidak” jawab Hong Xinian dengan suara kecil.

__ADS_1


Kedua pelayan yang melihat wajah pucat nona mereka saling berpandangan karena melihat nona mereka seperti yang sedang sakit.


“Nona, wajah anda sangat pucat, apakah anda sedang sakit?” tanya salah satu pelayan itu.


Hong Xinian yang mendengar ucapan pelayan nya menatap mereka berdua.


“Pucat? apakah benar?” tanya nya dengan tidak percaya.


“Benar nona, wajah anda sangat pucat, biar pelayan ini memanggil kan tabib untuk nona, pelayan ini takut nona kenapa-kenapa” ucap salah satu pelayan itu dan dia pun segera berlari dari sana sebelum mendengar jawab Hong Xinian.


Hong Xinian yang melihat salah satu pelayan nya pergi memanggil tabib hanya bisa terdiam.


“Nona, biar saya bantu nona kembali ke peraduan” ucap pelayan itu.


Hong Xinian hanya mengangguk dan setelah nya dia pun kembali berjalan menuju peraduan dengan di bantu pelayan satu nya.


Dia kembali menidurkan tubuh nya yang terasa sangat lemas itu, entah ada apa dengan diri nya ini, dia pu tidak tahu.


Kabar Hong Xinian sakit pun sampai di telinga tuan dan nyonya Hong, mereka berdua yang mendengar putri pertama mereka sakit pun bergegas pergi menuju kediaman Hong Xinian.


Saat mereka berdua sampai mereka dapat melihat Hong Xinian yang sedang tertidur di atas peraduan dengan wajah pucat nya, nyonya Hong mendekati Hong Xinian dan mengelus kepala nya.


“Nian'er?” panggil nyonya Hong dengan lembut.


Hong Xinian yang merasakan sentuhan di kepala nya dan panggilan untuk nya pun membuka kedua mata nya, saat dia sudah bangun dia dapat melihat ibu nya yang sedang menatap nya penuh kekhawatiran.


“Ibu?” ucap Hong Xinian dengan lemah.


“Apakah kau sakit? sakit apa sayang?” tanya nyonya Hong.


“Nian'er hanya pusing saja Bu” jawab nya dengan lemah.


“Kenapa bisa sampai sakit em?” tanya tuan Hong yang sedari tadi hanya diam.


“Tidak tahu ayah, Nian'er memang akhir-akhir ini selalu pusing tapi sekarang pusing nya sangat parah tidak seperti sebelum nya” ucap jujur Hong Xinian.


“Kenapa bisa seperti itu Nian'er? apa kau tidak makan dengan tepat hem?” Tanya nyonya Hong.


“Tidak bunda, Nian'er selalu makan tepat waktu, mungkin Nian'er hanya terlalu banyak fikiran hingga Nian'er menjadi sakit kepala seperti ini” tutur Hong Xinian dengan lemah.


Dia pun mencoba tersenyum dengan bibir pucat nya itu, dia tidak mau membuat kedua orang tau nya khawatir.


Mungkin benar, dia terlalu banyak fikiran karena selalu merasa bersalah pada Hong Shilin hingga membuat nya tanpa sadar menyakiti dirinya sendiri.


Saat mereka sedang saling terdiam tabib yang di panggil oleh salah satu pelayan Hong Xinian pun sampai


“Tabib tolong periksa putri ku” ucap nyonya Hong saat melihat tabib sudah sampai.


Tabib itu pun mengangguk dan berjalan mendekati Hong Xinian, dan nyonya Hong pun bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju suami nya.


Tabib itupun mulai memeriksa Hong Xinian dengan telaten, dia memeriksa denyut nadi Hong Xinian, saat dia sedang memeriksa denyut nadi Hong Xinian tabib itu mengernyit kan dahi nya.


Hong Xinian, tuan Hong dan nyonya Hong yang melihat ekspresi itu menatap bingung pada tabib, saat dia sudah selesai dan memastikan dengan benar apa yang dia dapat dari hasil pemeriksaan nya tabib itu bangkit dari duduk nya dan menatap Hong Xinian, tuan Hong dan nyonya Hong dengan ekspresi wajah yang sulit di mengerti.


“Ada apa tabib? apakah sakit putri ku sangat serius hingga tabib seperti itu?” tanya tuan Hong dengan cemas.


Tabib yang mendengar pertanyaan tuan Hong menatap tuan Hong dengan nanar.


“Ada apa tabib?” desak nyonya Hong dengan wajah yang penuh kekhawatiran.


“Maaf tuan, nyonya, nona Hong Xinian tidak menderita sakit apapun” jawab tabib itu setelah sekian lama bungkam.


Tuan dan nyonya Hong yang mendengar itu mengernyit bingung, begitupun Hong Xinian.


“Lalu jika tidak sakit apa? jelas-jelas Hong Xinian mengeluh jika dia sakit kepala!” ucap nyonya Hong dengan kesal.

__ADS_1


“Anu, nona Hong Xinian, em.. hamil..” ucap tabib itu dengan suara rendah.


Tuan Hong, nyonya Hong dan Hong Xinian yang mendengar itu terbelalak kaget dan menatap tabib dengan tidak percaya.


“Bagaimana bisa tabib! omong kosong macam apa itu hah?!” bentak tuan Hong dengan emosi.


Bagaimana bisa tabib itu asal bicara saja jika putri nya hamil? dia bahkan belum menikah! bagaimana bisa hamil?!.


Tabib itu yang di bentak oleh tuan Hong menciut dan menunduk kan kepala nya, dia mengucapkan kebenaran, nona Hong Xinian memang hamil, itu lah hasil pemeriksaan dia tadi.


Sedangkan Hong Xinian terdiam dengan raut wajah yang sulit di artikan, dia hamil?!.


“Tu-tuan, saya tidak berbicara omong kosong, nona Hong Xinian memang hamil, itu hasil pemeriksaan saya tadi” ucap tabib itu dengan takut.


Tuan Hong yang mendengar ucapan itu mengeraskan rahang nya dan menggertak kan giginya.


“Bagaimana bisa hah?! bahkan anak ku belum menikah?!” bentak tuan Hong dengan keras.


“Saya tidak tau tuan, tapi jika tuan tidak percaya tuan boleh memanggil tabib lain untuk memeriksa nona Hong Xinian” saran tabib itu.


Tuan dan nyonya Hong yang mendengar ucapan tabib itu terdiam, lalu mereka serempak menatap Hong Xinian yang hanya terdiam dengan raut wajah yang sulit di artikan.


“Nian'er katakan pada ayah jika apa yang di ucapkan oleh tabib sialan ini adalah suatu kebohongan?!” ucap tuan Hong dengan dingin.


Hong Xinian yang mendengar suara dingin ayah nya menatap takut pada ayah nya itu.


“Nian'er katakan pada ibu jika itu tidak benar!” ucap nyonya Hong dengan air mata yang sudah mengalir dari mata nya.


Hong Xinian hanya terdiam dengan air mata yang sudah mengalir dari ujung matanya.


“Ma-maaf kan Nian'er, ayah ibu hiks hiks” Hong Xinian menangis dengan tersedu dan bangun dari tidur nya.


Lalu dia berlutut di hadapan kedua orang tua nya, dengan masih menangis tersedu-sedu.


Tuan dan nyonya Hong yang melihat Hong Xinian seperti itu terpaku, jadi ini benar?.


“Jadi apa yang di ucapkan oleh tabib itu adalah benar Hong Xinian?!!” bentak tuan Hong dengan penuh amarah.


Hong Xinian hanya bisa menangis dan menunduk kan kepala nya.


“Kenapa kau melakukan ini Nian'er? kenapa kau mempermalukan keluarga kita hah?! kenapa?” nyonya Hong bertanya dengan tangis nya yang sudah pecah.


”Maaf, maafkan Nian'er ayah, ibu” Hong Xinian bersujud di hadapan kedua orang tua nya dengan menangis tersedu-sedu.


“Maaf kau bilang?! katakan pada ku bajjingan mana yang sudah menghamili mu hah? cepat katakan!” bentak tuan Hong dengan wajah yang sudah memerah karena amarah nya.


“Hua, Hua Junyi” ucap Hong Xinian dengan lirih.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, Comen and vote ❤️🤗❤️🤗


__ADS_2