Time Travel: Jenderal Jia Li

Time Travel: Jenderal Jia Li
Musim ke-3: Story the King of Black Wolf


__ADS_3

..."Kehidupan sang Pangeran"...


Sore itu di istana kerajaan Benedict seorang pria tampan sedang berjalan dengan tangan kiri nya yang memegang seruling giok yang sangat cantik, dia berjalan begitu gagah dan terkesan sangat 'Keren' jika di jaman modern 😅.


Dia berjalan menuju sebuah kediaman sang raja atau ratu di istana itu, setelah nya dia pun memutari kediaman itu dan berjalan menuju belakang kediaman.


Saat sampai di belakang kediaman itu terlihat taman bunga yang indah dan sangat memanjakan mata, dia mengedarkan pandangannya dan tepat saat dia menengok ke sebelah kiri terlihat disana seorang wanita yang sudah tidak lagi muda sedang menyiram bunga-bunga cantik itu.


Wajah nya yang memang sangat cantik tidak berkurang walau sudah lanjut usia, dia berjalan cepat ke arah wanita itu dan setelah sampai segera memeluk nya dari belakang.


Wanita itu pun terkejut dan segera melihat siapa yang sudah melihat nya, saat itu juga dia tahu ternyata salah satu putra manja nya yang memeluk nya.


“Ada apa hem?” tanya nya dengan lembut.


Tanpa menghentikan kegiatan nya.


“Tidak bunda, Chen hanya rindu bunda.” jawab pangeran Chen dengan lembut.


Sang bunda terkekeh mendengar nya.


“Kita selalu bertemu sayang.” ucap nya dengan lembut.


“Dan bukankah kau tidak suka jika di panggil Chen? sudah besar kata nya, bukan anak kecil lagi.” ledek bunda pangeran Chen yang bernama Jia Li (Kalian tau kan ya? ya iya lah hehehe).


Pangeran Chen mengerucutkan bibirnya.


“Jika bunda yang memanggil seperti itu Chen akan senang, tapi jika orang lain baru Chen marahi.” jawab nya dengan kesal.


Sang bunda yang mendengar itu menghentikan kegiatan nya dan segera menaruh tempat untuk menyiram bunga-bunga nya ke tempat nya, lalu dia memutar tubuhnya dan menatap sang putra dengan tersenyum.


“Kenapa bunda di kecualikan?” tanya sang bunda seraya berjalan menuju kursi panjang di taman itu.


Pangeran Chen mengikuti langkah bunda nya dan setelah bunda nya duduk pangeran Chen pun ikut duduk, lalu dia membaringkan tubuhnya dan tertidur di kursi itu dengan kepala nya yang tertidur di pangkuan sang bunda.


“Karena bunda cinta nya chen.” jawab pangeran Chen dengan lembut.


Jia Li yang mendengar itu merasa sangat tersentuh, anak kecil yang dulu dia temukan sekarang menjadi putra nya yang sangat mencintai nya dan menyayangi nya.


Selalu melindungi nya dan tidak pernah menyakiti nya, dia benar-benar beruntung memiliki Chen di hidup nya.


“Begitukah?” ucap Jia Li dengan memandang lembut wajah pangeran Chen yang berada di pangkuan nya.


Pangeran Chen mengangguk dengan cepat.

__ADS_1


Lalu dia mengangkat seruling yang berada di tangan nya dan mulai mendekat kan pada bibir nya, dia mulai memejamkan matanya dan memainkan seruling kesayangan nya itu.


Pangeran Chen memainkan sebuah lagu yang berjudul "A song for Mama - Boyz II Men".


Jia Li terdiam mendengar alunan indah dari permainan seruling milik putra nya itu, dia memejamkan matanya dan terus menikmati setiap melodi indah itu.


Setelah selesai Jia Li membuka mata nya dan mengelus sayang kepala putra nya itu, dia tersenyum lembut saat pandangan mereka bertemu.


“You love mom? (Kamu mencintai bunda?)” tanya Jia Li dengan tersenyum lembut.


Pangeran Chen mengernyit mendengar itu.


“Of course, I love you very much mom! (Tentu saja, aku sangat mencintaimu bunda!.)” jawab pangeran Chen dengan tegas.


Jia Li tersenyum mendengar itu.


“Mom also loves you very much, prince mom (Bunda juga sangat mencintaimu, pangeran bunda.)”


Pangeran Chen tersenyum bahagia dan memegang tangan Jia Li yang berada di kepala nya, lalu dia menciumi nya dan menatap lembut bunda nya itu.


“Thank you mom, I love you.”


“Love you too my prince.”


Mereka tertawa bersama setelah saling mengungkapkan kasih sayang masing-masing, lalu tak lama sebuah suara menghentikan kegiatan mereka.


“Aku rasa iya, lihatlah mereka yang begitu romantis saling mengungkapkan kasih sayang masing-masing.” timpal yang lain.


“Aku begitu iri, entah kenapa aku merasa di anak tirikan oleh bunda ku sendiri.” ucap orang tadi dengan menyedihkan.


“Sabar kakak, kita masih mempunyai ayah.” ucap sang adik dengan mengelus punggung sang kakak dengan prihatin.


Jia Li dan pangeran Chen yang mendengar semua ucapan itu saling menatap, lalu pangeran Chen mendudukan tubuh nya dan menatap dua orang yang sedang menyindir mereka berdua.


Walaupun disana terdapat tiga orang tapi yang menyindir mereka hanya dua.


“Hey kalian berdua! sudah puas menyindir?” ucap pangeran Chen dengan sinis.


Fredy, Freya dan Fiona yang mendengar ucapan kakak nya itu serentak menatap pangeran Chen dan bunda mereka yang masih duduk tenang di kursi taman.


“Ah, aku seperti mendengar seseorang berbicara, tapi aku tidak melihat orang nya.” ledek Fredy dengan menatap sekeliling.


Fiona yang melihat kakak nya mulai menjahili kakak pertama nya itu terkekeh pelan, sedangkan Freya hanya menggeleng kepala.

__ADS_1


Pangeran Chen yang mendengar itu mendengus kesal.


“Ah, sayang sekali, tanpan-tampan tapi buta.” ejek pangeran Chen


Fredy yang mendengar itu terbelalak kaget dan menatap kesal ke arah kakak nya itu.


“Kau mengejek ku?!” tanya Fredy dengan kesal dan berjalan mendekati kakak nya itu bersama adik-adik nya.


“Aku tidak mengejek, itu kenyataan!.” jawab pangeran Chen dengan santai.


Fredy yang mendengar itu mendengus kesal dan segera duduk di samping bunda nya.


“Bunda~ kakak mengejek putra tampan mu ini.” rengek nya pada sang bunda.


“Cih, menjijikkan.” sinis pangeran Chen tanpa introspeksi diri hahaha.


“Apa? iri bilang bos.” lakar Fredy lalu setelah nya dia tertawa terbahak-bahak melihat pangeran Chen yang nematutkan wajah nya.


Jia Li yang melihat kedua putra nya saling menjahili tersenyum hangat, sedangkan Fiona ikut tertawa melihat kakak pertama nya yang tidak berkutik saat kehabisan kata-kata karena ledekan kakak kedua nya.


Freya? dia sudah duduk di kursi yang lain dan menatap kakak-kakak nya itu dalam diam, dia hanya ikut tersenyum tipis saat kakak pertama nya itu memukuli saudara kembar nya dengan seruling giok nya.


“Sudah-sudah, kalian ini.” lerai Jia Li dengan memisahkan kedua putra nya yang sedang adu pukul.


Bukan sih lebih tepatnya pangeran Chen yang sedang memukuli Fredy menggunakan seruling nya, dan Fredy hanya mampu menghindar dan terus menjahili kakak nya itu.


“Hahaha, bunda, kakak jahat sekali! lihatlah wajah tampan putra mu.” setelah tertawa Fredy mengerucutkan bibirnya saat merasakan sakit di pipi nya karena pukulan seruling kakak nya itu.


“Sialan kau kak! kenapa kau benar-benar memukul ku?!” dengus Fredy dengan mengusap pipi nya.


“Jika memukul orang itu... Jangan tanggung-tanggung! hahaha.” pangeran Chen tertawa terbahak-bahak dan setelah itu segera bangkit berdiri dan berlari menjauh saat adik nya itu hendak memukul nya.


Fredy yang melihat kakak nya berlari menjauh mengejar nya karena masih merasa kesal.


Begitulah kehidupan mereka, selalu di penuhi canda dan tawa pangeran Chen, Fredy, Fiona dan si dingin Freya hehehe.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, Comen and vote❤️🤗❤️🤗.


__ADS_2