
“Sudah cukup selama ini aku bersabar..” ucap Jasmie dengan suara pelan nya.
Anggota keluarga Oswald yang mendengar ucapan Jasmine tanpa sadar memundurkan tubuh mereka, entah kenapa insting mereka mengatakan jika mereka harus cepat pergi dari sana.
Ini terlalu berbahaya!!.
“Aku selalu diam selama ini saat kalian menyiksa ku, dan memperlakukan ku layak nya hewan.
Jadi, sekarang.... biarkan aku menagih hutang kalian..” Jasmie kembali berucap dengan suara pelan dan tatapan sayu nya.
Dia kembali berjalan mendekati anggota keluarga Oswald itu dengan masih menyeret pedang nya.
Anggota keluarga Oswald kembali memundurkan tubuh mereka hingga akhirnya tubuh nyonya Belinda menabrak dinding ruangan itu, Jasmie menyeringai melihat ketakutan di wajah nyonya Belinda.
“Bukankah kau? yang sangat sering menyiksa ku dengan kejam bukan? bagaimana jika..” Jasmie menjeda ucapan nya dan mendekatkan wajahnya pada telinga nyonya Belinda yang sekarang sedang menahan nafas nya.
Sedangkan anggota keluarga yang lain, yang sudah berada di luar kediaman Jasmine menatap kedua orang yang berada di dalam ruangan itu dengan cemas.
Saat Sherina akan kembali masuk untuk menolong ibunda, tangan nya segera di tahan oleh sang kakek.
“Kakek, aku harus menolong ibu!” ucap Sherina dengan penuh khawatir.
“Jika kau ingin mati, maka masuklah!” ucap tuan Darius dengan dingin.
Saat ini mereka sedang menerka-nerka apa yang sedang di lakukan Jasmine pada Belinda.
“Aku memulai nya dari dirimu? hem..” Jasmie melanjutkan ucapan nya dengan menyeringai kejam.
Nyonya Belinda yang mendengar itu membelalakkan matanya dan menelan saliva nya dengan kasar, sial! kenapa gadis haram ini menjadi begitu menakutkan bagi nya!.
Jasmie yang melihat Belinda terdiam karena terkejut menatap nya datar, lalu tangan kiri nya mengambil jarum yang masih berada di ikat pinggang nya.
Dia menunjukkan jarum itu di hadapan Belinda.
“Ma-mau apa kau?!” tanya nyonya Belinda dengan takut.
“Tentu saja mau--”
“Arghh..” nyonya Belinda berteriak kesakitan saat jarum kecil tapi panjang itu merobek pipi nya.
Darah mulai merembes keluar dari luka kecil itu, tapi jangan salah walaupun kecil luka itu sangat panjang dan dalam.
“Be-berani nya kau??” nyonya Belinda memegang pipi nya yang sudah berlumuran darah itu dengan tangan bergetar.
Sedangkan orang-orang yang melihat kejadian itu tersentak kaget, dan tuan Erick yang hendak menolong istri nya itu segera di tahan oleh Agler.
“Agler lepaskan!! apa kau mau ibumu kenapa-kenapa hah?!” bentak tuan Erick dengan keras.
__ADS_1
“Bukan begitu maksud ku ayah, tapi lihatlah.” Agler menunjuk pada Jasmine dan ibu nya itu yang sedang di siksa oleh Jasmie.
Tuan Erick yang mendengar itu segera menatap ke arah istri nya, saat itu juga matanya membelalak sempurna saat melihat apa yang di lakukan oleh Jasmine pada istrinya.
Jlebb
“Arghh..”
Jasmine menusuk lengan kiri nyonya Belinda dengan keras hingga pedang nya menancap di dinding kamar nya, Jasmine menatap raut kesakitan di wajah nyonya Belinda dengan dingin nya.
“Be-berani-nya ka-kau?!” nyonya Belinda menatap Jasmine dengan penuh benci.
Menghiraukan tatapan itu Jasmine segera kembali mengangkat tangan kanan nya yang masih terdapat jarum itu ke wajah nyonya Belinda, dia mulai mengukir sebuah bentuk bunga yang berjenis tulip di pipi nyonya Belinda dengan santai nya.
Sedangkan nyonya Belinda hanya mampu berteriak takut dan menggeleng kan kepala nya, saat Jasmine masih mengukir bentuk bunga tulip jarum nya tidak sengaja menusuk mata kanan nyonya Belinda.
Jlebb
“Arghh..” nyonya Belinda kembali berteriak sakit saat jarum Jasmine menancap sempurna di iris matanya.
Sedangkan Sherina, Caitlyn, Agler, Denzel, dan tuan Erick hanya mampu menutup wajah nya melihat itu semua.
Tuan besar Darius yang melihat menantu nya di siksa dengan kejam nya oleh Jasmine hanya mampu mengepalkan tangannya erat, dia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu menantu nya itu.
Jasmine yang melihat ukiran bunga nya yang berada di wajah nyonya Belinda rusak semakin mendatarkan wajah nya dan menatap dingin nyonya Belinda, berani nya wanita tua ini merusak kesenangan nya!.
“Lihatlah! ukiran bunga ku menjadi jelek seperti wajah mu sekarang!!” bentak Jasmie dengan penuh emosi.
Jasmie segera mencabut pedang nya yang masih menancap di lengan nyonya Belinda dengan kasar.
“Arghh..” lagi-lagi nyonya Belinda berteriak kesakitan.
“Berisik!!”
Plak
Plak
Jasmie menampar wajah nyonya Belinda dengan keras hingga membuat nyonya Belinda jatuh tersungkur, lalu dia menginjak jari-jari tangan nyonya Belinda dengan keras.
“Arghh, a-am-ampun Ja-Jas-mien, a-am-ampuni bi-bibi.” pinta nyonya Belinda dengan terbata-bata.
Jasmie yang mendengar itu segera berjongkok dan menjadikan pedang nya sebagai batuan tumpuan nya, Jasmie mencengkram erat dagu nyonya Belinda.
“Bibi? ampun? apakah kau baru saja mengakui aku sebagai anggota keluarga Oswald hah? dan juga, apa kau pun mengampuni ku saat kau menyiksa ku hah?!” bentak Jasmie dengan keras.
Lalu setelah itu dia melepaskan cengkraman tangannya dengan keras, dia menarik rambut nyonya Belinda dengan sengaja menarik nya dengan kuat.
__ADS_1
“Arghh, a-am-ampun Jas-jasmine.” ucap nyonya Belinda.
“Aku tak akan pernah mengampuni mu sampai kapan pun! begitupun dengan keluarga mu, tak akan ada yang mendapat ampun ku!.” ucap Jasmie dengan dingin.
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Brukk
Jasmie membenturkan kepala nyonya Belinda dengan keras nya pada lantai kamar nya, setelah itu dia mendorong tubuh lemah nyonya Belinda.
Dia bangkit berdiri dan saat dia hendak berjalan keluar dia menendang perut nyonya Belinda, hingga membuat nyonya Belinda yang tadi nya hendak memejamkan matanya kembali membelalak lebar.
“Pembalasan yang sebenarnya baru saja di mulai!” ucap Jasmie dengan dingin nya.
Dia kembali berjalan keluar dengan mennyeret pedang nya yang berlumuran darah itu hingga kembali menimbulkan bunyi menakutkan bagi anggota keluarga Oswald, Sherina dan Caitlyn yang melihat Jasmine mendekat memundurkan tubuhnya begitupun dengan yang lain.
Kecuali satu orang, yaitu Agler.
Agler terdiam terpaku di tempatnya saat melihat Jasmine yang berjalan mendekat dengan membawa pedang yang sudah berlumuran darah ibu nya itu, saat Jasmine sudah berada di hadapan nya Agler pun masih terdiam tak berkutik.
“Aku beri kau dua pilihan..” Jasmie berucap dengan dingin.
Sedangkan Agler yang mendengar itu segera menatap kedua mata Jasmine, tapi yang dia dapat hanya tatapan kosong nan dingin dan sangat menenggelamkan bagi nya.
“Satu, pergi dari sini dan berlari lah sejauh mungkin jangan pernah menengok kebelakang lagi.
Atau dua, tetap disini menyaksikan kehancuran keluarga mu di tangan ku.
Dan tentu saja...
Kau juga akan ikut menyusul mereka ke alam baka..”
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, comen and vote🤩🤩💗💗.