
Pagi hari..
“Ayah, bunda, pangeran ini akan pergi dahulu.” ucap pangeran Chen setelah mereka selesai sarapan bersama.
“Mau kemana Arthur?” tanya Yui dengan bingung.
“Melanjutkan penyelidikan kemarin ayah.”
Yui yang mendengar itu mengangguk singkat.
“Hati-hati sayang.” peringat Jia Li dengan tersenyum lembut.
“Tentu bunda.”
“Kak, boleh aku ikut?” tanya Fredy dengan penuh harap.
“Untuk apa?” tanya pangeran Chen dengan mengangkat sebelah alisnya.
“Aku bosan.”
“Tidak!” tolak pangeran Chen dengan ketus.
Lalu dia pun bangkit dari duduk nya, setelah mengucapkan salam dia pun pergi dari sana.
Seperti yang sudah dia ucapkan kemarin, dia kembali ke penginapan yang di tempati oleh Jasmine.
Setelah menempuh perjalanan lumayan lama dari istana dia pun sampai di depan penginapan itu, dia menitipkan kuda nya dan setelah itu mulai memasuki penginapan.
Pangeran Chen berjalan dengan wajah dingin nya menuju lantai teratas yang di tempati oleh Jasmine.
Tok Tok Tok
Pangeran Chen mengetuk pintu kamar penginapan Jasmine dengan pelan, lalu tak lama pintu pun terbuka.
“Arlen?” ucap Jasmine dengan mengernyit heran.
“Hem?” pangeran Chen mengangkat sebelah alisnya saat melihat wajah terkejut Jasmine.
“Kau benar-benar kesini?” tanya Jasmine dengan tidak percaya.
“Tentu saja, apa kau tidak mengijinkan ku untuk masuk?” tanya pangeran Chen.
Jasmine yang mendengar itupun terkesiap lalu dia membuka pintu kamar nya dengan lebar.
“Masuklah.” ucap Jasmine.
Pangeran Chen tersenyum dengan sangat tipis melihat itu, lalu dia pun masuk kedalam kamar itu dengan santai.
Sedangkan Jasmine, menutup pintu kamar nya dan mengunci nya.
Dia berjalan menuju Arlen yang sudah mendudukan diri nya di kursi yang dia tempati kemarin.
“Arlen, aku tidak menyangka kau akan datang sepagi ini.” Jasmine berbicara setelah dia duduk di kursi samping pangeran Chen.
Dia menatap ke arah wajah tampan pria di samping nya itu yang sekarang sedang memejamkan mata nya.
__ADS_1
“Aku hanya penasaran.”
“Penasaran tentang pedang kita yang kembar?” tanya Jasmine.
“Yes, kau tau bukan pasti di balik pedang kita yang kembar itu pasti memiliki rahasia di dalam nya.”
“Kau benar, tapi aku sudah menyerah untuk memikirkan nya Arlen.” Jasmine menatap sendu ke arah Arlen.
Pangeran Chen yang mendengar itu mengerutkan keningnya, lalu dia pun membuka matanya dan menatap ke arah samping nya.
“Kenapa?” tanya nya dengan dingin.
“Aku harus segera menyelesaikan masalah ku dengan keluarga Oswald Arlen, mungkin setelah masalah ku selesai baru aku akan kembali mencari tahu tentang pedang ku.”
Pangeran Chen yang mendengar itu terdiam lalu tak lama kembali memejamkan matanya.
“Selesaikan lah dahulu masalah mu, baru setelah itu kita bahas masalah ini lagi.” ujar nya dengan suara rendah.
Jasmine mengangguk “Em, apa kau sudah sarapan?” tanya Jasmine.
“Sudah, kau?” tanya balik pangeran Chen.
“Belum, aku baru saja hendak kebawah untuk sarapan.”
“Ya sudah, ayo.” pangeran Chen segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu kamar.
Sedangkan Jasmine berjalan menuju meja di samping peraduan nya, lalu dia memakai cadar nya yang berwarna biru seperti pakaian nya.
Dia mengambil pedang nya yang tergeletak di atas meja itu, lalu dia pun berjalan menuju pintu yang sudah terdapat Arlen di luar kamar nya.
Mereka berdua pun turun ke lantai bawah dan setelah itu keluar dari dalam penginapan itu, mereka berjalan beriringan dan segera mencari kedai makan.
“Arlen?” panggil Jasmine dengan pelan.
Pangeran Chen yang masih berjalan segera menghentikan langkahnya.
“Ada apa?”
“Kita duduk di lantai satu saja.” ucap Jasmine.
Pangeran Chen yang mendengar itu terdiam, lalu dia pun mengedarkan pandangannya lalu setelah itu mengangguk.
Setelah mendapat kan tempat duduk Jasmine pun segera memesan makanan yang dia inginkan, dan pangeran Chen hanya memesan arak untuk menemani nya.
“Kau sudah dengar berita terbaru belum?” ucap seorang pelanggan yang di dekat pangeran Chen dan Jasmine duduk pada teman nya.
“Belum, memang nya apa?” timpal teman nya dengan penasaran.
“Kata nya bangsawan Oswald sekarang membuat sayembara.
siapa saja yang bisa menemukan gadis yang bernama Jasmine dan membawa nya ke keluarga itu akan di beri imbalan yang sangat mahal!.” jelas nya dengan semangat dan sedikit keras.
Hingga membuat orang-orang yang bedada disana berbisik-bisik untuk menanggapi apakah hal itu benar atau tidak nya.
“Apa kau serius?” tanya teman nya dengan penuh selidik.
__ADS_1
Dia pun mengangguk cepat.
“Aku serius!!”
“Memang nya siapa gadis yang bernama Jasmine itu?”
“Orang-orang bilang dia hanya seorang pelayan yang tidak tahu diri, karena berani menyakiti keluarga itu.
Dan banyak yang bilang gadis itu melakukan nya karena merasa iri dengan nona Sherina dan nona Caitlyn.”
“Wah! pelayan itu sangat berani sekali! pantas saja keluarga Oswald menjanjikan akan memberikan imbalan yang mahal jika ada yang menemukan pelayan itu.”
“Kau benar, mungkin jika aku menjadi pelayan itu, aku akan bunuh diri dari pada menjadi buronan seperti ini.”
“Yah, kau benar! cukup menjijikkan bagiku, hanya karena iri dia berani melakukan hal seperti itu!.”
“Yah, aku sepemikiran dengan mu.”
Obrolan-obrolan itu pun terus berlanjut dari satu mulut ke mulut lain nya, hingga menjadi berita besar di ibukota itu.
Jasmine dan pangeran Chen yang memang sedari tadi mendengar itu, hanya saling terdiam dengan pemikiran masing-masing.
Jasmine terdiam dengan pemikiran berkecamuk nya, dia cukup tertekan dan sekarang perasaan nya menjadi campur aduk.
Sedangkan pangeran Chen sendiri terdiam karena hanya ingin melihat, apa yang akan di lakukan Jasmine selanjutnya.
Tetap bersembunyi dari keluarga itu, atau muncul dan mulai menjalankan apa yang dia katakan.
Yaitu, membereskan keluarga Oswald!.
Tanpa pangeran Chen sadari, wajah Jasmine yang semula murung dan memejamkan mata nya, perlahan menjadi sangat datar dan kembali membuka matanya.
Tatapan yang semula sendu sekarang menjadi sangat dingin, tak lama seringai kecil terbit di bibir tipis itu.
Dan tak lama makanan yang di pesan oleh Jasmine pun sampai, dia segera mengambil makanan itu dan melahap nya.
Begitu pun pangeran Chen, dia mulai menuangkan arak nya lalu meneguk nya.
“Mine, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanya pangeran Chen dengan suara pelan nya.
Jasmie yang masih melahap makanan nya seketika menghentikan nya, lalu dia memiringkan kepalanya dan menatap sangat dingin pada pangeran Chen hingga membuat pangeran Chen sedikit terkesiap kaget melihat tatapan Jasmine.
Tatapan mata yang begitu dingin itu sedikit menusuk untuk pangeran Chen, sedingin-dingin nya dia, dia tidak pernah memperlihatkan tatapan dan wajah yang begitu dingin serta datar.
“Mine?” panggil pangeran Chen dengan sangat pelan, hingga terdengar seperti berbisik.
“Membunuh nya, Khihihi...” bisik Jasmie dengan suara yang sangat dingin dan terkekeh di akhir kalimat nya.
→_→
Author mengucap kan maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian para readers karena membuat kalian menunggu lama kelanjutan cerita ini, bukan maksud Othor mau menggantung kan kalian.
Tapi Othor benar-benar sibuk akhir-akhir ini karena tugas sekolah yang semakin hari semakin menumpuk saja hiks🤧, niat awalnya Othor ingin menamatkan cerita ini dan Freya di akhir bulan harus ke undur lagi huhuhu😭.
Yang niat awalnya Othor ingin publish cerita baru di tanggal 01 Februari seperti nya harus tertunda, padahal Othor udah nulis dan tinggal publish aja huhuhu😭.
__ADS_1
Yang awalnya Othor sangat excited seketika menjadi layu tak bertenaga karena harus menelan kenyataan jika Othor tidak bisa mempublikasikan cerita baru Othor di tanggal 01 Februari itu😭😭🤧🤧.
Ya udah segitu aja dulu ya, Othor usahakan akan rajin-rajin up ya, see you💙.