
Beberapa hari kemudian..
“Jennie sayang, kau benar-benar akan ikut kami ke pasar ibukota? itu sangat jauh sayang.” ucap nenek dengan lembut.
Jennie menoleh, dia tersenyum dengan manis.
“Tentu saja nenek, sudah dua bulan Jennie hidup bersama kakek nenek tapi Jennie tidak pernah membantu kalian berjualan di pasar.”
“Jennie juga bosan berada di rumah terus nek, boleh ya? ya?.” Jennie menatap nenek dengan memohon.
Kakek yang melihat itu menggeleng.
“Baiklah, sayang kau boleh ikut kami.” ucap kakek dengan tersenyum.
Jennie yang mendengar itu berbinar bahagia lalu segera memeluk kakek.
“Yey, kakek memang yang terbaik!.”
“Jadi nenek tidak?.” timpal nenek dengan pura-pura sedih.
Jennie terkekeh mendengar itu lalu dia bergantian memeluk nenek.
“Tentu saja nenek juga yang terbaik!.”
Nenek tersenyum.
“Sudah, sudah, ayo kita berangkat.”
Jennie yang mendengar itu pun mengangguk lalu dia pun segera memasuki kereta bersama nenek, sedangkan kakek sebagai kusir nya.
Perjalanan dari desa perbatasan menuju ibukota memakan waktu hampir dua jam, selama itu pula perjalanan di penuhi tawa karena ulah Jennie.
Bagi kakek dan nenek, Jennie benar-benar pembawa berkah dan kebahagiaan bagi mereka.
Tidak hanya cantik, tapi juga Jennie sangat baik dan ceria.
Mereka benar-benar beruntung memiliki Jennie.
Setelah sampai mereka pun segera turun dan menyusun sayuran serta buah-buahan di atas meja tempat jualan mereka, orang-orang yang melihat Jennie sempat berhenti dan menatap lama pada Jennie.
Mereka seperti pernah melihat wajah Jennie tapi dimana? mungkin hanya kebetulan, itulah isi pikiran mereka.
Sedangkan di tempat lain, seorang pria yang sedang menunggang kuda nya segera menghentikan laju kuda itu.
Pria yang memakai pakaian berwarna merah itu, menatap intens pada Jennie lalu tak lama dia pun segera memacu kuda nya dengan terburu-buru.
“Jennie jika kau lelah duduk saja sayang, biar kakek dan nenek yang berjualan.” ucap nenek dengan lembut.
Jennie tersenyum lalu menggeleng.
“Biar Jennie bantu nenek dan kakek.”
“Baiklah sayang.”
Lalu setelah itu mereka pun mulai berteriak untuk menarik pembeli, Jennie terus tersenyum dan menjual dagangan itu dengan ramah.
__ADS_1
Beberapa kali Jennie harus di buat bingung saat beberapa orang menyapa nya, seolah-olah mereka mengenal dirinya.
Tapi Jennie hanya tersenyum dan menjawab sebisa nya.
Hampir 30 menit Jennie tak bisa beristirahat karena banyak nya pembeli atau orang-orang yang hanya ingin menyapa nya.
Hal itu benar-benar membuat kakek dan nenek bingung sekaligus bahagia karena tidak biasa nya jualan mereka laris.
Seorang pria berdiri tak jauh dari tempat berjualan Jennie, dia menatap Jennie dengan tatapan sulit di artikan.
Wajah nya yang datar dengan tatapan dingin nya, membuat semua orang segan.
Semua salam dan hormat dari orang-orang di pasar itu hanya di acuhkan oleh pria tampan itu, tatapan nya terus tertuju pada gadis cantik yang sedang tersenyum pada pembeli nya itu.
“King, dia benar-benar nona Jasmine.” ucap Tao dengan menatap Jennie.
“Aku menemukan mu, Mine!.” batin nya dengan tersenyum sangat tipis.
“Kau tetap disini.” perintah pangeran Chen dengan dingin.
Tao mengangguk, lalu pangeran Chen pun segera melangkahkan kakinya menuju tempat Jennie.
Kedatangan pangeran Chen ternyata membuat semua orang terkejut, mereka segera membungkuk hormat.
Begitupun dengan kakek dan nenek, mereka segera menyuruh Jennie untuk membungkuk hormat.
Dan Jennie yang masih bingung menurut saja.
Setelah sampai di hadapan ketiga orang itu pandangan pangeran Chen tidak di lepaskan nya pada Jennie, sedangkan sang kakek dan nenek terdiam bingung masih dengan posisi nya semula.
Semua orang pun segera menegakkan tubuh mereka dan menatap bingung pada pangeran Chen.
Saat Jennie menegakkan tubuh nya, tatapan nya tak sengaja bertemu dengan tatapan dingin pria di hadapan nya.
Tiba-tiba bayangan-bayangan muncul di benak nya dengan cepat, Jennie segera memegang kepalanya dengan meringis sakit.
“Jennie kau tidak apa-apa nak?.” tanya nenek dengan khawatir.
Jennie membuka matanya dan tersenyum tipis seraya menggeleng.
“Tidak nek.”
“Yang mulia, apakah yang mulia membutuhkan sesuatu?.” tanya kakek dengan sopan.
Pangeran Chen menggeleng, dia masih menatap ke arah Jennie.
“Kenapa dia seperti tidak mengenalku?.” batin nya dengan bingung.
“Jasmine.” panggil pangeran Chen dengan dingin.
Kakek dan nenek menoleh, begitupun dengan Jennie.
“Maaf pangeran, pangeran mengatakan sesuatu?.” tanya nenek.
Pangeran Chen tak menjawab, lalu dia mendekati Jennie.
__ADS_1
Jennie yang melihat itu memundurkan tubuhnya, saat sudah berada di hadapan Jennie pangeran Chen segera menarik Jennie kedalam pelukannya.
Orang-orang yang melihat itu terkejut bukan main, begitupun dengan Jennie dia membatu dengan wajah bingung nya.
“Akhirnya aku menemukan mu Mine!!.” gumam pangeran Chen dengan pelan.
Dia memeluk erat tubuh gadis yang dia cari-cari selama dua bulan ini, gadis yang membuat nya begitu frustasi.
“Ma-maaf pangeran, sepertinya pangeran salah orang.” ucap Jennie dengan mencoba melepaskan pelukan itu.
Pangeran Chen tak menjawab, dia melepaskan pelukan nya dan memegang kedua bahu Jennie dengan wajah bingung nya.
“Apa maksud mu Jasmine? kau tak mengenal ku? jangan bercanda dengan ku Jasmine, jika kau marah padaku kau boleh memukul ku dengan sepuas mu.
Asal jangan seperti ini Jasmine, aku tau aku salah aku benar-benar meminta maaf padamu.
Jangan tinggalkan aku lagi, aku mohon, aku frustasi karena kau meninggalkanku Mine!.” ucap pangeran Chen dengan lirih.
Dia menatap Jasmine dengan dalam, tatapan dingin nya tadi seketika lenyap dan berganti tatapan takut kehilangan.
Jennie tak menjawab, dia benar-benar bingung, apakah orang di depan nya ini salah mengenali atau bagaimana?.
Seorang pangeran kerajaan Benedict meminta maaf padanya? ini mustahil bukan? bahkan dia tak mengenali pangeran di depan nya ini.
“Maaf pangeran, tapi aku benar-benar tak mengenali pangeran, sepertinya pangeran salah orang.” jawab Jennie dengan takut.
Pangeran Chen terbengong, dia menatap Jasmine lalu beralih menatap kedua orang di belakang Jasmine.
“Kalian siapa? dia kenapa?.” tanya pangeran Chen dengan menatap tajam kakek dan nenek.
“Maaf pangeran, tapi Jennie cucu kami, dia selama ini tidak pernah ke ibukota dan seperti nya pangeran benar-benar salah mengenali orang.” jawab kakek dengan menunduk.
“Kau tau apa hukuman untuk orang yang membohongi anggota kerajaan?.” tanya pangeran Chen sekaligus mengancam.
Kakek dan nenek bergetar menahan takut saat di ancam seperti itu, mereka semakin menunduk sedangkan Jennie yang melihat itu menghempaskan kedua tangan pangeran Chen.
Pangeran Chen menoleh.
“Jangan mengancam kakek dan nenek ku pangeran!.” ucap Jennie dengan menatap tajam pangeran Chen.
Pangeran Chen menarik ujung bibirnya nya saat melihat tatapan tajam itu.
“Katakan yang sejujurnya!.” tekan pangeran Chen dengan dingin.
“Maafkan hamba yang mulia, Jennie saat ini sedang mengalami hilang ingatan, sebenarnya kami hanya kakek dan nenek angkat nya.” jawab kakek dengan menunduk.
Pangeran Chen tersenyum sangat tipis, sedangkan Jennie terkejut bukan main.
“Jasmine, kau benar-benar tak mengenalku?.” tanya pangeran Chen dengan lembut.
Jennie menoleh, dia terdiam tak menjawab.
“Jasmine, aku suami mu!.”
////
__ADS_1
Author: Whatt?? apa?? suami?? tolong siapapun gampar author pake kenalpot😵😵.