
Jennie, kakek dan nenek yang mendengar itu terkejut bukan main, begitupun dengan orang-orang yang berada di sana.
Mereka saling menatap untuk memastikan apakah mereka salah mendengar atau tidak.
“Su-suami?.” beo Jennie dengan wajah terkejut nya.
Pangeran Chen tersenyum, dia mengangguk membenarkan.
Jika Jasmine hilang ingatan, inilah cara satu-satunya nya agar Jasmine cepat mengingat nya.
“Benar sayang, aku suami mu, jika kau tak percaya aku akan memanggil tangan kanan ku kemari, agar kau percaya dan bisa bertanya pada nya.” ucap pangeran Chen dengan lembut.
Jasmine tak menjawab, sedangkan pangeran Chen segera menoleh untuk memanggil Tao.
“Tao?!.”
Tao yang masih terkejut segera tersadar, lalu dia pun segera menghampiri tuan nya.
“Saya pangeran.”
Pangeran Chen mengangguk.
“Kau bisa bertanya pada nya Jasmine, jika kau tidak percaya.”
Jasmine yang mendengar itu segera menatap Tao.
“Tuan aku ingin bertanya, apakah benar aku istri pangeran?.” tanya Jasmine dengan pelan dan menatap pangeran Chen.
Tao yang mendengar itu menatap pangeran Chen, sedangkan pangeran Chen mengangguk pelan memberi kode.
Tao tersenyum “Benar nona, anda istri pangeran Arthur.”
Jasmine kembali terkejut begitu juga dengan kakek dan nenek.
Pangeran Chen tersenyum puas lalu dia menggenggam tangan Jasmine.
“Kau percaya sekarang hem? aku benar-benar suami mu, nama asli mu Jasmine.” tanya pangeran Chen.
“Jasmine?.” ulang Jasmine dengan menatap gugup.
Pangeran Chen mengangguk “Benar, nama aslimu Jasmine.”
Jasmine terdiam lalu menoleh pada kakek dan nenek yang masih menatap tak percaya pada mereka.
“Kita kembali ke istana okay? aku benar-benar merindukan mu.” ajak pangeran Chen dengan mengelus pipi Jasmine.
Jasmine semakin gugup di perlakukan seperti itu.
”Ta-tapi kakek dan nenek?.
“Aku akan menyuruh prajurit untuk menjemput kakek dan nenek, tidak usah khawatir Mine”
Jasmine menoleh ke arah kakek dan nenek setelah mendengar itu, sedangkan kakek dan nenek segera mengangguk.
“Pergilah sayang, kakek dan nenek akan menyusul mu.” ucap nenek dengan mengelus bahu Jasmine.
Jasmine mengangguk, lalu dia memeluk kakek dan nenek.
“Nanti bawa pedang ku di dalam kereta ya kek?.” pinta Jasmine dengan lembut.
Kakek mengangguk dan tersenyum.
“Iya sayang.”
Setelah itu Jasmine pun menghampiri pangeran Chen yang sedari tadi tak bisa menghilangkan senyum nya.
“Kami pergi terlebih dahulu kek, nek, nanti Arthur akan menyuruh prajurit untuk menjemput kakek dan nenek.” ucap pangeran Chen.
Kakek dan nenek mengangguk “Baik pangeran.”
Lalu setelah itu pangeran Chen pun menggenggam tangan Jasmine dan membawa Jasmine menuju tempat kuda nya berada.
Setelah sampai pangeran Chen segera menggendong Jasmine dan mendudukkan nya di atas kuda, Jasmine yang masih terkejut hanya bisa terdiam dan berkedip beberapa kali hingga membuat pangeran Chen terkekeh kecil.
Pangeran Chen segera menaiki kuda nya, sedangkan Tao hanya bisa menggeleng melihat betapa bahagia nya tuan nya itu.
“Kenapa hem?.” Tanya pangeran Chen dengan lembut.
Jasmine mendongak, lalu tatapan nya pun bertemu dengan tatapan pangeran Chen.
“Ti-tidak pangeran, a-aku hanya terkejut saja tadi.” jawab Jasmine dengan menunduk.
Pangeran Chen yang mendengar itu menggeleng lalu dia pun membawa Jasmine kedalam pelukannya, lalu setelah nya mulai memacu kuda nya.
“Jangan gugup sayang, aku suami mu.” ucap pangeran Chen saat merasakan Jasmine begitu gugup saat dia memeluk nya.
Jasmine yang mendengar itu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang pangeran Chen, jantung nya benar-benar berdetak sangat cepat sedari tadi.
Bahkan seperti nya sekarang wajah nya sudah memerah.
“Aku benar-benar masih belum percaya jika suami ku seorang pangeran.” batin Jasmine dengan heran.
“Sebenarnya kehidupan seperti apa yang aku jalani sebelum hilang ingatan, hingga bisa menikah dengan seorang yang begitu berkuasa?.” batin nya lagi dengan bingung.
Jasmine terus melamun selama perjalanan, dia masih mencoba mengingat-ingat kehidupan dirinya sebelum hilang ingatan hingga bisa menikah dengan seorang pangeran.
Tak lama mereka pun sampai, para prajurit yang melihat pangeran Chen membawa seorang gadis menatap heran pada pangeran Chen.
Saat sudah sampai di tempat kuda, pangeran Chen segera turun.
“Sini?.” pangeran Chen merentangkan kedua tangannya meminta Jasmine untuk turun meloncat.
Jasmine mengangguk, lalu tubuh nya pun segera di tangkap pangeran Chen dengan tepat.
“Tubuh mu tidak seberat sebelum nya sayang, apa kau tidak makan dengan benar hem?.” Tanya pangeran Chen dengan lembut dan mengelus wajah Jasmine.
Jasmine menunduk malu, wajah nya kembali memerah perlakuan begitu lembut oleh pria yang mengaku sebagai suami nya itu.
“Ya-yang mulia, jangan seperti ini saya malu.” cicit Jasmine dengan menatap para penjaga yang sedang menatap terkejut pada mereka.
Pangeran Chen terkekeh, lalu dia pun segera membawa Jasmine pergi dari sana.
“Tao kau kembalilah ke kediaman mu.”
“Baik pangeran.”
Pangeran Chen dan Jasmine terus berjalan menyusuri setiap jalan di istana itu, Jasmine tak henti-hentinya berdecak kagum melihat keindahan di istana kerajaan itu.
“Aku masih belum percaya jika aku benar-benar seorang istri dari pangeran kerajaan Benedict.” celetuk Jasmine dengan menatap sekeliling nya.
Dia juga menatap ke setiap pelayan dan penjaga yang menunduk hormat pada mereka berdua.
__ADS_1
“Kau harus terbiasa setelah ini sayang.” ucap pangeran Chen dengan menatap lembut pada Jasmine.
Jasmine menoleh dia tersenyum dan mengangguk pelan.
“Kita akan kemana yang mulia?.” tanya Jasmine dengan masih menatap sekitarnya.
“Ruang keluarga, kita harus bertemu dengan keluarga ku sayang, mereka pasti sangat merindukan mu.” jawab pangeran Chen.
Jasmine yang mendengar itu seketika berhenti berjalan, pangeran Chen yang merasakan itu seketika berbalik.
Dia menatap Jasmine yang sekarang terlihat kembali gugup.
“Kenapa hem?.” Tanya nya dengan pelan.
“Sa-saya takut.” jawab nya dengan menunduk.
Pangeran Chen kembali tersenyum, lalu dia memegang dagu Jasmine hingga membuat Jasmine menatap nya.
“Jangan takut okay, mereka tidak jahat.”
Jasmine terdiam “Apakah mereka akan memarahi saya karena telah pergi dari pangeran? walaupun saya tidak ingat kenapa saya pergi selama dua bulan lama nya.” cicit nya dengan sedih.
Pangeran Chen tersenyum begitu manis mendengar ketakutan gadis di depan nya ini, yang sekarang sudah berganti status menjadi istri nya walaupun hanya kepura-puraan nya.
“Mereka tidak akan memarahi mu, biar aku yang menjelaskan nya nanti ya?.”
Jasmine terdiam.
“Percaya padaku, mereka tidak akan memarahi mu.” pangeran Chen kembali mencoba membuat Jasmine agar percaya pada nya.
Akhirnya Jasmine mengangguk, lalu pangeran Chen pun tersenyum lega.
“Ayo, pasti mereka sudah menunggu kita.”
Lalu mereka pun kembali berjalan, dan tak lama mereka pun sampai, pangeran Chen segera masuk tanpa di umumkan kedatangan nya.
Semua anggota keluarga Benedict menoleh ke arah pintu saat melihat seseorang datang, mereka mengernyit saat melihat pangeran Chen datang dengan membawa seorang gadis yang tengah menunduk.
Setelah mengucapkan salam pangeran Chen pun segera duduk di sebelum Fredy dan Jasmine di sebelahnya.
“Arthur?.” panggil Yui dengan mengernyit.
“Aku berhasil menemukan Jasmine!.” jawab pangeran Chen dengan tersenyum begitu bahagia.
Semua anggota keluarga Benedict yang mendengar itu saling menatap, mereka meminta penjelasan pada pangeran Chen.
Lalu tak lama Fiona datang bersamaan dengan Devin, Freya yang melihat kedatangan suami nya tersenyum cerah dan segera memeluk nya.
Sedangkan pangeran Chen memanfaatkan keadaan itu untuk menghampiri kedua orang tua nya.
“Ayah, bunda, tolong bekerjasama lah dengan Chen, saat ini Jasmine sedang kehilangan ingatan nya, dan Chen mengaku sebagai suami nya agar Jasmine dapat mengingat Chen dengan cepat, ya? ya? Chen mohon!.”
Pangeran Chen berbisik dengan wajah memelas dan berkaca-kaca, Yui dan Jia Li mengernyit heran menatap wajah putra mereka itu.
Lalu mereka pun menatap ke arah Jasmine yang sedang menatap mereka, lalu Yui dan Jia Li pun tersenyum seraya mengangguk.
“Baiklah, asalkan kau bisa kembali seperti Chen kami yang sebelum nya, ayah dan bunda tidak akan melarang nya.” Jia Li mengelus wajah pangeran Chen dengan lembut.
Pangeran Chen yang mendengar itu tersenyum cerah, dia memeluk sang bunda dengan erat.
“Thank you Mom, Dad.” ucap pangeran Chen setelah dia selesai memeluk Jia Li dan Yui.
Mereka mengangguk lalu pangeran Chen pun segera kembali ke tempat duduk nya.
“Kembalilah ke kediaman mu Arthur, seperti nya istri mu sudah sangat lelah.” ucap Yui dengan tersenyum.
Pangeran Chen pun ikut tersenyum, dia mengangguk lalu bangkit berdiri bersama Jasmine.
Setelah mengucapkan salam mereka pun pergi, meninggalkan orang-orang yang masih terkejut karena ucapan Yui.
Setelah pangeran Chen tak terlihat mereka pun segera bertanya pada Yui dan meminta penjelasan tentang ucapan nya tadi.
“Aku gugup sekali tadi.” ucap Jasmine setelah mereka berada di luar.
Pangeran Chen menoleh dan tersenyum.
“Sudah aku katakan pada mu sayang, mereka bukan orang jahat.” jawab pangeran Chen.
“Bukan itu maksud ku.” Jasmine menoleh membalas tatapan suami nya itu.
“Lalu?.”
“Aku kira tadi aku akan di beri banyak pertanyaan, tentang kemana aku selama ini? tapi ternyata tidak.”
Pangeran Chen tak menjawab setelah beberapa saat mereka pun sampai dan segera memasuki kediaman pangeran Chen.
Pangeran Chen segera duduk di sisi peraduan dan menyenderkan tubuhnya.
“Kemarilah, aku ingin bertanya pada mu sayang.” ucap pangeran Chen pada Jasmine yang masih menatap ke seluruh penjuru kamar nya.
Jasmine segera mendekat, lalu dia pun duduk di samping pangeran Chen.
Pangeran Chen segera membawa tubuh Jasmine kedalam pelukannya, lalu dia mengelus rambut Jasmine dengan lembut.
“Selama ini kau dimana hem? Aku sudah mencari mu dimana-mana tapi tidak menemukan mu.” tanya pangeran Chen dengan lirih.
Jasmine yang masih gugup segera mendongak saat mendengar suara lirih itu, dia menatap ke arah wajah suami nya yang begitu sedih itu.
“Maaf, aku selama ini berada di desa yang sangat terpencil pangeran, bahkan rumah kakek dan nenek terletak di pinggir hutan.” jawab Jasmine dengan tidak enak.
Pangeran Chen menghela nafas mendengar itu, pantas saja dia tidak menemukan keberadaan Jasmine karena memang mereka tak menggeledah semua rumah.
“Jangan di ulangi lagi okay? aku benar-benar frustasi kau meninggalkanku Mine” pinta pangeran Chen dengan sendu.
Jasmine yang melihat wajah tampan itu begitu terluka segera mengangguk cepat, dia mengelus pipi pangeran Chen.
“Maafkan aku pangeran, aku janji tidak akan meninggalkan mu lagi.”
Pangeran Chen tersenyum dia memeluk pinggang Jasmine dengan erat.
“Aku mencintai mu, Jasmine.” ucap nya dengan lembut tepat di hadapan bibir Jasmine.
Jasmine yang mendengar itu membatu, detak jantung nya seketika berdetak cepat dengan wajah yang memerah.
Jasmine segera menundukkan kepalanya dan pangeran Chen yang melihat itu segera menahan nya.
“Kau sangat cantik saat malu seperti ini sayang.” goda nya dengan tersenyum usil.
Jasmine semakin malu mendengar itu, lalu pangeran Chen pun segera membawa bibir nya ke arah bibir Jasmine.
Dia mencium sekilas bibir itu, bibir yang baru sekali dia rasakan dua bulan yang lalu tapi sudah membuat nya candu.
__ADS_1
“Bibir mu, membuat ku candu.” ucap nya dengan suara serak.
Jasmine terdiam menatap wajah tampan pangeran di depan nya itu yang tidak berjarak.
Lalu pangeran Chen pun segera menutup matanya, lalu mel*mat bibir Jasmine dengan lembut.
Jasmine kembali terkejut, tapi keterkejutan nya segera hilang saat pangeran Chen menelusup kan tangan nya ke arah tengkuk nya untuk memperdalam ciuman mereka.
Pangeran Chen mengigit pelan bibir Jasmine, lalu Jasmine yang terkejut pun seketika membuka bibir nya dan membiarkan lidah pangeran Chen menyusuri setiap rongga mulut nya.
Jasmine mulai memejamkan matanya saat kesadaran nya pulih, dia mengalungkan tangannya dan membalas permainan lidah suami nya itu.
Pangeran Chen yang dibalas pun semakin memperdalam ciuman mereka, lalu dia pun membawa tubuh Jasmine untuk berbaring.
Pangeran Chen gelap mata, bibir manis Jasmine membuat nya lupa jika mereka belum lah terikat.
Setelah puas dengan bibir tipis itu, bibir pangeran Chen segera pindah ke arah leher putih dan jenjang Jasmine, dia menjilat nya dan beberapa kali mengigit nya untuk meninggalkan jejak.
Jasmine mendesah tertahan merasakan geli di leher nya, dia hanya berfikir mungkin suami nya benar-benar merindukan nya dan menginginkan nya.
Karena bagaimana pun mereka sudah dua bulan tak bertemu, jadi wajar saja.
Saat bibir nya sampai di kedua benda milik Jasmine pangeran Chen menatap nya, nafsu sudah benar-benar menguasai nya, nafas nya memburu.
Lalu dia mengangkat kepala nya menatap ke arah wajah Jasmine yang sudah memerah yang sekarang sedang menatap nya juga.
“Kenapa?.” tanya Jasmine dengan heran.
Pangeran Chen menggeleng, lalu dia mengangkat tubuh Jasmine dan membuka resleting pakaian nya.
Setelah pakaian itu longgar dia menatap wajah Jasmine, dengan penuh cinta.
“Aku benar-benar menginginkan mu.” bisik nya dengan nafas memburu tepat di telinga Jasmine.
Jasmine menangkup wajah suami nya dengan tersenyum.
“Bukankah kita sudah menikah? lakukan saja yang mulia, itu hal yang wajar.” jawab Jasmine dengan tersenyum.
Pangeran Chen terdiam lalu dia segera menjatuhkan wajah nya ke arah dada Jasmine yang sudah terbuka.
Dia menghirup aroma tubuh Jasmine dan sesekali mencium nya, dia masih ingat sangat ingat bahkan.
Jika mereka belum lah menikah dan terikat suatu hubungan, bagaimana bisa dia melakukan nya?.
Dia menyesal sekarang karena telah mengatakan jika mereka sudah menikah, bagaimana jika Jasmine tau dia masih perawan?.
Sedangkan Jasmine yang melihat kelakuan suami nya yang sedang menahan nafsu nya itu menatap nya heran, apa tidak jadi?.
“Yang mulia?.” panggil Jasmine dengan mengelus kepala pangeran Chen.
Pangeran Chen mendongak.
“Kita tidak jadi melanjutkan nya?.” tanya Jasmine dengan heran.
Pangeran Chen terdiam lalu menggeleng dengan lesu.
“Kenapa?.” tanya Jasmine.
“Sayang, sebenarnya kau masih perawan.” jujur pangeran Chen.
Jasmine terbelalak mendengar itu.
“Maksud nya? bagaimana bisa? kita sudah menikah bukan?.” tanya Jasmine berturut-turut.
Pangeran Chen menghela nafas.
“Sayang, dua bulan yang lalu saat kita baru saja menikah malam hari nya kau di culik oleh musuh ku, kau dibawa pergi oleh mereka tepat di malam hari saat kita selesai menikah.
Jadi itulah alasan kenapa dirimu masih perawan walaupun kita sudah menikah.” alibi pangeran Chen dengan menatap Jasmine.
Jasmine kembali terkejut mendengar ucapan suami nya itu, jadi itulah alasan nya dia meninggalkan suami nya dua bulan lama nya?.
“Pantas saja saat kakek dan nenek menemukan ku, aku sedang terluka parah, ternyata ini alasan nya.” ucap Jasmine dengan tak percaya.
Pangeran Chen yang mendengar itu terkejut, dia segera bangkit duduk.
“Maksud mu?.” tanya nya meminta penjelasan.
Jasmine menoleh dia juga bangkit duduk dengan di bantu pangeran Chen, Jasmine segera membenarkan pakaian nya.
“Benar yang mulia, saat itu kakek dan nenek menemukan ku saat aku sedang terluka parah dengan darah dari perut dan kepala ku.” jawab Jasmine setelah dia berhasil membenarkan pakaian nya.
Pangeran Chen terdiam.
“Dimana kakek dan nenek menemukan mu?.”
“Pinggir jalan hutan yang tak jauh dari gerbang ibukota.” jawab Jasmine dengan menatap wajah serius suami nya.
“Lalu kenapa tadi kau terkejut saat kakek mengatakan kau bukan cucu kandung nya?.”
“Tentu saja, aku kira selama ini aku cucu kandung nya karena aku berfikir waktu itu aku pulang dari ibukota setelah jualan sayur milik mereka lalu terluka karena bandit.
Tapi ternyata bukan, yang lebih membuat ku terkejut malah ternyata aku istri seorang pangeran kerajaan Benedict.
Ini seperti mimpi bagi ku yang mulia, entah kebaikan seperti apa yang telah ku lakukan sebelum nya hingga bisa menikah dengan yang mulia.” celoteh Jasmine dengan tersenyum manis.
Pangeran Chen menggeleng dan tersenyum, dia mengelus kepala Jasmine lalu mencium singkat bibir nya.
“Beristirahat lah, kau pasti lelah hem.” ucap nya dengan lembut.
Pangeran Chen segera turun dari peraduan lalu membaringkan Jasmine dan menyelimuti tubuh nya.
“Yang mulia hendak kemana?.”
“Aku akan keluar sebentar, aku memiliki urusan yang belum aku selesaikan.
Tidurlah, aku akan cepat kembali.”
Cup
Pangeran Chen mencium dahi Jasmine dengan singkat, lalu setelah itu mengelus kepala nya.
“Aku pergi.”
Jasmine mengangguk lalu pangeran Chen pun segera berjalan keluar.
“Aku harus menyelidiki nya, kenapa Jasmine bisa terluka hingga hilang ingatan waktu itu.” batin pangeran Chen dengan tatapan dingin nya.
Dia bahkan melupakan gejolak nafsu nya yang sempat membumbung tinggi tadi.
////
__ADS_1
Ehem, kita unboxing lain kali aja, belum halal soalnya🤣🤣.