
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya pangeran Chen dan Jasmine telah berada beberapa meter dari gerbang ibukota kerajaan Benedict.
“Arlen berhenti!” ucap Jasmine tiba-tiba.
Pangeran Chen yang mendengar itu segera menghentikan laju kuda nya dengan tiba-tiba.
“Ada apa?” tanya pangeran Chen dengan bingung dan menatap wajah Jasmine yang sedang cemas itu.
“Arlen, aku tidak memakai cadar. Bagaimana ini?” tanya Jasmine dengan penuh khawatir dan membalas tatapan pangeran Chen.
Pangeran Chen mengerutkan keningnya mendengar itu.
“Memang nya jika kau tak memakai cadar kenapa?” tanya nya dengan bingung.
Jasmine yang mendengar itu menghembuskan nafas nya dengan kasar.
“Arlen aku sekarang sudah menjadi buronan keluarga Oswald, kau pasti tahu itu kan?”
Pangeran Chen mengangguk, dia memang tahu jika keluarga Oswald sedang mencari buronan tapi dia tidak menyangka ternyata orang itu Jasmine.
“Aku hanya takut mereka menemukan ku, aku belum siap harus berhadapan dengan mereka.” lirih Jasmine.
Pangeran Chen yang mendengar itu terdiam lalu dia mengangkat tubuh Jasmine dengan tiba-tiba hingga membuat Jasmine terpekik.
“Akh.. apa yang kau lakukan?” pekik Jasmine lalu dia pun mengalungkan kedua tangan nya pada leher pangeran Chen.
Pangeran Chen hanya diam saja lalu dia pun kembali mendudukkan Jasmine tapi sekarang dengan menghadap ke arah kiri nya, dia menenggelamkan wajah Jasmine di dada nya dan menutupi tubuh Jasmine menggunakan jubah yang di pakai nya.
Sedangkan Jasmine hanya mampu terdiam dengan berkedip beberapa kali, ini.. kenapa posisi mereka sangat membuatnya gugup.
“Arlen..”
“Stt, diamlah. Sekarang ada aku, kau tidak perlu takut.” entah apa maksud dari ucapan pangeran Chen.
Tapi dia hanya ingin tugas yang di berikan tuan Grissham pada nya berjalan lancar.
Setelah itu pangeran Chen kembali memacu kudanya menuju ke arah gerbang, dan dengan gampang dia dapat melewati penjaga gerbang itu.
“Dimana penginapan mu?” tanya pangeran Chen dengan dingin.
“Oh, penginapan Flower Home.” jawab Jasmine dengan gugup.
Flower Home adalah salah satu penginapan terbesar di kerajaan Benedict, karena fasilitas nya yang memang sangat memadai dan pelayanan yang baik.
“Baiklah.”
Setelahnya pangeran Chen pun kembali memacu kudanya menuju penginapan yang di tempati oleh Jasmine, setelah sampai pangeran Chen pun membawa kuda nya menuju tempat penitipan kuda di penginapan itu.
Dia turun dari kuda itu dengan Jasmine yang berada di gendongan nya, dia menggendong Jasmine dengan gaya bridal style nya sedangkan Jasmine hanya bisa menyembunyikan wajah nya di dada bidang pria yang baru di kenal nya belum lama ini.
“Kau menyewa penginapan disini dengan nama siapa?” tanya pangeran Chen lagi seraya melangkahkan kakinya memasuki penginapan itu.
“Queenie Jennifer” jawab Jasmine dengan pelan.
Pangeran Chen tak menjawab, dia hanya diam dan saat salah satu pelayan di penginapan itu menghampiri nya pangeran Chen segera berhenti.
“Selamat datang tuan dan nyonya.” sapa pelayan itu dengan ramah tapi sesekali mata nya melirik ke arah Jasmine yang masih bersembunyi di dada bidang pangeran Chen.
__ADS_1
Dia mengira jika Jasmine adalah istri pria tampan di depan nya itu.
“Antarkan aku ke kamar penginapan dengan nama Queenie Jennifer.” ucap pangeran Chen dengan dingin.
Pelayan yang mendengar itu segera mengangguk.
“Mari tuan.”
Setelah itu pangeran Chen pun di tuntun menuju kamar penginapan Jasmine yang berada di lantai tiga, lantai paling atas dan paling mewah di penginapan itu.
“Ini kamar nya tuan.” ucap pelayan itu dan pangeran Chen mengangguk.
“Kau boleh pergi.” usir pangeran Chen dengan dingin.
Lalu dia pun membuka pintu kamar itu dan setelah masuk dia menutup pintu nya dengan kaki nya.
Lalu pangeran Chen pun berhenti di depan peraduan dia menurunkan Jasmine dengan sedikit kasar hingga membuat Jasmine terkejut bukan main.
“Akhh..” Jasmine dengan refleks menarik kerah pakaian pangeran Chen hingga pangeran Chen pun ikut terjerembab di atas peraduan dengan Jasmine yang berada di bawah nya.
Pangeran Chen terjatuh dengan bibir nya yang mendarat di bibir tipis Jasmine, Jasmine yang sedang memejamkan matanya seketika terbelalak kaget saat merasakan sebuah bibir yang berada di bibir nya.
Begitupun dengan pangeran Chen dia pun juga melotot tak percaya dengan apa yang mereka alami, seketika wangi mint tercium di hidung Jasmine saat pangeran Chen menghembuskan nafas nya.
Semakin gugup saja dia.
Pangeran Chen yang merasakan bibir tipis tapi manis milik Jasmine merasa ingin lebih dari pada hanya seperti ini, tanpa sadar dia mel*mat bibir Jasmine tapi masih dengan mata nya yang menatap mata abu-abu Jasmine.
Ya, Jasmine memiliki iris mata berwarna abu-abu yang mengikuti warna iris mata ayah nya.
Karena keluarga Oswald rata-rata memiliki iris mata hitam bercampur coklat, dimana jika terkena matahari iris mata itu akan berubah warna menjadi coklat.
Tapi tak kalah indah dengan milik Jasmine, karena iris mata Jasmine pun akan lebih indah jika iris mata abu-abu nya terkena sinar.
Mereka saling terbius dengan wajah masing-masing, tapi setelah beberapa saat Jasmine pun tersadar dengan apa yang di lakukan oleh Arlen.
Dia melepaskan lum*tan Arlen.
“A-apa yang kau lakukan?” tanya Jasmine dengan gugup.
Pangeran Chen yang mendengar itu segera tersadar dan bangun dari posisinya, dua segera berbalik dan membenarkan pakaian nya.
Sial! dia menjadi malu!.
Apa yang dia lakukan? kenapa dia bisa terbius oleh Jasmine?.
Pangeran Chen terus merutuki kebodohan nya yang dengan gampang nya mencium Jasmine, sedangkan Jasmine sendiri segera bangkit dari tidurnya.
“Arlen..”
“Em, maafkan atas kelancangan ku Jasmine. Aku tadi tidak bermaksud untuk me-men--, Ah kau pasti tau sendiri apa maksud ku.
Tapi sungguh aku tidak bermaksud untuk melecehkan mu.” pangeran Chen segera menyela perkataan Jasmine.
Dia menjelaskan dengan cepat bahwa sebenarnya dia tidak bermaksud untuk bertindak lancang.
Jasmine yang mendengar ucapan cepat pria tampan di depan nya itu hanya bisa tersenyum tipis, dia kira Arlen tipe pria yang kurang ajar.
__ADS_1
Tapi ternyata..
“Tidak apa-apa, lupakan saja.” ucap Jasmine.
Pangeran Chen yang mendengar itu terkesiap kaget, dia tidak menyangka Jasmine akan memaafkan tindakan nya tadi.
“Ka-kau tidak marah pada ku?” tanya pangeran Chen dengan terkejut.
Jasmine menggeleng.
“Lupakan saja, anggap saja kejadian tadi tidak pernah terjadi.” ungkap Jasmine.
Pangeran Chen terdiam dengan wajah yang tidak biasa, dia masih belum percaya Jasmine akan mengucapkan itu.
“Terimakasih.” setelah beberapa detik terselimuti keheningan akhirnya pangeran Chen pun bersuara.
Jasmine mengangguk lalu dia pun berjalan menuju tempat duduk di kamar nya itu.
“Duduklah Arlen.” pinta Jasmine dengan menunjuk kursi di samping nya yang terhalang oleh meja bundar.
Pangeran Chen mengangguk lalu dia pun duduk di kursi samping Jasmine itu, Jasmine menuangkan teh di cangkir yang berada di meja itu lalu memberikan nya pada pangeran Chen.
Lalu dia pun kembali menuangkan teh untuk dirinya sendiri.
“Minumlah, kau pasti haus.” ucap Jasmine.
“Em, terimakasih.” pangeran Chen segera menyesap teh yang di berikan oleh Jasmine begitupun dengan Jasmine.
Setelah selesai mereka pun menaruh cangkir teh itu, pangeran Chen menyenderkan tubuhnya pada kursi.
“Kenapa kau tadi keluar dari ibukota Mine?” tanya pangeran Chen dengan dingin.
Jasmine yang masih gagal fokus atas panggilan Arlen pada nya menjadi salah tingkah.
“Em, a-aku hanya jalan-jalan saja, ya. Jalan-jalan.” jelas Jasmine dengan gugup.
Pangeran Chen yang mendengar itu mengangkat kedua alisnya lalu tak lama dia tersenyum sinis, jalan-jalan katanya?.
“Oh, jalan-jalan?”
Jasmine yang mendengar ucapan itu menatap pangeran Chen dengan menghembuskan nafas kasar, kenapa suara Arlen terkesan sangat mengejek nya? sialan!.
.
.
.
.
.
.
→→→→
Kau milikku, jika aku sudah mengucapkan itu. Kau di larang untuk mencintai pria lain!. -King Black Wolf-
__ADS_1
Chen sangat arogan ya? Khihihi..
Segini dulu ya? jangan lupa ritual nya like, comen and vote khihihi..