
Setelah sampai di istana pangeran Chen pun segera berjalan menuju ruang utama, dimana ayah nya dan tuan Grissham masih berada disana.
“Pangeran Arthur memasuki ruangan..” seru sang kasim saat pangeran Chen sudah berada di depan pintu.
Setelah seruan itu pintu pun di buka oleh penjaga, dan pangeran Chen pun segera melangkah kan kaki nya memasuki ruangan itu.
Setelah mengucapkan salam pangeran Chen pun segera duduk di kursi nya, dia menghembuskan nafas panjang setelah terduduk.
“Bagaimana nak?” tanya Yui tanpa basa basi.
Pangeran Chen yang mendengar pertanyaan dari ayah nya itu menatap Yui, lalu dia pun mengedarkan pandangan nya dan saat itu pula dia melihat semua orang menatap nya dengan begitu penasaran.
Pangeran Chen berdehem pelan sebelum menjawab pertanyaan ayah nya itu.
“Aku belum bisa memastikan apakah gadis itu orang yang paman maksud atau bukan, tapi aku berjanji pada paman aku akan terus menyelidiki gadis itu.” jawab pangeran Chen dengan dingin.
Tuan Grissham yang mendengar itu menghembuskan nafas kasar, lalu dia tersenyum dan mengangguk.
“Jangan terburu-buru Arthur, aku akan menunggu hasil itu dengan sabar.” jawab nya dengan pelan.
Pangeran Chen yang mendengar itu mengangguk, lalu setelah itu mereka pun kembali berbincang dan setelah merasa cukup tuan Grissham, Arsenio dan Ansel pun pamit untuk kembali ke kediaman mereka.
Awalnya raja Ken menyuruh mereka untuk menginap di istana tapi mereka menolak dengan halus, dan beralasan masih memiliki kepentingan lain.
Akhirnya mau tak mau raja Ken dan ratu Amanda pun mengiyakan dan mengantar kepergian mereka sampai gerbang istana.
Setelah nya mereka pun kembali ke kediaman masing-masing begitupun pangeran Chen.
Sore hari telah datang, pangeran Chen yang sudah membersihkan diri mengambil seruling nya dan berjalan menuju tempat biasa nya untuk bersantai.
Dia duduk di bawah pohon apel di hadapan kediaman nya.
(Anggep aja itu pohon apel dan lagi di depan kediaman pangeran Chen ya? hahaha).
Dia mulai menempelkan seruling nya ke arah bibir nya, lalu dia pun memejamkan matanya dan mulai memainkan seruling nya.
Pangeran Chen memainkan lagu dengan seruling nya yang berjudul Where The Time Has Gone - Wang Zheng Liang.
Lagu yang menceritakan tentang kerinduan kita terhadap orang tua.
Alunan suara seruling itu mulai terdengar di kediaman pangeran Chen, para penjaga dan pelayan yang berada disana sangat menikmati alunan seruling pangeran Chen yang terdengar begitu sedih.
Pangeran Chen begitu menikmati alunan seruling yang dia mainkan, hingga tanpa terasa sebulir air bening menetes dari ujung matanya.
Entah kenapa dia begitu menghayati lagu yang dia mainkan sendiri, hingga tanpa sadar dia pun terlarut dalam kesedihan lagu yang dia mainkan.
__ADS_1
Jujur saja, dia juga begitu merindukan orang tua kandung nya.
Terkadang dia berpikir, kenapa ada orang tua yang begitu tega memperlakukan anak nya sendiri dengan begitu kejam.
Apakah mereka tidak memiliki hati nurani?.
Mungkin, jika dia tidak di temukan oleh bunda nya -Jia Li-, dia tidak akan bisa seperti ini.
Menjadi pangeran kelima di kekaisaran Liu, pangeran di kerajaan Benedict, dan King dari Organisasi Black Wolf.
Bolehkan dia bersyukur atas apa yang terjadi di masa lalu? dimana dulu dia selalu mendapatkan perlakuan kejam oleh keluarga kandung nya sendiri.
Tapi sekarang dia begitu bahagia dengan kehidupan nya? Memiliki orang tua yang begitu menyayangi nya dan tidak membeda-bedakan nya, walaupun mereka tahu dia bukan anggota keluarga kandung nya.
Memiliki tiga adik yang begitu baik dan selalu menganggap nya kakak kandung mereka, bahkan setiap tingkah laku mereka selalu membuat nya tertawa.
Apalagi Fredy dan Fiona yang sangat konyol.
Kembali, air mata pangeran Chen mengalir di tengah-tengah alunan seruling nya, dia begitu menghayati lagu yang dia mainkan hingga tidak menyadari jika Jia Li sudah berdiri di belakang nya sedari tadi.
Jia Li begitu terenyuh mendengar alunan seruling putra pertama nya itu yang begitu sedih, dia menghela nafas panjang untuk menghilangkan rasa sedih nya dan menengadahkan kepalanya untuk menghalau air mata nya agar tidak terjatuh.
Setelah beberapa saat alunan seruling itu pun berhenti Jia Li berjalan mendekati pangeran Chen lalu memeluk nya, pangeran Chen yang sedang melamun tersentak kaget lalu dia pun menengadahkan kepalanya untuk melihat siapa yang memeluk nya.
Saat dia melihat jika itu bunda nya pangeran Chen pun membalas pelukan bunda nya itu dengan begitu erat, dia menumpahkan rasa sedih, sakit, dan rasa menyesakkan di dada nya pada bunda nya itu.
Ya, hanya pada Jia Li pangeran Chen bisa menangis dan menjadi begitu cengeng.
Dia tahu, sangat tahu apa yang di rasakan oleh Chen, karena dia pun mengalami nya bahkan hingga dua kali berturut-turut.
Hingga membuat pribadi nya menjadi begitu dingin, kejam dan tak berperasaan.
Setelah beberapa saat tangis pangeran Chen pun terhenti, Jia Li melepaskan pelukan nya lalu menatap putra nya itu dengan tersenyum lembut.
Jia Li mengusap sisa air mata pangeran Chen dengan lembut.
“Ah, seorang King dari Black Wolf yang terkenal dingin dan kejam menangis dengan begitu tersedu-sedu nya? jika ini di ketahui oleh orang-orang pasti akan sangat menggemparkan.” ledek Jia Li seraya terkekeh.
Pangeran Chen yang mendengar itu memberenggut kesal.
“Bundaa~..” rengek nya dengan kesal.
“Hahaha..” Jia Li terbahak saat melihat wajah kesal putra pertama nya itu.
“Apa kau tidak malu menangis hingga mengeluarkan ingus seperti ini? bahkan wajah mu merah semua!.” ledek Jia Li lagi pada pangeran Chen yang sedang menarik ingus nya yang keluar🤣🤣.
“Aku juga manusia bunda!.” pangeran Chen mengusap hidung nya dengan lengan pakaian nya.
__ADS_1
Jia Li menggelengkan kepalanya saat melihat pangeran Chen sedang merajuk, kadang dia tidak habis fikir, putra nya ini kadang bisa begitu manja dan terus merengek pada nya.
Kadang juga begitu dingin hingga bisa membuat Jia Li begitu kesal, karena dia tidak pernah merasa menurunkan sifat dingin nya pada pangeran Chen.
Jia Li mendudukan diri nya dan menyenderkan tubuhnya pada pohon apel disana, lalu dia menarik Chen kedalam pelukannya.
Dan dengan senang hati pangeran Chen pun menyenderkan tubuhnya pada tubuh Jia Li, dia memeluk erat tubuh bunda nya itu dan memejamkan matanya menikmati elusan di kepala nya.
“Chen merindukan orang tua kandung Chen, hem?” tanya Jia Li dengan begitu lembut.
Dia mengelus kepala putra nya itu terkadang menciumi pucuk kepala nya.
Dia begitu merindukan saat-saat pangeran Chen masih kecil, yang selalu dia gendong, terkadang tertidur di gendongan nya.
“Tidak.” jawab pangeran Chen tanpa membuka matanya.
“Jangan berbohong sayang.”
Pangeran Chen yang mendengar itu menghela nafas berat.
“Sedikit.” kali ini pangeran Chen jujur, dia memang sedikit merindukan keluarga kandung nya.
Ingat hanya sedikit oke?.
Jia Li menggelengkan kepalanya mendengar jawaban singkat itu.
“Rindu itu wajar sayang, wajar saja jika Chen merindukan orang tua kandung Chen, karena bagaimana pun darah mereka mengalir di dalam diri Chen.
Rindu seorang anak pada orang tua nya itu wajar sayang.” ucap Jia Li dengan begitu lembut.
Dia juga terkadang merasa kasihan pada putra pertama nya itu, kenapa hal menyakitkan seperti itu harus terjadi pada Chen kecil.
“I love you mom, I love you very, very much ( Aku menyayangimu bunda, aku sangat-sangat menyayangi mu.)” ungkap pangeran Chen dengan begitu lembut dan semakin memeluk Jia Li erat.
Jia Li tersenyum mendengar ungkapan putra pertama nya itu.
“I love you too Chen, bunda juga sangat menyayangi mu.” balas Jia Li dengan tersenyum tipis.
.
.
.
.
.
__ADS_1
I love you juga Chen🥰🤩😚😚
"Huekk, Permisi mau muntah🤢" balas Chen dengan ekspresi wajah yang terlihat ingin muntah😂.