
Saat ini pangeran Chen sedang berada di taman istana, setelah melihat Freya selesai mengucapkan janji suci nya bersama pangeran Qiancheng.
Pangeran Chen segera pergi ke taman, dia merasa bosan berada di aula karena memang sekarang hanya tinggal pesta saja.
Pangeran Chen memainkan seruling nya, menghayati setiap nada yang keluar dari seruling nya.
Tanpa pangeran Chen sadari jika dari kejauhan seseorang melihat nya dengan tanda tanya besar.
Setelah beberapa menit pangeran Chen pun selesai memainkan seruling nya, dia menghela nafas panjang dan menatap langit.
“Arlen?.” panggil seseorang dari arah belakang pangeran Chen.
Pangeran Chen terbelalak saat dia mendengar suara yang amat dia kenali itu.
Dengan perlahan dia bangkit berdiri lalu membalikkan tubuhnya.
Saat dia melihat Jasmine dia kembali terbelalak.
“Ja-Jasmine?.” ucap pangeran Chen dengan gugup.
Jasmine terdiam tak menjawab, dia menatap pangeran Chen dari atas sampai bawah.
Jasmine terkekeh setelah tahu jika Arlen selama ini membohongi nya.
“Jadi selama ini kau membohongi ku yang mulia pangeran Arthur?.” Jasmine mendongak menatap pangeran Chen dengan lirih.
“Tidak Jasmine, dengarkan aku--” pangeran Chen mendekat tapi Jasmine menghindar.
“Maaf, saya masih ada urusan, saya undur diri pangeran.” Jasmine menunduk menyembunyikan wajah nya yang sudah memerah menahan tangis.
Dia kecewa, dia kecewa pada pria di depan nya ini.
Bayangkan saja, selama satu bulan kau dekat dengan seseorang tapi ternyata orang itu menyembunyikan rahasia besar yang tidak kalian ketahui.
Rasa nya benar-benar menyakitkan, seperti kau tidak di percaya sama sekali oleh orang itu.
Jasmine segera berlari menjauhi pangeran Chen yang masih membatu karena perubahan bahasa yang di gunakan Jasmine.
Pangeran Chen segera menyusul Jasmine dia berlari agar bisa cepat mengejar Jasmine, dia tak peduli jika saat ini mereka menjadi pusat perhatian.
“Jasmine?.”
“Jasmine dengar kan aku dahulu!.” teriak pangeran Chen.
Dari kejauhan Fredy dan Tao yang memang hendak mencari pangeran Chen di buat mengernyit.
“Tao, tuan mu memiliki kekasih?.” tanya Fredy dengan bingung.
“Hamba tidak tahu putra mahkota, tapi memang sudah sebulan ini King dekat dengan seorang gadis.” jelas Tao.
Fredy mengangguk.
“Ayo kita pergi, aku akan bilang jika kakak sedang memiliki urusan pada ayah.
Seperti nya mereka sedang bertengkar.” Fredy membalikkan tubuhnya lalu pergi di ikuti Tao.
“Seperti nya aku harus benar-benar cepat mencari istri!!.” batin Fredy.
Grepp
Pangeran Chen memeluk tubuh ramping Jasmine dari belakang dengan erat, Jasmine yang memang sedang menangis di buat terkejut saat pangeran Chen berhasil menyusul nya.
“Lepas! hiks.” Jasmine memberontak mencoba melepas pelukan pangeran Chen.
“Maafkan aku Mine, tolong dengarkan penjelasan ku terlebih dahulu.” pinta pangeran Chen dengan memohon.
__ADS_1
Dia bahkan sampai menyembunyikan wajah nya di leher Jasmine.
“Tidak ada yang perlu di jelaskan pangeran, tolong lepaskan. jangan membuat saya terlihat murahan di mata semua orang! hiks hiks.” Jasmine kembali memberontak tetapi pangeran Chen malah semakin memeluk nya dengan kencang.
“Tidak ada yang berani mengatai mu murahan! jika ada aku akan membunuh nya sekarang juga!!.”
“Apa mau mu????.” tanya Jasmine dengan pasrah dia semakin menangis terisak saat mengingat betapa sakit nya hati nya.
Di benci keluarga nya, di siksa, di hina, di perlakukan layak nya anj*ng pesuruh, di tinggal ibu nya, di tinggal ayah nya.
Dan sekarang dia di buat kecewa oleh pria yang sudah berhasil menguasai hati nya, ya, Jasmine mencintai pria yang saat ini sedang memeluk nya.
Jasmine benar-benar lelah.
Pangeran Chen melepaskan pelukan nya saat Jasmine tidak memberontak lagi, dia memutar tubuh Jasmine agar menghadap nya.
Pangeran Chen menghapus air mata Jasmine dengan lembut, lalu dia membawa Jasmine ke dalam pelukan nya.
Mendekap erat tubuh rapuh gadis ini, Jasmine membalas dia menyembunyikan wajah nya di dada bidang pangeran Chen.
“Puas kau? puas hah?! hiks hiks, aku kecewa pada mu Arlen! aku kecewa hiks hiks.” Jasmine memukul punggung pangeran Chen dengan emosi.
Pangeran Chen diam tak melawan, dia tahu pasti Jasmine begitu kecewa karena selama satu bulan ini dia membohongi nya.
“Maaf.” hanya kata itu yang sedari tadi di ucapkan pangeran Chen.
“Jangan menangis, maaf kan aku.”
Pangeran Chen semakin memeluk Jasmine erat, entah lah dia begitu takut jika gadis di pelukan nya ini pergi dari nya.
Dia takut Jasmine membenci nya, dia takut Jasmine meninggalkan nya.
Dia takut tidak akan bisa melihat senyum manis nya lagi.
Dia tidak akan sanggup walau hanya memikirkan nya saja.
Kenapa?.
Kenapa dia begitu takut?.
“Lepas!.” pinta Jasmine setelah dia sudah berhasil mengendalikan diri.
Walau enggan, akhirnya pangeran Chen pun melepaskan pelukan itu.
Jasmine mengusap air mata yang masih membekas di pipi nya, lalu dia mendongak menatap wajah pangeran Chen dengan penuh kecewa.
“Aku pergi, terimakasih.” saat Jasmine hendak berbalik pangeran Chen segera menahan tangan nya.
“Jangan pergi.”
Grepp
Pangeran Chen menarik tengkuk Jasmine lalu mel*mat bibir nya, dia memeluk Jasmine dengan erat.
Jasmine yang masih terkejut hanya bisa membelalakkan matanya, saat pangeran Chen mengigit bibirnya saat itu juga dia sadar.
Lalu Jasmine pun mulai memejamkan matanya membalas ciuman itu, dia mengalungkan tangannya.
Pangeran Chen yang mendapatkan balasan semakin memperdalam ciuman mereka, untuk sejenak mereka melupakan masalah yang terjadi bahkan mereka melupakan para prajurit dan pelayan yang melihat kejadian itu.
“Biarkan ini menjadi ciuman pertama dan terakhir untuk mu Arlen, maaf aku harus pergi.” batin Jasmine dengan air mata yang menetes dari sisi mata nya.
“Aku tidak akan membiarkan mu pergi dari sisi ku, maaf aku egois tapi aku benar-benar tidak akan sanggup bila kau pergi Mine!.” batin pangeran Chen dengan lirih.
Setelah itu ciuman itu pun terlepas, pangeran Chen menyeka bibir Jasmine dengan lembut.
__ADS_1
Dia menangkup wajah Jasmine lalu mengecup bibir nya sekilas, salah jika Jasmine tidak merona di tatap begitu intens oleh pangeran Chen.
Justru dia sekarang begitu malu.
Tapi saat ini ada yang harus dia selesaikan bersama Jasmie, ya, Jasmine sudah mengetahui jika dia memiliki jiwa lain.
Atau lebih tepatnya altar ego.
“Aku mohon jangan pergi.” pinta pangeran Chen lagi.
“Maaf, aku harus pergi.” jawab Jasmine dengan lirih.
“Jika kau kecewa pada ku, pukul aku sepuas mu, lukai aku, aku tidak akan melawan tapi aku mohon jangan pergi.” pinta pangeran Chen dengan sendu.
“Rasa kecewa ku sudah kalah dari rasa cinta ku pada mu.” batin Jasmine.
“Yang mulia--”
“Arlen, panggil aku Arlen yang kau kenal.” sela pangeran Chen dengan cepat.
Jasmine terdiam, lalu dia pun kembali berucap.
“Arlen?.”
“Ya?.”
“Aku mencintai mu.”
Cup
Jasmine berjinjit untuk mencium kening pangeran Chen, lalu dia pun berjalan pergi dari tempat itu.
Meninggalkan pangeran Chen yang masih membatu tak percaya dengan apa yang di ucapkan Jasmine barusan.
Saat Jasmine sudah tak terlihat pangeran Chen pun sadar, dia berbalik untuk mencari keberadaan Jasmine tapi tidak melihat nya lagi.
“Jasmine?!.” pekik pangeran Chen.
Tapi tak ada yang menyahut.
Deg
Deg
Deg
Deg
Detakan jantung pangeran Chen masih terasa saat Jasmine mengucapkan hal yang tak terduga tadi, pangeran Chen memegang tepat dimana letak jantung nya berada.
“Ada apa dengan ku?.”
Kata-kata yang di ucapkan Jasmine terus terngiang di benak pangeran Chen selama dia berjalan menuju aula utama.
Dia masih begitu terkejut akan pengakuan Jasmine, jadi selama ini Jasmine mencintai nya?.
Sedangkan di luar istana Jasmine kembali ke penginapan nya untuk mengambil semua pakaian nya.
“Maaf aku harus pergi, aku tidak janji akan pulang dengan cepat.
Aku harus menyelesaikan semua nya, dan aku benar-benar harus mencari ayah ku.” batin Jasmine lalu dia pun mempercepat laju kuda nya.
////
Jadi gini... ya udah gitu aja ya? khihihi..
__ADS_1