Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Hinaan Mertua


__ADS_3

Aku benar-benar tak menyangka Bang Ridho bisa berpikir sejahat ini.


Apa dia lupa bagaimana aku berakhir di rumah sakit? Mengapa dia bisa dengan mudah mengutarakan pikirannya itu padaku.


"Aku harap Abang ngga lupa di mana aku berakhir waktu itu," geramku.


Kulihat Bang Ridho mencengkeram kemudi dengan erat. Dia pasti ingat akan kejadian itu. Entah masih ingin menuduhku atau apa, aku tak tau.


Saat ini yang kupikirkan hanya ucapan Bang Ridho yang mencurigai jika kejadian malam itu adalah ulah seseorang yang sengaja menjebak kami.


Satu yang aku ingat, aku di hubungi seseorang yang memintaku datang ke kamar itu. Orang itu berkata ingin membicarakan proyek kami.


"Aku ke sana karena ada yang memintaku untuk datang ke kamar itu Bang. Meski bingung aku tetap mengikutinya karena orang itu bilang akan membicarakan tentang proyek kita," ujarku menjelaskan.


"Benarkah?" bagiku pertanyaan Bang Ridho terkesan mencibir.


Apa dia memang sudah tak mempercayaiku? Untuk apa aku menjebaknya. Pikirku kesal.


"Abang ngga percaya?"


Aku bergegas membuka ponsel yang satu-satunya menjadi saksi atas ucapanku. Ponsel yang tak banyak aku gunakan akhir-akhir ini. Aku yang terlalu larut akan kesedihan, sering mengabaikan berbagai pesan atau panggilan telepon, bahkan grup chat kantor sekalipun.


Saat aku sedang mencari, ternyata pesan itu bahkan tak ada di riwayat pesanku. Ke mana hilangnya pesan misterius itu?


Tentu saja aku panik, aku yakin, sama sekali belum menghapus pesan itu. Ingatanku kembali ke masa suram itu, saat itu aku meninggalkan semua berkas bahkan ponselku di kamar itu.


"Apa Abang menghapus pesan itu?" kini giliranku yang balik menuduhnya.

__ADS_1


Semua barang-barang itu Bang Ridho serahkan kembali padaku saat aku sudah berada di hotel setelah pulang dari rumah sakit. Berarti hanya dia yang patut aku curigai bukan?


"Sekarang kamu balik menuduhku?" sinisnya.


"Abang yang datang ke kamar itu dalam keadaan mabuk, dan itu bukan bersamaku, jadi siapa yang patut di curigai di sini!" pekikku.


Bang Ridho kembali mencengkeram kemudi dengan kencang, terlihat buku jarinya yang menonjolkan urat hingga seperti akan keluar dari kulit putihnya.


"Sudahlah, nanti Abang akan menyelidikinya lagi. Yang penting saat ini kamu kembali sehat terlebih dahulu," pintanya.


Aku mendengus kesal, tadi dia menuduhku menjebaknya, sekarang dia tau jika aku mengalami gangguan mental yang tak main-main hingga harus ke psikiater.


Sisa perjalanan kami berakhir diam, aku yakin banyak yang di pikirkan Bang Ridho, sebab terlihat beberapa kali lelaki itu menghela napas.


Aku tak peduli dan enggan bertanya, hanya sedang memikirkan mengapa pesan di ponselku dari orang misterius itu lenyap. Jika bukan Bang Ridho lalu siapa.


Kami sampai di depan rumah Bang Ridho dan Mbak Fisha, rumah dua lantai yang cukup mewah bagiku. Banyak mobil terparkir di sepanjang jalan masuk, mungkin mereka tamu yang Mbak Fisha undang.


"Mily!" pekik Mba Fisha sambil merentangkan kedua tangannya hendak memelukku.


"Ya ampun kenapa kamu kelihatan kurusan? Kamu sakit?" Mbak Fisha mengusap kedua tangan dan pipiku.


Jelas saja aku tampak lebih kurus, karena sakit yang kuderita bahkan menghilangkan nafsu makanku.


"Mas, kamu jangan kasih kerjaan yang berat-berat buat adikku dong! Kasihan kan Mily," ancamnya sambil melotot ke arah sang suami.


Aku tersenyum miris mendengar dia masih menganggapku adik. Bahkan adikmu ini adalah madumu Mbak.

__ADS_1


"Maaf ya sayang, emang di kantor lagi banyak kerjaan kok," sela Bang Ridho sambil menggandeng mesra istrinya. Meninggalkan aku sendirian di depan pintu masuk.


"Mil, malah bengong, ayo masuk!" ajak Mbak Fisha yang kembali menoleh ke arahku.


Aku tersenyum kaku, "iya Mbak." Mengikuti keduanya, berjalan sambil menunduk.


"Mily, apa kabar?" sapa Bu Elya, mamahnya Bang Ridho.


"Baik tante, tante apa kabar?" tanyaku basa-basi.


Dulu waktu pertama kali datang ke kota ini, tatapan mamah Bang Ridho terhadapku seperti seorang yang selalu merendahkan.


Berbeda sekali dengan putranya yang di segani, Tante Elya termasuk wanita yang suka merendahkan orang lain. Namun lihatlah kini, setelah ia tau pekerjaanku, dia mau repot-repot menyapaku.


"Baik. Kamu kapan nikah? Keburu tua loh," nahkan apa kubilang, di setiap ucapannya pasti saja ada kata yang merendahkan orang lain.


"Mah, biarin Mily ambil makanan dulu baru ngobrol lagi," pinta Mbak Fisha.


"Iya sayang, Mily makan yang banyak ya, mumpung gratis, liat badan kamu kurus gitu tante yakin kamu kurang gizi. Hati-hati nanti ngga laku kalau kamu ngga mau merawat diri," ucapnya sambil terkekeh yang sangat menyebalkan bagiku.


"Aku sudah menikah dengan anakmu tau!" ingin sekali aku berteriak seperti itu di hadapannya.


"Mily, sudah?" tanya seseorang yang membuatku menengadah menatapnya.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2