Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Bertahan sangat menyakitkan


__ADS_3

Fisha tak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya.


"Maksud kamu apa Mas?"


"Dengarkan dulu, tolong, setelah itu Mas pasrah apa pun keputusanmu," ucap Ridho memohon untuk yang terakhir kali, dia berharap setelah menjelaskan semuanya sang istri dapat mengerti keadaannya.


Ridho menjelaskan kejadian yang ia ingat saat malam itu, hingga akhirnya harus menikahi Mily.


Fisha mendengarkan, meski sesekali tangannya terkepal menahan marah karena penjelasan sang suami.


Ia berpikir, inikah alasan mengapa Mily menjauhinya. Dan mengenai perubahan fisik Mily itu karena gadis itu sempat mengalami depresi berat?


Namun tetap saja, seberapa meyakinkannya sang suami menjelaskan dia tetap tak mengerti dengan jalan pikiran sang suami yang mengambil keputusan menikahi Mily tanpa berbicara dahulu dengannya.


"Kenapa kamu ngga ngomong dulu saat mengambil keputusan besar itu Mas! Apa aku ngga berarti buat kamu?"


"Sekarang ayah tanya Bun, saat ayah menceritakan masalah kami, apa yang akan Bunda lakukan?"


Fisha menggigit bibir bawahnya, tentu keputusan sang suami untuk bertanggung jawab pada Mily dengan menikahinya ia rasa tak mungkin ia kabulkan, bagaimana pun ia tak pernah sudi di madu.


Ridho belum menceritakan masalah yang saat ini dia hadapi tentang kehamilan Mily, ia ingin tau bagaimana reaksi istrinya saat ini dulu.


Ia sangat berharap sang istri mau mengerti keadaannya, dan bersedia mengizinkannya agar bisa menikahi Mily secara resmi.


"Bun," Ridho mendekati Fisha dan memegang kedua tangan.


"Ayah udah menjanjikan pada Mily sebuah status untuknya. Bisakah Bunda menyetujui pernikahan kami? Itu tak lama, ayah berjanji akan menceraikan Mily setelahnya, dia juga sudah setuju."


Permintaan sang suami sungguh sangat tak masuk akal menurut Fisha. Bagaimana mungkin sang suami dengan mudah meminta izinnya untuk menikah lagi.


"Kamu benar-benar ngga punya hati. Hati aku masih sakit saat tau kamu dan Mily ternyata sudah menikah, sekarang kamu meminta aku mengizinkan kalian mensahkan pernikahan kalian?!" pekiknya tak terima.


"Bun, ayah janji akan segera menceraikannya, Mily hanya membutuhkan status untuknya, terlebih lagi kini Mily tengah mengandung," ucap Ridho kelepasan.


Sungguh permasalahannya dengan sang suami di rasa semakin sulit, baru saja sang suami mengatakan jika pernikahan itu terjadi hanya karena rasa tanggung jawab, karena Ridho khilaf telah menggagahi Mily.


Lalu kini berita jika Mily hamil keluar begitu saja dari mulut Ridho.


Bagaimana Fisha akan percaya ucapan suaminya, kalau semuanya penuh dengan kebohongan menurutnya


"Kamu bilang, kamu melakukan itu karena khilaf? Lalu kini apa? Ternyata Mily akan memberikanmu seorang anak? Itu bukan lagi khilaf, tapi kalian menikmati pernikahan itu!


Fisha sudah tak sanggup mendengarkan ucapan sang suami yang semakin membuatnya sakit hati.

__ADS_1


Dia ingin pergi dari rumah. Ridho yang belum menjelaskan sepenuhnya, berusaha mencegah sang istri pergi.


"Bu maaf, Non Alma mendadak demam," ucap sang perawat menghentikan langkah Fisha yang baru saja akan keluar kamar.


Pengasuh putrinya itu hendak memberitahu majikannya jika penyakit anaknya kembali kambuh.


Anak kedua Fisha dan Ridho memang mudah sekali sakit. Fisha yang masih di liputi amarah, melampiaskannya kepada sang pengasuh.


"Kamu gimana sih Fir! Kan udah aku bilang kalau Alma itu ngga boleh kecapean! Harusnya kamu ajak dia istirahat!" bentaknya.


Firda terkejut dengan amarah sang majikan. Fisha memang pribadi yang lembut, bahkan tak pernah berkata kasar. Meski Firda sang pengasuh mengakui kesalahannya, ia tak menyangka akan mendapatkan amukan sang majikan.


"Bun sabar, lebih baik kita rawat Alma dulu ya," sela Ridho.


"Fir, kamu bersihkan tubuh Alma lalu bawa ke kamar ya," pinta Ridho lembut.


Ridho memeluk tubuh sang istri yang ia yakin masih dalam suasana hati yang buruk.


"Maafkan ayah bun, bunda boleh meluapkan pada ayah, tapi ayah mohon, jangan lampiaskan pada orang lain. Apa yang harus ayah katakan supaya bunda percaya kalau, ayah sangat mencintai bunda, ngga ada yang lain selain bunda dan anak-anak kita," bisik Ridho.


Fisha meluruh, kini ia membalas pelukan sang suami. Meski hatinya sakit, ia tau suaminya mencintainya. Bahkan tak ada perubahan apa pun pada suaminya meski suaminya memiliki istri lain.


Namun mengabulkan permintaan sang suami tak bisa ia penuhi. Janji sang suami terlalu semu baginya.


Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka setelah sah menikah? Meminta pembagian waktu secara adil?


Tidak! Fisha menolak keras hal itu.


Meski sang suami mengakui jika itu hanya kekhilafan semata akibat jebakan seseorang, tapi siapa? Fisha tak tau, dia enggan bertanya lebih jauh, sebab ingin menenangkan diri terlebih dulu saat ini.


Banyak yang belum di ketahuinya, salah satunya adalah apa mertuanya mengetahui pernikahan kedua suaminya atau tidak.


Jika mertuanya tau dan membantu menutupi hal itu darinya, sudah di pastikan jika mereka semua bersekongkol mengkhianatinya.


"Mas tolong biarkan aku sendiri dulu, kamu tau aku terlalu shock mendengar kabar hari ini. Biarkan aku menenangkan diri, setelah itu kita akan bicara lagi," pinta Fisha lirih.


Meski berat, Ridho kembali melepaskan pelukannya. Ia tau hari ini sang istri sudah cukup terluka, membiarkan Fisha menenangkan diri dan memikirkan semua ucapannya adalah sesuatu yang masuk akal yang harus di lakukannya.


"Baiklah Bun, tolong pikirkan dengan tenang. Yang pasti harus bunda ingat, hanya ada bunda dan anak-anak di hati ayah, ngga ada yang lain."


Fisha melangkahkan kaki menuju kamar anak keduanya. Dia ingin melihat keadaan sang putri yang tadi terkena demam.


Fisha melihat sang pengasuh yang sedang menidurkan anaknya lalu mendekat.

__ADS_1


"Fir, maafkan ibu tadi yang memarahi kamu ya," lirihnya.


"Ngga papa bu, saya yang harusnya minta maaf karena lalai menjaga Non Alma."


Ingin sekali Firda bertanya mengenai keadaan Fisha yang tampak kacau. Terlebih lagi kedua majikannya terlihat sedang bersitegang, tapi ia urungkan, ia tak mungkin ikut campur masalah majikannya.


"Kamu bantu Bi Asih aja Fir, biar Alma sama saya," pinta Fisha yang segera di turuti oleh Firda.


Fisha sedang memikirkan semua ucapan-ucapan suaminya. Terlebih lagi sang suami yang mengatakan jika kejadian itu akibat seseorang yang menjebakknya.


Dia tidak yakin, Fisha meyakini jika semua itu pasti ulah Mily yang sengaja mendekati suaminya.


Namun perubahan fisik Mily juga tak bisa ia lupakan, di mana gadis itu tampak kurus dan juga terlihat lebih sayu saat pertemuan terakhir mereka.


"Apa semua ngga sesuai harapan kamu Mil? Kamu tertekan karena ternyata mas Ridho tak seperti keinginanmu?" terkanya sendiri.


"Aku tak menyangka telah menolong orang yang salah! Harusnya dulu kubiarkan saja kamu dan keluargamu hidup nelangsa!"


"Aku—Fisha tak akan tinggal diam kamu perlakukan seperti ini! Kalian akan merasakan apa yang aku rasakan!"


Dari tadi Fisha berbicara sendiri, dia sedang memikirkan cara mempertahankan hubungan rumah tangganya dengan sang suami.


Meski berat, ia tak mungkin begitu saja melepas suaminya, ia sangat mencintai Ridho. Ia juga tak ingin anaknya kehilangan sosok ayah.


Namun pilihannya semakin sulit karena itu berarti dia harus rela di madu, meski sementara menurut janji sang suami.


Tiba-tiba tubuh Alma bergetar, dia kejang. Fisha yang panik segera berlari keluar ingin meminta tolong pada suaminya.


Hatinya semakin terluka saat dia tau suaminya malah pergi meninggalkan rumah tanpa memberitahunya.


"Kalian tau di mana bapak?" tanya Fisha pada para pekerja di rumahnya.


"Tadi bapak buru-buru keluar Bu," jelas Asih.


"Ya sudah. Firda tolong siapkan baju Alma, kita ke rumah sakit sekarang!"


Hati Fisha merasa sakit, baru tadi sang suami berkata hanya ada dirinya dan juga anak-anak mereka, nyatanya sekarang sang suami malah pergi meninggalkan dirinya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2