
Mily menangis sesenggukan di pelukan suaminya. Ridho yang tau jika Mily ketakutan lantas membalik tubuhnya dan kembali memeluknya dari depan.
"Maafin Abang. Bukan maksud abang buat kamu takut, hanya saja teriakan kamu bisa mengundang kecurigaan orang."
Ada sedikit rasa bersalah Ridho pada Mily, karena bisa saja sakit mental Mily kambuh saat ini sebab ulahnya.
Mily sedikit bisa menguasai diri, dia mengusap air matanya dan menatap Ridho.
"Abang ada perlu apa?" lirihnya masih dengan sesenggukan.
"Maafin abang yang tadi terlalu keras sama kamu. Katanya kamu mau kembali bekerja, kenapa kamu malah membuat pekerjaanmu semakin berantakan? Abang ngga bisa selalu membela kamu. Kemarin Abang sudah membantumu yang absen hampir dua minggu lamanya, sekarang abang takut jika nanti kamu malah terkena masalah."
Mily menunduk, dia ingin membalas ucapan suaminya, dia tidak pernah beeharap ada di posisi saat ini, menderita dan ketakutan seorang diri.
Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk bangkit, tapi ternyata semuanya tak semudah yang dia bayangkan. Rasa trauma dan tak percaya diri membuat kepercayaan dirinya melemah.
"Ayo kita bicara!" ajak Ridho mengajak kembali ke rooftop.
Mily memilih menunduk menunggu suaminya mengatakan sesuatu.
"Tolong jangan seperti ini. Kamu membuat yang lain curiga, aku harus bagaimana lagi Mil? Sekarang semua bergantung padamu."
Permintaan Ridho sangat menyakiti hati Mily, dia seperti di paksa untuk tampil baik-baik saja. Ingin sekali Mily berteriak jika dia juga ingin seperti itu tapi, dia tak mampu atau belum mampu tepatnya.
"Sebaiknya aku mengundurkan diri saja dari sini Bang. Sungguh aku juga tak mau seperti ini, tapi aku bisa apa?"
__ADS_1
"Bukannya Abang pernah menawarimu hal itu, kamu fokuskan saja pada pengobatanmu. Jangan paksakan kalau kamu bisa bangkit dengan cepat, masalah adik dan ibumu Abang akan bertanggung jawab juga pada mereka."
Hati Mily serasa teriris, sungguh dia tidak ingin merepotkan Ridho. Dia sudah terlalu buruk jika sampai orang tau statusnya sebagai istri kedua.
Jujur Mily ingin semuanya segera selesai, tapi ia tau tak mungkin Ridho secepat itu bisa meminta izin kepada Fisha agar merestui pernikahan mereka.
"Aku mau keluar dari sini bukan berarti aku akan membebankan kehidupanku pada Abang. Aku ingin pindah kerja bang," jelas Mily.
Ridho masih mencerna maksud istri keduanya itu, karena tak ada tanggapan, Mily lantas menengadah menatap mata Ridho.
"Semenjak abang mengutarakan kecurigaan Abang pada teman-teman kita, aku merasa takut dengan mereka Bang. Aku takut mereka akan menyakitiku lagi."
Kini Ridho tau alasan masuk akal mengapa Mily terlihat tak terlalu semangat saat kembali bekerja hari ini.
Salahnya yang sudah berkata kepada Mily tentang kecurigaannya pada rekan-rekan mereka. Membuat batin gadis itu tertekan.
Mily terperangah dengan sikap Ridho yang sering berubah-ubah, kadang baik kadang seperti seorang yang menganggapnya musuh.
"Kalau tau-tau kamu berhenti mendadak, mereka pasti akan selalu menerormu karena merasa bersalah. Kita akan pikirkan bersama, kamu tanggung jawab abang juga sekarang."
Mily tak kuasa menahan air matanya. Ia kembali menangis saat merasakan kebahagiaan yang di berikan oleh Ridho. Setidaknya sang suami tau apa yang tengah di rasakannya saat ini.
Mily hanya berharap Ridho bisa menghilangkan prasangka buruk tentang dirinya yang berusaha menjebaknya.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang diam-diam mengambil gambar mereka tepat, saat Ridho bangkit dan memeluk tubuh Mily.
__ADS_1
"Apa kamu mau pindah departemen?" kembali Ridho mencoba memberi jalan terbaik bagi istri keduanya itu.
Sepertinya ketakutan Mily pada teman-temannya membuat gadis itu tak nyaman berteman dengan mereka lagi.
Namun sikap menjauh Mily malah membuat teman-temannya semakin penasaran.
Ridho tak ingin mereka mencari tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Mily, meski ia yakin salah satu dari mereka mungkin sudah tau masalahnya, karena ia masih mencurigai salah satunya. Entah Mily ikut terlibat atau tidak.
Meski Ridho juga tak yakin bagaimana ia bisa memintanya pada sang atasan agar bisa memindahkan Mily di bagian lain yang tak terlalu sibuk.
"Apa kamu mau pulang? Bukannya besok waktunya kamu bertemu Dokter Rosi?"
Mily hanya mengangguk dengan maksud menjawab pertanyaan Ridho yang terakhir.
Ia tengah menimang apa sebaiknya ia pulang saja sekarang. Perasaannya sangat kacau, dia sadar tak akan bisa bekerja dengan benar saat ini.
"Jadi kamu mau pulang?"
Lagi-lagi Mily hanya mampu mengangguk. Biarlah dia di cap buruk saat ini dari pada nanti rasa cemas membuat depresinya kambuh.
.
.
.
__ADS_1
Tbc