
Ridho
Aku bergegas menuju kamar inap Mily, di ketuk sampai beberapa kali, bahkan sampai pengunjung hotel lain menatap curiga ke arahku tetap tak ada sahutan dari dalam.
Aku mencemaskan keadaannya, semoga saja dia tidak berusaha untuk menyakiti diri sendiri.
"Sial! Kenapa harus ada Mily di sana, sebenarnya aku kenapa?"
Kuputuskan mendatangi pihak hotel untuk meminta pertolongan agar membuka paksa pintu kamar Mily, setelah berkata bahwa aku adalah rekan satu kantornya yang mengkhawatirkan keadaannya, pihak hotel bersedia membantu.
Aku bergegas mencarinya, terdengar suara gemercik air, membuatku melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
Dan astaga, Mily terlihat tengah terkapar di bawah guyuran air dengan masih mengenakan pakaian lengkapnya.
Aku mengangkat tubuhnya. Salah satu staf hotel wanita memberikanku selimut untuk menghangatkan tubuh Mily.
Wajah gadis ini sangat pucat, kantung matanya terlihat menghitam, sepertinya dia tidak tidur semalaman.
"Sebenarnya apa yang terjadi Pak, mengapa bisa rekan bapak seperti ini?" tanya manajer hotel.
Tentu saja aku tak bisa menceritakan musibah yang aku dan Mily hadapi. Aku sendiri masih bingung dengan kejadian ini. Jadi aku hanya diam saja tak menjawab.
Kubawa Mily ke rumah sakit terdekat. Dia di rawat di ruang UGD terlebih dahulu. Bahkan sampai sudah di pindahkan Mily masih belum juga sadar.
Aku menuju ruang administrasi untuk mengisi formulir pendaftaran.
Banyak Dokter yang sejak tadi bolak balik memeriksa keadaan Mily. Apa Mily terluka parah? Sialnya lagi, beberapa perawat menatap aneh padaku.
Waktu kembali ke ruang rawatnya, Mily sudah sadar, saat melihatku dia langsung membuang muka, aku hanya bisa meminta maaf atas kejadian kemarin.
Sungguh semua itu di luar batas kesadaranku. Mily berteriak, memintaku pergi, aku terkejut melihatnya memberontak hingga tanpa sadar membuat selang infusnya terlepas dan menyebabkan luka.
__ADS_1
Kuraih tombol darurat untuk memanggil Dokter atau perawat jaga, tak lama Mily kembali tenang saat seorang perawat memberikannya suntikan penenang.
Perlahan kurebahkan Mily ke kasurnya agar para perawat bisa kembali memasang infusan padanya.
"Gimana keadaannya Dok? Apa dia baik-baik saja?"
Tentu saja aku mengkhawatirkan keadaan Mily, bagaimana pun akulah lelaki yang sudah membuatnya terluka.
Dokter berkata jika suhu tubuh Mily di bawah rata-rata, lalu Dokter juga berkata jika wanita itu kelelahan.
Jadi untuk beberapa hari ini Dokter menyarankan agar Mily di rawat inap di rumah sakit.
Kuhela napas kasar. Pekerjaan di sini belum selesai, di tambah ada kejadian nahas seperti ini.
Aku penasaran mengapa aku bisa berakhir di kamar yang bukan milikku bersama dengan Mily pula.
Setelah di rasa Mily akan tertidur cukup lama, aku kembali ke hotel, satu orang yang ingin aku temui adalah Husain.
Meski teman sekaligus bawahanku di kantor itu lebih dulu terkapar, setidaknya aku heran mengapa aku tak berakhir bersama dengannya.
"Aku ... Ada urusan, Fer bisakah kamu melanjutkan negosiasi kita dengan klien hari ini? Aku benar-benar ada urusan mendadak," pintaku.
Semoga Ferdi tak banyak bertanya tentang urusanku, sebab saat ini otakku sedang buntu karena kejadian ini.
"Baiklah pak saya usahkan, tapi kalau klien mau bertemu dengan bapak bagaimana? Ini juga Mily tidak mengangkat panggilanku," ujarnya.
"Dia sakit Fer, tadi sudah izin padaku," terpaksa aku berdusta tentang keadaan Mily, tak mungkin aku bercerita masalah ini pada siapa pun saat ini.
"Sakit? Sakit apa? Sekarang di mana dia?" tanyanya khawatir.
"Kamu tenang saja Fer, aku sudah menanganinya, dia sudah lebih baik. Sebaiknya kamu lekas urus klien kita," pintaku yang mulai tak sabar dengan pembicaraan ini.
__ADS_1
Aku takut jika terlalu banyak berbohong akan membuat mereka curiga.
"Tapi semua berkas di simpan oleh Mily pak, gimana aku bisa menemui klien saat ini?"
Sial! Aku lupa jika Mily bagian perancang, tentu saja semua berkas berada di dia. Kupijat pelipisku yang pening, hingga aku teringat sesuatu, di kamar itu ada tumpukan kertas dan tas milik Mily, semoga saja itu adalah berkas kerja kami.
Tanpa berlama-lama aku memilih kembali ke hotel. Kudatangi kamar yang semalam menjadi saksi biksu kebejatanku.
Benar saja, di sana ada berkas kerja kami. Aku sempat keheranan mengapa Mily membawa berkas kerja ke kamar ini?
Ah sudahlah, lebih baik kuserahkan terlebih dahulu kepada Ferdi agar dia bisa melanjutkan perbincangan kerja sama kami dengan klien hari ini.
"Pak, bagaimana keadaan Mily? Apa dia baik-baik aja?" tanya Ferdi saat aku memintanya menemuiku di restoran hotel.
"Baik, dia cuma perlu istirahat, jadi aku memintanya pulang terlebih dahulu."
Maafkan Abang Mil, abang tak tau apa yang harus abang katakan mengenai kondisimu.
"Pasti penyakit lambungnya kambuh lagi, dasar gadis itu,” ucap Ferdi sambil terkekeh.
Kami memang tahu betul kondisi Mily yang memiliki penyakit lambung akut.
Aku merasa sedikit lega karena Ferdi berpikir demikian.
"Nanti sepulang dari sini aku akan mampir ke kosan dia deh."
Mati aku!
.
.
__ADS_1
.
Tbc