Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Mencari pelaku


__ADS_3

Mily sudah siuman, hal pertama yang dia tanyakan adalah keadaan anak dan ibunya.


"Yan, anak kakak gimana?" lirihnya.


"Kakak? Aku panggilan perawat dulu," jawab Bian tanpa menjawab pertanyaan sang kakak terlebih dahulu.


Tak lama perawat datang dan mengecek keadaan Mily. "Ada yang ibu rasakan?"


"Cuma pusing Sus," jujur Mily yang memang merasakan kepalanya sedikit sakit.


"Ngga papa wajar, soalnya ibu baru sadar. Haus?" tanya perawat di balas anggukan oleh Mily.


Bian lantas mendekati keduanya lalu memberikan cangkir berisi air mineral.


"Nanti tinggal tunggu Dokter mengunjungi ya, sore nanti ada praktik Dokter," jelas sang perawat lalu meninggalkan Mily begitu saja.


"Anak kakak di mana Yan?"


"Anak kakak perempuan, dia masih di rawat di NICU jantungnya bermasalah, tapi ngga ada yang bisa Dokter lakukan," jelasnya.


"Kenapa Yan? Kenapa mereka ngga menyelamatkan anak kakak?" ucapnya emosi.


"Tenanglah Ka, kakak baru aja siuman, dia baik-baik aja, memang harus nunggu dia besar baru bisa di lakukan operasi. Kakak harus kuat demi anak kakak."


Mily terisak mendengar nasib anaknya, malang sekali bayinya, batinnya merancu.


"Ibu gimana Yan?"


Bian menghela napas, sejujurnya dia juga lelah harus bolak-balik mengurus keduanya di rumah sakit. Meski Ridho dan Ferdi kadang bergantian membantunya, tapi ia tak bisa terus-terusan mengandalkan keduanya.


"Ibu masih koma Ka," lirihnya.


Air mata Mily makin deras mengingat keadaan sang ibu dan bayinya.


Tuhan mengapa engkau memberikan cobaan yang begitu dahsyat padaku? Harusnya biarkan saja aku yang menderita jangan anak dan ibuku.


Suara pintu di buka membuat keduanya menoleh, ternyata Ferdi yang menyempatkan datang seperti biasanya sebelum bekerja.


"Kamu udah sadar Mil? Syukurlah," lelaki tampan itu mendekat dengan segera dan menggenggam tangan Mily.


"maafkan aku yang selalu merepotkan ya Fer."


"Hei kamu ini bicara apa! Aku bahagia akhirnya kamu bisa sadar. Kamu tau aku takut kehilangan kamu," ucapan lebaynya membuat Mily terkekeh.


"Cih sejak kapan Bang Ferdi pandai merayu! Ingat di sini ada jomblo," sela Bian sinis.


Ketiganya tertawa mendengar gerutuan pemuda itu. Ponsel Ferdi berdering, ternyata Ridho yang menghubunginya.

__ADS_1


"Pak Ridho ada apa?"


"Aku udah tau siapa pelakunya Fer, kapan kita ketemu?" jawab Ridho di seberang sana.


Ferdi melirik Mily sekilas yang menatapnya dengan penuh rasa penasaran.


"Ada apa?" tanya Mily heran.


"Fer, itu suara Mily, apa dia sudah sadar?" sela Ridho.


"Iya pak, dia udah sadar."


Lalu tanpa banyak kata Ridho berkata akan menemui mereka saat jam makan siang nanti di ruang rawat inap Mily.


Ferdi sebenarnya agak kurang setuju dengan ide atasannya itu, dia takut Mily yang baru saja sadar akan kembali drop nanti.


"Ada apa?" ulang Mily.


"Ngga ada apa-apa. Kamu udah makan?" tanya Ferdi berusaha mengalihkan perhatian Mily.


Mily yang tak mau terlalu mencampuri urusan Ferdi tak memaksa bertanya kembali.


Bian sendiri juga penasaran, memang kemarin dia sempat membantu Ridho mencari tahu penyebab kecelakaan Kakak dan ibunya.


Namun tak berlangsung lama sebab Ridho memintanya untuk fokus saja pada kuliah dan kesehatan keluarganya. Jadilah ia tidak tau sejauh mana kasus sang kakak.


"Jadi gimana?" tanya Ferdi membuka percakapan.


"Polisi udah nemuin pemilik mobil itu, yang ternyata mobil sewaan, mereka sepertinya memang sengaja ingin mencelakai Mily," jelas Ridho.


"Maksudnya?" jawab Ferdi penasaran.


"Mobil itu memang sewaan, dan lagi yang menyewa bukan orang yang menabrak Mily dan ibunya," jelas Ridho lagi.


"Lalu orang itu di tangkap?" tanya Ferdi.


"Iya orang ini sedang di periksa di kepolisian."


"Menunggu petugas bergerak kelamaan, untung saja orang-orang yang kita sewa bergerak lebih cepat. Jadi sekarang kita sudah mendapatkan mereka sedang berada di suatu tempat," ucap Ridho bersemangat.


"Lalu?" tanya Ferdi bingung.


"Astaga, kamu lelet sekali sih Fer, aku ke sini mau ngajak kamu menemui mereka sebelum mereka kabur lagi!" seru Ridho jengkel.


Bian hanya terkekeh mendengar gerutuan mantan suami siri kakaknya itu.


"Kapan?" Ferdi tanpa rasa bersalah dan tersinggung malah kembali bertanya pada atasannya itu.

__ADS_1


"Sore ini, orang itu biasanya ada di rumah malam hari," ajaknya kembali serius.


"Aku akan minta Bi Imah menjaga kakak," sela Bian yang juga ingin mengikuti keduanya mencari pelaku penabrak kakak dan ibunya.


"Enggak Yan, kamu di sini aja, nanti malah Mily nyariin kita semua, lusa dia udah boleh pulang, usahakan kondisinya stabil sebelum dia pulang ke rumah," titah Ferdi.


.


.


Saat ini Ferdi dan Ridho sudah berada dalam mobil menuju daerah tempat tinggal orang yang mencelakai Mily.


Anak buah yang di sewa oleh Ferdi masih berjaga di sana dan menunggu bos mereka sampai.


Mereka berada di sebuah perumahan yang masih sepi penduduk. Bahkan di gang itu hanya ada tiga penghuni saja termasuk si penabrak.


"Kalian yakin dia orangnya?" selidik Ferdi menatap tajam anak buahnya.


"Iya Bos, mereka sepertinya sindikat, orang yang saat ini di kantor polisi memang sengaja di fungsikan untuk mengecoh polisi," jelas Herman sang ketua.


"Harusnya polisi bisa segera meringkus orang itu bukan?"


"Yang meminjam mobil itu bukan hanya satu orang, makanya aku bilang mereka itu sindikat, meskipun ketahuan, itu bisa mengulur waktu agar membuat orang ini bisa melarikan diri terlebih dahulu," jelas Herman dengan sabar.


"Kalian benar-benar yakin dia orangnya kan? Jangan sampai kita salah menangkap orang!" cecar Ferdi.


"Astaga bos, kita ngga mungkin sembarangan menuduh seseorang, bos tenang aja, nanti kita akan berikan buktinya pada bos, yang penting kita harus amankan orang itu, kalau tidak nanti dia kabur!" sergah anak buah Ferdi.


Ferdi mengangguk setuju, mereka berdua dengan sepuluh orang anak buah Ferdi akan menyergap orang itu dari arah depan dan belakang.


Sang ketua merangsek maju ke depan dan mendobrak pintu, mendengar ada suara berisik dari arah rumah sewanya, membuat si penabrak keluar dari kamarnya.


Betapa terkejutnya dia saat melihat orang-orang sudah mengerubunginya. Tau apa yang akan terjadi selanjutnya lelaki itu berusaha melarikan diri, sayangnya dia kalah jumlah dan tenaga hingga bisa di lumpuhkan oleh anak buah Ferdi.


"Ayo bos! Sebelum kita bawa dia ke kantor polisi sebaiknya kita interogasi dia dulu," tawarnya.


"Kenapa ngga bawa aja ke kantor polisi? Biarkan polisi saja yang menginterogasi dia?" tanya Ridho tak mengerti.


Herman menghela napas, "dia pasti sudah di minta tutup mulut oleh orang yang memerintahkannya pak, bapak jangan khawatir, kita bekerja secara profesional."


Ferdi hanya mengangguk menyetujuinya saja, jujur saja dia juga baru berurusan dengan orang-orang seperti mereka atas rekomendasi sang ayah dan orang kepercayaan ayahnya.


Menurut sang ayah, suatu saat dirinya pasti akan membutuhkan orang-orang sepeti mereka ini.


"Pak Ridho tenang aja, aku percaya sama mereka."


__ADS_1


__ADS_2