
Ridho
Aku menunggu seorang pengawas keamanan yang di panggil oleh pihak manajer hotel.
Setelah orang itu datang, manajer memerintahkan orang tersebut untuk menyambungkan flashdisk ke komputer.
Setelah lama mengutak-atik, muncullah video yang aku inginkan.
"Bapak Ridho coba perhatikan ini. Saya akan perlihatkan video dari waktu jam enam ke atas ya," ucap Pak manajer.
Karyawan bagian pengawas mengarahkan video dengan waktu semakin maju.
"Stop, itu sepertinya saya," ucapku menghentikan gerakan tangan orang tersebut.
Di sana aku memang di papah seseorang. Seseorang yang mengenakan pakaian biasa, lalu saat aku meminta pihak pengawas melanjutkan lagi videonya, di sana ternyata aku di bantu oleh seorang keamanan hotel.
Lalu video beralih ke lantai tempat kamar 2300 berada. Keluar dari lift ternyata aku kembali hanya dengan orang itu, pihak keamanan hanya menunjukkan kamarku ke orang asing tersebut.
Ternyata di sana aku hanya di tinggalkan begitu saja. Orang itu hanya mengetuk pintu, lalu tak lama kulihat Mily membantuku masuk ke kamar.
Kuminta bagian pengawas tadi memperbesar wajah orang asing yang membantuku tadi. Wajahnya tak terlalu jelas.
Yang membuatku heran mengapa dia membawaku ke kamar itu, dan mengapa Mily malah membawaku masuk bersamanya.
Kukepalkan tangan kesal. Mily, apa sebenarnya yang kau lalukan. Lalu sekarang apa kamu hanya sedang bersandiwara?
Aku berusaha meyakinkan diri, jika memang Mily menjebakku, lalu mengapa keadaannya sangat mengenaskan seperti itu.
Apa mungkin dia berpura-pura?
Ah entahlah, sebaiknya aku harus selidiki dia juga.
"Gimana Pak, apa Pak Ridho puas dengan hasilnya? Kalau belum, nanti kita bertemu dengan keamanan yang membantu bapak dan orang itu. Apa bapak mengenal orang itu?" tanya Manajer hotel beruntun.
"Saya ngga tau Pak. Kalau boleh, saya mau tau kamar itu di pesan atas nama siapa?"
__ADS_1
"Maaf pak untuk semua pengunjung hotel data pribadinya adalah rahasia. Terkecuali ada kejahatan yang memang terjadi dan membutuhkan keterangan, itu juga harus pihak berwajib yang meminta," jelasnya.
Sial sekali. Satu-satunya petunjuk adalah si pemesan kamar. Namun aku juga tidak bisa dengan mudah menanyakan siapa orangnya, terkecuali aku melaporkan kejadian malam tadi pada pihak berwajib.
Tentu saja aku tidak ingin berurusan dengan kepolisian, semuanya akan hancur berantakan.
Siapa sebenarnya yang sedang mempermainkan aku? Kucoba sekuat mungkin mengingat berbagai kilas peristiwa yang mungkin pernah bersinggungan dengan orang lain.
Namun tak ada, aku merasa tak pernah menyakiti orang lain. Lalu apa benar ini hanya rencana Mily?
Satu-satunya orang yang patut aku curigai hanya gadis itu, sebab hanya dia yang bersamaku. Apa mungkin Mily jatuh hati padaku?
Bisa saja bukan? Mungkin dia iri akan kehidupan Fisha sepupunya. Mungkinkah Mily mempunyai pemikiran sepicik itu?
"Apa saya benar-benar ngga bisa tau siapa pemesan kamar itu Pak?" mohonku.
"Sekali lagi kami minta maaf pak, itu memang aturan di hotel kami."
Aku memilih undur diri untuk menenangkan pikiran, menyusun kembali semua rencana. Aku harus bertindak hati-hati dan waspada, karena ada yang saat ini tengah bermain-main denganku.
Aku juga akan kembali ke klub malam itu. Aku juga tengah menimang apa harus mengajak Husain turut serta.
Jujur aku terlalu canggung jika berada di tempat itu seorang diri.
Namun, Husain bisa curiga mengapa aku tampak sangat ingin tahu tentang kejadian malam itu.
Kusugar rambut karena kesal. Sepertinya aku harus bergerak sendiri saja. Aku takut semuanya akan terbongkar.
Sebelum keluar malam ini, sengaja aku menemui kembali staf yang di minta untuk membantuku menemui pihak keamanan malam tadi.
Tentu saja manajer hotel tak bisa membantu, sebab sudah waktunya beliau pulang.
Pihak keamanan yang membantuku bersama orang asing sudah berdiri di depanku. Dia orang yang sama. Tanpa basa-basi aku langsung bertanya padanya.
"Masnya masih ingat saya?" tanyaku padanya.
__ADS_1
"Iya, bapak yang semalam mabuk lalu di antar oleh sopir Taxi menuju ke kamar bapak kan? Ada apa pak? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya khawatir.
"Saya mau tanya kenapa orang yang membantu saya membawa saya ke kamar itu?"
"Oh, masnya menunjukkan kartu hotel kamar itu pak, memangnya ada apa?"
Kartu akses hotel itu memang ada padaku, meski aku tidak pernah sekalipun memesan kamar lain selain kamarku.
"Apa dia yang sengaja memesannya?"
"Tidak Pak, orang itu sudah memegangnya saat baru masuk ke lobby hotel," staf dan pihak keamanan saling pandang, mereka sepertinya bingung dengan pertanyaanku.
“Dia mengatakan siapa dirinya?” tanyaku penasaran dengan identitas orang asing itu.
“Beliau Cuma bilang, kalau hanya seorang sopir Taxi Online pak,” jelasnya.
Orang asing yang mengaku seorang sopir Taxi sudah memegang akses kamar itu, siapa dia sebenarnya. Andai masalahku hanya karena barang hilang, aku bisa dengan mudah melaporkan kasus ini ke pihak yang berwajib.
"Apa ada yang bisa saya bantu pak?" tawar sang penjaga keamanan padaku.
"Engga pak, terima kasih. Saya hanya bingung mengapa bapaknya ngga mengantar saya sampai kamar, hanya sampai di lift saja," sindirku.
"Maafkan saya pak, karena saya pikir kamar bapak memang tak jauh dari lift, dan sopir Taxi juga meminta saya untuk kembali," ucapnya merasa bersalah.
"Tapi barang-barang berharga bapak ngga ada yang hilang kan pak? Soalnya di kamera pengawas laki-laki yang mengantar bapak tidak melakukan hal mencurigakan," tanya bagian staf pengawas.
Aku hanya menggeleng memberi jawaban, setelah pertemuan dengan keamanan. Kini targetku bertambah, sopir Taxi Online itu mengapa bisa memiliki akses kamar itu.
.
.
.
Tbc
__ADS_1